Category: Film

Up in the Air

http://www.21cineplex.com/up-in-the-air,movie,2239.htm

The story of a man ready to make a connection

Bayangkan bahwa sekitar 320an hari dalam setahun Anda habiskan dengan perjalanan naik pesawat ke berbagai kota. Apa yang akan Anda dapat selain milleage yang jelas meningkat pesat ? Bagi orang yang tak suka jauh dari keluarganya, tentu saja duka nestapa yang akan dirasakannya. Beda lagi bagi Ryan Bingham, yang diperankan oleh George Clooney.

Ryan Bingham adalah seorang pria matang, tampan, dan mapan yang tak mau direpotkan dengan urusan membina hubungan. Tak peduli hubungan cinta, maupun keluarga. Itu sebabnya, pekerjaan yang mengharuskannya berkeliling Amerika Serikat untuk “memecat pegawai atas permintaan pemilik perusahaan yang tak berani memecat pegawainya sendiri” justru terasa menyenangkan, karena dia merasa tak ada yang menunggunya di rumah :)

Saat juniornya di kantor menanyakan kenapa Bingham tak menikah, Bingham balik bertanya, “Coba berikan alasan kenapa harus menikah?”.  Lalu meluncurlah jawaban sang junior. “Karena cinta?”, “Karena perlu teman untuk bicara?”, atau bahkan “Karena tak mau mati sendirian?”

Dasar jagoan bicara, jawaban Bingham atas alasan-alasan yang dikatakan juniornya justru kocak tapi mengena!  Intinya tetap saja dia menolak menikah, menolak terikat. Apa saja jawabannya? Nonton sendiri saja ya :D

Walaupun begitu, setelah mengalami peristiwa yang menyesakkan dada,  pada akhirnya Bingham kembali menjejak bumi dan menyadari bahwa setiap orang membutuhkan tujuan dalam hidup. Keluarga, adalah tujuan terbesar. Ironisnya, saat kesadaran itu datang, tetap saja Bingham harus  melakukan perjalanan. Di bandara, Bingham menatap nanap pada jadwal-jadwal penerbangan. Di saat orang-orang kembali kepada keluarganya untuk merayakan kebersamaan, Bingham harus duduk di dalam pesawat, di antara awan-awan di langit…

Post to Twitter Tweet This Post

My Name is Khan

http://www.impawards.com/intl/india/2010/my_name_is_khan.html

http://www.impawards.com/intl/india/2010/my_name_is_khan.html

“My name is Rizvan Khan. I might seem a little different to you. That is because I have Aspergers Syndrome. It is named after Dr Hans Asperger who first noticed the traits in children. Having Aspergers does not mean I am stupid. I am very intelligent, but I don’t understand people. I don’t know why people say things they don’t mean. For example, they say come to my house any time, and when I go to their house they say why have you come at this time? Sometimes people think I am rude. I don’t mean to be rude, being rude is not good. My mother said there are only good people and bad people in the world and I am a good person…” (http://www.mynameiskhanthefilm.com/)

Menurut saya, inilah film terbaik Shah Rukh Khan yang pernah saya saksikan. Kuch-Kuch Hota Hai yang dulu pernah membuat saya menangis itu jadi terasa kalah jauh dibanding film ini. Tidak, saya tidak menangis saat menyaksikan My Name is Khan. Meskipun demikian, adegan dan dialog dalam film ini terasa dalam dan sering menyentak. Untuk penonton yang mengharapkan ada adegan berlarian di pepohonan atau ada selendang yang terbang khas film India, harus bersiap kecewa.

