Mencari Sapardi

Pernahkah membaca sebuah puisi yang membuatmu tetap mengingat setiap lariknya hingga hari ini ?

Zaman aku SMA dulu, aku pernah membaca sebuah puisi indah. Baru kemudian aku tahu, puisi itu ada hampir di setiap organizer milik teman-teman perempuanku saat SMA. Sampai hari ini, aku masih menerka-nerka apa maksud puisi itu, sambil bertanya ” benarkah pemahamanku ?”

Mungkin aku harus bertemu beliau, penulis puisi tersebut, untuk menanyakan maknanya. Sapardi Djoko Damono.

Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Saat aku mengetik “aku ingin puisi sapardi djoko damono” di google, ternyata hasilnya ada buanyak! Yang suka puisi ini bukan cuma aku rupanya. Buktinya, ada calon pengentin yang juga menulis puisi ini dalam undangan pernikahannya. Baca di sini.Romantis juga ya pengantinnya, hehehehe…

Kata sebuah blog, “Hujan Bulan Juni” adalah buku karya Sapardi yang tak boleh dilewatkan. Baiklah, mari kita masukkan buku itu dalam daftar yang dibeli setelah gajian bulan depan. Tapi, kebeli nggak ya? hahahaha…:D

Post to Twitter Tweet This Post

Music Director = Paranormal ?

Suatu siang, aku sibuk mengutak-atik tuner radio di mobil kantor,ketika kami (aku dan Pak Anas, driver kantor) dalam perjalanan pulang setelah rapat dengan AusAID.

Jariku sibuk memencet tuner, sambil membayangkan betapa hebatnya efek yang ditimbulkan oleh benda ini. Karena benda ini, sebuah radio bisa langsung kehilangan pendengar ketika menyiarkan hal yang “tidak menarik”.

Ya, definisi “tidak menarik” sangatlah subyektif, tergantung masing-masing orang :) Dan percaya atau tidak,salah satu hal yang membuat sebuah radio mendapat tempat di hati
pendengarnya adalah jenis lagu yang diputar.

Bicara tentang jenis lagu yang diputar, tentu saja harus melihat radio tersebut segmennya untuk pendengar dengan usia berapa, tingkat ekonomi dan pendidikannya bagaimana.Misalnya saja, orang umur 40 an tentunya punya selera lagu yang berbeda
dengan usia 20-an.

Wuih, sok memisah-misahkan ya :) Nggak juga sih, itu cuma beberapa cara untuk mempermudah pekerjaan Music Director saja :) Segala hal tentang musik dalam sebuah radio adalah tanggung jawab Music Director, dan 3 hal di atas bisa membantu mempermudah Music Director menyiapkan lagu-lagu yang diputar radio tersebut.

Tapi, tetap saja pekerjaan Music Director itu tidak mudah.Harus tahu info musik (termasuk musik yang “aneh-aneh”),harus rela mendengar dan meresapi lagu yang “mungkin”
bukan seleranya, harus berburu lagu (yang kadang langka untuk didapat),bla bla bla :)

Begitulah, tanggung jawab seorang Music Director sangatlah berat.Satu hal yang sebenarnya paling penting adalah bahwa jenis lagu yang diputar (dan style penyiar dalam siarannya) sangat menentukan ciri khas / “air personality”/ identitas/ atau apa lah
namanya, dari sebuah radio. Dengan kata lain, Music Director juga bertanggung jawab atas identitas sebuah radio.

Masalahnya, meskipun Music Director berusaha mempertahankan identitas radionya, dia juga tetap harus tahu selera pendengarnya.

Jadi ingat kalimat Mas Riza Tomawa.
“Music Director itu seperti paranormal, seperti dukun.
Harus bisa menebak selera orang.”

 

Post to Twitter Tweet This Post

Pagi Ini Aku Terharu (Tomy Ristanto)

     

Date:

     

Wed, 8 Nov 2006 07:13:02 +0700 (ICT)

From: tomy ristanto
Subject: PAGI YANG CERAH,BLOGS DAN KEBIMBANGAN
To: astrikusuma@yahoo.com
    

Pagi yang cerah...meski tak secerah pandanganku yang
masih kuyu karena over time tadi malam.....
tak se cerah otakku karena mikirin kerjaan hari ini
yang udah menanti....
 Aku buka dengan membuka google! jujur aku mulai pikun
rasanya sampai aku lupa apa yang aku ketik hingga di
barisan kalau tidak ke lima , ke empat? ....ah
lagi-lagi lupa...tanpa sengaja ada
judul....astrikusuma.com nama yang sudah sangat ku
kenal.....
tiba-tiba aku lebih memilih untuk  membuka situs ini,
dibanding tujuanku semula....
dan ternyta sagat inspiratif sekali tulisan-tulisan
yang ada di sana.....
dari tema musik favorit, sampai korban gempa ada di
sana....
dari buku-buku samapi si kribo ANDY NOYA juga dia
tulis....
Kapan buku perdanamu terbit? aku pasti bakal menjadi
orang dilingkaran pertama yang akan membacanya......
Apa aktivitasmu sekarang? ah bodohnya aku....astri
yang super aktif ini mana pernah kekurangan
aktivitas....

