Senja dari Lantai Sembilan
Semburat merah yang sepi.
Senja sedang ranum-ranumnya.
Hujan, kamu mengagetkanku! Setidaknya kirim sms dulu sebelum jatuh di atapku, supaya aku bisa sedikit mempersiapkan penyambutan untukmu. Kamu tahu ya aku merindukanmu? Kedatanganmu begitu tiba-tiba, padahal kemarin aku belum jadi menulis surat padamu. Maklum, kupikir kau ikut sibuk mempersiapkan Pemilu.
Ayo, duduklah di sini, di sampingku. Kamu mau cokelat hangat? Kubuatkan ya. Tadi aku baru membuat secangkir, seandainya aku tahu kamu datang pasti sudah kusiapkan bagianmu.
Nah, ini dia cokelat hangat buatmu.
Hujan, sore ini aku ingin merayakan sebuah keberhasilan. Kau mau menemaniku, kan?
Ah, jangan berpikir ini keberhasilan sebuah pendakian atau penaklukan sebuah wilayah untuk mendapatkan kekuasaan. Ini cuma kisah tentang seorang pembaca yang menemukan buku-buku karya penulis favoritnya dengan bantuan seorang pria.
Sebuah cerita tentang perempuan berkaus biru yang pada sebuah Sabtu datang sekitar jam sepuluh tiga puluh pagi ke toko buku di Taman Ismail Marzuki untuk mencari buku buat temannya. Begitu sampai, dia menyebutkan sebuah judul kepada seorang pria yang ada di sana. Tangan perempuan itu menunjuk ke arah deretan buku bersampul putih yang ada di rak deretan atas. Pertanda dia pernah membeli buku yang sama sebelumnya. Pria itu, yang ternyata bernama Udin, tangkas bergerak mengambil buku yang dimaksud.
“Ada lagi buku yang dicari?” tanya Udin.
Sedikit berjudi, perempuan berkaus biru menjawab, “Ada bukunya Sapardi Djoko Damono?’
Udin menuju ke sebuah rak dan berkata, “Tinggal satu ini.”
Saat Udin menunjukkan buku itu, perempuan berkaus biru mendesah kecewa. Dia sudah punya Membunuh Orang Gila. Sampai hari ini, dia terus menginginkan Hujan Bulan Juni.
Bangkit dari kecewa, perempuan berkaus biru lantas maju berjudi kembali. “Kalau bukunya Umar Kayam?”
Udin mengernyitkan dahi, berpikir sebentar. Dan..astaga, keajaiban itu dimulai, Hujan!
Satu demi satu, Udin menunjukkan buku karya Umar Kayam yang ada di berbagai rak. Perempuan berkaus biru sigap mengambil buku demi buku yang ditunjukkan. Hati perempuan itu bahagia. Sangat bahagia. Dalam empat bulannya di Jakarta, penemuan atas 3 buku karya Umar Kayam itu mampu sejenak menghapus sepinya. Mungkin tak banyak orang tahu, kisah-kisah dalam buku karya Umar Kayam sanggup membawa perempuan berkaus biru itu pulang ke Solo dan Jogja tanpa perlu naik pesawat atau kereta. Bahwa Sapardi menulis kata pengantar untuk salah satu buku karya Umar Kayam, itu menjadi bonus tak terkira.
Sebelum perempuan berkaus biru itu pulang, Udin berjanji akan mengirim kabar padanya jika buku terbaru Sapardi sudah datang. Aih, kamu pasti tak tahu seperti apa senangnya perempuan berkaus biru itu, Hujan..
Ya ya ya…aku tahu komentarmu. Sederhana saja kan ceritanya? Tapi, Hujan, keberhasilan perempuan berkaus biru itu tetap harus dirayakan. Tadi pagi aku berpikir seperti apa cara terbaik untuk merayakannya. Ternyata, abrakadabra….kamu datang! Kamu, sebuah senja, buku karya Umar Kayam, dan cokelat hangat. Benar-benar sebuah perayaan yang tepat.