Rizvan Khan (Shah Rukh Khan), penderita Aspergers Syndrome, tinggal di San Francisco, kota dengan jembatan Golden Gate-nya yang terasa indah dalam salah satu puisi karya Sapardi Djoko Damono. Dia hidup bersama istrinya, Mandira (Kajol), dan anak Mandira dari perkawinan sebelumnya, Sameer alias Sam. Sejak 11 September 2001, kehidupannya berubah. Seperti kata Rizvan, jika penanggalan di dunia mengenal A.D (Anno Domini) dan B.C (Before Christ), maka 11 September 2001 adalah penanda perubahan bagi muslim ketika mereka seketika dianggap sebagai teroris. Rizvan dan keluarganya mulai menerima perlakuan buruk dari lingkungannya. Puncaknya adalah penganiayaan pada Sam yang dilakukan oleh teman-teman sekolahnya, yang berujung pada kematian Sam. Dalam kemarahan dan kesedihannya atas kematian Sam, Mandira yang beragama Hindu menganggap kejadian itu adalah salah Rizvan.  Jika saja Sam tak menggunakan nama belakang Khan, mungkin dia masih hidup. Mandira mengusir Rizvan, dan hanya memperbolehkannya pulang jika Rizvan telah bertemu dengan presiden Amerika Serikat dan mengatakan, “My name is Khan, and I am not a terrorist..”. Selanjutnya, dimulailah perjalanan besar Rizvan untuk kembali mendapatkan cinta istrinya.

Hal yang membuat saya kurang sreg dengan film ini adalah ketika Rizvan membantu korban badai di Wilhemina, Georgia. Menurut saya, agak sedikit berlebihan. Selain itu, tas ransel yang dipanggul Rizvan selama perjalanannya terlihat begitu enteng untuk sebuah perjalanan yang terbilang panjang. Walaupun begitu, secara garis besar film ini bagus. Jalinan ceritanya kuat, dialognya padat, dan soundtrack–nya juga memikat. Lagu favorit saya? Lagu saat Rizvan naik bis yang melaju di jalanan pinggir pantai. Lagunya agak nge-rock, dan, sayangnya, saya tak tahu judul lagunya.

Melihat film ini membuat saya jadi ingat masa lalu. Adegan pemeriksaan atas Khan di bandara Wahington D.C membuat saya teringat pengalaman saat datang ke negeri itu pada tahun 2004. Tas-tas dibuka dengan kasar dan petugas pemeriksaan tak tersenyum kepada orang yang isi tasnya diacak-acak itu. Dalam perjalanan pulang, pemeriksaan yang sama terjadi, dan salah satu mug yang saya niatkan jadi oleh-oleh malah jadi korban. Retak. Tinggal menuju pecah. Saya tak tahu apakah saat ini pemeriksaan di bandaranya masih seperti itu, terutama kepada penumpang yang datang dari negara yang dianggap patut diwaspadai. Shah Rukh Khan sendiri pernah mengalami hal yang hampir sama, ditahan di bandara New Jersey selama dua jam karena namanya masuk dalam daftar di komputer petugas bandara sebagai orang yang “wajib diwaspadai”.* Mungkin pengalaman pribadi itu juga yang membuat Shah Rukh Khan tampil menawan di film ini.

Film ini membawa sebuah pelajaran berharga bahwa menjadi berbeda, termasuk berbeda keyakinan, bukanlah kesalahan. Seperti kata Ibu Rizvan, hanya ada dua jenis orang di dunia. Orang yang berbuat baik, dan orang yang berbuat buruk. Tak peduli apa keyakinannya.

Catatan :

*http://www.tempointeraktif.com/hg/gosip/2009/08/16/brk,20090816-192795,id.html

  1. Dialog yang menurut saya cukup menggigit adalah “My name is Khan, and I’m not a terrorist.”, serta “I should never have married a Muslim man,” yang diucapkan Mandira kepada Khan saat Sam meninggal.
  2. Untuk Anda yang ingin melihat trailer film ini, silakan melihatnya di http://www.21cineplex.com/21video.cfm?id=490. Sebagai informasi, tak semua bioskop memutar film ini. Silakan lihat di website di atas untuk jadwal dan tempat pemutarannya.

Post to Twitter Tweet This Post

Edge of Darkness

Akhirnya saya menemukan film action yang tak hanya memikat adegan bak bik buk atau dar der dor-nya, tapi juga kuat jalinan ceritanya. Makin terasa lengkap karena akting para pemainnya patut diacungi jempol, dan sutradaranya mampu  menampilkan adegan-adegan yang tidak pasaran.

