Category: Journey

Aceh : 3 Hari

IMG_2116

Langit biru, kopi Sanger, tsunami, dan sapi atau kerbau yang sering menyeberang jalan adalah beberapa hal yang membekas di ingatan seusai kedatangan saya dan dua orang teman ke Aceh pada akhir Juni lalu. Memang tak banyak yang bisa dikunjungi dalam 3 hari, apalagi tujuan utama kami ke sana adalah untuk bekerja. Jalan-jalan dan memotret menjadi aktivitas sampingan yang tak mudah.

IMG_2118_edit_resize_2

Syukurlah Pak Rudi dari BPS Aceh berkenan mengantar kami berjalan-jalan pada sebuah sore di hari pertama kami tiba di Aceh. Sambil menyetir, Pak Rudi bertutur banyak hal. Nada bicaranya datar saat bercerita tentang puluhan anggota keluarga besarnya yang meninggal karena tsunami. Entah jika dalam hatinya bergetar. Sambil bercerita, diarahkannya mobil melintasi Masjid Raya Baiturrahman Aceh yang terkenal itu.

IMG_2012_edit_resize

Pak Rudi menawarkan untuk berhenti jika ingin memotret, saya jawab tak perlu. Saya menghargai tawarannya, namun memotret dari dalam mobil terasa sudah cukup. Bukan karena sok bisa, tapi supaya tak terlalu merepotkan Pak Rudi dan mengambil lebih banyak waktunya.

Mobil kemudian bergerak menjauhi masjid dan menuju pantai Lhok Nga. Rumah-rumah yang dibangun pascatsunami berderet di kanan kiri jalan yang kami lewati. Fasih Pak Rudi bercerita tentang dari mana saja rumah-rumah itu berasal. Lebih tepatnya, tentang uang siapa atau negara mana yang dipakai untuk membangun rumah-rumah tersebut.  Pak Rudi bisa menyebutkan dengan pasti si pemberi bantuan berdasarkan ciri khusus pada rumah yang dibangun. Brunei Darussalam menyukai rumah panggung, sedangkan Turki menempatkan gambar bulan sabit di bagian kanopi rumah. Sayangnya saya lupa bertanya apa ciri khusus pada rumah bantuan dari Jacky Chan.

Ketika berada di dalam mobil menuju pantai Lhok Nga, saya baru sadar betapa dekatnya tempat kami dengan laut yang terlihat di seberang sana. Di beberapa tempat, Pak Rudi menunjukkan bekas tsunami yang meninggalkan jejak berupa gerusan pada beberapa bukit di kiri jalan. Menggetarkan. Kita memang tak pernah tahu apa rencana Tuhan, apalagi di sisi lain terbentang pantai Lhok Nga yang indah ditimpa sinar matahari sore. Aceh memberi kemewahan untuk menikmati sore lebih leluasa karena malam datang lebih lambat. Padahal ia sama seperti Jakarta, berada pada Waktu Indonesia Barat.

IMG_2103

IMG_2104

Seusai jalan-jalan, kami kembali ke hotel The Pade, dan tak lupa berucap terimakasih kepada Pak Rudi atas waktu yang diluangkannya.

Hari kedua di Aceh tak akan saya lupa. Akhirnya saya merasakan kopi Aceh! Kopi Sanger di kedai kopi Solong sukses membuat saya berulang kali menghela nafas panjang. Alhamdulillah, nikmat sekali. Kenikmatan itu masih ditambah dengan keramahan penjaga kedai kopi yang tak segan berbagi cerita tentang cara pembuatan kopi Aceh. Dialah yang memilihkan Kopi Sanger untuk kami dengan jaminan bahwa “Kopi ini enak sekali!”. Jaminannya terbukti.

IMG_2185

IMG_2205_resize

Hari ketiga, kami harus pergi. Tiga hari di Aceh adalah tiga hari yang istimewa karena memaksa saya kembali merenung tentang betapa kecilnya saya dibandingkan alam semesta. Renungan itu berlanjut di pesawat, dan terasa makin dalam ketika menekuni sebuah buku yang akhir-akhir ini jadi teman perjalanan setia gara-gara tak tuntas-tuntas jua saya membacanya.

IMG_2277

- untuk mbak Ukirsari, yang saya suka tulisannya :) -

Post to Twitter Tweet This Post

70 Tahun Sapardi Djoko Damono

Ulang tahun Sapardi Djoko Damono, alias SDD, yang ke 70 diperingati pada Jumat, 26 Maret 2010, di Salihara. Tak sekedar peringatan ulang tahun, namun sekaligus perayaan atas karya-karyanya yang lentur seiring perjalanan masa. Tak heran, mereka yang hadir dalam acara tersebut datang dari berbagai usia. Mulai dari Goenawan Mohamad, Niniek L. Karim, Sitok Srengenge, Happy Salma, Jubing Kristianto, sampai ke anak-anak muda yang SDD senang menyebutnya sebagai “anak-anak, atau cucu-cucu saya..

