
Si empunya kos memanggil anjing itu Bleki. Mungkin penulisan namanya yang benar adalah “Blacky”, mengingat warna kulitnya yang hitam legam dari kepala sampai ekor. Sejak pertama kali tinggal di kos ini sekitar setahun lalu, sudah beberapa kali terjadi pergantian anjing dengan nama yang sama. Tebakan Anda benar, semua anjing itu berwarna hitam legam. Dari kepala sampai ekor.
Bleki yang pertama mati karena tak sengaja makan racun yang tercampur dalam umpan untuk tikus. Bleki yang kedua mati tertabrak mobil yang lewat di depan kos. Bleki yang ketiga, syukurlah, masih hidup. Setidaknya hingga Sabtu pagi minggu lalu, saat terakhir kali saya melihatnya sebelum mengantar Mama dan adik saya ke Stasiun Gambir.
Siang hingga maghrib pada Sabtu itu, saya dan Johan entah kenapa tak teringat pada Bleki. Hingga saat saya ketemu Pak Jubing di Pacific Place, saya masih tak tahu Bleki tak ada di rumah. Dalam perjalanan pulang dari Pacific Place, telepon saya kepada Johan disambut dengan berita, “Bleki hilang!”.
Hubungan saya dan Bleki memang tak sedekat Richard Gere dengan Hachiko. Saya tak pernah memeluk Bleki, tak pernah terlalu dekat dengan Bleki. Selalu ada jarak di antara kami. Bisa dikatakan Bleki lebih dekat dengan Johan. Johan sering mengajaknya bicara ketika Bleki menyambut Johan di gerbang saat Johan pulang kantor. Biasanya Johan membawa koran yang digulung untuk berpura-pura memukul Bleki, sekedar supaya Bleki tak mendekat.
Kami tak pernah tega memukul Bleki. Mungkin karena kami kenyang mendengar suara Bleki yang kesakitan saat dipukul dengan sapu atau benda lain. Kami tak pernah memukul Bleki. Mungkin karena kami tahu dia sering dibentak, sering pula terlambat diberi makan walaupun dia sering diikat di dekat pagar.
Kami lalu terbiasa memberinya makan. Jika Bleki sedang tak diikat, sisa daging, tulang ayam, atau ikan kami berikan kepadanya. Cukuplah berseru memanggil “Bleki!”, maka dia akan datang mengambil makanan yang kami berikan.
Beberapa hari sebelum hilang, Bleki sempat tercebur di selokan kecil di seberang kos. Seorang penjaga bengkel membantu mengangkatnya dari selokan itu. Sesudah peristiwa itu, Bleki menjadi pendiam, tak seperti hari-hari sebelumnya. Mungkin peristiwa dekat dengan kematian itu sangat membekas di ingatannya. Hingga akhirnya Sabtu lalu, dia hilang.
Kata penjaga kos, begitu Bleki dilepas dari ikatannya, Bleki segera lari ke luar gerbang. Biasanya, dia akan kembali menjelang petang. Tapi dia tak kembali, sampai hari ini.
Saya memang bukan Richard Gere, dan Bleki bukan Hachiko yang setia mengantar Richard Gere ke stasiun lalu menunggu dengan sabar di pintu stasiun pada jam 5 sore. Tapi saya tak akan lupa suatu pagi saat dia mengikuti langkah saya berangkat ke kantor. Tak jauh memang, hanya sampai di belokan dekat kos. Saya ingat saya berteriak padanya, “Pulang, Bleki! Pulang!” Seorang satpam dari rumah di dekat belokan bahkan melempar batu ke arahnya. Bleki akhirnya berhenti, lalu kembali ke kos. Tapi saya tak suka dia diperlakukan seperti itu. Saya tak suka dia dilempar batu.
Mungkin Bleki tidak hilang. Mungkin Bleki memang ingin pergi, mencari tempat lain yang lebih baik dalam memberikan perlakuan. Saya tak akan lagi berkata, “Pulang, Bleki! Pulang!”, karena hanya pada rumahlah kata pulang itu disematkan.
Tweet This Post