Adalah Thomas Craven (Mel Gibson), seorang detektif di kepolisian Boston yang mengalami kejadian tak terduga dalam hitungan jam. Mulai dari menjemput anak perempuannya di stasiun kereta, terlibat dalam pembicaraan selama perjalanan pulang tentang pacar sang anak (yang dibalas si anak dengan anjuran yang sama supaya ayahnya segera mencari seorang kekasih), hingga akhirnya melihat sang anak ditembak tepat di depan matanya, di teras rumah mereka.

Rentetan kejadian itu membawa Craven menelusuri kehidupan pribadi anaknya. Emma Craven, 24 tahun, lulusan MIT yang kemudian menjadi pegawai magang di sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang penelitian.  Penelusuran Craven tidaklah mudah. Orang-orang yang dia datangi sulit memberikan informasi karena nyawa taruhannya. Namun akhirnya, kebenaran sedikit demi sedikit terungkap.

Biasanya, saya bisa menebak kira-kira akan seperti apa alur cerita film action, atau adegan apa yang akan muncul berikutnya, atau juga, kalimat apa yang akan meluncur dari bibir para pemainnya. Tapi, sampai selesainya film ini, saya cuma berhasil menebak satu adegan. Yaitu saat Thomas Craven menyapa tokoh bernama Robinson. Saat Craven meminta supaya Robinson melepas kaca matanya, saya tebak Craven akan meninju muka Robinson. Tenyata, benar! :D

Perhatian khusus perlu diberikan untuk Mel Gibson, pemeran Thomas Craven, dan Ray Winstone, pemeran Jedburgh. Mel Gibson, lagi-lagi, sukses berperan sebagai orang tua tunggal yang penuh kasih sayang, seperti yang dia lakukan dalam film The Patriot. Dalam Edge of Darkness, Mel Gibson menghidupkan tokoh Thomas Craven sebagai detektif yang disegani, sekaligus “family man”. Memajang foto Emma dimana-mana, tak merokok, tak minum anggur, dan pandai menjaga rumah tetap rapi. Bagian yang terakhir ditunjukkan dengan halus saat Emma datang dan menyentuh sebuah patung yang jadi hiasan di dalam rumah. Tak berdebu.

Martin Campbell, sang sutradara, terlihat piawai dalam detail semacam ini. Dia juga bisa menampilkan kesedihan Craven pasca kematian anaknya dengan cara yang tak biasa. Handuk kecil berlumur darah yang dipakai Craven membersihkan wajahnya yang terkena darah Emma, disimpan Craven di dalam sebuah gelas di atas wastafel. Sebuah penanda kejadian pahit yang tetap ingin dikenangnya. Klimaks tercapai saat Campbell menutup film ini dengan adegan yang manis namun getir. :)

Tak seperti film lain yang menunjukkan dengan jelas batas protagonis dan antagonis, di film ini Jedburh, yang dimainkan Ray Winstone, justru seolah berada dalam wilayah abu-abu. Dialah think tank yang punya tugas “melahirkan” teori atas sebuah kejadian, tentunya dengan sudut pandang yang menguntungkan pemerintah, alias pihak yang mempekerjakannya. Namun ternyata, pertemuannya dengan Craven membuatnya kembali berpikir tentang makna “keluarga”, dan justru membuatnya tidak jadi membunuh Craven. Adu akting antara Ray Winstone dan Mel Gibson dalam beberapa adegan percakapan mereka sangat tak pantas untuk dilewatkan! :)

Bagi saya, film ini membawa beberapa pelajaran penting. Pelajaran pertama, perantau sebaiknya tak bosan berkirim kabar pada keluarga di rumah, terutama berbagi cerita tentang tempat tinggal, tempat kerja, dan posisi di tempat kerja. Membuat keluarga bertanya-tanya (sambil khawatir) tentang kondisi anaknya di kota lain sangatlah tidak disarankan. Film ini menunjukkan bahwa Emma Craven toh tetap kembali pada ayahnya saat dia dalam kondisi terjepit dan butuh bantuan. Pelajaran kedua, ayah tetaplah ayah. Punya cinta untuk anaknya.

Semoga memang benar demikian adanya.

foto diambil dari http://www.reelmovienews.com/gallery/edge-of-darkness-poster/

foto diambil dari http://www.reelmovienews.com/gallery/edge-of-darkness-poster/

Post to Twitter Tweet This Post

Vicky Cristina Barcelona

“only unfulfilled love can be romantic..”

