NEWS: Trimetrexate Cheap soma Lovastatin Civiate generic sildenafil viagra Actonel Triamcinolone Xanax without a perscription Acyclovir 1 loss phentermine pill weight Online viagra sale Generic overnight viagra Symptom of vicodin addiction Fioricet info Dangers of phentermine heart Perscription phentermine Aricept Isoetharine Ambien eminem Terbinafine Anisotropine Stopping xanax Mexico viagra Order ambien online Ambien online No prescription phentermine Difference between cialis and viagra Ultram tramadol hci tablet Hydrocodone pharmacy! Order xanax paying cod Pravachol Lasix Dextroamphetamine Cialis free trial Best price on phentermine Amitriptyline Buy cialis generic Epivir Tramadol apap Cheapest cialis price Phentermine Buspirone Ketorolac Free xanax Losec Viagra Phentermine low prices Cheap meridia Cheap phentermine cod. 0 buy by popl powered viagra wordpress Vicodin cod Buying xanax online Alternative viagra Effexor Cloxacillin Purchase soma Drug interaction sibutramine and phentermine Enoxacin Canada cheap viagra Lindane Low cost phentermine, Viagra commercial Tramadol hydrochloride overdose: Online adipex phentermine prescriptions Diethylstilbestrol Eulexin Bayer Phentermine studies Viagra for sale online: Xanax dosing Ambien addiction 5 diet pills Premphase Clarinex Azathioprine Fosamax Xanax dosage: Pepcid Cefamandole: Xanax libido Ways to inject xanax pills? Non prescription xanax Pediacare Esmolol Hydroxyzine Methadone xanax interaction Xanax detoxification Hydrocodone lortab Compare phentermine price Cialis mexico Cialis for sale uk? Hydrocodone cough syrup Online phentermine pharmacy best cheapest Mixing viagra and cialis Phentermine dangers: Cialis levivia viagra vs vs Clonazepam No prior perscription tramadol Piroxicam Overnight tramadol Appetite suppressants and phentermine Muse Meridia online! Cialis compared to viagra Lexapro and xanax Bricanyl Xanax anxiety relief pills order here, Loracarbef Oxyphenbutazone Neurontin 2005 comment december leave viagra Irbesartan Xanax and pregnancy, Micronase Simethicone. Avandia Viagra women Atenolol Fioricet info, Lowest phentermine Purchase xanax: Foscarnet Furosemide: Lipitor Phentermine quick Xanax long term use Buy viagra in canada Lopressor Buy xanax overnight Isradipine Free viagra prescription. Ambien Warfarin! Bactrim 99 phentermine: Chlortrimeton Tegretol Phentermine usa pharmacy Hydrocodone information Buy xanax cod Phentermine hc Desipramine Herbal phentermine forum 2005 comment december leave viagra Order vicodin online Busulfan Tramadol pharmacy Buy cheap phentermine yellow Xanax photos Xanax withdrawl message boards Accutane Safety of phentermine Ambien overnight: Drug testing xanax Non prescription phentermine Phentermine success Cod online tramadol? Phendimetrazine What happens when women take viagra, Soma pill Acetaminophen fioricet! Nystatin Adipex loss phentermine weight Discount drug viagra Benadryl? Tramadol hydrochloride overdose Meridia Enebrel Tramadol drug interaction Carbidopa Canada online pharmacy viagra Free viagra Addiction recovery xanax, Avelox Flexeril Female herbal viagra Abilify? Cialis commercial Compare prices on phentermine! Oxyphenbutazone Flovent Phentermine without prescription Phentermine snorting. Cialis drug prescription Cefepime: Noroxin Fda us approved phentermine Phentermine 37 5 Is xanax addictive? Vicodin and alcohol Cheap viagra order online, Trichlormethiazide Chenodiol. Phentermine versus meridia Uk cheapest viagra Allegra Cialis dosages, _cialis et levitra Free overnight phentermine shipping? Cyclothiazide Didanosine? Natural supplement for viagra Tussionex Purchase vicodin Lamictal Clidinium Lomefloxacin: Relafen Prozac Cheapest phentermine price Butoconazole Get viagra online Cialis generic india Phentermine online doctor prescribed Order phentermine c o d: Information phentermine shortage Xanax interaction with paxil Cialis discount online Cheapest place buy viagra online! Mexican pharmacies online+xanax Bosch power tools zio lowest viagra 5 no prescription Cialis forums Xanax info Naratriptan, Buy cod online phentermine Online phentermine no prescription? Phentermine Mexican pharmacy viagra? Bayer Pictures of xanax bars Order viagra viagra online Ritodrine: Dulcolax Lysodren? Orlistat Fluvoxamine Liver problems from xanax Mylan xanax Cheapest viagra on line Viagra lawsuits Mail order viagra Snorting xanax Drug phentermine testing Xanax fedex overnight Lotrimin Order viagra online Triazolam Phentermine purchase Cheapest free shipping phentermine Ciprofloxacin, Cephapirin Phentermine at cost with no prescription! Haloperidol No perscription generic viagra Tramadol 50mg Nuvaring Fioricet with codeine Phentermine prescriptions online, Side effects of drug xanax Climara Acetaminophen e hydrocodone Minipress: Trandolapril Viagra cialis levitra comparison dosages Picture of generic xanax Viagra sale uk Half life of xanax Long term phentermine use Sofia viagra Phentermine alternatives Overnight shipping phentermine Phentermine tablets! 5 mg Diflucan Diet ingredient phentermine pill Gabapentin: Cialis tablets Order soma Side effects of xanax xr Viagra prescription uk Order hydrocodone online Adapalene Akane soma Nifedipine Soft cialis Cialis side effects Identify xanax Viagra on line uk Citalopram Nolvadex: Dantrolene Nevirapine Viagra in woman Viagra herbal alternative Medroxyprogesterone Buy phentermine with no prescription: Viagra pills uk Buy phentermine online cod! Phentermine and carbs Hydrocodone on line. Methscopolamine Viagra pharmacy, Methazolamide Lowest prices viagra 50 mg viagra Order tramadol online. Side effects of xanax Buy phentermine online without prescription Book buy online order viagra Viagra investigator Phentermine prescriptions online physiphen online Ups cod phentermine Best online deal for phentermine Sulfasalazine? Herbal alternatives to viagra Nasacort aciphex phentermine actos imitrex Adapalene Calan Phentermine online without a prescription Cheap tramadol 180 30mg phentermine Xanax without a prescription Phentermine blue 30 mg Macrodantin Ketorolac Acetophenazine Cheap prices phentermine Dangers of taking phentermine Ciguatoxin Cheapest place to buy phentermine online Methadone Phentermine 6 pm order Xanax half life Tramadol overnight. Is phentermine discontinued Capoten Adipex phentermine vs Cheap 37 5 phentermine, Cialis prescriptions Generic viagra soft tabs Generic prescription viagra without Phentermine hcl Phentermine 6 pm order Norepinephrine Topamax Grapefruit viagra Phentermine 30 Prinivil

