Pada Adenium yang Berbunga Aku Pulang

Dari wajahmu aku tahu, kau bahagia
Menikmati hari tua.
Sederhana tak mengapa.
Bukankah bersyukur membuat kita selalu “kaya”?
 
Di sini, semakin sering kulihat tawamu.
Lepas, penuh penghayatan tentang makna hidup :
Bahwa kerasnya hidup itu soal biasa.
Hadapi semampu kita.
Tuhan tahu kita bisa.
 
Duduklah di sampingku
sore hari di akhir pekan, ketika aku pulang.
Kita pandang adenium yang berbunga dari teras mungil berkursi biru.
Ditemani teh nasgitel penghangat jiwa.
 
Ceritakan padaku
tentang Senin sampai Jumat yang kau lewati tanpa aku,
tentang kue-kue yang kau buat,
juga tentang adik-adikku.
 
Tahukah, di sampingmu aku damai.
Berdua mentertawakan baju-baju butut di almari,
juga menu makanan yang itu-itu saja.
Ibu, aku mengagumimu.
Tunggu aku Sabtu depan.
Kita pandang lagi adenium yang berbunga di halaman.

Solo, 20 Januari 2007

Post to Twitter Tweet This Post

Pertanyaan Tak Terduga

Ketika menghadapi sebuah interview pekerjaan, biasanya kita akan berusaha mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Termasuk mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang pekerjaan yang kita lamar itu. Bisa dengan cara “ngublek-ublek” website nya, bisa juga dengan cara nanya-nanya ke orang-orang yang punya informasi tentang pekerjaan itu.

Tapi, selalu akan ada pertanyaan tak terduga :) Sampai hari ini aku masih selalu tersenyum tiap ingat pertanyaan itu. Jenis pertanyaan yang tak pernah terlintas sedikitpun dalam indahnya impian masa kecilku :)

Ketika tes terakhir itu akan berlangsung, Dimas berkata padaku,

“Menyenangkan ya, kamu masih punya impian masa kecil yang coba kamu wujudkan sampai sekarang. Cita-citaku berubah-ubah terus dari dulu. Malah, sempat pengen jadi astronot juga..”

Impian masa kecil, cita-cita masa kecil. Tak kusangka aku diberi kesempatan untuk mencoba mewujudkannya. Walau akhirnya gagal, aku tak merasa menyesal :) Paling tidak, itulah yang terbaik yang bisa kuberikan. Aku percaya Allah telah memiliki rencana lain untukku :)

Dalam perjalanan pulang dari interview, dalam KOPAJA jalur 66, rasanya seperti flashback ke masa lalu. Tentang hobbyku nonton Dunia Dalam Berita, tentang hari-hari begadang menjelang UMPTN, tentang tulisan penyemangat jiwa yang kutempel di tembok pas di atas meja belajarku. “Kalau Nggak HI UGM, Nggak!!!!” (Dasar, kok bisa-bisanya aku nulis seperti itu :p )

Teringat juga tentang adu argumentasi antara Mama dan aku. Beliau begitu ingin aku kuliah di STAN. “Kan penak Nduk. Opo maneh? Kowe wis ketampa ning kono. Rampung kuliah langsung nyambut gawe..”

Ya sih, selesai kuliah bisa langsung kerja. Tapi…ketika aku daftar ulang ke STAN, rasanya kok aneh. Rasanya kosong. Aku tahu, itu bukan jiwaku. Jadi ya walau dibentak-bentak senior di STAN, plus isuruh ngerjain ini itu, aku tak peduli. Tak berasa. Dan saat itu, dalam hatiku entah kenapa ada sebuah keyakinan, “Aku tak akan ada di sini..”. Padahal, saat itu pengumuman UMPTN belum keluar. Belum ada kepastian aku diterima di HI. Tapi, Mama sudah “bergerak cepat”. Langsung mencarikan kos untukku di dekat kampus STAN. Seolah aku akan ada di sana.

Lalu, datanglah hari itu. Pengumuman UMPTN, aku diterima di HI UGM!! :) Tahukah, itu hari yang sangat membahagiakan untukku. Menemukan nomor dan namaku dalam pengumuman di koran. Hari-hari begadang itu sepadan dengan hasil yang kudapatkan :)

Air mataku saat membaca pengumuman itu punya dua arti yang bertolak belakang. Bangga, karena perjuanganku membuahkan hasil. Sedih, karena aku tak akan menikmatinya. Hari itu juga, aku mengatakan keinginanku pada Mama. Hasilnya, kami sepakat aku bisa kuliah di HI, tapi aku harus berjuang sendiri. Termasuk biaya kuliah, biaya hidup, semuanya :) Ah Bundaku sayang, mencoba mengujiku walau tahu aku tak gentar :) Alhamdulillah, setelah 1 semester berlalu, beliau mendukungku :)

