Ketika menghadapi sebuah interview pekerjaan, biasanya kita akan berusaha mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Termasuk mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang pekerjaan yang kita lamar itu. Bisa dengan cara “ngublek-ublek” website nya, bisa juga dengan cara nanya-nanya ke orang-orang yang punya informasi tentang pekerjaan itu.
Tapi, selalu akan ada pertanyaan tak terduga
Sampai hari ini aku masih selalu tersenyum tiap ingat pertanyaan itu. Jenis pertanyaan yang tak pernah terlintas sedikitpun dalam indahnya impian masa kecilku
Ketika tes terakhir itu akan berlangsung, Dimas berkata padaku,
“Menyenangkan ya, kamu masih punya impian masa kecil yang coba kamu wujudkan sampai sekarang. Cita-citaku berubah-ubah terus dari dulu. Malah, sempat pengen jadi astronot juga..”
Impian masa kecil, cita-cita masa kecil. Tak kusangka aku diberi kesempatan untuk mencoba mewujudkannya. Walau akhirnya gagal, aku tak merasa menyesal
Paling tidak, itulah yang terbaik yang bisa kuberikan. Aku percaya Allah telah memiliki rencana lain untukku
Dalam perjalanan pulang dari interview, dalam KOPAJA jalur 66, rasanya seperti flashback ke masa lalu. Tentang hobbyku nonton Dunia Dalam Berita, tentang hari-hari begadang menjelang UMPTN, tentang tulisan penyemangat jiwa yang kutempel di tembok pas di atas meja belajarku. “Kalau Nggak HI UGM, Nggak!!!!” (Dasar, kok bisa-bisanya aku nulis seperti itu :p )
Teringat juga tentang adu argumentasi antara Mama dan aku. Beliau begitu ingin aku kuliah di STAN. “Kan penak Nduk. Opo maneh? Kowe wis ketampa ning kono. Rampung kuliah langsung nyambut gawe..”
Ya sih, selesai kuliah bisa langsung kerja. Tapi…ketika aku daftar ulang ke STAN, rasanya kok aneh. Rasanya kosong. Aku tahu, itu bukan jiwaku. Jadi ya walau dibentak-bentak senior di STAN, plus isuruh ngerjain ini itu, aku tak peduli. Tak berasa. Dan saat itu, dalam hatiku entah kenapa ada sebuah keyakinan, “Aku tak akan ada di sini..”. Padahal, saat itu pengumuman UMPTN belum keluar. Belum ada kepastian aku diterima di HI. Tapi, Mama sudah “bergerak cepat”. Langsung mencarikan kos untukku di dekat kampus STAN. Seolah aku akan ada di sana.
Lalu, datanglah hari itu. Pengumuman UMPTN, aku diterima di HI UGM!!
Tahukah, itu hari yang sangat membahagiakan untukku. Menemukan nomor dan namaku dalam pengumuman di koran. Hari-hari begadang itu sepadan dengan hasil yang kudapatkan
Air mataku saat membaca pengumuman itu punya dua arti yang bertolak belakang. Bangga, karena perjuanganku membuahkan hasil. Sedih, karena aku tak akan menikmatinya. Hari itu juga, aku mengatakan keinginanku pada Mama. Hasilnya, kami sepakat aku bisa kuliah di HI, tapi aku harus berjuang sendiri. Termasuk biaya kuliah, biaya hidup, semuanya
Ah Bundaku sayang, mencoba mengujiku walau tahu aku tak gentar
Alhamdulillah, setelah 1 semester berlalu, beliau mendukungku
Sekarang, meski cita-cita masa kecilku tak terwujud, aku tetap menyukai bidang ilmu yang kupelajari saat kuliah dulu. Tetap setia nonton Dunia Dalam Berita-nya TVRI (dan sekarang tambah “WORLD NEWS” di Metro TV”), dan tetap senang membaca bagian “INTERNASIONAL” di koran Kompas
Tahun depan, mungkin aku tak mencoba lagi ikut seleksi pekerjaan itu. Kenapa? Karena, jawabanku atas pertanyaan itu kemungkinan tidak akan berubah
Sesenang-senangnya aku bekerja, aku masih ingin punya keluarga. Punya suami, punya anak
Tak apa kalau itu dianggap jawaban yang tidak bagus. Yang penting aku tak membohongi hati nuraniku
Jadi, mari, berjuang lagi
Tweet This Post