Ah, sudahlah, aku tahu bahasa tubuhmu itu. Hendak pergi sekarang? Ya sudah, hati-hati di jalan ya. Kemanapun kakimu melangkah, jangan lupa mengunjungiku sekali waktu.
it was as if you were speaking at the end of the road
(it was cold and the rain suddenly fell silent
as if you were calling from around the bend
for a return to sorrow)
for a return
to a long and unfulfilled desire
as if you were signaling without any lights
for me to call you, You
-A Light Rain on Jakarta Street in Malang-
Sapardi Djoko Damono, Before Dawn
Sore itu, Sabtu 11 April 2009, ada gerimis kecil di Jalan Jakarta, Malang.
Tepat seperti judul puisi karya Sapardi Djoko Damono.
Di atas roda dua, kuhirup udara produk hutan kecil yang memanjang di tengah jalan.
Udara segar dan bersih, tapi bermuatan sepi tak terperi.
Sesepi Jalan Jakarta yang lengang menjelang senja.
Sesepi rumah-rumah tua menawan di Jalan Jakarta.
Indah, tapi rancu antara kosong atau berisi.
Mungkin, semacam mimpi yang tinggi tapi tak terjadi.
Sebuah vespa berada di belakang kami,
lantas menyalip tanpa permisi.
Si penumpang melingkarkan tangan ke pinggang depan.
Mereka tertawa-tawa.
Lepas.
Lega.
Itukah bahagia?
Tak mengenal sangsi, tak mengenal sanksi?
Di Jalan Jakarta, coba kucari jawabnya.





Di keluarga besar eyang dari pihak ibu, saya kadang merasa menjadi burung pipit yang berada di antara burung elang. Hampir semua perempuan dalam keluarga besar saya adalah jagoan masak. Sedangkan saya sepertinya ditakdirkan tak mampu membuat masakan yang enak. Saya sudah belajar mempraktekkan resep-resep masakan, tapi tetap saja rasanya tak enak. Mungkin karena memang pada dasarnya saya tak suka memasak, jadi walau saya berusaha sepertinya hasilnya tak maksimal.
Dalam keluarga saya, tak bisa memasak kadang membuat saya tertekan. Bahkan menjelang hari pernikahan saya pun, Mama pernah ketrucut berkata dia menyangsikan kemampuan saya untuk mengurus suami karena saya tak bisa memasak. Sampai hari ini rasa sedih akibat mendengar kalimat itu kadang masih muncul di hati
Dalam kehidupan orang Jawa, menjadi istri artinya siap diberi tuntutan untuk mampu melakukan 3 M. Masak, Macak, Manak. Mampu memasak, mampu berdandan, dan mampu memberi keturunan. Semua itu demi “membahagiakan suami”. Lalu bagaimana jika 3 M yang dianggap mampu membahagiakan suami itu ada salah satu (bahkan salah dua atau salah tiganya) tak bisa dipenuhi oleh istri? Apa itu berarti tak layak lagi ia dicintai? Bagaimana pula bila si istri memang tak suka melakukan salah satu M itu? Akankah dia disebut tak berbakti pada suami?
Repot ya punya istri seperti saya ini. Banyak bertanya, banyak mendebat, tak bisa masak, dan susah diatur. Saya ingat, suami saya pernah berkata, saya memang susah “ditaklukkan”, plus susah dihadapi
Saya tak seperti mantan-mantan pacarnya yang selalu menuruti nasehat atau masukan yang dia berikan.
Dia tahu benar, saya tak suka dipaksa, tak suka “diperintah”. Mungkin inilah salah satu konsekuensi anak sulung yang terlalu lama jadi anak kos, saya jadi terlalu nyaman mengatur diri sendiri. Rasanya aneh saat seseorang masuk lalu mencoba “mengatur” atau mengubah hal-hal dalam hidup saya.
Syukurlah, sejauh ini dia tidak mempermasalahkan kemampuan memasak saya yang cuma terbatas membuat mie dan menggoreng telur. Dia tahu saya sudah berusaha. Dia juga mau mengerti tentang pekerjaan yang sering membuat saya pulang malam. Dia tahu kami berdua harus sama-sama bekerja untuk bertahan hidup dan mengisi tabungan bagi anak-anak. Dia bahkan sudah bersedia nantinya lebih banyak memberikan waktu untuk mengurus anak-anak kami kelak seandainya pekerjaan memaksa saya berada di kantor hingga larut malam atau dinas ke luar kota. Selain itu, diskusi dan penyampaian argumentasi di antara kami masih jalan terus hingga kini.
