Category: International Relations

Diplomat Sepanjang Jalan

Itulah judul yang dipakai Tempo untuk tulisan tentang Ali Alatas, sekitar setahun silam. Sejak saya SD, Ali Alatas adalah nama menteri yang paling saya ingat, selain Harmoko sebagai Menteri Penerangan, dan Moerdiono sebagai Mensesneg. Ali Alatas pula orang yang bertanggung jawab atas tumbuhnya mimpi saya untuk mengikuti jejaknya menjadi diplomat, walau akhirnya saya sadar, saya memang tidak berjodoh dengan Deplu  Meskipun begitu, saya percaya, setiap orang sejatinya adalah diplomat, setidaknya bagi dirinya sendiri.

Almarhum dosen saya, Bapak Sugiono, sering pula mengatakan dalam kuliahnya, kita bisa menjadi diplomat di mana saja dan kapan saja, tak perlu harus bekerja di Deplu. Itulah mengapa dalam Hubungan Internasional dikenal pula istilah Multitrack Diplomacy. Diplomasi multi jalur, bahwa diplomasi bisa dilakukan dengan banyak cara dan saluran. Tak cuma lewat jalur pemerintahan, tapi bisa pula dilakukan oleh orang biasa, bahkan musisi. Siapa contoh diplomat yang juga musisi? Bono U2.
Pelajaran pertama yang saya dapat dari bangku kuliah tentang diplomat adalah definisinya yang menohok. Diplomat is a gentleman or a lady, who sent abroad TO LIE for his or her country. “TO LIE”. Untuk menjadi pembohong, atas nama kepentingan negara.
Tapi, ada juga pelajaran lain yang saya dapat tentang diplomat. Sebuah kalimat legendaris. Tell the truth, but not the whole truth. Katakan yang benar, tapi jangan semua yang benar dikatakan. Salah satu dosen saya berulang kali mengatakan hal itu karena itulah salah satu modal untuk jadi diplomat. Kecerdasan yang berpadu dengan kehati-hatian sekaligus keluwesan dalam berbicara.

Meskipun ada definisi miring tentang diplomat, saya tetap mengagumi mereka yang berprofesi sebagai diplomat. Kekaguman itu terutama teralamatkan pada Ali Alatas. Sejak beberapa tahun lalu, kekaguman saya mulai terbagi juga pada sosok Marty Natalegawa. Begitu banyak hal yang telah dilakukan Ali Alatas untuk negara ini melalui profesinya sebagai diplomat. Saya rasa, seterusnya, diplomat-diplomat Indonesia akan menaruh hormat padanya.

Selamat jalan, Pak Ali Alatas…

 

Post to Twitter Tweet This Post

Seminar Hasil Hibah Penelitian, Jurusan Hubungan Internasional UGM

“Menurut Anda, apakah Cinta Laura orang Indonesia?”

“Bukan. Cinta Laura bukan orang Indonesia, karena dia tidak berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.”

Itulah contoh tanya jawab antara tim peneliti dengan responden dalam penelitian Globalisasi Budaya dan Bahasa Indonesia sebagai Identitas Bangsa. Hasil penelitian tersebut, bersama dengan hasil tiga penelitian lainnya, akan dipublikasikan dalam Seminar Hasil Hibah Penelitian yang diselenggarakan atas kerjasama FISIPOL UGM dnegan Jurusan Hubungan Internasional UGM dan Laboratorium Studi Globalisasi UGM pada hari Rabu 10 Desember 2008 di Ruang Seminar Fisipol UGM, Jalan Sosio Yustisia Yogyakarta.

“Encountering Globalization” adalah tema besar penelitian, yang kemudian dikembangkan oleh tim peneliti ke dalam berbagai judul penelitian. Dalam hal ini, globalisasi dipahami tidak hanya sebagai sesuatu yang harus diikuti atau pun ditentang, namun bisa pula dimanfaatkan untuk mendapatkan keuntungan.

Berikut adalah penjelasan singkat tentang empat hasil penelitian yang akan dipublikasikan dalam Seminar Hasil Hibah Penelitian. Penelitian ini dilakukan oleh mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional FISIPOL UGM yang rata-rata merupakan angkatan 2005 atau 2006.

