Setiap kali hendak berpindah tempat tinggal, mengepak buku-buku adalah hal yang pasti kami lakukan. Akhir pekan lalu, kami butuh waktu seharian untuk kembali menata sekaligus menyortir buku dan majalah di kamar kami. Siapa sangka, buku dan majalah itu kini sudah menempati enam kontainer plastik. Mengerikan
Tenang, jumlah itu sebenarnya cuma kamuflase, karena hampir separuhnya adalah buku kuliah saya jaman S1 dan S2. Kenapa saya tetap menyimpannya dan tidak berpikir menjadikannya kertas kiloan? Hmm..entahlah. Mungkin dulu saya berpikir bahwa “Suatu hari nanti, tumpukan kertas-kertas ini akan berguna..”
Siapa sangka, adik bungsu saya diterima PMDK di UI pada jurusan yang sama dengan saya. Sedikit banyak, “tumpukan kertas-kertas” itu berguna baginya.
Dulu, saya dan suami menempatkan buku-buku dan majalah dalam kardus-kardus bekas tempat kertas A4. Sayangnya, kardus macam itu rentan terhadap udara lembab yang pada akhirnya akan membuat buku-buku di dalamnya mudah rusak. Itulah sebabnya kami beralih ke kontainer plastik yang rata-rata harganya 35 ribu rupiah di Giant.
Saya percaya, jumlah buku bukanlah suatu hal yang penting. Yang lebih berarti adalah jika buku itu bermanfaat bagi pembacanya. Oleh karena itu, sejak dulu saya tak keberatan buku-buku saya dipinjam oleh kawan. Saya senang jika buku-buku itu berguna. Masalahnya, saya tak hafal buku apa saja yang sudah kami punya. Repot kan? Bagaimana orang akan meminjam kalau mereka tak tahu buku apa yang bisa mereka pinjam?
Beberapa waktu lalu, saya coba mendata buku dan majalah yang kami punya dengan menscan sampul-sampul buku itu lalu mengunggahnya di akun FB saya. Tapi ternyata susah juga mengaturnya. Saya malah jadi bingung sendiri..hehehe… Jadi, saya pikir lebih baik saya pindahkan saja ke sebuah blog yang memang khusus untuk “menyimpan” buku dan majalah-majalah itu. Semacam bentuk virtual dari perpustakaan kecil yang rencananya akan menempati kamar depan dari rumah kontrakan kami mendatang
Seiring berjalannya waktu, saya berharap kami berdua bisa menyempatkan menulis semacam resensi atau catatan kecil tentang buku dan majalah tersebut. Oya, kami juga tak keberatan menerima kunjungan kawan yang hendak membaca buku di rumah, tentunya dengan perjanjian sebelumnya.
Sementara itu, silakan berkunjung ke perpustakaan kecil kami di www.aulialibrary.wordpress.com. Memang belum banyak isinya, tapi semoga tidak menjadi sia-sia
Tweet This Post
Senja ini istimewa, seolah merangkum semua hal indah yang terjadi sepanjang hari.
Saya berjumpa Anies Baswedan tadi siang, dan merasa “tercerahkan” dengan apa yang beliau sampaikan. (Dan saya makin bisa mengerti mengapa dulu Kompas menggunakan judul “Kesantunan Anies Baswedan”, dan bukan “Kepandaian Anies Baswedan”)
Jam 5 sore, saya melangkah ke Taman Suropati. Lebih tepatnya, menyeberang dari kantor menuju Taman Suropati. (Rasanya sudah lama tak ke Taman Suropati saat sore hari
). 3 bangku dari batu di tengah taman menjadi pilihan untuk menunggu suami yang sedang berjuang di tempat lain. Saya lalu mulai melanjutkan misi “mengejar Maret”. Membuka netbook, bertemu lagi dengan tulisan-tulisan tentang Al Gore, sambil sesekali menyeruput kopi.
Di tengah keasyikan menderapkan jari, telinga saya mendengar nada yang familiar. “What a Wonderful World”, dimainkan seseorang di kejauhan dengan saksofon. Manis sekali. Dimainkan dengan lancar, tanpa terbata-bata. Profesional. Berlanjut dengan “My Way”, lalu “Let it be Me”, “Somewhere Over the Rainbow”, dan sederet lagu lain. Tunggu, jangan-jangan dia Kenny G?
Senja ini saya jadi ingin berterimakasih pada sang pemain saksofon itu atas pilihan lagunya yang tepat sasaran. What a wonderful world…
Terimakasih ya Allah, untuk berita-berita baik yang datang hari ini. Terimakasih …
Tweet This Post
Lulus kuliah, hamil, dan punya anak. Bismillah..
Tweet This Post
Sore ini akhirnya tercapai cita-cita saya. Sore hari memandang hujan dari teras kamar, sambil menyesap kopi hangat. Memang ada tambahan tak terduga, yaitu sambil mengerjakan matriks-matriks yang cukup membuat pening kepala. Tapi, saya bahagia.
Momen seperti ini membuat saya makin mensyukuri keputusan saya untuk pindah ke tempat ini beberapa bulan yang lalu. Lokasinya dekat dengan kantor, dan bisa untuk suami istri. Ini salah satu alasan penting karena kos saya sebelumnya di daerah Setiabudi adalah kos putri, dan tidak bisa untuk suami istri. Kos saya saat ini sewa per bulannya memang agak mahal, tapi sebenarnya masih lebih murah dibanding kos suami istri di daerah Setiabudi. Di sana, biaya sewa per bulan rata-rata 1,5 juta.
Saat pertama kali datang ke kos ini, saya langsung tertarik pada sebuah kamar di lantai dua yang memiliki teras di depannya. Waktu itu saya sudah membayangkan, suatu sore saya akan duduk di situ untuk memandang hujan.
Saya memang senang memandang hujan. Ada kenikmatan yang saya rasakan. Sebuah jeda tak ternilai diantara setumpuk kesibukan.
Memang benar kata Pak Sapardi, “hujan itu rachmat, bukan?”
Tweet This Post
Bertemu lagi dengan Pak Sapardi seusai Pak Sapardi memberikan ceramah tentang puisi-puisi Rendra..
“Akhirnya ketemu orangnya setelah selama ini cuma ketemu di FB,” kata Pak Sapardi sambil tersenyum saat menjabat tanganku.
“Sekarang tinggal di Jogja atau Jakarta?” tanya Pak Sapardi, lagi.
Ah, terimakasih sudah mengingat saya Pak…Terimakasih untuk obrolan kita selama ini walau lewat dunia maya…
Syukurlah, akhirnya bisa foto dengan Pak Sapardi, karena pada pertemuan pertama di Newseum Cafe belum sempat foto bersama Pak Sapardi.
Kita lanjutkan obrolan di FB ya Pak..jangan bosan menemani saya lembur malam-malam..:)
*Foto oleh Johan Firmansyah
Lokasi : Salihara, 7 November 2009

- finally i met u for the second time, Pak..
Catatan :
bagi yang berminat untuk membeli buku-buku puisi Sapardi Djoko Damono, bisa menghubungi
Gunawan Maryanto.
Tweet This Post