Category: Daily Life

Sore

Sore hingga petang adalah waktu yang tak ingin kusia-siakan. Tak terlalu istimewa sebenarnya, karena sekedar kegiatan yang berulang. Sebuah rutinitas. Tapi aku menunggunya sejak pagi. Menantinya dengan bersemangat, sambil kadang ditingkahi hati yang berharap-harap cemas. “Semoga bisa pulang tepat waktu.” dan “Semoga tak perlu lembur” begitu sering jadi doaku.

Ketika jarum jam hendak menuju angka 12 dan 5, aku sudah siap bergerak. Berucap salam kepada teman-teman satu ruangan, melangkahkan kaki melewati pintu, menuruni tangga, menuju lobi, menggerakkan kartu pegawai di depan sebuah mesin hingga terbaca, lalu meletakkan telapak tangan kananku di tengah mesin itu. Sah sudah kepulanganku.

Di belakang kantor, di depan Masjid Sunda Kelapa, ada dua orang Ibu rajin menungguku. Asalnya dari Solo. Wonogiri lebih tepatnya. Mereka jago memasak. Cocok dengan lidahku, lidahmu, lidah kita. Lewat mereka kusediakan makan malammu. Rawon, cap cay, nasi goreng, ceker bumbu kecap, bakmi rebus, atau bakmi goreng. Kau tinggal pilih. Aku akan bawakan untukmu. Semoga kau suka.

Memang, hanya nasi di meja yang menjadi bukti (sedikit) kontribusiku. Lewat harum nasi yang tanak, semoga kau tahu aku menyayangimu.

Post to Twitter Tweet This Post

Biola

Namanya Arif. Rambut gondrong, celana jeans tiga perempat, kaos dibalut jaket jeans, dan luka kecil di tumit kaki kirinya.

“Habis jatuh dari motor, Mbak..”

Dia duduk tak jauh dari saya. “Penolakan” kantor pajak untuk melayani pembuatan NPWP di hari Sabtu membuat saya memilih datang ke Taman Suropati, sebelum masuk kantor jam setengah sepuluh. Baru sekali itu saya benar-benar menikmati suasana Taman Suropati. Biasanya, sekedar lewat saat berangkat atau pulang kantor. Memandang dari kejauhan. Pagi ini, akhirnya saya duduk di salah satu bangku taman itu. Membaca Kompas Sabtu sambil sesekali menatap air mancur yang sering didatangi merpati-merpati untuk minum. Dua pagupon berwarna hijau terletak tak jauh dari situ.  

Saya ingat, Sabtu sekitar sebulan yang lalu, saya melihat banyak orang berkumpul di taman ini, lalu memainkan biola mereka. Asyik sekali. Anak-anak pun ada.

“Di sini memang tempat ngumpul komunitas kami, Mbak,” Arif menjelaskan. Komunitas yang dia maksud adalah komunitas pemain biola, gitar, dan teater. Anggota komunitas cukup beragam, mulai dari mahasiswa hingga anak jalanan. Pagi itu Arif berada di taman dengan beberapa temannya. Sepertinya mereka masih menunggu beberapa orang lainnya.

Saat saya bertanya dimana dia tinggal, jawabannya singkat saja.

“Di sini.”

“Di sini?” saya mengulang jawabannya dengan nada tidak yakin.

‘Iya, di sini. Di Taman Suropati. Paling 2 hari sekali saya pulang ke rumah di Rawamangun, cuma buat ganti baju, terus ke sini lagi,” jawabnya.

Dia lalu membuka tas hitam di sampingnya. Dari bentuknya, saya menduga ada biola di dalamnya. Ternyata benar. Dia mulai mengeluarkan biola serta penggeseknya.

“Sudah lama main biola?” tanya saya padanya.

“Masih belajar kok, Mbak. Belajar main biola itu yang penting sabar, jangan cepat-cepat ingin bisa main biola.”

Kalimat-kalimatnya runtut bercerita seperti apa sebaiknya jika ingin belajar memainkan biola. Ujung-ujungnya, tetap saja si pembelajar harus bisa membaca not balok. Membaca partitur.

“Bisa baca partitur itu penting, Mbak. Itu masa depan. Kalau bisa baca partitur, nanti bisa ikut orkestra atau jadi guru musik.”

Saya manggut-manggut mendengar penjelasannya. Tak cukup dengan kata-kata, dia mulai beraksi. Awalnya doremifasolasido, lalu (ini dia!) lagu klasik.

