“Menurut Anda, apakah Cinta Laura orang Indonesia?”
“Bukan. Cinta Laura bukan orang Indonesia, karena dia tidak berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.”
Itulah contoh tanya jawab antara tim peneliti dengan responden dalam penelitian Globalisasi Budaya dan Bahasa Indonesia sebagai Identitas Bangsa. Hasil penelitian tersebut, bersama dengan hasil tiga penelitian lainnya, akan dipublikasikan dalam Seminar Hasil Hibah Penelitian yang diselenggarakan atas kerjasama FISIPOL UGM dnegan Jurusan Hubungan Internasional UGM dan Laboratorium Studi Globalisasi UGM pada hari Rabu 10 Desember 2008 di Ruang Seminar Fisipol UGM, Jalan Sosio Yustisia Yogyakarta.
“Encountering Globalization” adalah tema besar penelitian, yang kemudian dikembangkan oleh tim peneliti ke dalam berbagai judul penelitian. Dalam hal ini, globalisasi dipahami tidak hanya sebagai sesuatu yang harus diikuti atau pun ditentang, namun bisa pula dimanfaatkan untuk mendapatkan keuntungan.
Berikut adalah penjelasan singkat tentang empat hasil penelitian yang akan dipublikasikan dalam Seminar Hasil Hibah Penelitian. Penelitian ini dilakukan oleh mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional FISIPOL UGM yang rata-rata merupakan angkatan 2005 atau 2006.
1. Globalisasi Budaya dan Bahasa Indonesia sebagai Identitas Bangsa
Tim Peneliti : Ayu Diasti Rahmawati, Randy Wirasta Nandyatama, Raras Cahyafitri
Di Indonesia, minat masyarakat dalam mempelajari dan menggunakan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, cukup tinggi. Alasannya sederhana, mulai dari kenyamanan hingga tuntutan kerja atau studi. Fenomena ini menghasilkan dua pendapat berbeda. Pendapat pertama mengatakan penggunaan istilah-istilah asing tersebut tidak menjadi masalah besar karena Bahasa Indonesia pun memiliki banyak kosakata yang merupakan turunan atau serapan dari bahasa asing. Sedangkan pendapat kedua mengatakan Bahasa Indonesia adalah identitas nasional yang mungkin akan terancam keberadaannya dengan adanya penggunaan istilah asing yang tidak pada tempatnya. Dengan latar belakang itu, bagaimana globalisasi mempengaruhi peningkatan penggunaan kata-kata asing dalam Bahasa Indonesia? Bagaimana pula kaitannya dengan bahasa sebagai identitas bangsa?
2. System of Rice Intensification (SRI) sebagai Strategi Anti Globalisasi dalam Bidang Pertanian : Perkembangan dan Tantangannya
Tim Peneliti : Anna Megawati, Arifiana Aprilia, Adibah Sayyidati, Rochmy Hamdani Akbar
SRI adalah representasi resistensi arus globalization from above dengan cara menggali kembali kearifan lokal dari nilai-nilai tradisionalisme yang ditinggalkan oleh petani-petani Dunia Ketiga dewasa ini, serta mengurangi ketergantungan terhadap produk-produk pertanian asing. Simak penjelasan tim peneliti tentang bagaimana SRI dapat mengurangi dampak buruk revolusi hijau, termasuk mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk dan benih impor. Jika penerapan SRI bisa memberikan keuntungan bagi petani, lantas mengapa pemerintah Indonesia kurang antusias dengan keberadaan SRI? Tim peneliti juga akan menjelaskan aktivitas transnasionalisme yang dilakukan oleh akademisi dan pihak lain sebagai bagian dari komunitas epistemik yang berusaha menyebarluaskan informasi tentang SRI.
3. Jogja, Ikon Budaya Lokal dan Etalase Global, Studi Kasus terhadap Pasar Tradisional Beringharjo dan Plaza Ambarrukmo ditinjau dari Perspektif Transformasionalis
Tim Peneliti : P. Sihol Siahaan, Yusfal Muna, Bagus Handoko, Bondan A.S
Jogja adalah kota tempat berpadunya ikon budaya lokal, misalnya Pasar Beringharjo, dan etalase global, misalnya Plaza Ambarrukmo. Lantas bagaimana pengaruh kehadiran Plaza Ambarrukmo terhadap industri kecil dan pasar tradisional di Yogyakarta? Faktor-faktor apa yang membuat Pasar Beringharjo mampu bertahan di tengah arus globalisasi dengan munculnya Plaza Ambarrukmo?
4. Penayangan Program Televisi Lokal Sebagai Upaya Membendung Imperialisme Budaya Barat, Studi Kasus : Jogja TV, RB TV, dan TA TV
Tim Peneliti : Khoirul Amin, Latifah Fitriyanti, Henty Apriliaastuti N, Andereas Setya Nugraha
Latar belakang penelitian ini adalah adanya homogenisasi budaya barat terhadap budaya lokal, selain itu muatan lokal dalam tayangan TV nasional jumlahnya minim. Kemunculan televisi lokal di Yogyakarta menimbulkan harapan agar televisi lokal bisa berperan sebagai agen pembendung budaya barat. Bagaimana efektivitas televisi lokal dalam membendung tayangan yang cenderung berorientasi pada budaya barat? Tim peneliti akan menyampaikan hasil penelitian mereka dengan studi kasus Jogja TV, RB TV, dan TA TV.
Seminar ini gratis. Untuk informasi lebih lanjut dan konfirmasi kehadiran, silakan menghubungi Astri Kusuma, E-mail : astrikusuma@yahoo.com
Tweet This Post