June 24th, 2008

Tebakan

Posted in Daily Life by Astri Kusuma

Bertemu orang baru belum tentu berarti bertemu pertanyaan baru, tapi kadang tetap ada pertanyaan atau pernyataan yang cukup membuat terhenyak sesaat.

Seorang kawan baru dalam kursus penulisan memulai obrolan kami dengan pertanyaan, “Kamu orang Arab ya As?”.

Jelas saja aku tergelak mendengar tanyanya. Heran, entah bagian mana dari wajahku yang membuat orang-orang sering menebak asal muasalku dengan penuh keyakinan.

Lain waktu, dia membuat penyataan mematikan. “Kemarin aku baca blogmu, dan aku merasa menemukan dirimu yang berbeda. Tampilan keseluruhan dari blogmu menunjukkan padaku siapa sebenarnya kamu, sesuatu yang coba kamu lawan. Kamu orang yang kesepian.”

Skak mat!

Wah…apa perlu kuganti template blog ini? Sudah waktunyakah “Falling Dreams” karya Razvan Teodorescu kupensiunkan?

Percaya atau tidak, kadang kita mengambil keputusan atau menentukan pilihan pada hitungan sekian detik, tanpa banyak pertimbangan. Benar-benar datang dari bawah sadar. Seperti halnya siapa orang pertama yang refleks kita telepon saat kondisi genting. Begitulah, semacam itu…
Falling Dreams terlalu menggodaku. Razvan tahu benar seleraku. Minimalis, tapi kuat. Paduan abu-abu dan putih dalam blog ini membuatku terpikat erat. Apalagi gambar pohon besar di tengah padang itu..membuatku senantiasa berkhayal duduk di bawahnya sambil membaca buku atau menggelar kain berwarna kotak-kotak cerah dengan banyak makanan di atasnya.

Berganti orang, ada pertanyaan lain pula yang terhidangkan.
“Kenapa bukan daun yang bersemi? Kenapa harus daun-daun gugur?”

Ah, aku mengerti. Kamu pasti sedang bicara tentang friendsterku, multiplyku, atau IMvironment YM ku. Ya, semuanya memang tentang daun-daun gugur.

Bagaimana lagi, aku suka daun-daun gugur, begitu saja, tanpa rencana. Ada ngelangut yang kurasa. Itu saja alasannya.

June 24th, 2008

Kelas Menulis Narasi-Pantau

Posted in Daily Life by Astri Kusuma

Akhirnya, saya punya kesempatan ikut kursus narasi yang diselenggarakan Yayasan Pantau. Alhamdulillah, terwujud juga salah satu resolusi tahun 2008 ini :) Sabtu 21 JUni adalah hari pertama saya ikut kursus, sekaligus hari pertama bertemu teman-teman baru dan guru yang sangat membumi.

