Namanya Arif. Rambut gondrong, celana jeans tiga perempat, kaos dibalut jaket jeans, dan luka kecil di tumit kaki kirinya.
“Habis jatuh dari motor, Mbak..”
Dia duduk tak jauh dari saya. “Penolakan” kantor pajak untuk melayani pembuatan NPWP di hari Sabtu membuat saya memilih datang ke Taman Suropati, sebelum masuk kantor jam setengah sepuluh. Baru sekali itu saya benar-benar menikmati suasana Taman Suropati. Biasanya, sekedar lewat saat berangkat atau pulang kantor. Memandang dari kejauhan. Pagi ini, akhirnya saya duduk di salah satu bangku taman itu. Membaca Kompas Sabtu sambil sesekali menatap air mancur yang sering didatangi merpati-merpati untuk minum. Dua pagupon berwarna hijau terletak tak jauh dari situ.
Saya ingat, Sabtu sekitar sebulan yang lalu, saya melihat banyak orang berkumpul di taman ini, lalu memainkan biola mereka. Asyik sekali. Anak-anak pun ada.
“Di sini memang tempat ngumpul komunitas kami, Mbak,” Arif menjelaskan. Komunitas yang dia maksud adalah komunitas pemain biola, gitar, dan teater. Anggota komunitas cukup beragam, mulai dari mahasiswa hingga anak jalanan. Pagi itu Arif berada di taman dengan beberapa temannya. Sepertinya mereka masih menunggu beberapa orang lainnya.
Saat saya bertanya dimana dia tinggal, jawabannya singkat saja.
“Di sini.”
“Di sini?” saya mengulang jawabannya dengan nada tidak yakin.
‘Iya, di sini. Di Taman Suropati. Paling 2 hari sekali saya pulang ke rumah di Rawamangun, cuma buat ganti baju, terus ke sini lagi,” jawabnya.
Dia lalu membuka tas hitam di sampingnya. Dari bentuknya, saya menduga ada biola di dalamnya. Ternyata benar. Dia mulai mengeluarkan biola serta penggeseknya.
“Sudah lama main biola?” tanya saya padanya.
“Masih belajar kok, Mbak. Belajar main biola itu yang penting sabar, jangan cepat-cepat ingin bisa main biola.”
Kalimat-kalimatnya runtut bercerita seperti apa sebaiknya jika ingin belajar memainkan biola. Ujung-ujungnya, tetap saja si pembelajar harus bisa membaca not balok. Membaca partitur.
“Bisa baca partitur itu penting, Mbak. Itu masa depan. Kalau bisa baca partitur, nanti bisa ikut orkestra atau jadi guru musik.”
Saya manggut-manggut mendengar penjelasannya. Tak cukup dengan kata-kata, dia mulai beraksi. Awalnya doremifasolasido, lalu (ini dia!) lagu klasik.
“Tahu judulnya nggak, Mbak?”
“Enggak,” jawab saya jujur.
Bibirnya lantas fasih menyebut judul lagu yang dia mainkan. Nama Johan Sebastian Bach dan beberapa nama besar dalam jagat musik klasik tak lupa dia sertakan . Lagi-lagi, saya cuma manggut-manggut. Setelah beberapa kali memainkan lagu klasik tanpa respon memadai dari saya, dia mainkan lagu yang nada-nadanya cukup saya kenal, tapi tetap saja saya tak bisa menyebut judulnya. Ternyata, yang dia mainkan adalah “Ayat-Ayat Cinta”. Untuk yang satu ini, saya membela diri dalam hati, bahwa saya memang tidak memasukkan lagu itu dalam daftar lagu yang saya suka
Menjelang jam setengah sepuluh, kami bertukar nomor telepon seluler. Saya akan menghubunginya nanti, jika saya jadi belajar main biola.
Tweet This Post