Saya menghargai setiap pengertian yang dia berikan. Saya mengerti, hal itu pastilah melelahkan baginya. Dan untuk itu, saya ingin mengatakan terima kasih. Atas kesediaannya menerima saya yang mungkin “berbeda” dari perempuan kebanyakan.
Selamat hari Kartini.
“Kebahagiaan itu kadang sederhana ya, di hari ultah, MU menang dan lolos ke semifinal. Thanx, Astri.’
Kebahagiaan itu memang sederhana, Zen. Kita yang membuatnya jadi rumit dan berpikir bahwa mewujudkan bahagia adalah hal yang sulit. Walaupun ternyata memang benar itu sulit.
Sudahlah, aku tak bisa menjadi Gede Prama. Yang penting, selamat ulang tahun ya.
Smsmu pagi ini membuatku ingat puisi karya Jokpin yang kubaca kemarin. Judulnya Cita-Cita. Tentang hal sederhana yang ternyata sulit realisasinya. Atas nama pekerjaan, atas nama macet, dan lain-lainnya.
Cita-Cita
Setelah punya rumah, apa cita-citamu? Kecil saja:
ingin bisa sampai di rumah saat masih senja supaya saya
dan senja sempat minum teh bersama di depan jendela.
Ah cita-cita. Makin hari kesibukan makin bertumpuk,
uang makin banyak maunya, jalanan macet, akhirnya
pulang terlambat. Seperti turis lokal saja, singgah
menginap di rumah sendiri buat sekedar melepas penat.
Terberkatilah waktu yang dengan tekun dan sabar
membangun sengkarut tubuhku menjadi rumah besar
yang ditunggui seorang ibu. Ibuwaktu berbisik mesra,
“Sudah kubuatkan sarang senja di bujur barat tubuhmu.
Senja sedang berhangat-hangat di dalam sarangnya.”
(2003)
www.jokopinurbo.com
Di ruang tunggu bandara pagi ini, aku membayangkan kau meracik kopi untukku, menuang air panas ke cangkir, lantas mengaduknya pelan. Sepuluh kali. Aku ingat benar, sepuluh kali adalah jumlah adukan maksimal yang kau tawarkan.
“Enam, delapan, atau sepuluh?
Itu pertanyaan yang selalu kau berikan padaku, secangkir kopi dengan pilihan jumlah adukan dalam angka genap.
“Sepuluh,” selalu itu juga yang jadi jawabanku. Sepuluh kali adukan searah jarum jam, setengah menit kita terdiam. Tidak benar-benar diam tentu saja. Tanganmu menggerakkan sendok di dalam cangkir, sedangkan mataku sibuk menelusuri tiap lekuk wajahmu.
Pernahkah kukatakan aku suka sepasang mata milikmu? Aku baru sadar warna coklat bola matamu berpendar terang, sampai ke mimpiku.
Aneh bukan? Bagaimana bisa warna coklat mencerahkan mimpi seseorang?
Pernahkah kau berpikir seperti apa beban mentalku saat menatap deretan buku-bukumu? Kalau saja aku tega, ingin kubakar semua buku-buku di perpustakaanmu itu. Kubakar, habis tanpa sisa! Tapi repotnya, kau pasti akan menyumpahiku supaya aku celaka tujuh turunan, dan aku tak mau itu.
Aku tak membenci perpustakaanmu, tapi aku juga tak menyukainya. Aku mengerti, ruang itu sengaja kau sisihkan untuk tempat persembunyianmu. Saat tiga kali ucap salamku di pintu rumah tak berbalas “waalaikumsalam”, aku tahu, kamu pasti di ruang itu. Tiga kali empat ukurannya, dilengkapi satu jendela yang selalu tertutup rapat kecuali di akhir minggu, dan satu pendingin ruangan. Hebat, padahal kamar kita, yang letaknya pas di samping perpustakaanmu itu, selalu kepanasan. Bodoh sekali, aku mulai cemburu lagi pada buku-buku dan tempat bertapamu.