Awalnya, saya pikir guru kami pastilah sudah sepuh…nyatanya, Budi Setiyono sangat jauh dari penggambaran itu :) Sedikit kecewa memang, karena saya mesti menunda hasrat bertemu Andreas Harsono, orang yang kurang lebih 2 tahun lalu blognya tak sengaja saya temukan lewat bantuan Paman Google. Sebuah blog yang kemudian rajin saya kunjungi, sampai sekarang. Pak Andreas seharusnya mengajar kami Sabtu lalu. Berhubung beliau sedang sakit, jadwal mengajar beliau diubah ke Sabtu mendatang.

Sebulan ke depan, 16 peserta kursus akan banyak belajar tentang jurnalisme sastrawi, akan membaca banyak artikel, dan banyak berdikusi. Bisakah Anda membayangkan belajar menulis di sebuah pendopo yang sejuk? Begitulah yang kami alami.

Diawali dengan tersasar saat mencari tempat tujuan, akhirnya berhasil juga sampai di Yayasan Cindelaras. Sepintas melihat pintu gerbangnya, saya merasa seperti masuk ke istana jaman kerajaan Majapahit. Ah, rasanya seperti syuting film Angling Dharma atau Tutur Tinular :)   Masuk ke halaman, saya bertemu dengan beberapa pohon kecil yang menyegarkan mata. Tanahnya begitu asli, tiada paving di sana. Kecuali untuk bangunan kecil di samping halaman yang difungsikan menjadi semacam garasi.

Pusat perhatian dari bangunan yayasan ini adalah pendopo Jawa yang asri. Warnanya coklat, dengan banyak tiang berukir yang menjadi penyangga atap. Tiang-tiang ini juga yang kemudian menjadi tempat menyandarkan punggung peserta kursus sepanjang siang. Benar-benar tempat yang nyaman. Tapi ya itu, saya harus bekerja keras melawan kantuk yang menyerang gara-gara nonton bola sampai pagi. Masih pula ditambah dengan angin berhembus pelan. Lengkap sudah.

Demi melawan rasa kantuk, saya melangkah ke bagian samping pendopo. Mengambil cangkir, menentukan takaran gula, lalu memindahkan cairan dari sebuah wadah penampung bertuliskan “KOPI”.

Begitu kembali ke tempat duduk semula, saya pun menikmatinya. Hmmm…beberapa kali tegukan, dasar cangkir kecil mulai terlihat. Sebuah SMS tiba-tiba masuk.

“Bunda, sudah berapa cangkir kopi hari ini?”

Aduh!! Saya baru sadar, yang barusan itu adalah cangkir kedua saya hari ini… :D

June 20th, 2008

Seperempat Abad

Posted in Daily Life by Astri Kusuma

Bagi saya, seperempat abad terasa istimewa karena saya menandainya dengan membuat beberapa keputusan besar. Beberapa diantaranya membuat saya berada dalam posisi sulit dan terpojok. Termasuk menerima penghakiman dari banyak orang. Tidak apa-apa, saya mengerti. Orang lebih mudah menghakimi daripada menjalani kalimat demi kalimat yang mereka buat sendiri.

Hampir sebulan lalu, seperempat abad sudah saya ada di bumi. Tak ada kue, tak ada lilin. Tak ada juga telepon dini hari dari orang rumah. Sesuatu yang jelas tak mungkin terjadi setelah tanggal 28 malam saya memberi tahu mereka lewat udara bahwa saya memutuskan tidak jadi melakukan sebuah perjalanan, yang katanya, “besar” itu.

Sebelumnya, saya merasa heran, semua orang mengucap “selamat” tapi tak ada yang bertanya apakah saya ingin berangkat. Saya yang menjalaninya, tapi mengapa tak ada yang mencoba bertanya apa yang saya rasa?

Keberangkatan yang saya batalkan (dan disesalkan banyak orang) itu memang menggoda, tapi ada perjalanan lain yang ingin saya lakukan. Perjalanan menuju stasiun terakhir. Perjalanan yang saya tahu akan menguras tenaga dan butuh banyak perjuangan.

Saya belum lama mengenalnya. Bahkan sebelum kami sempat bertatap muka, dia telah memunculkan kata “pernikahan”. Keyakinannya, keteguhannya, dan upayanya memperjuangkan saya, membuat saya mengerti satu hal. Mungkin Tuhan sedang menunjukkan arah jalan pulang yang selalu saya tanyakan pada-Nya dalam setiap kesempatan.

Saya percaya Tuhan mengerti. Saya lelah menangis. Lelah mempertahankan sebuah hubungan sendirian, tanpa dukungan.

Kini saya menemukannya, jalan pulang yang saya impikan.

June 20th, 2008

Stasiun Terakhir

Posted in Friendship by Astri Kusuma

Perkataan sahabat saya benar, setiap orang akan menuju stasiun terakhirnya. Tapi saya bukanlah stasiun terakhirnya, begitu pula sebaliknya.

