Istri :
Berapa kecepatanmu mengetik? Derap jarimu di atas keyboard menimbulkan suara khas di telingaku. Enak. Paling tidak aku tahu, ketika jarimu berderap, berarti kamu masih di meja itu, di samping sofa tempatku tergeletak lemas menutup mata.
Aku heran, kita sama-sama kuli yang bekerja dari subuh hari hingga bulan datang, tapi kamu masih sanggup mengetik di rumah pada jam sebelas malam! Lebih herannya lagi, kamu bilang semua itu adalah ritual!
“Aku tak bisa tidur sebelum menuliskan semua ini, Sayang..,” ucapmu tenang.
Oke, kamu tidak bisa tidur sebelum menyalurkan isi otakmu ke dalam laptop. Tapi rasanya konyol bahwa aku harus bersaing dengan laptopmu.
“Ya ampun, kamu dan laptop adalah dua hal yang berbeda! Jelas aku memilihmu. You’re my wife!”
Ya ya ya, aku hafal jawabanmu itu. Tapi sudah tiga bulan rutinitas jam sebelas malammu itu berlangsung! Astaga, aku tak bisa tiap hari tergeletak di sofa sambil menutup mata, sementara orkestra kodok di kolam depan seolah menyindirku yang sedang kesepian.
********
Suami :
Maaf membuatmu sedikit terabaikan, Sayang. Sebentar lagi semuanya sempurna kusiapkan. Menguras tenaga, tapi entah kenapa aku tak keberatan.
Kamu suka derap jariku? Bagaimana bunyinya? Ceritakan padaku, biasanya kamu kemampuan tepat dan kuat untuk menggambar dengan kata. Kamu tahu, itulah yang membuatku jatuh cinta…
Menggambar dengan kata, menulis itulah yang kumau sejak dulu. Dan aku merasa bersyukur menemukanmu, diantara belantara mahasiswa di Jogja.
Terimakasih telah mendukungku sejauh ini, tak disangka perjalanan berdua menjadi sebegini berarti. Ayahku bilang, apa itu menulis? Tak lebih hanya “tukang ketik”. Apa pula itu penggambar dan perangkai kata? Dia tak mengerti, dan memang tak mau mencoba mengerti, sebuah tulisan pun butuh cinta untuk membuatnya berjiwa. Baginya, segala rumus dan persamaan adalah pemecahan terbaik atas semua permasalahan. Hanya saja, mungkin dia lupa, jiwaku memilih kata, bukan angka.
Memandangmu tertidur di sofa merah bata adalah keindahan yang disimpan malam dalam tiga bulan belakangan. Aku tahu, kamu mulai tidak sabar menunggu. Setiap pertanyaanmu tentang apa yang kutulis selalu kujawab dengan mengelak.
“Belum jadi, Sayang…tulisannya belum selesai…belum boleh dibaca…”
Dan kamu akan memasang tiga lipatan di wajahmu, kecewa dengan jawabanku, lalu sok sibuk dengan buku bacaanmu itu. Padahal aku tahu pasti, dari berbulan-bulan lalu kamu tak beranjak dari bagian daftar isi. Mencoba mencari dimana letak kekuatan buku itu, dan sepertinya sekarang kamu memilih asal membacanya daripada kesal dengan jawabanku.
Maaf, judul semua ini adalah “kejutan”, dan aku harus bertahan untuk menyimpan sampai waktu yang telah ditentukan.
******
Istri :
Kamu tahu, rumah terasa kosong. Meja bilyarmu kesepian ditinggal pemain hebatnya. Sarapan pagiku berbeda, sesapan milo hangatku tak lagi ditingkahi nyanyian favoritmu, “..every little thing she does is magic..”
Tapi, Morning Rain milik Jubing masih setia menemaniku. Seperti halnya kamu, yang setia menyapaku tiap pagi dari kota itu. Sungguh, aku bersyukur melakukan perjalanan hidup denganmu, walaupun sekarang terpisah sementara demi pekerjaan…
Oya, Mbak Sum, yang biasanya datang pagi pulang sore, sekarang kuminta tinggal di rumah, pulang hanya akhir pekan. Gajinya kunaikkan dan kubayar tiap bulan, tak lagi harian. Sabtu sore barulah dia pulang ke rumahnya yang cuma beda dua gang dari rumah kita.
Pada saat yang sama, aku akan lari ke rumah Ibu di selatan kota. Menghabiskan waktu di dapur bersamanya, berdebat tentang definisi “secukupnya” dalam resep masakan itu tepatnya seberapa. Ya, aku belajar memasak enak dan membuat kue yang lezat. Siapa tahu kamu pulang besok pagi, ingin kutunjukkan keahlianku.
Sekarang aku mengerti kenapa saat itu jarimu berderap begitu cepat di atas keyboard laptop ini. Apa kamu takut kehilangan waktu? Sudah datangkah firasat itu padamu? Aku tak tahu apa kamu memberikan laptopmu padaku dengan sengaja atau tidak. Bukankah kita sepakat laptop adalah wilayah masing-masing yang tak akan saling kita masuki? Nyatanya, kamu tinggalkan laptop di meja, terbuka tanpa perlu memasukkan sederet kata sandi. Dan memang, tak ada lagi kotak untuk memasukkan sandi itu. Kamu menyediakannya untukku…
Jadi, tolong jangan marah padaku karena aku membaca data-datamu, setiap tulisanmu, buah pikiranmu. Ada yang fiksi ada yang nyata. Aku baru tahu, isi kepalamu banyak juga yang liar luar biasa.
Kamu tahu apa yang kulakukan sekarang? Menderapkan jari di atas keyboard laptopmu. Akan kubalas semua tulisan indah dalam buku yang kamu letakkan di samping bantalku pagi itu.
“Jari Yang Berderap : Catatan Seorang Suami”
Tahukah kamu, aku tersenyum membaca sandi rumputmu di salah satu sudut halaman judul buku itu.
“Selamat ulang tahun. Terimakasih, kamu mau tumbuh tua bersamaku…”
Tweet This Post