Sekarang, kadang kubiarkan jemariku sekilas mengelus punggung buku-bukumu. Sekilas saja, tak berani lama-lama. Aku takut ingatanku diputar balik, dan berakhir dengan aku menangis pilu. Aku tak mau seperti itu. Tak mau.
Aku memang rindu. Itu sebabnya aku menziarahimu.
Buku-buku di perpustakaan inilah pusaramu.
Namanya Arif. Rambut gondrong, celana jeans tiga perempat, kaos dibalut jaket jeans, dan luka kecil di tumit kaki kirinya.
“Habis jatuh dari motor, Mbak..”
Dia duduk tak jauh dari saya. “Penolakan” kantor pajak untuk melayani pembuatan NPWP di hari Sabtu membuat saya memilih datang ke Taman Suropati, sebelum masuk kantor jam setengah sepuluh. Baru sekali itu saya benar-benar menikmati suasana Taman Suropati. Biasanya, sekedar lewat saat berangkat atau pulang kantor. Memandang dari kejauhan. Pagi ini, akhirnya saya duduk di salah satu bangku taman itu. Membaca Kompas Sabtu sambil sesekali menatap air mancur yang sering didatangi merpati-merpati untuk minum. Dua pagupon berwarna hijau terletak tak jauh dari situ.
Saya ingat, Sabtu sekitar sebulan yang lalu, saya melihat banyak orang berkumpul di taman ini, lalu memainkan biola mereka. Asyik sekali. Anak-anak pun ada.
“Di sini memang tempat ngumpul komunitas kami, Mbak,” Arif menjelaskan. Komunitas yang dia maksud adalah komunitas pemain biola, gitar, dan teater. Anggota komunitas cukup beragam, mulai dari mahasiswa hingga anak jalanan. Pagi itu Arif berada di taman dengan beberapa temannya. Sepertinya mereka masih menunggu beberapa orang lainnya.
Saat saya bertanya dimana dia tinggal, jawabannya singkat saja.
“Di sini.”
“Di sini?” saya mengulang jawabannya dengan nada tidak yakin.
‘Iya, di sini. Di Taman Suropati. Paling 2 hari sekali saya pulang ke rumah di Rawamangun, cuma buat ganti baju, terus ke sini lagi,” jawabnya.
Dia lalu membuka tas hitam di sampingnya. Dari bentuknya, saya menduga ada biola di dalamnya. Ternyata benar. Dia mulai mengeluarkan biola serta penggeseknya.
“Sudah lama main biola?” tanya saya padanya.
“Masih belajar kok, Mbak. Belajar main biola itu yang penting sabar, jangan cepat-cepat ingin bisa main biola.”
Kalimat-kalimatnya runtut bercerita seperti apa sebaiknya jika ingin belajar memainkan biola. Ujung-ujungnya, tetap saja si pembelajar harus bisa membaca not balok. Membaca partitur.
“Bisa baca partitur itu penting, Mbak. Itu masa depan. Kalau bisa baca partitur, nanti bisa ikut orkestra atau jadi guru musik.”
Saya manggut-manggut mendengar penjelasannya. Tak cukup dengan kata-kata, dia mulai beraksi. Awalnya doremifasolasido, lalu (ini dia!) lagu klasik.
“Tahu judulnya nggak, Mbak?”
“Enggak,” jawab saya jujur.
Bibirnya lantas fasih menyebut judul lagu yang dia mainkan. Nama Johan Sebastian Bach dan beberapa nama besar dalam jagat musik klasik tak lupa dia sertakan . Lagi-lagi, saya cuma manggut-manggut. Setelah beberapa kali memainkan lagu klasik tanpa respon memadai dari saya, dia mainkan lagu yang nada-nadanya cukup saya kenal, tapi tetap saja saya tak bisa menyebut judulnya. Ternyata, yang dia mainkan adalah “Ayat-Ayat Cinta”. Untuk yang satu ini, saya membela diri dalam hati, bahwa saya memang tidak memasukkan lagu itu dalam daftar lagu yang saya suka
Menjelang jam setengah sepuluh, kami bertukar nomor telepon seluler. Saya akan menghubunginya nanti, jika saya jadi belajar main biola.