******

Hampir jam 6 sore saat saya tiba, tinggal mendapat sedikit bagian dari Kuliah Umum tentang Puisi Sapardi Djoko Darmono dengan pembicara Nirwan Dewanto. Selesai kuliah umum, seperti biasanya, SDD diserbu banyak orang. Wartawan yang sibuk bertanya ini itu (“apa ciri khas puisi Bapak? Apa rencana Bapak ke depan?“  :D ) , fotografer yang sibuk meminta SDD bergaya seolah sedang membaca puisi (“Ya, tangannya diangkat sedikit, Pak..”, “Pak Sapardi, lihat ke sini..”) , sampai para penonton yang berusaha mendekat untuk minta tanda tangan, bersalaman, lalu berkata, “foto bareng ya Pak..” :) SDD, yang sudah eyang-eyang tapi masih rajin berkarya itu, seolah jadi milik semua orang.

Sedang diwawancarai wartawan :)

Hal itu makin terbukti saat acara baca puisi dan prosa serta musikalisasi puisi SDD akan dimulai pada pukul 19.30 WIB. Antrian panjang terjadi di depan pintu teater Salihara. Ketika penonton sudah masuk ke dalam, terlihat bahwa kursi yang disediakan tak cukup, maka panitia menambah dua karpet panjang untuk tempat penonton duduk lesehan. Tapi, semua itu tak mengurangi kemeriahan perayaan.

Goenawan Mohamad mengawali acara dengan semacam kata sambutan, dilanjutkan dengan SDD yang mengucap terima kasih untuk mereka yang terlibat dalam acara tersebut, sekaligus menyebutkan tentang apa yang masih ingin dicapainya. Secara garis besar, SDD mengatakan ia ingin tetap “bermain-main dengan kata” :)

Permainan kata SDD kemudian mulai dibacakan oleh Happy Salma, Niniek L. Karim, dan Sitok Srengenge. Trio ini terasa pas dalam membacakan karya SDD, dan bahkan sering mendapat applaus penonton. Saat Sitok mendapat bagian untuk membacakan karya SDD secara sendirian, salah satu puisi yang dibacakannya adalah puisi Dalam Doaku. Ya ya ya, itu puisi favorit saya. Bait terakhir puisi itu sangat saya suka. :)

Aku mencintaimu.

Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu.”

Niniek L. Karim

IMG_0973_

IMG_0974_

IMG_0967_

Setelah pembacaan puisi dan prosa, tibalah saat yang ditunggu-tunggu. Musikalisasi puisi oleh Nana Tatyana, Jubing Kristianto, dan Umar Muslim ! Berhubung Mbak Nana mengajak penonton untuk ikut bernyanyi jika tahu lagunya, maka saya (bersama penonton lainnya) ikut bernyanyi “Ketika Jari-Jari Bunga Terbuka”, “Dalam Bis”, dan “Nokturno”. Rasanya bahagia :)

Acara malam itu diakhiri dengan paduan suara Paragita Universitas Indonesia yang menyanyikan tiga lagu untuk SDD karya Ananda Sukarlan.

Sekedar berbagi pengalaman, jika besok-besok ada acara semacam ini, bawalah uang tunai dalam jumlah agak banyak. Maklum, tak ada mesin ATM di Salihara :D Siapa tahu ada kejutan-kejutan yang tak sepantasnya dilewatkan. Misalnya, buku-buku karya SDD yang dijual di meja panitia, termasuk kehadiran dua buku “langka” yang telah diterbitkan ulang. Mata Jendela, dan Hujan Bulan Juni :)

Post to Twitter Tweet This Post

You’re so Beautiful, Mbak..

“You’re so beautiful, Mbak..”

Kalimat itu membuat saya terhenyak karena berasal dari bapak tukang ojek yang mengantar saya dari Stasiun Lempuyangan menuju Fisipol UGM. Selama bertahun-tahun kuliah di Jogja, sepertinya baru sekali itu ada tukang ojek yang berkata seperti itu kepada saya :D Usia Bapak tukang ojek itu mungkin sekitar 60 tahun, tapi masih lincah dan murah senyum. Tidak, saya tidak menganggap kalimatnya sebagai sebuah hal yang kurang ajar. Saya tahu beliau bercanda sebagai bagian dari keramahan, mungkin sambil mempraktekkan bahasa Inggrisnya. Maklum, Jogja banyak didatangi turis asing sehingga wajar kiranya jika tukang ojek juga cas cis cus berbahasa Inggris :) Saat tiba di Fisipol, Bapak itu mengajak saya bersalaman sambil berkata, “Don’t forget me ya Mbak..”. Walah, baru sekali itu juga ada tukang ojek meminta saya untuk tidak melupakannya ! :D