Kami sama-sama tahu, sore itu mungkin adalah terakhir kali kami bertemu. Saya akan melangkah maju. Begitupun dia, akan melanjutkan hidupnya. Sambil terus melakukan perjalanan menuju stasiun terakhir yang dia inginkan.

Enam tahun usia persahabatan kami. Persahabatan itu pula yang membuat kembalinya saya ke kampus terasa sebagai perjuangan melawan kata deja vu.

Tentu saja, persahabatan kami dihiasi dengan saling mengagumi dan saling menguatkan. Dialah satu-satunya orang yang menepuk pundak saat saya berada di tepi jurang.

“Saat kamu mulai redup, tetaplah tenang. Ada orang yang selalu bisa kamu andalkan…”

Saya tahu, sebaris kalimat yang diucapkannya dulu itu akan berakhir masa berlakunya dalam waktu dekat ini. Tepat pada saat saya tiba di stasiun terakhir, menemui seseorang yang kepadanya saya sematkan kata “pulang”…

June 6th, 2008

Maaf

Posted in Complicated by Astri Kusuma

Untuk semua kata dan perbuatanku yang menyakitimu, maaf.

Lemparkan kemarahan dan kekecewaanmu padaku, bila itu melegakanmu.

Aku terima, dan aku tak akan membalasnya.

Tak ada dendamku untuk itu…

May 27th, 2008

Saya Merasa Kehilangan

Posted in Complicated, Thought by Astri Kusuma

Sudah dua minggu ini rubrik “Aku dan Rumahku” tak lagi saya temukan di Kompas Minggu. Saya merasa kehilangan. Sejauh ini, ada dua edisi yang menjadi favorit saya. Satu, saat membahas rumah Sapardi Djoko Damono, dan kedua, rumah Prof Dr. Ichlasul Amal (Pak Amal), mantan rektor UGM yang sekaligus dosen saya.

Ada gusar yang mampir di hati saya saat tak menemukan separuh halaman istimewa itu di Kompas hari Minggu kemarin. Tanpa saya sadari, saya menunggu kehadirannya, dan saya kecewa saat tak menemukannya.

Bagi saya, itu adalah sebuah rubrik yang sangat manusiawi. Di rumahnya, setiap orang bisa menjadi dirinya sendiri. Melepaskan segenap topeng tangguh tegar atau apa lah namanya. Nyaman yang luar biasa. Lihatlah wajah Pak Amal yang damai saat duduk di teras rumah bersama Bu Amal, sambil memandang ikan koi di kolam. Atau, lihatlah gaya Pak Amal yang dengan cueknya berdiri di dekat pagar dengan memakai sarung. Mana bisa saya lihat Pak Amal bersarung saat mengajar :)

Mungkin, rubrik itu menghilang sesaat karena ada “inspiratorial” yang menggantikannya. Maklum, inspiratorialnya satu halaman penuh, pastilah mahal.

Hanya saja, saya merasa kehilangan…  

May 26th, 2008

Saya Suka Bulan Mei

Posted in Daily Life by Astri Kusuma

Kalau ada bulan yang selalu saya tunggu, pastilah itu Mei. Bulan dimana, secara tak sengaja, beberapa sahabat hari lahirnya ternaungi di dalamnya. Bulan yang istimewa. Mbak Ilma, Dani, Domas, dan Andy, ulang tahunnya ada di bulan ini.

Mei juga adalah bulan dimana saya harus makin sering merapatkan jaket. Mei tahun ini terasa begitu dingin. Sinusitis saya makin menghebat saja rasanya. Milo hangat makin tak bisa saya lepaskan. Jaman masih siaran di radio dulu, terkurung di dalam studio selama berjam-jam bukanlah sebuah hal yang mudah. Siarannya sih asyik, putar lagunya juga enak. Lalu apa masalahnya?

Saya tidak tahan udara dingin. AC studio kadang terasa tak manusiawi. Wajar saja, karena memang sengaja disetel 16 derajat, untuk menjaga mixer supaya tidak cepat rusak. Maka, saya mesti rela jadi “beruang kutub”. Jaket tebal tak bisa saya lepaskan. Plus secangkir teh hangat selalu saya siapkan di luar studio, pertolongan pertama saat hidung saya mulai dingin dan nafas mulai megap-megap. Saya suka mendekap mug tempat teh panas itu dengan kedua tangan. Membiarkan hangatnya meresap lewat telapak tangan, lalu mengalir ke seluruh tubuh.

Mei kali ini, saya baru sadar, sudah seminggu ini langit malam di Jogja diterangi banyak bintang dan bulan yang terang cahayanya. Dulu, saya sering menatap langit malam sekedar untuk memastikan paling tidak ada satu bintang yang bersinar. Saya memang suka memandang bintang.

