Category: Friendship

Sembilan Tahun

Fei,

semalam aku membongkar kontainer demi mendapatkan buku-buku kuliah untuk si bungsu, dan buku pemberianmu termasuk  salah satu yang kutemukan. Lengkap dengan selembar kertas kuning yang manis bertuliskan “Happy Birthday 18th“.

Sembilan tahun lalu, Fei. Ingatkah?

Post to Twitter Tweet This Post

Kejutan

Dear Ayah,

terimakasih untuk kejutannya. Yang namanya kejutan, tentu tak terduga bukan?

Terimakasih banyak, sudah membuat hari ini terasa lebih indah… Baik-baik di sana ya, Bunda tunggu di rumah.. :)

~Bunda~

Post to Twitter Tweet This Post

Pan-Dol : Aku Mengingatmu

IMG_1975_edit_resize

Pan-Dol* membuatku ingat kamu, terutama tentang perbincangan kita bertahun lalu. Tentang aku dengan lima pintuku.

Kini, ijinkan aku sedikit bercerita padamu tentang aku dan salah satu pintuku. Benar, pintu yang telah kubuka itu.

Sebagian orang memandang pintu itu sebagai pintu yang menjanjikan. Dia dianggap menawarkan “ketenangan jiwa” dan status di masyarakat. Yang paling penting, dia menganut “alot-alot nanging iso dicokot”. Aman dari segi penghasilan, walau tak banyak tapi setidaknya tetap ada yang bisa dimakan setiap bulan. Tapi tahukah kamu, di antara derasnya permintaan supaya kami bergerak cepat, ada sederet peraturan yang rentan terlanggar jika tak diimbangi kewaspadaan. Sebagian orang yang lain, seperti kau tahu, memandang sebelah mata pada pintu itu karena sederet alasan, mulai ketidakefisienan sampai kebocoran.

Tahukah kamu, ,memasuki pintu itu memaksaku memegang erat petuah dari dua orang yang kukenal di masa lalu. Petuah petama, “Kerja yang baik. Jangan aneh-aneh, yang penting bisa tidur nyenyak”. Kamu pasti paham benar, tak perlu bergalon-galon kopi untuk membuat mata terjaga hingga pagi. Satu pikiran yang mengganggu sudah cukup membuatmu mengucap selamat tinggal pada tidur lelapmu.

Petuah kedua, jangan lupa menyebut sebuah kalimat “penting” tiap kali berdoa. “Semoga aku dan keluargaku selalu bener, lan kebeneran.” Sebuah permohonan kepada Tuhan yang diajarkan oleh guru SD-ku. Sepertinya permohonan yang sederhana, padahal sebenarnya tidak juga.  Tentu saja, kata “Bismillah” juga tak boleh terlewatkan. Mohon perlindungan Tuhan dalam hal-hal yang kukerjakan.

Pan-Dol membuatku mengingatmu, terutama karena kejutan bahwa ternyata kamu duduk beberapa deret di belakangku. Senang rasanya menyadari kamu tak jauh dariku.

Bukankah dulu, saat di Jogja, kita juga seperti itu?

* Pan-Dol adalah singkatan dari Panti Idola, sebuah Panti Perawatan Mental Korban Korupsi yang hanya ada dalam pertunjukan Teater Gandrik Yogyakarta. Tanggal 21 dan 22 Juni 2010, Pan-Dol dipentaskan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Foto diambil pada tanggal 22 Juni 2010 oleh Johan Eka Firmansyah.

Post to Twitter Tweet This Post

Dua Puluh Tujuh

Mama pernah dua kali bercerita tentang mimpinya. Dua mimpi yang berbeda, tapi garis besarnya sama. Mama berada dalam perjalanan yang terus mendaki. Walaupun kelelahan, tapi seperti ada kekuatan lain yang tak membolehkan Mama berhenti. Pada mimpi yang pertama, Mama harus melalui jalan setapak yang curam. Pada mimpi kedua, jalan setapak berganti wujud menjadi tangga yang tak terhitung banyaknya. Dalam kedua mimpi tersebut, tujuan akhir perjalanan sama-sama tak terlihat. Gelap.

Gelap jugakah jalan saya ke depan? Saya tak tahu. Saya hanya berharap Dia berkenan menjadi penunjuk jalan.

Saya sudah dua puluh tujuh. Banyak hal terjadi. Ada yang sesuai perencanaan, ada yang meleset dari perkiraan, ada juga yang mengejutkan. Benar memang, hidup hanyalah pelaksanaan slogan, “kita merencanakan, Tuhan menentukan.”

Saya baru dua puluh tujuh. Ada banyak mimpi yang ingin saya wujudkan.