Kemana merpati pulang ? Ke pagupon, Ayah…
****
Tiap melewati Taman Suropati, aku selalu mencuri pandang pada pagupon yang ada di sana. Ia tegak di ketinggian. Tak terlalu tinggi memang, tapi cukup terlindung dari keramaian. Mungil dan penuh kedamaian. Itu kesan yang tertanam begitu dalam.
Dimana kita tinggal, Ayah? Di rumah. Rumah kita memang hanya sebuah kamar sempit, Ayah. Tapi itulah pagupon kita. Tempat dimana cinta Ayah terus mengalir padaku tanpa jeda.
Kita akan menabung, Ayah. Serupiah demi serupiah. Hingga pada suatu masa, kita akan punya sebuah rumah. Lengkap dengan anak-anak, kamar tidur, musholla, dapur, perpustakaan, dan meja bilyar di dalamnya.

“only unfulfilled love can be romantic..”
Kalimat itu diucapkan Juan Antonio Gonzalo mengutip perkataan mantan istrinya, Maria Elena. Akhirnya, kalimat itu juga yang dialami Juan Antonio dengan Vicky, seorang Amerika yang bertemu Juan Antonio di Barcelona.
Vicky dan Juan Antonio Gonzalo saling tertarik walaupun awalnya sering timbul perselisihan. Tahu apa yang membuat Juan tergila-gila pada Vicky? Karena Vicky tak gampang ditaklukkan. Celah bagi Juan untuk merebut hati Vicky adalah dengan mengajak Vicky melihat pertunjukan Spanish guitar. Juan tahu benar, Vicky sangat memuja permainan gitar. Diskusi mereka tentang banyak hal membuat Juan tahu dia jatuh cinta pada Vicky. Sayangnya, Vicky sudah bertunangan dengan orang lain dan akan segera menikah.
Akhir film ini sangat “rasional”. Vicky memilih menjalani hidup dengan suami yang sangat mencintainya, sedangkan Juan Antonio Gonzalo tetap dengan kesendiriannya, sambil terus berhadapan dengan mantan istrinya yang “setengah gila”, Maria Elena.
Sedikit memplesetkan judul album U2, “all that he can’t leave behind..”
Oya, Penelope Cruz memang layak dapat Oscar. Perannya sebagai Maria Elena, mantan istri Juan Antonio Gonzalo yang posesif dan temperamental (bahkan nyaris membunuh Juan Antonio dan Vicky) sungguh luar biasa.
Tak terbayangkan jika harus menghadapi jenis perempuan seperti itu dalam dunia nyata
Karena semua memang tentang ritme…
“Jika kita bisa menemukan ritmenya dan menyesuaikan diri dengannya, maka kita akan baik-baik saja.”
Beberapa tahun lalu, seorang bapak memberi bekal kalimat itu sebelum aku pindah kerja. Menemukan ritme. Dalam semua hal, mau tak mau aku harus menemukannya, baik dalam menjalani pekerjaan ataupun menikmati pernikahan. Semua adalah tentang mengenali ritme baru, lalu berupaya menemukan cara membuat ritme itu selaras dengan ritme yang kita punya. Membuat penyesuaian-penyesuaian, itulah intinya.
Kesampingkan dulu kenyataan bahwa hatiku tak bisa juga mencintai kota ini. Suka tak suka, di kota inilah aku bekerja. Masuk kantor jam setengah delapan pagi dan pulang bisa jadi jam setengah satu dini hari. Itulah resiko pekerjaan yang harus kuterima. Tak mudah memang, apalagi saat aku terpaksa membatalkan janji bertemu teman-teman, atas nama pekerjaan.
Pinggirkan juga kenyataan bahwa suami belum bisa menemani di kota ini. Tak perlu terjebak pada penilaian orang-orang bahwa kami adalah manusia urban yang menjalani hidup tidak normal. Jawaban paling tepat untuk penilaian ini adalah kalimat dari seorang diplomat yang kini berada di Hongaria sana.