Sapardi memang tak membuat puisi tentang Mei. Tapi tak mengapa. Saya tetap menyukai bulan ini, walau tahun ini saya merasakan kebimbangan. Kita lihat saja nanti, kemana perjalanan ini akan membawa saya. Jikapun jadi pergi, saya ingin cepat kembali. Ada yang menunggu saya di rumah. Satu paket dengan milo hangat, koleksi lagu Beatles lengkap, dan injakan mesra di kaki kanan saya saat kami makan bersama.  

Dalam hitungan hari, Mei akan pergi lagi. Saya pasti rindu padanya. Pasti.

May 23rd, 2008

Goodbye My Lover

Posted in Music by Astri Kusuma

Semuanya berawal seusai menonton final Piala Uber beberapa waktu lalu. Jemari saya sibuk memencet remote TV, dan….saya melihatnya !! Saya melihat pria itu ! Pria yang memikat saya dengan suksesnya saat dia bermain piano di acara Oprah Winfrey, dulu.

Goodbye My Lover, itu lagu yang dia nyanyikan di acara Oprah Winfrey. Sisi lain dari lagu You’re Beautiful yang ngelangut itu. Ah, saya masih ingat penampilannya malam itu. Sendirian di tengah panggung, tersembunyi di balik grand piano. Suaranya khas, membuat orang langsung mengenal tanpa perlu melihat wajahnya. Itulah pertama kali saya melihatnya bermain piano, memainkan lagu yang belum pernah saya dengar, tapi langsung membuat saya berjanji dalam hati untuk mencari lagu itu.

Ketika saya berkesempatan melihatnya memainkan lagu itu lagi, apa yang saya rasakan ternyata masih sama. Tergetar. Kagum pada lirik lagu, pada permainan piano, dan pada penghayatannya saat menyanyi. Tak perlu koreografi yang rancak, tak perlu pula tata panggung dengan lampu ribuan watt. Dia sudah cukup kuat untuk membuat setiap penontonnya terbius dengan rela…

May 21st, 2008

Belajar Berpadu

Posted in Complicated, Thought by Astri Kusuma

Lintas generasi. Aku teringat kalimat yang menjadi slogan Kompas itu setelah sebuah pembicaraan semalam. Ternyata, tidak mudah untuk menciptakan sesuatu hal yang bisa diterima oleh berbagai usia. Apalagi jika telah ada satu kebiasaan yang lebih dulu terjadi, maka keinginan untuk lebih simpel dan tidak ribet menjadi terkesan “menyalahi adat”, menyalahi kebiasaan.

“Mama takut kehilangan kamu,” itu katamu, Dear..

Benar. Aku rasa langit berbintang takut kehilangan aku. Tapi aku tetaplah anaknya, walau akan segera melangkah maju bersamamu.

Ibu tetaplah Ibu. Ada rasa sayang dan kekuatiran berlebihan. Itu yang kurasakan. Aku bisa memahami itu. Aku bisa memahaminya, walau berulangkali aku hanya bisa menghela nafas untuk meredam apa yang kutahan di dada..

Begitulah. Yang tua ingin segalanya berjalan sesuai adat, sesuai kebiasaan. Sedangkan yang muda maunya yang simpel-simpel saja, tidak ribet, yang penting esensinya, yang penting sahnya.. :)

May 15th, 2008

Liburan

Posted in Fiction by Astri Kusuma

“Liburan seperti apa yang ingin kau berikan untukku? Mengajakku keluar masuk pertokoan?”

Kamu menggeleng. Ah, senangnya hatiku.

“Aku ingin mengajakmu berjalan di antara lelampuan taman, sambil kita belajar tentang kehidupan dari orang-orang di sekitar.”

Indahnya. Itulah yang membuatku menyukaimu. Kesederhanaanmu.

“Kalau kamu datang ke kotaku, aku akan mengajakmu ke sebuah tempat dimana kita bisa melihat bintang begitu terang benderang hingga kau ingin mengacungkan tanganmu ke langit sekedar untuk menghitungnya.”

“Banyakkah bintangnya?”

“Banyak. Tapi kalau kamu sedang capek memandang ke atas, kamu bisa memandang ke bawah. Ada banyak lampu berpendar di kejauhan. Ada yang warnanya putih, ada juga yang kekuningan.”

“Itu lampu apa?”

“Lampu rumah-rumah penduduk. Tempat kita memandang bintang ada di atas bukit, kamu pasti akan menyukainya. Kita bisa memandang itu semua sambil bicara tentang masa depan. Kalau kamu mau, kita akan bicara sambil makan jagung bakar dan merasakan hangatnya wedang jahe atau teh panas.”

“Itu tawaran yang menarik.”

“Tentu saja itu tawaran yang menarik. Kalau perlu, aku bisa juga memberimu tawaran yang tidak bisa kamu tolak, seperti halnya tawaran Don Corleone di film Godfather.”

“Ah, kamu sedang mengancamku?”

“Sama sekali tidak, Nona..”

“Kata orang, kotamu dingin sekali ya?”

“Iya, dingin. Sampai kamu harus memakai dua selimut yang ditumpuk secara tepat supaya saat tidur badanmu terasa hangat. Jangan khawatir, saat kita lihat bintang, kamu boleh pakai jaket merahku.”