1. Globalisasi Budaya dan Bahasa Indonesia sebagai Identitas Bangsa

Tim Peneliti : Ayu Diasti  Rahmawati, Randy Wirasta Nandyatama, Raras Cahyafitri

Di Indonesia, minat masyarakat dalam mempelajari dan menggunakan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, cukup tinggi. Alasannya sederhana, mulai dari kenyamanan hingga tuntutan kerja atau studi. Fenomena ini menghasilkan dua pendapat berbeda. Pendapat pertama mengatakan penggunaan istilah-istilah asing tersebut tidak menjadi masalah besar karena Bahasa Indonesia pun memiliki banyak kosakata yang merupakan turunan atau serapan dari bahasa asing. Sedangkan pendapat kedua mengatakan Bahasa Indonesia adalah identitas nasional yang mungkin akan terancam keberadaannya dengan adanya penggunaan istilah asing yang tidak pada tempatnya. Dengan latar belakang itu, bagaimana globalisasi mempengaruhi peningkatan penggunaan kata-kata asing dalam Bahasa Indonesia? Bagaimana pula kaitannya dengan bahasa sebagai identitas bangsa?

2. System of Rice Intensification (SRI) sebagai Strategi Anti Globalisasi dalam Bidang Pertanian : Perkembangan dan Tantangannya

Tim Peneliti : Anna Megawati, Arifiana Aprilia, Adibah Sayyidati, Rochmy Hamdani Akbar

SRI adalah representasi resistensi arus globalization from above dengan cara menggali kembali kearifan lokal dari nilai-nilai tradisionalisme yang ditinggalkan oleh petani-petani Dunia Ketiga dewasa ini, serta mengurangi ketergantungan terhadap produk-produk pertanian asing. Simak penjelasan tim peneliti tentang bagaimana SRI dapat mengurangi dampak buruk revolusi hijau, termasuk mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk dan benih impor. Jika penerapan SRI bisa memberikan keuntungan bagi petani, lantas mengapa pemerintah Indonesia kurang antusias dengan keberadaan SRI? Tim peneliti juga akan menjelaskan aktivitas transnasionalisme yang dilakukan oleh akademisi dan pihak lain sebagai bagian dari komunitas epistemik yang berusaha menyebarluaskan informasi tentang SRI.

3. Jogja, Ikon Budaya Lokal dan Etalase Global, Studi Kasus terhadap Pasar Tradisional Beringharjo dan Plaza Ambarrukmo ditinjau dari Perspektif Transformasionalis

Tim Peneliti : P. Sihol Siahaan, Yusfal Muna, Bagus Handoko, Bondan A.S

Jogja adalah kota tempat berpadunya ikon budaya lokal, misalnya Pasar Beringharjo, dan etalase global, misalnya Plaza Ambarrukmo. Lantas bagaimana pengaruh kehadiran Plaza Ambarrukmo terhadap industri kecil dan pasar tradisional di Yogyakarta? Faktor-faktor apa yang membuat Pasar Beringharjo mampu bertahan di tengah arus globalisasi dengan munculnya Plaza Ambarrukmo?

4. Penayangan Program Televisi Lokal Sebagai Upaya Membendung Imperialisme Budaya Barat, Studi Kasus : Jogja TV, RB TV, dan TA TV

Tim Peneliti : Khoirul Amin, Latifah Fitriyanti, Henty Apriliaastuti N,  Andereas Setya Nugraha

Latar belakang penelitian ini adalah adanya homogenisasi budaya barat terhadap budaya lokal, selain itu muatan lokal dalam tayangan TV nasional jumlahnya minim. Kemunculan televisi lokal di Yogyakarta menimbulkan harapan agar televisi lokal bisa berperan sebagai agen pembendung budaya barat. Bagaimana efektivitas televisi lokal dalam membendung tayangan yang cenderung berorientasi pada budaya barat? Tim peneliti akan menyampaikan hasil penelitian mereka dengan studi kasus Jogja TV, RB TV, dan TA TV.

Seminar ini gratis. Untuk informasi lebih lanjut dan konfirmasi kehadiran, silakan menghubungi Astri Kusuma, E-mail : astrikusuma@yahoo.com

Post to Twitter Tweet This Post

WordPress Themes