Bercerita Kepada Hujan
Hujan, kamu mengagetkanku! Setidaknya kirim sms dulu sebelum jatuh di atapku, supaya aku bisa sedikit mempersiapkan penyambutan untukmu. Kamu tahu ya aku merindukanmu? Kedatanganmu begitu tiba-tiba, padahal kemarin aku belum jadi menulis surat padamu. Maklum, kupikir kau ikut sibuk mempersiapkan Pemilu.
Ayo, duduklah di sini, di sampingku. Kamu mau cokelat hangat? Kubuatkan ya. Tadi aku baru membuat secangkir, seandainya aku tahu kamu datang pasti sudah kusiapkan bagianmu.
Nah, ini dia cokelat hangat buatmu.
Hujan, sore ini aku ingin merayakan sebuah keberhasilan. Kau mau menemaniku, kan?
Ah, jangan berpikir ini keberhasilan sebuah pendakian atau penaklukan sebuah wilayah untuk mendapatkan kekuasaan. Ini cuma kisah tentang seorang pembaca yang menemukan buku-buku karya penulis favoritnya dengan bantuan seorang pria.
Sebuah cerita tentang perempuan berkaus biru yang pada sebuah Sabtu datang sekitar jam sepuluh tiga puluh pagi ke toko buku di Taman Ismail Marzuki untuk mencari buku buat temannya. Begitu sampai, dia menyebutkan sebuah judul kepada seorang pria yang ada di sana. Tangan perempuan itu menunjuk ke arah deretan buku bersampul putih yang ada di rak deretan atas. Pertanda dia pernah membeli buku yang sama sebelumnya. Pria itu, yang ternyata bernama Udin, tangkas bergerak mengambil buku yang dimaksud.
“Ada lagi buku yang dicari?” tanya Udin.
Sedikit berjudi, perempuan berkaus biru menjawab, “Ada bukunya Sapardi Djoko Damono?’
Udin menuju ke sebuah rak dan berkata, “Tinggal satu ini.”
Saat Udin menunjukkan buku itu, perempuan berkaus biru mendesah kecewa. Dia sudah punya Membunuh Orang Gila. Sampai hari ini, dia terus menginginkan Hujan Bulan Juni.
Bangkit dari kecewa, perempuan berkaus biru lantas maju berjudi kembali. “Kalau bukunya Umar Kayam?”
Udin mengernyitkan dahi, berpikir sebentar. Dan..astaga, keajaiban itu dimulai, Hujan!
Satu demi satu, Udin menunjukkan buku karya Umar Kayam yang ada di berbagai rak. Perempuan berkaus biru sigap mengambil buku demi buku yang ditunjukkan. Hati perempuan itu bahagia. Sangat bahagia. Dalam empat bulannya di Jakarta, penemuan atas 3 buku karya Umar Kayam itu mampu sejenak menghapus sepinya. Mungkin tak banyak orang tahu, kisah-kisah dalam buku karya Umar Kayam sanggup membawa perempuan berkaus biru itu pulang ke Solo dan Jogja tanpa perlu naik pesawat atau kereta. Bahwa Sapardi menulis kata pengantar untuk salah satu buku karya Umar Kayam, itu menjadi bonus tak terkira.
Sebelum perempuan berkaus biru itu pulang, Udin berjanji akan mengirim kabar padanya jika buku terbaru Sapardi sudah datang. Aih, kamu pasti tak tahu seperti apa senangnya perempuan berkaus biru itu, Hujan..
Ya ya ya…aku tahu komentarmu. Sederhana saja kan ceritanya? Tapi, Hujan, keberhasilan perempuan berkaus biru itu tetap harus dirayakan. Tadi pagi aku berpikir seperti apa cara terbaik untuk merayakannya. Ternyata, abrakadabra….kamu datang! Kamu, sebuah senja, buku karya Umar Kayam, dan cokelat hangat. Benar-benar sebuah perayaan yang tepat.
Ah, sudahlah, aku tahu bahasa tubuhmu itu. Hendak pergi sekarang? Ya sudah, hati-hati di jalan ya. Kemanapun kakimu melangkah, jangan lupa mengunjungiku sekali waktu.