“Terimakasih. Lalu ada apa lagi di kotamu?”

“Ada aku. Orang yang akan memberikan tiket liburan sepanjang masa. Menghabiskan sisa hidup bersama. Kamu mau berlibur bersamaku?”

Dear, itu benar-benar tawaran yang tidak bisa kutolak…

 

* terinspirasi lagu Holiday-Scorpions dan serial Jepang “Long Vacation”

 

May 12th, 2008

Emak

Posted in Books, Journey by Astri Kusuma

Dalam sebuah kereta pagi, aku mencoba mengalihkan rasa grogiku dengan membaca sebuah buku yang sudah kumiliki sejak Januari, tapi baru sempat kubaca akhir-akhir ini. Seorang bapak yang duduk di sebelahku tak henti melirik buku itu. Emak, karya Daoed Joesoef.

“Suka baca tulisan Daoed Joesoef ya?” suaranya memecah kebisuan kami sejak Jumat malam.

“Kadang saya baca tulisannya di Kompas. Tapi kalau buku, baru satu ini karya Daoed Joesoef yang saya baca..” jawabku jujur. Aku memang memilih mengakui hal itu, daripada dia terlalu berharap untuk bisa bercerita banyak tentang Daoed Joesoef denganku.

“Itu buku yang bagus..” balasnya.

“Iya. Saya rasa juga begitu..”

Aku pikir dia akan berhenti, tapi ternyata perbincangan masih berlanjut. Diawali dengan pertanyaan standar, tentu saja. Nama, tempat kuliah, aslinya dari mana, ke kota tujuan dalam rangka apa. Untuk pertanyaan terakhir, aku cuma bisa nyengir. Saat kuberikan jawaban, diucapkannya kalimat “selamat ya..semoga lancar dan membawa hasil yang baik..” Amin, terimakasih untuk doanya, Pak.

Dia lantas bercerita tentang anak-anaknya, termasuk anak bungsunya, perempuan seusiaku, yang sedang kuliah di New Jersey. Ah, itu kota si pelantun Blaze of Glory. Tak lupa diberikannya kartu nama padaku. “Seandainya kamu ke negeri itu, kabari saya, supaya anak saya bisa ketemu kamu ya…”.

Setelah perbincangan itu, aku kembali tenggelam dalam bukuku. Buku yang bagus. Tanda cinta seorang anak pada ibunya. Sesaat aku seperti tersadar, karya-karya yang terinspirasi oleh “Ibu” biasanya akan menggetarkan. Lagu berjudul “Ibu” milik Iwan Fals adalah contohnya. Sebuah lagu yang liris, tentang ibu yang rela berjalan puluhan kilometer melewati rintang, demi anaknya.

Emak. Begitulah Daoed Joesoef memanggil ibunya. Sosok yang diceritakannya dengan penuh cinta dalam 22 bab di buku ini. Semua judul bab diawali dengan kata “Emak”. Emak, Bapak, dan Kami. Emak dan Penataan Halaman. Emak dan Membaca. Emak dan Pendidikan.Emak dan Keindahan Pluralisme. Emak dan Keluhuran Budi. Emak dan Persahabatan. Emak dan Seni Lukis. Emak dan Seni Musik, dan lain-lain.

Emak yang diceritakan Daoed Joesoef dalam buku ini adalah sosok seorang Ibu yang bisa dikatakan punya kemampuan komplit. Cinta keluarga, berbakti pada suaminya, tapi tetap mandiri, kritis, dan pandai. Semua itu sangat berguna dalam mendidik anak-anaknya.

Bagiku, itu adalah sebuah pelajaran mahal. Seorang Ibu sangat menentukan bagaimana perkembangan anak-anaknya nanti. Emak menunjukkan bahwa mendidik anak tak cuma semata urusan sekolah, tapi juga mendidik dalam bidang lain, terutama dalam hidup sehari-hari. Dia mengajarkan cara berbagi dengan sesama, dia juga mengajarkan cara untuk selalu rendah hati.

Ah, aku jadi rindu langit berbintangku…

*******
Beberapa minggu lalu, di sebuah Minggu siang yang sepi, keinginan untuk dimanja tumbuh begitu saja. Tiba-tiba telepon berbunyi. Dia, langit berbintangku itu, bercerita dengan semangat lima delapan (dia lahir tahun 58:)) tentang kue-kue buatannya yang sengaja dikirimkannya ke Jogja, untukku.

Aku bisa merasakan cinta itu di setiap naik turun nada suaranya di telepon. Dan aku makin bisa merasakan cintanya lewat sepuluh bolu kukus, satu pak brownies kukus, dan seplastik kecil mete yang dititipkannya pada keluarga bude yang kebetulan pergi ke Jogja pada hari itu. Sebuah cinta yang sederhana, tapi istimewa.

