Category: Thought

Buffon

Gianluigi_Buffon_300

Dari pertandingan Slovakia-Italia semalam, bukan tangisan Cannavaro yang paling saya ingat. Saya justru paling susah lupa pada ekspresi Buffon saat berteriak dari pinggir lapangan kepada tim Italia setelah Italia mencetak gol, entah gol pertama atau kedua saya lupa. Buat saya, teriakan itu istimewa karena datang dari kiper utama yang tak bisa ikut bertanding karena cedera.

Saya membayangkan tangan dan kakinya gatal saat kiper Italia dipaksa berulang kali memungut bola dari dalam gawang. Jika Buffon termasuk orang yang lebay, mungkin saat itu Buffon sudah berteriak-teriak di dalam hatinya, “I wish I were there…I wish I were there!” (dalam bahasa Italia tentunya :p), saking gemasnya dengan penampilan tim Italia :D

Buffon pastilah kecewa dengan kekalahan timnya. Tapi saya rasa dia lebih kecewa karena dalam pertandingan semalam dia tak ikut berada di dalam lapangan untuk memperjuangkan kemenangan timnya.

*Foto diambil dari http://connect.in.com/gianluigi-buffon/profile-1315.html

Post to Twitter Tweet This Post

Pan-Dol : Aku Mengingatmu

IMG_1975_edit_resize

Pan-Dol* membuatku ingat kamu, terutama tentang perbincangan kita bertahun lalu. Tentang aku dengan lima pintuku.

Kini, ijinkan aku sedikit bercerita padamu tentang aku dan salah satu pintuku. Benar, pintu yang telah kubuka itu.

Sebagian orang memandang pintu itu sebagai pintu yang menjanjikan. Dia dianggap menawarkan “ketenangan jiwa” dan status di masyarakat. Yang paling penting, dia menganut “alot-alot nanging iso dicokot”. Aman dari segi penghasilan, walau tak banyak tapi setidaknya tetap ada yang bisa dimakan setiap bulan. Tapi tahukah kamu, di antara derasnya permintaan supaya kami bergerak cepat, ada sederet peraturan yang rentan terlanggar jika tak diimbangi kewaspadaan. Sebagian orang yang lain, seperti kau tahu, memandang sebelah mata pada pintu itu karena sederet alasan, mulai ketidakefisienan sampai kebocoran.

Tahukah kamu, ,memasuki pintu itu memaksaku memegang erat petuah dari dua orang yang kukenal di masa lalu. Petuah petama, “Kerja yang baik. Jangan aneh-aneh, yang penting bisa tidur nyenyak”. Kamu pasti paham benar, tak perlu bergalon-galon kopi untuk membuat mata terjaga hingga pagi. Satu pikiran yang mengganggu sudah cukup membuatmu mengucap selamat tinggal pada tidur lelapmu.

Petuah kedua, jangan lupa menyebut sebuah kalimat “penting” tiap kali berdoa. “Semoga aku dan keluargaku selalu bener, lan kebeneran.” Sebuah permohonan kepada Tuhan yang diajarkan oleh guru SD-ku. Sepertinya permohonan yang sederhana, padahal sebenarnya tidak juga.  Tentu saja, kata “Bismillah” juga tak boleh terlewatkan. Mohon perlindungan Tuhan dalam hal-hal yang kukerjakan.

Pan-Dol membuatku mengingatmu, terutama karena kejutan bahwa ternyata kamu duduk beberapa deret di belakangku. Senang rasanya menyadari kamu tak jauh dariku.

Bukankah dulu, saat di Jogja, kita juga seperti itu?

* Pan-Dol adalah singkatan dari Panti Idola, sebuah Panti Perawatan Mental Korban Korupsi yang hanya ada dalam pertunjukan Teater Gandrik Yogyakarta. Tanggal 21 dan 22 Juni 2010, Pan-Dol dipentaskan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Foto diambil pada tanggal 22 Juni 2010 oleh Johan Eka Firmansyah.

Post to Twitter Tweet This Post

Bleki

hachiko-a-dogs-story-0

Si empunya kos memanggil anjing itu Bleki. Mungkin penulisan namanya yang benar adalah “Blacky”, mengingat warna kulitnya yang hitam legam dari kepala sampai ekor. Sejak pertama kali tinggal di kos ini sekitar setahun lalu, sudah beberapa kali terjadi pergantian anjing dengan nama yang sama. Tebakan Anda benar, semua anjing itu berwarna hitam legam. Dari kepala sampai ekor.

Bleki yang pertama mati karena tak sengaja makan racun yang tercampur dalam umpan untuk tikus. Bleki yang kedua mati tertabrak mobil yang lewat di depan kos. Bleki yang ketiga, syukurlah, masih hidup. Setidaknya hingga Sabtu pagi minggu lalu, saat terakhir kali saya melihatnya sebelum mengantar Mama dan adik saya ke Stasiun Gambir.