********************

Hari Rabu dan Kamis, 6 dan 7 Januari 2010, saya pulang ke Solo dan Jogja untuk beberapa keperluan. Solo adalah kota kelahiran saya, sedangkan Jogja adalah kota tempat saya kuliah. Dua-duanya istimewa bagi saya. Rabu pagi saat menunggu jemputan di Stasiun Balapan Solo, saya memesan wedang ronde di depan stasiun. Hangatnya sapa Bapak penjual ronde membuat saya lega. Saya sudah di rumah :)

Subuh itu saya menunggu dijemput sambil minum wedang ronde seharga 3000 rupiah. Hangat, sehangat sapa bapak penjual ronde itu pada saya :)

Subuh itu saya menunggu dijemput sambil minum wedang ronde seharga 3000 rupiah. Hangat, sehangat sapa bapak penjual ronde itu pada saya :)

Sekitar jam 8 pagi, saya sudah kembali lagi ke stasiun yang sama untuk berangkat ke Jogja, dimana saya bertemu Bapak tukang ojek yang nyentrik itu :)

Jogja memang mulai berubah di sana-sini dan saya mahfum hal itu tak bisa dihindari. Saya tidak bicara tentang Jogja yang makin macet saat liburan. Saya pikir itu wajar. Sebagai salah satu daerah tujuan wisata di Indonesia, bukan hal yang aneh jika Jogja saat liburan adalah Jogja yang penuh dengan manusia. Yang saya bicarakan adalah perubahan-perubahan yang saya lihat saat saya pulang beberapa waktu lalu. Tukang ojek mempraktekkan bahasa Inggris mungkin termasuk di dalamnya.

Perubahan yang paling tidak terduga adalah perubahan pada Prambanan Ekspres (Prameks) jurusan Solo Jogja. Selama kuliah di Jogja, saya rutin naik kereta itu seminggu dua kali. Senin pagi berangkat dari Solo, dan Jumat sore atau Sabtu pagi untuk pulang ke Solo. Saya setia menggunakan kereta itu sejak harga tiketnya 3000 rupiah, 5000, 7000, sampai sekarang menjadi 8000 rupiah. Saya jadi bertanya-tanya, gerangan siapakah yang punya ide untuk mengubah cat kereta Prameks dengan warna ungu :D Tapi bolehlah, setidaknya kereta itu tidak lagi terlihat kusam dan muram seperti ketika masih berwarna putih dan biru.

Tak pernah terbayang di pikiran bahwa kereta Prambanan Ekspres (Prameks) akan berganti cat menjadi warna ungu. Dulu, kereta ini berwarna putih biru. Sedangkan satu kereta lagi buatan PT INKA berwarna kuning menyolok mata. Kini, si putih biru menjadi ungu, dan si kuning masih seperti semula :)

Tak pernah terbayang di pikiran bahwa kereta Prambanan Ekspres (Prameks) akan berganti cat menjadi warna ungu. Dulu, kereta ini berwarna putih biru. Sedangkan satu kereta lagi buatan PT INKA berwarna kuning menyolok mata. Kini, si putih biru menjadi ungu, dan si kuning masih seperti semula :)

Unbelievable purple :D

Unbelievable purple :D

Stasiun Lempuyangan juga makin bersih dan tertata. Di bagian depan stasiun sedang dibangun semacam ATM Center. Atapnya juga bagus. Saya ingat saat angin puting beliung melanda Jogja sekitar setahun lalu, stasiun ini jadi salah satu korbannya. Atapnya beterbangan kemana-mana.

Anggaplah saya beruntung, saat ke Jogja ternyata Biennale Jogja masih berlangsung. Jadilah saya punya kesempatan menikmatinya, paling tidak menikmati karya seni yang ada di jalan Malioboro dan Stasiun Tugu sebelum kereta Prameks membawa saya ke Solo.

Lukisan di depan stasiun Tugu

Lukisan di depan stasiun Tugu

Kamis malam, saya kembali ke Jakarta dengan menumpang kereta Argo Dwipangga. Di dalam kereta, entah kenapa tiba-tiba saya teringat pada teller sebuah bank di Jakarta yang beberapa hari sebelumnya menawarkan produk kartu kredit terbaru kepada saya dengan kalimat yang menggoda.

“Sekarang ada kartu kredit UGM lho, Bu..”

“Beda fasilitasnya dengan kartu kredit biasa apa, Pak?’

“Nggak ada bedanya, Bu. Tapi nanti di kartu kreditnya ada logo UGM-nya.”

Oh, jadi ini tentang menggunakan logo UGM untuk berjualan? :D

Jumat pagi, saya menjejakkan kaki di stasiun Gambir.

Dua hari di Solo dan Jogja terasa seperti mengisi kembali tangki semangat yang nyaris habis di Jakarta.

Post to Twitter Tweet This Post

Festival Kesenian Indonesia

Post to Twitter Tweet This Post

Abon Supertop

Saya penasaran seenak apa sih abon yang satu ini? Apakah lebih enak jika dibandingkan dengan abon Varia dari Solo yang terkenal dan membuat orang-orang rela mengantri untuk membeli di tokonya yang kecil mungil itu?:D

Post to Twitter Tweet This Post

WordPress Themes