Bahasa Hati
Tidak semua memperlihatkan komitmen yang datang dari hati, ada setengahnya (kandidat). Saya melihat, kalau yang bersuara hatinya, pasti diterima oleh hati juga.
Kalimat Syafii Maarif, anggota Panitia Seleksi (Pansel) kandidat Ketua KPK itu menjadi awal dari sebuah berita di halaman 12 Media Indonesia tanggal 27 Agustus 2010 yang diberi judul “Kandidat Ketua KPK Tidak Tulus”. Dalam berita itu disebutkan bahwa tujuh kandidat Ketua KPK telah menjalani tahapan wawancara terbuka. Separuh dari mereka diragukan ketulusannya oleh Pansel dalam hal niat untuk menjadi Ketua KPK.
Entah apakah kalimat Syafii Maarif itu diketahui para kandidat Ketua KPK atau tidak. Yang jelas, kalimatnya membuat saya jadi termenung. Sepertinya saya juga seperti itu deh. Satu tahun delapan bulan ini, hati saya tak penuh memberikan dorongan untuk bekerja. Seperti kata seorang kawan, apa yang kami lakukan sekedar get the things done. Tak terlalu peduli bagaimana rasanya, yang penting jalani dan selesaikan.
Jalani, bukan nikmati.
Saya bersyukur bahwa Tuhan memilihkan pekerjaan ini buat saya. Pekerjaan yang bisa menghidupi keluarga kecil saya. Hanya saja, di dalam, rasanya ada sesuatu yang pelan-pelan padam.
I pray you to remember that better than the language of the written word is the language of the heart.
(Sukarno An Autobiography As told to Cindy Adams, halaman 16.)