“Astri, normal dan tidak normal itu hanya konstruksi sosial…”
Dua bulan sudah pencarian ritme ini berlangsung. Agak jungkir balik memang, tapi cukup menantang
Jangan salah, ritme yang kutemukan tak cuma dalam urusan pekerjaan. Aku juga mulai tahu tempat-tempat bagus untuk melepaskan penat, misalnya Taman Ismail Marzuki. Bioskop dan warung makan di sana tak terlalu mahal, dan toko buku kecilnya benar-benar membuatku nyaman. Toko buku itu membuatku betah menghabiskan waktu, memegang buku demi buku lalu memutuskan salah satunya perlu dibawa pulang. Tentu saja melalui proses yang halal
Satu hal yang benar-benar kusyukuri dari pencarian ritme ini adalah kehadiran teman-teman baikku. Hadir tak harus selalu berarti secara fisik. Hadir dalam bentuk SMS, telepon, atau pun lewat dunia maya justru kadang lebih bermakna saat kehadiran fisik terasa sia-sia. Ada badannya, tapi sebenarnya tiada jiwanya. Benar kata Mya, hanya teman yang membuat kota ini layak ditinggali.
Tak terhitung jumlah kebaikan yang kuterima dari mereka. Contoh paling gampang adalah dalam urusan mencari tempat tinggal. Seorang teman baik membantuku mendapatkan kos idaman. Sederhana tapi nyaman. Lokasi strategis, ibu kos baik, ada kulkas di ruang tengah, ada dapur dengan air panas yang tersedia senantiasa, ada pula tv kabel yang menyajikan acara-acara bagus. Biaya listrik? Mau mengetik seharian pakai laptop pun tak masalah. Bawa tv juga biaya tidak bertambah. 500 ribu, itu biaya kosnya. Laundry? 100 ribu. Bersih, wangi, pagi cuci sore jadi. Teman-teman kantorku berkata, “Kosmu benar-benar murah untuk ukuran Setiabudi.” Seorang kawan lain cuma terhenyak saat tahu harga sewa kosku. Kalimat yang kemudian keluar dari mulutnya adalah “Kalau kamu jadi pindah, aku tempatin kamarmu ya..”
Dalam urusan makanan, aku juga harus menemukan ritme baru. Mama bahkan rela mendiktekan resep sayur bayam, sup makaruni, dan bakwan jagung lewat telepon. Kelezatan masakan Mama memang ngangeni, mungkin karena dicampur bumbu istimewa bernama cinta. Jaman di Jogja, aku bisa datang ke warung di daerah Sekip dan dengan mudahnya menemukan masakan-masakan rumahan. Di sini, makanan-makanan yang kutemui bukanlah jenis itu. Mungkin karena aku memang tak pernah menganggap kota ini sebagai rumah.
Salah satu hiburanku dalam hal makanan adalah saat menunggu sate Bang Toha lewat di depan kos sekitar jam 8 malam. Sate Bang Toha pantas diperjuangkan karena berdasarkan informasi dari “sumber yang bisa dipercaya”, sate Bang Toha enak sekali. Demi merasakan kenikmatan itu aku bahkan harus berguru pada teman-teman kos untuk membedakan mana sate Bang Toha dan mana yang bukan. Kuncinya adalah melatih telinga untuk peka pada suara Bang Toha. Gayanya saat menjajakan sate bukan lah “sateeeeeee….”, atau pun ‘teeeeeeeeeee…”, tapi …… “Te !”. Diucapkan dengan suara bass yang dalam, nada tegas, dan satu huruf “e” tanpa dipanjangkan :)
Ternyata, menemukan dan menyelaraskan ritme dalam banyak hal butuh perjuangan tingkat tinggi, bahkan nyeleneh. Gara-gara itu, sepertinya aku mulai mengerti maksud kalimat yang sekitar sebulan lalu diucapkan mentor diklatku.