Sekarang, meski cita-cita masa kecilku tak terwujud, aku tetap menyukai bidang ilmu yang kupelajari saat kuliah dulu. Tetap setia nonton Dunia Dalam Berita-nya TVRI (dan sekarang tambah “WORLD NEWS” di Metro TV”), dan tetap senang membaca bagian “INTERNASIONAL” di koran Kompas :)

Tahun depan, mungkin aku tak mencoba lagi ikut seleksi pekerjaan itu. Kenapa? Karena, jawabanku atas pertanyaan itu kemungkinan tidak akan berubah :) Sesenang-senangnya aku bekerja, aku masih ingin punya keluarga. Punya suami, punya anak :) Tak apa kalau itu dianggap jawaban yang tidak bagus. Yang penting aku tak membohongi hati nuraniku :)

Jadi, mari, berjuang lagi :)

 

 

Post to Twitter Tweet This Post

Hujan Bulan Juni, Karya Sapardi Djoko Damono

tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni

dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni

dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni

dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu

Post to Twitter Tweet This Post

Filosofi Kopi : Kentalnya Aroma Cinta, Persahabatan, dan Perenungan Diri

 

Akhirnya punya kesempatan membaca Filosofi Kopi-nya Dee, walau sambil pakai baju kebaya (dan tanpa minum kopi) di Sabtu siang yang cerah. Agak tidak nyambung memang, tapi begitulah kejadiannya. Untung kebayaku berpadu dengan celana kain, memudahkanku melipat dua kaki di bangku tanpa takut dianggap tak beretika :) Oya, karena keterbatasan waktu, aku belum selesai membaca Filosofi Kopi. Namun, pesonanya membuatku ingin membaginya. Siapa tahu ada yang tergoda :)

Filosofi Kopi. Kumpulan cerpen dan prosa satu dekade yang memikat. Kental dengan aroma cinta (terhadap banyak hal) dan persahabatan, meskipun ada juga beberaa tulisan dimana Dee seolah berbicara pada dirinya sendiri sebagai bentuk perenungan tanpa khotbah menjemukan bagi pembacanya. Buku ini seperti secangkir kopi hangat plus creamer di jam setengah 4 sore pada hari kerja. Enak, nyaman.

Walau kadang terasa tragis, namun persahabatan yang muncul dalam cerpen-cerpen di buku ini indah untuk direnungkan. Persahabatan Ben dan Jody dalam memaknai Filosofi Kopi (Sungguh, cerpen ini BAGUS!). Persahabatan Hera dan teman kakaknya dalam mencari Herman. Persahabatan Tio dan Egi. Ada pula persahabatan Lana dan temannya yang sesama pecandu Kho Ping Hoo.

Begitulah, dijalin oleh sesama jenis atau berlainan jenis, kadangkala “persahabatan” muncul sebagai bentuk persembunyian abadi bagi satu hal yang tak bisa terucap atau terungkapkan. Apa itu? Ayolah, Anda juga pasti tahu sendiri… :)

Kemarin, aku tersenyum saat membaca salah satu cerpen dalam buku ini. Cerpen itu punya efek seperti tendangan pisang milik Roberto Carlos. Datang dari samping, lalu menghujamku tepat di ulu hati. Telak !!!

Di akhir cerita, tokoh dalam cerpen itu sudah bangun dari dunia mimpinya. Aku berbeda.

Nb :
Dee, salam untuk Egi :)

Post to Twitter Tweet This Post

Dunia Itu Penuh Kemungkinan, Walaupun Cuma 1 Persen

Itu kalimat yang biasanya kuucapkan ketika menghibur hati sambil tetap menyalakan harapan. Kemarin, dalam chat ku dengan seorang teman, sesama scholarship hunter, kami berdiskusi (lebih tepatnya berdebat) tentang masa depan yang tak pasti.

“Kalau ada kesempatan kerja di luar negeri, ambil aja As. Aku aja kalo dah selesai beasiswa, mau kerja di jepun aja. Susah cari kerja di Indonesia. Apalagi Indonesia akan semakin memburuk beberapa tahun mendatang.”                    

Itu kalimatmu di YM.

Jawabanku seperti biasanya,

“Dunia itu penuh kemungkinan, walaupun cuma 1 persen”.

Setelah itu, kita berdebat panjang. Dan kamu mengakhirinya dengan kalimat :

“Kamu tu nasionalis. Kita lihat saja nanti. Indonesia akan semakin memburuk.”

Ah, teman… Aku tahu kamu kecewa dengan negeri ini. Akupun iya (Lihat “Balada Kartu Kuning”). Tapi, kalau bukan kita yang berusaha memperbaiki, lalu siapa lagi? Adalah hak prerogatifmu untuk memilih bekerja di luar negeri, dan kuhormati itu.

Teman, hanya ingin bertanya, tak inginkah berbagi ilmu hasil beasiswamu itu kepada negeri ini?  

Post to Twitter Tweet This Post

WordPress Themes