Sembilan Tahun

Fei,

semalam aku membongkar kontainer demi mendapatkan buku-buku kuliah untuk si bungsu, dan buku pemberianmu termasuk  salah satu yang kutemukan. Lengkap dengan selembar kertas kuning yang manis bertuliskan “Happy Birthday 18th“.

Sembilan tahun lalu, Fei. Ingatkah?

Post to Twitter Tweet This Post

Bahasa Hati

Tidak semua memperlihatkan komitmen yang datang dari hati, ada setengahnya (kandidat). Saya melihat, kalau yang bersuara hatinya, pasti diterima oleh hati juga.

Kalimat Syafii Maarif, anggota Panitia Seleksi (Pansel) kandidat Ketua KPK itu menjadi awal dari sebuah berita di halaman 12 Media Indonesia tanggal 27 Agustus 2010 yang diberi judul “Kandidat Ketua KPK Tidak Tulus”. Dalam berita itu disebutkan bahwa tujuh kandidat Ketua KPK telah menjalani tahapan wawancara terbuka. Separuh dari mereka diragukan ketulusannya oleh Pansel dalam hal niat untuk menjadi Ketua KPK.

Entah apakah kalimat Syafii Maarif itu diketahui para kandidat Ketua KPK atau tidak. Yang jelas, kalimatnya membuat saya jadi termenung. Sepertinya saya juga seperti itu deh. Satu tahun delapan bulan ini, hati saya tak penuh memberikan dorongan untuk bekerja. Seperti kata seorang kawan, apa yang kami lakukan sekedar get the things done. Tak terlalu peduli bagaimana rasanya, yang penting jalani dan selesaikan.

Jalani, bukan nikmati.

Saya bersyukur bahwa Tuhan memilihkan pekerjaan ini buat saya. Pekerjaan yang bisa menghidupi keluarga kecil saya. Hanya saja, di dalam, rasanya ada sesuatu yang pelan-pelan padam.

I pray you to remember that better than the language of the written word is the language of the heart.

(Sukarno An Autobiography As told to Cindy Adams, halaman 16.)

Post to Twitter Tweet This Post

Enam Kontainer Buku

Setiap kali hendak berpindah tempat tinggal, mengepak buku-buku adalah hal yang pasti kami lakukan. Akhir pekan lalu, kami butuh waktu seharian untuk kembali menata sekaligus menyortir buku dan majalah di kamar kami. Siapa sangka, buku dan majalah itu kini sudah menempati enam kontainer plastik. Mengerikan :D

Tenang, jumlah itu sebenarnya cuma kamuflase, karena hampir separuhnya adalah buku kuliah saya jaman S1 dan S2. Kenapa saya tetap menyimpannya dan tidak berpikir menjadikannya kertas kiloan? Hmm..entahlah. Mungkin dulu saya berpikir bahwa “Suatu hari nanti, tumpukan kertas-kertas ini akan berguna..” :)   Siapa sangka, adik bungsu saya diterima PMDK di UI pada jurusan yang sama dengan saya. Sedikit banyak, “tumpukan kertas-kertas” itu berguna baginya.

Dulu, saya dan suami menempatkan buku-buku dan majalah dalam kardus-kardus bekas tempat kertas A4. Sayangnya, kardus macam itu rentan terhadap udara lembab yang pada akhirnya akan membuat buku-buku di dalamnya mudah rusak. Itulah sebabnya kami beralih ke kontainer plastik yang rata-rata harganya 35 ribu rupiah di Giant.

Saya percaya, jumlah buku bukanlah suatu hal yang penting. Yang lebih berarti adalah jika buku itu bermanfaat bagi pembacanya. Oleh karena itu, sejak dulu saya tak keberatan buku-buku saya dipinjam oleh kawan. Saya senang jika buku-buku itu berguna. Masalahnya, saya tak hafal buku apa saja yang sudah kami punya. Repot kan? Bagaimana orang akan meminjam kalau mereka tak tahu buku apa yang bisa mereka pinjam?

Beberapa waktu lalu, saya coba mendata buku dan majalah yang kami punya dengan menscan sampul-sampul buku itu lalu mengunggahnya di akun FB saya. Tapi ternyata susah juga mengaturnya. Saya malah jadi bingung sendiri..hehehe… Jadi, saya pikir lebih baik saya pindahkan saja ke sebuah blog yang memang khusus untuk “menyimpan” buku dan majalah-majalah itu. Semacam bentuk virtual dari perpustakaan kecil yang rencananya akan menempati kamar depan dari rumah kontrakan kami mendatang :)   Seiring berjalannya waktu, saya berharap kami berdua bisa menyempatkan menulis semacam resensi atau catatan kecil tentang buku dan majalah tersebut.  Oya, kami juga tak keberatan menerima kunjungan kawan yang hendak membaca buku di rumah, tentunya dengan perjanjian sebelumnya.

