Sore hingga petang adalah waktu yang tak ingin kusia-siakan. Tak terlalu istimewa sebenarnya, karena sekedar kegiatan yang berulang. Sebuah rutinitas. Tapi aku menunggunya sejak pagi. Menantinya dengan bersemangat, sambil kadang ditingkahi hati yang berharap-harap cemas. “Semoga bisa pulang tepat waktu.” dan “Semoga tak perlu lembur” begitu sering jadi doaku.
Ketika jarum jam hendak menuju angka 12 dan 5, aku sudah siap bergerak. Berucap salam kepada teman-teman satu ruangan, melangkahkan kaki melewati pintu, menuruni tangga, menuju lobi, menggerakkan kartu pegawai di depan sebuah mesin hingga terbaca, lalu meletakkan telapak tangan kananku di tengah mesin itu. Sah sudah kepulanganku.
Di belakang kantor, di depan Masjid Sunda Kelapa, ada dua orang Ibu rajin menungguku. Asalnya dari Solo. Wonogiri lebih tepatnya. Mereka jago memasak. Cocok dengan lidahku, lidahmu, lidah kita. Lewat mereka kusediakan makan malammu. Rawon, cap cay, nasi goreng, ceker bumbu kecap, bakmi rebus, atau bakmi goreng. Kau tinggal pilih. Aku akan bawakan untukmu. Semoga kau suka.
Memang, hanya nasi di meja yang menjadi bukti (sedikit) kontribusiku. Lewat harum nasi yang tanak, semoga kau tahu aku menyayangimu.
Tweet This Post
Damri ini akan membawa saya pulang. Dua malam terakhir saya tidur di kasur yang empuk, di kamar yang nyaman, dengan balkon yang menawan. Saat hendak tidur, saya begitu saja teringat pada cerewetnya suami saya yang meminta saya tak lupa minum susu Anlene hangat rasa coklat. Atas nama kebaikan bagi tulang belulang saya yang ringkih ini.
Di Aceh, saya rindu kecerewetan yang menjengkelkan tapi manis itu. Dan saya bisa mengerti mengapa Habibie begitu berduka. 48 tahun 10 hari adalah waktu yang sangat panjang untuk mengukir cerita dan kenangan dalam bingkai bernama pernikahan.
Tweet This Post
Jalani hidup
Tenang tenang tenanglah seperti karang
Sebab persoalan bagai gelombang
Tenanglah tenang tenanglah sayang
Tak pernah malas
Persoalan yang datang hantam kita
Dan kita tak mungkin untuk menghindar
Semuanya sudah suratan
Oh matahari
Masih setia
Menyinari rumah kita
Tak kan berhenti
Tak kan berhenti
Menghangati hati kita
Sampai tanah ini inginkan kita kembali
Sampai kejenuhan mampu merobek robek hati ini
Sebentar saja
Aku pergi meninggalkan
Membelah langit punguti bintang
Untuk kita jadikan hiasan
Tenang tenang tenanglah sayang
Semuanya sudah suratan
Tenang tenang seperti karang
Bintang bintang jadikan hiasan
Berlomba kita dengan sang waktu
Jenuhkah kita jawab sang waktu
Bangkitlah kita tunggu sang waktu
Tenanglah kita menjawab waktu
Seperti karang
Tenanglah
Seperti karang
Tenanglah
(Lagu Satu-Iwan Fals)
*****
Setahun lebih kami mengeja kedamaian-kedamaian sederhana. Sore itu saat memeluknya erat, saya makin bersyukur bahwa Tuhan memilihkan dia menjadi teman hidup saya..

Tweet This Post

saya sedang suka potongan lirik lagu ini..
“nothing you confess
could make me love you less ”
I’ll Stand By You (The Pretenders)
oh, why you look so sad?
tears are in your eyes
come on and come to me now
don’t be ashamed to cry
let me see you through
’cause i’ve seen the dark side too
when the night falls on you
you don’t know what to do
nothing you confess
could make me love you less
i’ll stand by you
i’ll stand by you
won’t let nobody hurt you
i’ll stand by you
so if you’re mad, get mad
don’t hold it all inside
come on and talk to me now
hey, what you got to hide?
i get angry too
well i’m a lot like you
when you’re standing at the crossroads
and don’t know which path to choose
let me come along
’cause even if you’re wrong
i’ll stand by you
i’ll stand by you
won’t let nobody hurt you
i’ll stand by you
take me in, into your darkest hour
and i’ll never desert you
i’ll stand by you
and when…
when the night falls on you, baby
you’re feeling all alone
you won’t be on your own
i’ll stand by you
i’ll stand by you
won’t let nobody hurt you
i’ll stand by you
take me in, into your darkest hour
and i’ll never desert you
Tweet This Post
Tadi sepulang sholat Ied, suami saya menunjukkan sebuah situs di internet yang memajang foto-foto bagus dari ajang National Geographic’s International Photography Contest 2009. Dari 25 foto yang ada di situ, hanya ada satu foto yang membuat saya berhenti cukup lama untuk memandangnya. Lagi-lagi, saya gampang tersentuh oleh rasa ngelangut yang aneh, yang tiba-tiba datang saat melihat foto itu.

"My grandfather was born and raised on our New Zealand farm. He and my grandmother were married nearly 60 years. Preparing for a photo in the barley, my grandmother lovingly reached up to adjust his hat. This was his last harvest. (Photo and caption by Gemma Collier) "
Foto saya ambil dari : http://www.boston.com/bigpicture/2009/11/national_geographics_internati.html
Bagi saya, foto itu manis sekali. Mengingatkan saya bahwa saya juga sering berjinjit sekedar untuk merapikan rambutnya.
Kami pasti menua, dan saya tak keberatan sering berjinjit untuk membuatnya berada dalam jangkauan tangan saya. Tapi saya tak pernah lupa, dia senantiasa menawarkan pada saya untuk berpijak di atas kedua kakinya..
Tweet This Post