Category: Music

Gitaris Hujan

IMG_1936 edit watermark

Dialah gitaris yang membuat saya tak mau lagi berganti nada tunggu. Lagu lain boleh ikut hadir bersamanya dalam nada tunggu saya, tapi lagunya akan tetap jadi yang utama.

Saya harus berterimakasih pada Mas Bagus yang beberapa tahun lalu telah memperdengarkan beberapa lagu karya Pak Jubing Kristianto. Layaknya kisah remaja, saya jatuh cinta pada pendengaran pertama. Sebuah lagu tentang hujan pagi berhasil memikat saya.

Sabtu, 19 Juni 2010, saya bertemu lagi dengan Pak Jubing dalam sebuah acara di Pacific Place. Kejutan, Pak Jubing mengawali penampilannya dengan lagu baru yang akan masuk dalam album terbarunya. Judul lagu itu Wangi Hujan.

Hujan memang tak hanya milik Pak Sapardi. Album-album Pak Jubing jadi bukti. Selalu ada lagu tentang hujan dalam tiga album fantasy. Morning Rain dalam album Becak Fantasy, Hujan Fantasy dan Once Upon a Rainy Day dalam album Hujan Fantasy, serta Clouds dalam album Delman Fantasy. Selanjutnya, akan ada Wangi Hujan dalam album yang saya belum tahu apa namanya. Hujan memang sumber inspirasi.

Dua kali saya berkesempatan menikmati keindahan permainan gitar Pak Jubing. Dua kali pula saya berfoto dengannya. Di Jogja maupun Jakarta, senyum saya sama lebarnya. Bedanya, saya makin tua :)

2094784748_b2d5e3debb

IMG_1912_edit_2

Post to Twitter Tweet This Post

Hey!

“Kerja adalah cinta, yang ngejawantah

Dan jika kau tiada sanggup bekerja dengan cinta

Hanya dengan enggan

Maka lebih baik jika kau meninggalkannya

Lalu mengambil tempat di depan gapura candi

Meminta sedekah dari mereka

Yang bekerja dengan suka cita

-Dari sang Nabi, Kahlil Gibran “-

Hey!

Angkat wajahmu

Bermuram durja tak guna

Susunlah lagi rencana yang harus engkau benahi

Bangun jiwa, bangun raga bijana

Hey!

Bertahanlah

Kegagalan adalah satu sukses tertunda

Jangan ragu, tetap pada arahmu sejak dulu

Keyakinan, pengharapan, teguh dalam tujuan

Bekerja dengan cinta

Bagai Sang Pencipta

Membentuk citra insaninya

Satukan dirimu seutuhnya…

Hey!

Siagalah

Raih kesempatan begitu kau jumpa

Atur nadimu seiring irama bumi mengalun

Bangun jiwa, bangun raga bijana

Bekerja dengan cinta

Bagai Sang Pencipta

Membentuk citra insaninya

Satukan dirimu seutuhnya…

Sebar benih penuh kemesraan

Hingga panen tiba

Kita tuai kegirangan…

Satukan dirimu seutuhnya…

* Lagu KLa Project yang satu ini sekarang jadi terasa begitu menusuk…Tak disangka, akhirnya saya kena juga…hehehe :D

Post to Twitter Tweet This Post

I Need to Wake Up

Have i been sleeping?
I’ve been so still
Afraid of crumbling
Have i been careless?
Dismissing all the distant rumblings
Take me where i am supposed to be
To comprehend the things that i can’t see

Cause i need to move
I need to wake up
I need to change
I need to shake up
I need to speak out
Something’s got to break up
I’ve been asleep
And i need to wake up
Now

And as a child
I danced like it was 1999
My dreams were wild
The promise of this new world
Would be mine
Now i am throwing off the carelessness of youth
To listen to an inconvenient truth

That i need to move
I need to wake up
I need to change
I need to shake up
I need to speak out
Something’s got to break up
I’ve been asleep
And i need to wake up
Now

I am not an island
I am not alone
I am my intentions
Trapped here in this flesh and bone

And i need to move
I need to wake up
I need to change
I need to shake up
I need to speak out
Something’s got to break up
I’ve been asleep
And i need to wake up
Now

I want to change
I need to shake up
I need to speak out
Oh, something’s got to break up
I’ve been asleep
And i need to wake up
Now

-I Need to Wake Up, by Melissa Etheridge-

Post to Twitter Tweet This Post

Biola

Namanya Arif. Rambut gondrong, celana jeans tiga perempat, kaos dibalut jaket jeans, dan luka kecil di tumit kaki kirinya.

“Habis jatuh dari motor, Mbak..”