“Kreatif dan gendeng itu beda tipis, Mbak…”
Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata,
yang meluas bening siap menerima cahaya pertama,
yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara
Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa,
yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana
Dalam doaku sore ini,
kau menjelma seekor burung gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu,
yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu
Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin
yang turun sangat perlahan dari nun di sana,
bersijingkat di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi
dan bibirnya di rambut, dahi dan bulu-bulu mataku
Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya,
yang setia mengusut rahasia demi rahasia,
yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku
Aku mencintaimu,
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu
(oleh Sapardi Djoko Damono)
“Main sama Ayah di Taman Suropati ya…Bunda kerja dulu..”
“Tapi Bunda, kata Ayah, Sabtu Minggu kan Bunda libur, tapi kok Bunda tetap kerja?”
Dialog itu muncul dalam imajinasiku pagi ini saat memandang Taman Suropati menjelang jam 10 pagi. Aku membayangkan anak kami akan protes karena aku tak bisa menemaninya pada hari libur. Kompromi yang mungkin bisa dicapai adalah suami menemani anak bermain di Taman Suropati, baru setelah itu sang bunda menyusul untuk menikmati hari libur.
Siang ini mataku terasa berat, kantuk menyerang dengan sangat. Baru sekitar jam setengah satu pagi tadi aku pulang, dan langsung terkapar. Jika besok-besok masih seperti ini, bukan tak mungkin dialog tadi tak lagi sekedar imajinasi…
Dua tuna rungu memadu kasih.
Yang lelaki ingin belajar berselancar. Semangatnya tinggi, meski dia harus menahan dingin karena tak punya wet suit.
Yang perempuan duduk di pasir pantai. Setia menemani si lelaki berlatih. Memandangnya, sambil melipat celana jeans dan kaos yang diletakkan si lelaki di pasir.
Si lelaki gagal pada lomba selancar pertamanya. Alasannya sangat menusuk hati. Dia tak mendengar saat namanya dipanggil panitia. Perlombaan kedua, dia jadi juara, tapi bukan juara pertama.
Suatu hari, si lelaki berlatih sendirian saat cuaca sedang tak baik. Si perempuan lantas mencari di pantai. Tak ada. Yang muncul hanya papan selancar, tanpa pemiliknya.
Si perempuan membawa papan selancar itu ke pantai tempat pertama kali si lelaki berlomba. Dia lekatkan selembar foto di papan selancar. Ada wajah mereka berdua, ada pula sebuah piala di foto itu. Papan selancar lantas dihanyutkan si perempuan ke laut.
Selesai. ****
“Dimensi cinta mereka aneh ya?” tanya komandanku kepadaku.
Aneh tapi indah, menurutku.
****
Jumat petang yang indah di akhir Januari. Kami bertiga berjanji nonton film A Scene at the Sea di Taman Ismail Marzuki. Film itu diputar secara gratis sebagai bagian dari pekan film Jepang yang aku lupa siapa penyelenggaranya. Maaf.
Selesai nonton film itu, kami berbincang sambil makan ayam bakar di salah satu kios makan di Taman Ismail Marzuki.
Khanis Suvianita sudah beberapa bulan berada di Jakarta untuk mengikuti kursus persiapan menjelang keberangkatannya ke Amerika Serikat. Dia mendapatkan beasiswa dari Ford Foundation. Sedangkan Dian Lestari berada di Jakarta untuk mengurus beberapa hal sebelum benar-benar pindah ke kota ini.
Pertemuan petang itu terasa seperti sebuah reuni kecil. Sebelumnya kami sama-sama menjadi peserta Kursus Narasi di Yogyakarta. Perbincangan kami menyegarkan ingatanku tentang teman yang hebat dan bersemangat. Ada yang kini telah kembali ke Swedia, ada pula yang makin terasah kemampuan menulis dan memotretnya.
Lalu, apa kabarmu Astri?
Suami saya ingin menggeluti lagi bisnis toko buku online-nya yang sempat mati suri sejak kami “sibuk” menikah dan bekerja
Silahkan berkunjung ke www.bukuaulia.multiply.com
Kami memberi nama situs itu Buku Aulia karena kami berharap suatu hari Aulia dan Jihan akan membaca buku-buku itu juga. InsyaAllah. Semoga Allah mempercayai kami untuk menjadi orang tua
Jangan segan-segan untuk mampir ya. Siapa tahu ada buku yang cocok untuk putra-putri Anda
www.flickr.com
|