Saat satu bolu kukus itu kubuka plastik kemasannya, aku bisa melihat ada titik-titik embun di dalam plastik itu. Tiba-tiba aku merasa trenyuh. Pastilah bolu kukus ini setelah matang lalu buru-buru dimasukkan oleh langit berbintang ke plastik tanpa terlebih dulu diangin-anginkan.

Jumlah bolu kukus yang genap membuatku tahu bahwa langit berbintang SENGAJA menyisihkan sepuluh bolu kukus itu untukku. Jumlah yang ganjil biasanya menandakan bahwa itu adalah sisa dari bolu kukus yang tidak laku saat dititipkan di warung.

“Itu buat temani kamu belajar..,” begitu kalimatnya di telepon. Manis sekali. Dia selalu ingat tentang sakit maag-ku, dia juga selalu ingat kebiasaanku belajar dini hari sambil makan sesuatu. Dia selalu ingat itu.

Kadang, aku ingin balas memberinya oleh-oleh, walau mungkin tak seberapa. Sesekali, dalam perjalanan naik motor dari Jogja ke Solo, aku sengaja mampir ke Solo Grand Mall sebelum pulang. Roti Boy dan Bread Talk adalah kesukaannya. Tidak, jangan berpikir aku membeli dalam jumlah banyak. Paling-paling hanya dua Roti Boy dan satu roti di Bread Talk. Sampai di rumah, langit berbintang akan dengan sigap mengiris roti dari Bread Talk menjadi potongan-potongan kecil untuk kami makan bersama-sama. Lucu sekaligus menggetarkan jika mengingat saat-saat itu.

Itulah kenapa pulang menjadi sesuatu hal yang selalu aku rindukan, dan menjadi sebuah tujuan. Untuk apa kita bekerja keras? Salah satu alasannya adalah untuk mereka, orang-orang tercinta yang ada di rumah. Bagiku, pulang adalah sebuah hal istimewa. Aku bisa mendengar cerita-cerita langit berbintang tentang harga-harga yang makin mahal, tentang seperti apa nasib Cahaya dalam sebuah sinetron (yeah, she’s a big fans of sinetron), berbagi keluhan dengan si bungsu karena Valentino Rossi makin jarang jadi juara, sekaligus mendengar cerita tentang olimpiade geografi yang diikutinya.

Dia, langit berbintangku itu, adalah perempuan yang benar-benar galak dalam urusan sekolah anak-anaknya. Tak terhitung sudah berapa kali dia katakan hanya bisa mewariskan ilmu pada kami, karena dia tak punya harta untuk dibagi. Ah, dia tak pernah tahu betapa ketulusan cintanya adalah harta tak ternilai yang diwariskannya pada kami bertiga…

Sampai hari ini, aku masih ingat kalimat yang diucapkannya pada sebuah siang. Kalimat yang membuatku bisa merasakan kekuatiran dalam nada suaranya.

“Kalau bisa, jangan pergi jauh-jauh. Yang dekat saja. Nanti kalau kamu di sana sakit lagi, siapa yang ngurusin..”

Aku terdiam. Tak punya kata-kata yang tepat untuk mejawab kalimatnya.

May 12th, 2008

Pergi Saja…

Posted in Journey by Astri Kusuma

Pergi saja, dan lihat : apa yang diberikan perjalanan kepadamu. Perjalanan itu kehidupan, bukan tempat tujuannya. Biar dia menuntunmu, biar dia memberikan sesuatu. Pergi saja. Ya, pergi saja….

Perjalanan sudah memilihmu. Kamu sudah dipilih oleh perjalanan untuk pergi, masa undangan dari perjalanan tidak kamu terima. Bukan kamu yang memilih, kamu yang dipilih untuk dibimbing perjalanan.

Just do it. Lakukan saja. Biar perjalanan nanti yang memberi arti kepergianmu. Kamu cukup membuka mata dan hatimu, perjalanan akan masuk ke dirimu. The real voyage of discovery consists not in seeking new landscapes but in having new eyes. Itu kata-katanya Marcel Proust, ada di novel hebat Remembrance of Thing.

Serius, pergi saja. Tidak ingin pergi itu mood, mood itu situasional, tapi dorongan untuk berjalan itu permanen! Percayalah!

Tidak ada yang paling menyesakkan selain saat ingin pergi itu datang dan kamu ternyata tidak bisa pergi. Fuih! Mood tidak ingin pergi itu–buatku–semacam ujian terakhir dari perjalanan yang telah memilihmu. Ujian apakah kamu memang layak atau tidak menerima undangannya. Itulah sebabnya, hal pertama yang mesti ditundukkan tiap kali hendak bepergian itu adalah diri kita sendiri. Bukan uang, bukan ancaman di tempat baru, tapi diri kita sendiri. 