“Tahu judulnya nggak, Mbak?”

“Enggak,” jawab saya jujur.

Bibirnya lantas fasih menyebut judul lagu yang dia mainkan. Nama Johan Sebastian Bach dan beberapa nama besar dalam jagat musik klasik tak lupa dia sertakan . Lagi-lagi, saya cuma manggut-manggut. Setelah beberapa kali memainkan lagu klasik tanpa respon memadai dari saya, dia mainkan lagu yang nada-nadanya cukup saya kenal, tapi tetap saja saya tak bisa menyebut judulnya. Ternyata, yang dia mainkan adalah “Ayat-Ayat Cinta”. Untuk yang satu ini, saya membela diri dalam hati, bahwa saya memang tidak memasukkan lagu itu dalam daftar lagu yang saya suka :)

Menjelang jam setengah sepuluh, kami bertukar nomor telepon seluler. Saya akan menghubunginya nanti, jika saya jadi belajar main biola.

Post to Twitter Tweet This Post

Hujan Baru Saja Selesai di Jakarta

Hujan baru saja selesai di Jakarta. Adzan Isya berkumandang, aku berhenti memainkan gitar. Mama sedang apa ya di rumah? Mungkin dia asyik di dapur, mengerjakan pesanan kue yang terus datang. Sakmadya, itulah prinsip hidupnya yang senantiasa kukenang. Tak pernah berlebihan, termasuk dalam hal mengambil keuntungan.
Hujan baru saja selesai di Jakarta. Entah di Solo. Ternyata, di mana pun aku berada, hujan selalu saja berhasil membawaku pada suasana yang berbeda. Aku masih ingat, menikmati hujan di taman depan atau pun belakang rumah selalu menyenangkan. Aku sering duduk di ruang makan sendirian saat hujan. Memandang taman belakang. Menikmati air menetes-netes dari langit, sembari tanganku mendekap gelas berisi cokelat hangat.
“Sejak kapan suka memandang hujan?” seseorang menanyakan itu padaku.
Aku tidak tahu. Mungkin sejak aku sering melamun. Sejak kapan aku sering melamun? Aku tidak tahu, sepertinya sudah lama. Mungkin sejak aku sering berkhayal hidup macam apa yang ingin kujalani. Keluarga, pekerjaan, senja, buku, kopi, dan sebuah jendela basah.
Jika pulang ke Solo nanti, akan kubeli sebuah kursi kayu panjang, lalu kutempatkan di beranda rumah. Tepat menghadap taman depan. Aku ingin duduk di situ saat hujan datang.

 

Post to Twitter Tweet This Post

Jangan Lupa Menikah

“Jangan lupa pacaran, jangan lupa menikah. Jangan keasyikan kerja ya,” itulah salah satu pesan kepala direktorat yang paling nempel di kepala saat kami menjelajahi gedung kantor baru. Kami, anak-anak muda ini (halah!), sedang ikut orientasi sampai hari Jumat. Ada acara minta tanda tangan para kepala direktorat juga lho. Sebenarnya bukan tanda tangannya yang penting, tapi ngobrol-ngobrol dengan merekalah yang justru meninggalkan kesan mendalam.

Bagaimana tidak mendalam, kalau hampir semua wejangan dari mereka adalah kalimat-kalimat pelipur lara :)  

“Di sini tempatnya belajar, jadi jangan terlalu mengharapkan materi. Semoga kalian betah di sini ya….”

“Bilang ke suami, kerja di sini pulangnya malam, bahkan bisa sering nginap di kantor..”

“Absen pakai name tag dan finger print. Jadi, kalau kalian nginap, jangan lupa besok paginya absen lagi..” (pesan ini khusus dari biro SDM, mengingat beberapa kali ada staf yang terpaksa menginap dan besok paginya lupa absen lagi..)

Berulang kali mendapat wejangan aneh-aneh seperti itu membuat masa orientasi ini jadi berwarna. Warna cerah mulai menampakkan wujudnya saat pembicaraan mulai bergeser menuju sebuah topik.

“Setelah dua tahun, siap-siap sekolah lagi ya. Pas wawancara dulu sih ga ada yang ngaku, tapi saya ngerti kok, daya tarik kantor ini adalah kesempatan melanjutkan sekolah untuk stafnya…” 

Hehehe, ketahuan deh….