Tiba-tiba aku bingung mau nulis apa lagi....
satu yang pasti senang rasanya jika bisa
ngobrol-ngobrol dengan sobat satu ini....kapan
ya?....tiap ketemuan pasti pas lagi kerja.....

Membaca blogmu hari ini,
akhirnya aku mulai tersadar kalimat satir dosen Hukum
ku :
"seorang dosen tanpa buku, ibarat penyanyi dangdut
tanpa album kaset...."
dalam konteks aku.....
terlalu banyak informasi yang sudah aku bagi dengan
orang lain.....tapi semuanya langsung berlalu...tak
pernah terdokumentasi.....
terlalu sering sekelebat ide cemerlang melintas di
otakku, tapi eksekusi itu masih menjadi sebuah cita
ideal....bukan karya nyata....

Pagi ini timbul tanya dalam hatiku....pernahkah
karyaku berguna untuk yang lain........???
Atau justru adakah hadirku berguna bagi yang lain....?

___pagi jogja, dalam bimbang___

 

Astri said :
Pagi ini aku terharu membaca e-mail ini.

Seorang reporter sebuah stasiun televisi,

yang telah kukenal bertahun-tahun.

Berawal dari Sabayatsa, berlanjut di Trijaya.

Aku mengaguminya, orang yang mengabdikan

hidupnya untuk menyampaikan berita

bagi orang lain.

Tom, kamu sangat bermanfaat untuk banyak orang.

Mau ngobrol lagi? Anytime, Tom..

tinggal telfon saja..:)

Terimakasih sudah meluangkan waktu

membaca tulisanku :)

 

 

Post to Twitter Tweet This Post

Bayu Sutiyono

Tadi pagi sebelum berangkat ke kantor sempat nonton

TV sebentar. 06.30 WIB, SCTV. Bayu di Liputan 6 Pagi.

Mungkin ini berkah bahwa Metro TV tidak nyangkut

di kosku, jadi mau tidak mau aku HARUS

nonton stasiun TV selain Metro :)

Acara ini menurutku bagus.

Menyajikan berita dari sudut pandang berbeda.

Tadi pagi Bayu menyajikan topik tentang sholat ied

yang dilakukan korban lumpur Lapindo

di atas tanggul penahan lumpur.

Menurutku, acara ini mencoba menggugah

sisi kemanusiaan kita, pemirsanya.

Sholat ied dengan latar belakang rumah terendam

lumpur, isak tangis jamaah sholat saat khotbah,

dan duka khotib sholat Ied yang harus merelakan

pesantren yang dikelolanya terendam lumpur.

Tapi tidak cuma itu, acara ini juga membuka

kesempatan bagi pemirsanya yang ingin berbagi

membantu korban lumpur itu. Tadi ada seorang pemirsa

yang menelfon saat acara berlangsung,

menyampaikan keinginannya untuk membantu

pesantren itu. Inilah sebenarnya yang paling penting,

partisipasi dari pemirsa terhadap sebuah acara.

Sebuah bentuk loyalitas yang mahal harganya.

Tentang Bayu Sutiyono sendiri,

salah satu penyiar favoritku :)

Masih teringat complain beberapa temanku,

“Kok Bayu sih, kan lebih cakep Arief Suditomo..”

Hehehehe…:D

Terpana pada Bayu Sutiyono sejak lihat salah satu

aksinya,reportase sambil nyemplung dalam air,

ketika banjir melanda Jakarta beberapa tahun yang lalu.

Itu juga alasanku ikut seminar Liputan 6 SCTV

Goes to Campus, di UGM,

kalau tidak salah tahun 2001 atau 2002.

Ikut seminar gara-gara Bayu Sutiyono jadi pembicara.

Sungguh alasan yang tidak rasional :p

Aku ingat, ketika seminar selesai, aku “memburu” nya,

kusodorkan salah satu kertas dalam organizer-ku.

Ini hasilnya, hahahaha…:D

Post to Twitter Tweet This Post

WordPress Themes