Siang hingga maghrib pada Sabtu itu, saya dan Johan entah kenapa tak teringat pada Bleki. Hingga saat saya ketemu Pak Jubing di Pacific Place, saya masih tak tahu Bleki tak ada di rumah. Dalam perjalanan pulang dari Pacific Place, telepon saya kepada Johan disambut dengan berita, “Bleki hilang!”.

Hubungan saya dan Bleki memang tak sedekat Richard Gere dengan Hachiko. Saya tak pernah memeluk Bleki, tak pernah terlalu dekat dengan Bleki. Selalu ada jarak di antara kami. Bisa dikatakan Bleki lebih dekat dengan Johan. Johan sering mengajaknya bicara ketika Bleki menyambut Johan di gerbang saat Johan pulang kantor. Biasanya Johan membawa koran yang digulung untuk berpura-pura memukul Bleki, sekedar supaya Bleki tak mendekat.

Kami tak pernah tega memukul Bleki. Mungkin karena kami kenyang mendengar suara Bleki yang kesakitan saat dipukul dengan sapu atau benda lain. Kami tak pernah memukul Bleki. Mungkin karena kami tahu dia sering dibentak, sering pula terlambat diberi makan walaupun dia sering diikat di dekat pagar.

Kami lalu terbiasa memberinya makan. Jika Bleki sedang tak diikat, sisa daging, tulang ayam, atau ikan kami berikan kepadanya. Cukuplah berseru memanggil “Bleki!”, maka dia akan datang mengambil makanan yang kami berikan.

Beberapa hari sebelum hilang, Bleki sempat tercebur di selokan kecil di seberang kos. Seorang penjaga bengkel membantu mengangkatnya dari selokan itu. Sesudah peristiwa itu, Bleki menjadi pendiam, tak seperti hari-hari sebelumnya. Mungkin peristiwa dekat dengan kematian itu sangat membekas di ingatannya. Hingga akhirnya Sabtu lalu, dia hilang.

Kata penjaga kos, begitu Bleki dilepas dari ikatannya, Bleki segera lari ke luar gerbang. Biasanya, dia akan kembali menjelang petang. Tapi dia tak kembali, sampai hari ini.

Saya memang bukan Richard Gere, dan Bleki bukan Hachiko yang setia mengantar Richard Gere ke stasiun lalu menunggu dengan sabar di pintu stasiun pada jam 5 sore. Tapi saya tak akan lupa suatu pagi saat dia mengikuti langkah saya berangkat ke kantor. Tak jauh memang, hanya sampai di belokan dekat kos. Saya ingat saya berteriak padanya, “Pulang, Bleki! Pulang!” Seorang satpam dari rumah di dekat belokan bahkan melempar batu ke arahnya. Bleki akhirnya berhenti, lalu kembali ke kos. Tapi saya tak suka dia diperlakukan seperti itu. Saya tak suka dia dilempar batu.

Mungkin Bleki tidak hilang. Mungkin Bleki memang ingin pergi, mencari tempat lain yang lebih baik dalam memberikan perlakuan. Saya tak akan lagi berkata, “Pulang, Bleki! Pulang!”, karena hanya pada rumahlah kata pulang itu disematkan.

Post to Twitter Tweet This Post

Merasa Tua

Rabu dan Kamis lalu saya pulang. Kali ini tak sekedar melepas rindu, tapi sekaligus membawa beberapa misi. Mengurus thesis, mencarikan info ujian masuk UGM bagi si bungsu, dan membahas persiapan pernikahan si tengah. Di kereta, tiba-tiba saya merasa begitu tua. Ternyata waktu berjalan dengan cepat, secepat pertumbuhan adik-adik saya. Yang satu hendak menikah, yang satu lagi akan masuk kuliah. Memang sudah waktunya :)

Tak banyak bekal saya buat mereka. Saya cuma bisa berjanji dalam hati untuk terus memberikan yang terbaik. Seperti pesan Pak Tatwo, “sing tuwo tugase nggolekne dalan..”. Semoga saya bisa ya Pak :) Amiin..

Post to Twitter Tweet This Post

Eksklusif

Menurut KBBI yang disediakan website pusat bahasa Diknas, “eksklusif” artinya “terpisah dari yang lain;khusus”. Hari-hari ini, kata “eksklusif” bertebaran di dua stasiun televisi kita, dan saya justru merasa kehilangan maknanya. Apalagi kata itu muncul di tengah bencana.

Oke, dua-duanya mengaku sebagai pihak yang secara eksklusif menyiarkan, misalnya, rekaman CCTV dari salah satu hotel yang hancur karena gempa. Lalu apa? Perlukah kata “eksklusif” itu diulang berkali-kali? Masih perlukah menepuk dada dalam kondisi bencana semacam ini?

Maafkan saya. Cara semacam itu justru membuat saya merasa televisi justru “mengambil untung” atas air mata yang mengalir dari saudara-saudara kita yang sedang berduka…

Post to Twitter Tweet This Post

WordPress Themes