Category: Photography

Jendela

Jendela berbeda dengan cermin. Ia tak semata samar-samar menunjukkan wajah diri sendiri. Ia juga menimbulkan sensasi, terutama saat lewat jendela kita tahu di luar sana ada yang lebih hebat, lebih cantik, lebih seksi, bahkan lebih baik hati dari diri sendiri. Jendela membuat kita mau membuat evaluasi.

Jadi, bukan salah jendela jika melaluinya kita melihat hijaunya rumput tetangga.

Post to Twitter Tweet This Post

Privacy, please..

Having a blog or several social networking accounts doesn’t mean someone else could enter your personal life without permission…

Post to Twitter Tweet This Post

You’re so Beautiful, Mbak..

“You’re so beautiful, Mbak..”

Kalimat itu membuat saya terhenyak karena berasal dari bapak tukang ojek yang mengantar saya dari Stasiun Lempuyangan menuju Fisipol UGM. Selama bertahun-tahun kuliah di Jogja, sepertinya baru sekali itu ada tukang ojek yang berkata seperti itu kepada saya :D Usia Bapak tukang ojek itu mungkin sekitar 60 tahun, tapi masih lincah dan murah senyum. Tidak, saya tidak menganggap kalimatnya sebagai sebuah hal yang kurang ajar. Saya tahu beliau bercanda sebagai bagian dari keramahan, mungkin sambil mempraktekkan bahasa Inggrisnya. Maklum, Jogja banyak didatangi turis asing sehingga wajar kiranya jika tukang ojek juga cas cis cus berbahasa Inggris :) Saat tiba di Fisipol, Bapak itu mengajak saya bersalaman sambil berkata, “Don’t forget me ya Mbak..”. Walah, baru sekali itu juga ada tukang ojek meminta saya untuk tidak melupakannya ! :D

********************

Hari Rabu dan Kamis, 6 dan 7 Januari 2010, saya pulang ke Solo dan Jogja untuk beberapa keperluan. Solo adalah kota kelahiran saya, sedangkan Jogja adalah kota tempat saya kuliah. Dua-duanya istimewa bagi saya. Rabu pagi saat menunggu jemputan di Stasiun Balapan Solo, saya memesan wedang ronde di depan stasiun. Hangatnya sapa Bapak penjual ronde membuat saya lega. Saya sudah di rumah :)

Subuh itu saya menunggu dijemput sambil minum wedang ronde seharga 3000 rupiah. Hangat, sehangat sapa bapak penjual ronde itu pada saya :)

Subuh itu saya menunggu dijemput sambil minum wedang ronde seharga 3000 rupiah. Hangat, sehangat sapa bapak penjual ronde itu pada saya :)

Sekitar jam 8 pagi, saya sudah kembali lagi ke stasiun yang sama untuk berangkat ke Jogja, dimana saya bertemu Bapak tukang ojek yang nyentrik itu :)

Jogja memang mulai berubah di sana-sini dan saya mahfum hal itu tak bisa dihindari. Saya tidak bicara tentang Jogja yang makin macet saat liburan. Saya pikir itu wajar. Sebagai salah satu daerah tujuan wisata di Indonesia, bukan hal yang aneh jika Jogja saat liburan adalah Jogja yang penuh dengan manusia. Yang saya bicarakan adalah perubahan-perubahan yang saya lihat saat saya pulang beberapa waktu lalu. Tukang ojek mempraktekkan bahasa Inggris mungkin termasuk di dalamnya.

Perubahan yang paling tidak terduga adalah perubahan pada Prambanan Ekspres (Prameks) jurusan Solo Jogja. Selama kuliah di Jogja, saya rutin naik kereta itu seminggu dua kali. Senin pagi berangkat dari Solo, dan Jumat sore atau Sabtu pagi untuk pulang ke Solo. Saya setia menggunakan kereta itu sejak harga tiketnya 3000 rupiah, 5000, 7000, sampai sekarang menjadi 8000 rupiah. Saya jadi bertanya-tanya, gerangan siapakah yang punya ide untuk mengubah cat kereta Prameks dengan warna ungu :D Tapi bolehlah, setidaknya kereta itu tidak lagi terlihat kusam dan muram seperti ketika masih berwarna putih dan biru.