Sementara itu, silakan berkunjung ke perpustakaan kecil kami di www.aulialibrary.wordpress.com. Memang belum banyak isinya, tapi semoga tidak menjadi sia-sia :)

Post to Twitter Tweet This Post

Tuhan Punya Alasan

Tuhan pasti punya alasan-alasan dan tujuan yang bisa saya terima tentang mengapa saya harus bertahan di sini. Mungkin, dua dari sekian banyak alasan itu terletak pada dua orang yang saya tunggu kedatangannya di Gambir sore ini. Argolawu akan membawa mereka kepada saya.

Semoga kali ini tak ada lagi suara serak menahan tangis yang saya dengar dari mereka, seperti ketika beberapa bulan lalu saya minta ijin mereka supaya saya boleh melepaskan sesuatu yang ‘berharga’. Semoga.

~Jakarta, 28 Juli 2010~

Post to Twitter Tweet This Post

Aceh : 3 Hari

IMG_2116

Langit biru, kopi Sanger, tsunami, dan sapi atau kerbau yang sering menyeberang jalan adalah beberapa hal yang membekas di ingatan seusai kedatangan saya dan dua orang teman ke Aceh pada akhir Juni lalu. Memang tak banyak yang bisa dikunjungi dalam 3 hari, apalagi tujuan utama kami ke sana adalah untuk bekerja. Jalan-jalan dan memotret menjadi aktivitas sampingan yang tak mudah.

IMG_2118_edit_resize_2

Syukurlah Pak Rudi dari BPS Aceh berkenan mengantar kami berjalan-jalan pada sebuah sore di hari pertama kami tiba di Aceh. Sambil menyetir, Pak Rudi bertutur banyak hal. Nada bicaranya datar saat bercerita tentang puluhan anggota keluarga besarnya yang meninggal karena tsunami. Entah jika dalam hatinya bergetar. Sambil bercerita, diarahkannya mobil melintasi Masjid Raya Baiturrahman Aceh yang terkenal itu.

IMG_2012_edit_resize

Pak Rudi menawarkan untuk berhenti jika ingin memotret, saya jawab tak perlu. Saya menghargai tawarannya, namun memotret dari dalam mobil terasa sudah cukup. Bukan karena sok bisa, tapi supaya tak terlalu merepotkan Pak Rudi dan mengambil lebih banyak waktunya.

Mobil kemudian bergerak menjauhi masjid dan menuju pantai Lhok Nga. Rumah-rumah yang dibangun pascatsunami berderet di kanan kiri jalan yang kami lewati. Fasih Pak Rudi bercerita tentang dari mana saja rumah-rumah itu berasal. Lebih tepatnya, tentang uang siapa atau negara mana yang dipakai untuk membangun rumah-rumah tersebut.  Pak Rudi bisa menyebutkan dengan pasti si pemberi bantuan berdasarkan ciri khusus pada rumah yang dibangun. Brunei Darussalam menyukai rumah panggung, sedangkan Turki menempatkan gambar bulan sabit di bagian kanopi rumah. Sayangnya saya lupa bertanya apa ciri khusus pada rumah bantuan dari Jacky Chan.

Ketika berada di dalam mobil menuju pantai Lhok Nga, saya baru sadar betapa dekatnya tempat kami dengan laut yang terlihat di seberang sana. Di beberapa tempat, Pak Rudi menunjukkan bekas tsunami yang meninggalkan jejak berupa gerusan pada beberapa bukit di kiri jalan. Menggetarkan. Kita memang tak pernah tahu apa rencana Tuhan, apalagi di sisi lain terbentang pantai Lhok Nga yang indah ditimpa sinar matahari sore. Aceh memberi kemewahan untuk menikmati sore lebih leluasa karena malam datang lebih lambat. Padahal ia sama seperti Jakarta, berada pada Waktu Indonesia Barat.

IMG_2103

IMG_2104

Seusai jalan-jalan, kami kembali ke hotel The Pade, dan tak lupa berucap terimakasih kepada Pak Rudi atas waktu yang diluangkannya.

Hari kedua di Aceh tak akan saya lupa. Akhirnya saya merasakan kopi Aceh! Kopi Sanger di kedai kopi Solong sukses membuat saya berulang kali menghela nafas panjang. Alhamdulillah, nikmat sekali. Kenikmatan itu masih ditambah dengan keramahan penjaga kedai kopi yang tak segan berbagi cerita tentang cara pembuatan kopi Aceh. Dialah yang memilihkan Kopi Sanger untuk kami dengan jaminan bahwa “Kopi ini enak sekali!”. Jaminannya terbukti.

IMG_2185

IMG_2205_resize

Hari ketiga, kami harus pergi. Tiga hari di Aceh adalah tiga hari yang istimewa karena memaksa saya kembali merenung tentang betapa kecilnya saya dibandingkan alam semesta. Renungan itu berlanjut di pesawat, dan terasa makin dalam ketika menekuni sebuah buku yang akhir-akhir ini jadi teman perjalanan setia gara-gara tak tuntas-tuntas jua saya membacanya.

IMG_2277

- untuk mbak Ukirsari, yang saya suka tulisannya :) -

Post to Twitter Tweet This Post

WordPress Themes