Post to Twitter Tweet This Post

Buat : Fahri Salam

Aku tak tahu mengapa kau kirimkan padaku rentetan pertanyaan itu. Mungkin, sederet kalimat dalam puisi ”Buat Ning” itu mulai mengusik keingintahuanmu. Kawanku, Syam, mengutip kalimat dalam puisi itu untuk album fotonya bersama mendiang istrinya, BuRuLi. Kalimat yang dia kutip hampir sama dengan yang kau pilih.

januari mengeras di tembok itu juga
lalu desember
musim pun masak sebelum menyala cakrawala
tibatiba: kita bergegas pada jemputan itu

Entah sudah berapa kali pula kukutip kalimat itu (terutama “Januari mengeras di tembok itu juga lalu Desember”) untuk status YM, Facebook, atau Gmailku.

Selamat datang dalam puisi SDD yang mempesona, kawanku.

Setahuku, puisi “Buat Ning” ada di buku Mata Jendela. Percayalah, sudah susah mencari buku itu, Beberapa toko buku online tak bisa dipercaya, memajang sampul buku karya SDD, tapi ternyata saat kucoba pesan dia jawab “buku tak ada”. Kalau kau mau, pesanlah buku “Nokturno : lirik musikalisasi puisi Sapardi Djoko Damono” pada Gunawan Maryanto. Kau tak perlu menjelajah toko buku sampai kaki pegal. Manfaatkan saja jasa Tiki, toh harga buku plus ongkos kirim yang harus kau bayar tidaklah terlalu mahal.

Saat pertama kali aku bertemu SDD di Newseum Café sekitar pertengahan tahun ini, sempat kutanyakan padanya, “Ning itu siapa?”. Dia jawab, “Ning itu Ibu.”. Aku tak bertanya lebih panjang lagi, karena penggemar-penggemarnya yang lain membuatku harus rela berbagi.

Pernah kusinggung lagi tentang Ning dalam pesan yang kukirim padanya lewat dunia maya. Kutanyakan lagi “Ning itu siapa ?” dan tak lupa kukatakan bahwa puisi itu begitu kusuka dan sedang coba kucerna. Lazimnya para maestro, dia menginjak bumi. Mengucap terimakasih atas kesukaanku membaca karyanya, dan memberi tambahan kalimat, “Puisi itu saya tulis tahun 1967. Nanti salamnya saya sampaikan ke “orang” nya”. Cuma sebatas itu yang kutahu tentang “Ning itu siapa?”.

Aku tak mau lagi menanyakan hal yang sama kepadanya. Dan pula, aku telah berjanji pada diri sendiri, tak mau menjadi semacam reporter infotainment yang mengganggu hidupnya. Bagiku, alasan terciptanya suatu karya bisa karena bermacam hal, termasuk pengalaman pribadi. Jadi, biarlah ia tetap berada di sana. Dalam ranah “pribadi” itu. Sudah cukup puas dan lega hatiku karena punya kesempatan mencoba “merasakan” dalamnya puisi itu.

Kusebut “merasakan”, karena aku semata menafsirkan puisi itu dengan perasaanku. Tentu saja tafsirku belum teruji sahih atau handal. Seperti kau tahu, aku dari jurusan HI, bukan tafsir puisi :) Tapi Fahri, seperti kata Pak Sapardi, tafsir puisi berada di tangan pembacanya. Kau pun boleh menafsirkannya semaumu, seperti halnya Ari dan Reda yang mencoba menafsirkan puisi itu lewat nada lagu yang mereka cipta.

Jadi, inilah jawabku untuk pertanyaan ”kamu tahu maksud puisi itu?”.

Aku tak tahu apa sebenarnya maksud puisi itu :) Aku cuma bisa membuat tafsir bebasnya. Menurutku, dia yang mendedikasikan puisi ini buat Ning, tengah melakukan sebuah ”perjalanan” bersama Ning. ”Perjalanan” itu bisa apa saja. Persahabatan, pernikahan, pertemanan, dan lain sebagainya. Mereka berjalan seiring waktu, menghayati kalender yang terasa berubah cepat dari Januari menjadi Desember. Perjalanan mereka berlangsung begitu saja, apa adanya. Hingga pada suatu ketika, ”jemputan” itu datang. Mungkin semacam tanda bahwa salah satu diantara mereka harus pergi duluan. Bisa juga tanda bahwa mereka tak bisa lagi berjalan menuju satu tujuan. Atau jangan-jangan, sebuah tanda bahwa mimpi yang mereka tunggu tak pasti datang menjadi kenyataan.

**************************

Buat : Ning

pasti datangkah semua yang ditunggu
detikdetik berjajar pada mistar
yang panjang
(barangkali tanpa salam terlebih dahulu)

januari mengeras di tembok itu juga
lalu desember
musim pun masak sebelum menyala cakrawala
tibatiba: kita bergegas pada jemputan itu

-SDD 1967-

Post to Twitter Tweet This Post

WordPress Themes