Kalimat itu diucapkan Juan Antonio Gonzalo mengutip perkataan mantan istrinya, Maria Elena. Akhirnya, kalimat itu juga yang dialami Juan Antonio dengan Vicky, seorang Amerika yang bertemu Juan Antonio di Barcelona.

Vicky dan Juan Antonio Gonzalo saling tertarik walaupun awalnya sering timbul perselisihan. Tahu apa yang membuat Juan tergila-gila pada Vicky? Karena Vicky tak gampang ditaklukkan. Celah bagi Juan untuk merebut hati Vicky adalah dengan mengajak Vicky melihat pertunjukan Spanish guitar. Juan tahu benar, Vicky sangat memuja permainan gitar. Diskusi mereka tentang banyak hal membuat Juan tahu dia jatuh cinta pada Vicky. Sayangnya, Vicky sudah bertunangan dengan orang lain dan akan segera menikah.

Akhir film ini sangat “rasional”. Vicky memilih menjalani hidup dengan suami yang sangat mencintainya, sedangkan Juan Antonio Gonzalo tetap dengan kesendiriannya, sambil terus berhadapan dengan mantan istrinya yang “setengah gila”, Maria Elena.

Sedikit memplesetkan judul album U2, “all that he can’t leave behind..” :)

Oya, Penelope Cruz memang layak dapat Oscar. Perannya sebagai Maria Elena, mantan istri Juan Antonio Gonzalo yang posesif dan temperamental (bahkan nyaris membunuh Juan Antonio dan Vicky) sungguh luar biasa.

Tak terbayangkan jika harus menghadapi jenis perempuan seperti itu dalam dunia nyata :)

Post to Twitter Tweet This Post

A Scene at the Sea

Dua tuna rungu memadu kasih.

Yang lelaki ingin belajar berselancar. Semangatnya tinggi, meski dia harus menahan dingin karena tak punya wet suit.


Yang perempuan duduk di pasir pantai. Setia menemani si lelaki berlatih. Memandangnya, sambil melipat celana jeans dan kaos yang diletakkan si lelaki di pasir.
Si lelaki gagal pada lomba selancar pertamanya. Alasannya sangat menusuk hati. Dia tak mendengar saat namanya dipanggil panitia. Perlombaan kedua, dia jadi juara, tapi bukan juara pertama.
Suatu hari, si lelaki berlatih sendirian saat cuaca sedang tak baik. Si perempuan lantas mencari di pantai. Tak ada. Yang muncul hanya papan selancar, tanpa pemiliknya.
Si perempuan membawa papan selancar itu ke pantai tempat pertama kali si lelaki berlomba. Dia lekatkan selembar foto di papan selancar. Ada wajah mereka berdua, ada pula sebuah piala di foto itu. Papan selancar lantas dihanyutkan si perempuan ke laut.
Selesai.
****
“Dimensi cinta mereka aneh ya?” tanya komandanku kepadaku.
Aneh tapi indah, menurutku.
****
Jumat petang yang indah di akhir Januari. Kami bertiga berjanji nonton film A Scene at the Sea di Taman Ismail Marzuki. Film itu diputar secara gratis sebagai bagian dari pekan film Jepang yang aku lupa siapa penyelenggaranya. Maaf.

Selesai nonton film itu, kami berbincang sambil makan ayam bakar di salah satu kios makan di Taman Ismail Marzuki.

Khanis Suvianita sudah beberapa bulan berada di Jakarta untuk mengikuti kursus persiapan menjelang keberangkatannya ke Amerika Serikat. Dia mendapatkan beasiswa dari Ford Foundation. Sedangkan Dian Lestari berada di Jakarta untuk mengurus beberapa hal sebelum benar-benar pindah ke kota ini.
Pertemuan petang itu terasa seperti sebuah reuni kecil. Sebelumnya kami sama-sama menjadi peserta Kursus Narasi di Yogyakarta. Perbincangan kami menyegarkan ingatanku tentang teman yang hebat dan bersemangat. Ada yang kini telah kembali ke Swedia, ada pula yang makin terasah kemampuan menulis dan memotretnya.
Lalu, apa kabarmu Astri?

 

 

Post to Twitter Tweet This Post