Tak pernah terbayang di pikiran bahwa kereta Prambanan Ekspres (Prameks) akan berganti cat menjadi warna ungu. Dulu, kereta ini berwarna putih biru. Sedangkan satu kereta lagi buatan PT INKA berwarna kuning menyolok mata. Kini, si putih biru menjadi ungu, dan si kuning masih seperti semula :)

Tak pernah terbayang di pikiran bahwa kereta Prambanan Ekspres (Prameks) akan berganti cat menjadi warna ungu. Dulu, kereta ini berwarna putih biru. Sedangkan satu kereta lagi buatan PT INKA berwarna kuning menyolok mata. Kini, si putih biru menjadi ungu, dan si kuning masih seperti semula :)

Unbelievable purple :D

Unbelievable purple :D

Stasiun Lempuyangan juga makin bersih dan tertata. Di bagian depan stasiun sedang dibangun semacam ATM Center. Atapnya juga bagus. Saya ingat saat angin puting beliung melanda Jogja sekitar setahun lalu, stasiun ini jadi salah satu korbannya. Atapnya beterbangan kemana-mana.

Anggaplah saya beruntung, saat ke Jogja ternyata Biennale Jogja masih berlangsung. Jadilah saya punya kesempatan menikmatinya, paling tidak menikmati karya seni yang ada di jalan Malioboro dan Stasiun Tugu sebelum kereta Prameks membawa saya ke Solo.

Lukisan di depan stasiun Tugu

Lukisan di depan stasiun Tugu

Kamis malam, saya kembali ke Jakarta dengan menumpang kereta Argo Dwipangga. Di dalam kereta, entah kenapa tiba-tiba saya teringat pada teller sebuah bank di Jakarta yang beberapa hari sebelumnya menawarkan produk kartu kredit terbaru kepada saya dengan kalimat yang menggoda.

“Sekarang ada kartu kredit UGM lho, Bu..”

“Beda fasilitasnya dengan kartu kredit biasa apa, Pak?’

“Nggak ada bedanya, Bu. Tapi nanti di kartu kreditnya ada logo UGM-nya.”

Oh, jadi ini tentang menggunakan logo UGM untuk berjualan? :D

Jumat pagi, saya menjejakkan kaki di stasiun Gambir.

Dua hari di Solo dan Jogja terasa seperti mengisi kembali tangki semangat yang nyaris habis di Jakarta.

Post to Twitter Tweet This Post

Foto Indah Hari Ini

Tadi sepulang sholat Ied, suami saya menunjukkan sebuah situs di internet yang memajang foto-foto bagus dari ajang National Geographic’s International Photography Contest 2009. Dari 25 foto yang ada di situ, hanya ada satu foto yang membuat saya berhenti cukup lama untuk memandangnya. Lagi-lagi, saya gampang tersentuh oleh rasa ngelangut yang aneh, yang tiba-tiba datang saat melihat foto itu.

My grandfather was born and raised on our New Zealand farm. He and my grandmother were married nearly 60 years. Preparing for a photo in the barley, my grandmother lovingly reached up to adjust his hat. This was his last harvest. (Photo and caption by Gemma Collier)   Foto saya ambil dari : http://www.boston.com/bigpicture/2009/11/national_geographics_internati.html

"My grandfather was born and raised on our New Zealand farm. He and my grandmother were married nearly 60 years. Preparing for a photo in the barley, my grandmother lovingly reached up to adjust his hat. This was his last harvest. (Photo and caption by Gemma Collier) "

Foto saya ambil dari : http://www.boston.com/bigpicture/2009/11/national_geographics_internati.html

Bagi saya, foto itu manis sekali. Mengingatkan saya bahwa saya juga sering berjinjit sekedar untuk merapikan rambutnya.

Kami pasti menua, dan saya tak keberatan sering berjinjit untuk membuatnya berada dalam jangkauan tangan saya. Tapi saya tak pernah lupa, dia senantiasa menawarkan pada saya untuk berpijak di atas kedua kakinya..

Post to Twitter Tweet This Post

Abon Supertop

Saya penasaran seenak apa sih abon yang satu ini? Apakah lebih enak jika dibandingkan dengan abon Varia dari Solo yang terkenal dan membuat orang-orang rela mengantri untuk membeli di tokonya yang kecil mungil itu?:D

Post to Twitter Tweet This Post

WordPress Themes