Dia duduk tak jauh dari saya. “Penolakan” kantor pajak untuk melayani pembuatan NPWP di hari Sabtu membuat saya memilih datang ke Taman Suropati, sebelum masuk kantor jam setengah sepuluh. Baru sekali itu saya benar-benar menikmati suasana Taman Suropati. Biasanya, sekedar lewat saat berangkat atau pulang kantor. Memandang dari kejauhan. Pagi ini, akhirnya saya duduk di salah satu bangku taman itu. Membaca Kompas Sabtu sambil sesekali menatap air mancur yang sering didatangi merpati-merpati untuk minum. Dua pagupon berwarna hijau terletak tak jauh dari situ.  

Saya ingat, Sabtu sekitar sebulan yang lalu, saya melihat banyak orang berkumpul di taman ini, lalu memainkan biola mereka. Asyik sekali. Anak-anak pun ada.

“Di sini memang tempat ngumpul komunitas kami, Mbak,” Arif menjelaskan. Komunitas yang dia maksud adalah komunitas pemain biola, gitar, dan teater. Anggota komunitas cukup beragam, mulai dari mahasiswa hingga anak jalanan. Pagi itu Arif berada di taman dengan beberapa temannya. Sepertinya mereka masih menunggu beberapa orang lainnya.

Saat saya bertanya dimana dia tinggal, jawabannya singkat saja.

“Di sini.”

“Di sini?” saya mengulang jawabannya dengan nada tidak yakin.

‘Iya, di sini. Di Taman Suropati. Paling 2 hari sekali saya pulang ke rumah di Rawamangun, cuma buat ganti baju, terus ke sini lagi,” jawabnya.

Dia lalu membuka tas hitam di sampingnya. Dari bentuknya, saya menduga ada biola di dalamnya. Ternyata benar. Dia mulai mengeluarkan biola serta penggeseknya.

“Sudah lama main biola?” tanya saya padanya.

“Masih belajar kok, Mbak. Belajar main biola itu yang penting sabar, jangan cepat-cepat ingin bisa main biola.”

Kalimat-kalimatnya runtut bercerita seperti apa sebaiknya jika ingin belajar memainkan biola. Ujung-ujungnya, tetap saja si pembelajar harus bisa membaca not balok. Membaca partitur.

“Bisa baca partitur itu penting, Mbak. Itu masa depan. Kalau bisa baca partitur, nanti bisa ikut orkestra atau jadi guru musik.”

Saya manggut-manggut mendengar penjelasannya. Tak cukup dengan kata-kata, dia mulai beraksi. Awalnya doremifasolasido, lalu (ini dia!) lagu klasik.

“Tahu judulnya nggak, Mbak?”

“Enggak,” jawab saya jujur.

Bibirnya lantas fasih menyebut judul lagu yang dia mainkan. Nama Johan Sebastian Bach dan beberapa nama besar dalam jagat musik klasik tak lupa dia sertakan . Lagi-lagi, saya cuma manggut-manggut. Setelah beberapa kali memainkan lagu klasik tanpa respon memadai dari saya, dia mainkan lagu yang nada-nadanya cukup saya kenal, tapi tetap saja saya tak bisa menyebut judulnya. Ternyata, yang dia mainkan adalah “Ayat-Ayat Cinta”. Untuk yang satu ini, saya membela diri dalam hati, bahwa saya memang tidak memasukkan lagu itu dalam daftar lagu yang saya suka :)

Menjelang jam setengah sepuluh, kami bertukar nomor telepon seluler. Saya akan menghubunginya nanti, jika saya jadi belajar main biola.

Post to Twitter Tweet This Post

Goodbye My Lover

Semuanya berawal seusai menonton final Piala Uber beberapa waktu lalu. Jemari saya sibuk memencet remote TV, dan….saya melihatnya !! Saya melihat pria itu ! Pria yang memikat saya dengan suksesnya saat dia bermain piano di acara Oprah Winfrey, dulu.

Goodbye My Lover, itu lagu yang dia nyanyikan di acara Oprah Winfrey. Sisi lain dari lagu You’re Beautiful yang ngelangut itu. Ah, saya masih ingat penampilannya malam itu. Sendirian di tengah panggung, tersembunyi di balik grand piano. Suaranya khas, membuat orang langsung mengenal tanpa perlu melihat wajahnya. Itulah pertama kali saya melihatnya bermain piano, memainkan lagu yang belum pernah saya dengar, tapi langsung membuat saya berjanji dalam hati untuk mencari lagu itu.

Ketika saya berkesempatan melihatnya memainkan lagu itu lagi, apa yang saya rasakan ternyata masih sama. Tergetar. Kagum pada lirik lagu, pada permainan piano, dan pada penghayatannya saat menyanyi. Tak perlu koreografi yang rancak, tak perlu pula tata panggung dengan lampu ribuan watt. Dia sudah cukup kuat untuk membuat setiap penontonnya terbius dengan rela…

Post to Twitter Tweet This Post

WordPress Themes