*Kutipan pidato seorang teman pada sebuah siang :)

May 5th, 2008

Di Dekat Padang Rumput, Siang Itu

Posted in Journey by Astri Kusuma

 

May 1st, 2008

Waktu Tidak Pernah Menyembuhkan Luka

Posted in Friendship, Complicated by Astri Kusuma

Dan, pagi ini aku merasa sepi sekali. Apa yang terlintas di kepalaku hanyalah kalimatmu dulu. Waktu tidak pernah menyembuhkan luka. Yang bisa menyembuhkan luka hanyalah “kasih”, “kekuatan memaafkan”. Tapi Dan, aku harus mengakui, memaafkan diri sendiri tidak pernah mudah. Tidak pernah mudah…

“Andai saja benar, “Waktu akan menyembuhkan luka”. No way, waktu tidak pernah menyembuhkan luka. Waktu hanya menutupi peristiwa itu dengan timbunan peristiwa-peristiwa lain. Jutaan kejadian membuktikan bahwa luka yang tidak pernah sembuh mungkin suatu saat akan menjadi sebuah ledakan yang mematikan.

Luka hanya bisa sembuh dengan satu kata : “gratia” - kasih karunia. Satu kata indah yang belum mengalami “degradasi”, setiap kata yang mengandung kata itu, memiliki arti yang indah : gracias - diucapkan ketika menerima pemberian murah hati dari seseorang; gratis - pemberian yang diberikan secara cuma-cuma; persona non grata - grata = kehormatan, sebutan bagi warga negara Amerika yang mengkhianati negaranya..seseorang tanpa kehormatan; gracious-sebutan bagi orang yang sangat ramah dan baik hati; dan masih banyak lagi… MEMAAFKAN adalah kasih karunia, dan hanya itu yang menyembuhkan luka.

Andai saja waktu menyembuhkan luka….betapa konyolnya sebuah pembalasan dendam, tapi waktu tidak pernah menyembuhkan luka dan itulah jawaban mengapa pembalasan dendam bahkan bisa berlangsung sampai berabad-abad dan berlanjut dari generasi ke generasi..”

Siang ini aku makin kangen padamu, Dan. Pada kehangatan kalimat-kalimatmu, pada matamu yang berbinar saat kita bicara tentang sepak bola, terutama tentang Maldini, tentu saja .. :)

April 28th, 2008

Kereta

Posted in Complicated, Journey by Astri Kusuma

Kereta punya daya tusuk yang berbeda terhadap perasaan setiap penumpangnya. Bagi orang yang berangkat diiringi tatapan “Tolong jangan pergi!”, kereta adalah semacam pembuktian bahwa kita dibutuhkan. Mungkin ada sepercik kebahagiaan yang aneh saat merasa mengenal tatapan itu. Lalu hati akan begitu saja berkata, “Lihatlah, kamu membutuhkan aku tapi tak mau mengaku! Hilang ke mana semua kesombonganmu kemarin itu?”

Berbeda pula perasaan penumpang kereta yang meninggalkan sebuah kota untuk seterusnya. Mungkin atas nama pekerjaan, mungkin atas nama pulang kampung setelah wisuda. Kenangan demi kenangan selama bertahun-tahun akan berkelebat begitu saja. Untuk sesaat, bisa jadi romantisme menyeruak tak tertahan. Tentang hari-hari irit makan, tentang “nona itu”, lengkap dengan kenangan tentang masa penantian mendapat jawaban atas pertanyaan terkait “masa depan”. Tujuan keberangkatan, dan kenangan yang tertinggal di belakang, membuat kereta akan selalu punya daya gedor yang mantap bagi setiap penumpang.

Untuk orang yang takut naik pesawat terbang seperti saya ini, naik kereta adalah sebuah kenikmatan. Ada waktu yang panjang untuk bicara dengan diri sendiri, melamun, sambil sesekali menerima “gangguan” pertanyaan dari orang yang duduk di sebelah badan. Pertanyaan standar. “Mau kemana mbak?”,Aslinya dari mana?, “Kuliah di Jogja?”. Ya, semacam itu.

Jika melakukan perjalanan malam, saya senang meresapi huruf demi huruf pada sebuah bacaan. Atau, kalau sedang sok puitis, mencoba membuat kalimat-kalimat singkat yang selanjutnya hanya terdiam patuh di “My Document”. Tak ada keberanian tampil di tempat lain.

Pada perjalanan siang, saya begitu menyukai hamparan sawah yang seperti berkejaran dengan kereta. Ada yang masih berwarna hijau, ada pula yang sudah coklat nyaris mendekati panen. Pematang-pematangnya terlihat menggoda. Kalau ada tukang potret, sesekali saya ingin juga bergaya di sana dengan pasangan jiwa. Pre-wedding, katanya.

Sudah, itu saja ya tulisan saya kali ini. Tiba-tiba ingin menulis tentang kereta, setelah membaca tulisan seorang kawan. Sebuah keberangkatan sedang disusun, dan saya rasa dia benar, ada satu hal yang masih harus ditaklukkan sebelum perjalanan ini dimulai. Diri sendiri.

www.flickr.com
astrikusuma's items Go to astrikusuma's photostream