Post to Twitter Tweet This Post

Kartu Pos Bergambar

 

Setelah membaca cerpen “Kartu Pos dari Surga” karya Agus Noor di Kompas Minggu 21 September 2008, saya jadi teringat pada beberapa kartu pos yang saya terima, saya kirim, atau sekedar dikoleksi. Kita lupakan sejenak kartu pos polos warna oranye, karena sejak kecil dulu saya terlalu sering kirim jawaban kuis pakai kartu pos jenis itu. 
 

Dalam cerpen “Kartu Pos dari Surga”, Agus Noor menunjukkan bagaimana kartu pos bisa menjadi pemompa semangat sekaligus penabur perih, buat penerima ataupun pengirimnya. Pengalaman saya menunjukkan hal itu memang benar. Beberapa kartu pos menaikkan gairah hidup, dan beberapa lainnya menyimpan luka yang kadang muncul malu-malu diantara gambar dan kata-kata.
 

Gara-gara gambar indah di kartu pos, saya jadi penasaran seperti apa kota Vienna alias Wina. Salah satu dosen saya, mbak Diah Kusuma, orang-orang memanggilnya “Dikei”, pernah ke Wina. Saya kagum pada caranya memberikan semangat bagi mahasiswa-mahasiswinya. Mudah saja, Mbak Dikei mengirim kartu pos bergambar kota Wina kepada kami, dengan beberapa baris kalimat di baliknya.


 

“Hi Astri, Vienna jauh lebih cantik dari fotonya lho….make sure that you make efforts to visit this wonderful city one day. Love, Diahkei.” 

Inilah salah satu kartu pos favorit saya, sampai hari ini. Keingintahuan saya pada Wina makin menyala saat teman saya, seorang pejalan jauh, memberi judul salah satu tulisannya “Wina dan Sepucuk Sajak Lorca.” Judul yang terasa romantis untuk sebuah tulisan tentang Piala Dunia sepakbola. Hey, saya jadi ingat! Sepertinya kawan saya itu juga senang berkirim kartu pos. Dalam profil blognya (yang sudah almarhum), kalau tidak salah dia pernah menulis hobinya adalah jalan-jalan sambil sesekali mengirim kartu pos.
 

Mungkin memang begitu caranya menandai perjalanan. Berkirim kartu pos dari tempat yang didatangi sekaligus punya arti untuk disimpan dalam kenangan. Lantas, si penerima akan mencoba membuat penafsiran atas gambar di bagian depan dan kalimat sang pengirim di bagian belakang. Saya tak tahu apakah Sapardi Djoko Damono berada dalam status sebagai pengirim ataukah penerima Kartu Pos Bergambar Jembatan Golden Gate San Fransisco. Buat saya, seperti ada kepedihan yang terpendam dalam larik-larik puisinya, walau beberapa kata tak saya tahu maknanya. 

“kabut yang likang 
dan kabut yang pupuh 
lekat dan gerimis pada tiang-tiang jembatan 
matahari menggeliat dan kembali gugur 
tak lagi di langit berpusing 
di perih lautan” 

Seperti apa ya gambar Jembatan Golden Gate San Francisco jika dipasang di kartu pos? Saya kadang bertanya-tanya, bagaimana cara memilih gambar yang tepat untuk sebuah kartu pos agar tak terasa biasa-biasa saja?

 

Kalau suatu hari saya bertemu atau kirim e-mail ke Agus Leonardus, akan saya tanyakan padanya. Semoga saya tak lupa. Jika Gede Prama menandai setiap tulisannya dengan kalimat penutup “Gede Prama, bekerja di Jakarta, tinggal di desa Tajun, Bali Utara”, maka Agus Leonardus punya cara tak jauh berbeda. Di salah satu sudut kartu pos yang memajang foto karyanya, berderet rapi alamat e-mailnya. Kartu pos ini mudah ditemui di toko buku atau hotel di Jogja. Tak semata menjual keindahan pemandangan, tapi ada pula tema tentang manusia yang menyentuh.  Kartu pos berjudul “Going Home”, “Happy  Old Javanese Couple” dan “It is Hard to be A Man” menjadi favorit saya.  
****

Sudah lama saya tak mengirim kartu pos. Setahun terahir, seingat saya hanya dua kartu pos yang membuat saya terhenyak lama menyusun kalimat sebelum menuliskannya di balik kartu pos. Hanya dua kartu pos itu pula yang terkirim.  

Post to Twitter Tweet This Post

WordPress Themes