“Sadar media”. Dua kata ini sering diucapkan salah satu atasan saya di kantor. Latar belakang beliau sebagai pengusaha membuat beliau tetap kritis dengan segala upaya “jualan” di media. Bekerja di tim yang mengurus gempa ternyata tidak membuat beliau kehilangan naluri pengusahanya.
Kata bapak itu, orang yang “sadar media” akan bisa memanfaatkan media untuk kepentingannya. Persoalannya adalah, seberapa pintarkah orang-orang untuk mempraktekkannya. Orang yang benar-benar pintar, akan mendapat untung. Orang yang tidak hati-hati, justru bisa merugi. Begitulah, media memang punya kekuatan “mengerikan”. Seorang presiden pun bisa jatuh karena media. (Ingat “All the President’s Men”-nya Dustin Hoffman ?).
Berikut ini ada beberapa kejadian yang membuat saya berpikir, mana yang sadar media dan mana yang tidak ya?
1. Beberapa tahun yang lalu saya pernah melihat tayangan televisi yang membuat hati miris. Gambar di televisi itu dengan jelas menunjukkan bagaimana sebuah kelompok menyerbu salah satu kantor kedutaan negara asing yang ada di Jakarta. Wajah mereka memang tertutup kain, tapi sorot mata dan ayunan segala benda di tangan mereka tak bisa menyembunyikan kesan beringas. Saat melihat tayangan itu, yang terlintas di benak saya hanya pertanyaan dan pertanyaan. Bagaimana jadinya kalau berita ini sampai muncul di televisi asing? Bisakah diplomat kita meyakinkan dunia bahwa Indonesia itu aman-aman saja ? Kalau kejadiannya sudah begini, yang rugi bukan cuma kelompok penyerbu yang lalu mendapat predikat “garis keras”. Repotnya, pelaku industri pariwisata bisa gulung tikar karena tidak ada turis yang mau datang. Roda ekonomi juga bisa makin seret karena investor asing memilih memindahkan investasinya ke negeri tetangga yang stabilitas keamanannya terjamin. Ujung-ujungnya, jumlah pengangguran bisa bertambah.
2. Saat sebuah konferensi pers berlangsung di kantor saya, ada seorang nara sumber yang menurut saya “sangat sadar media”. Setiap ada recorder di meja di depannya yang otomatis mati karena kasetnya sudah habis, tangan bapak itu akan dengan sigap mengulurkan recorder pada sang pemilik. Baik hati? Bisa juga. Yang jelas, kalau kasetnya nggak berputar lagi, sia-sia dong bapak itu ngomong, kan wartawan nggak bisa merekam apa yang dia katakan. Tahu sendiri kan resiko kalau berita tidak terekam, bisa saja data yang muncul dalam berita menjadi kurang akurat. Kalau berita yang muncul tidak akurat, nara sumber bisa juga kena getahnya, selain wartawan penulisnya tentu saja. Herannya, ada seorang wartawan yang duduk di sebelah saya yang dengan nyamannya tidak membuat catatan sama sekali. Sama sekali! Hebat, pastilah dia punya daya ingat yang kuat. Tapi, waktu menunjukkan bahwa perkiraan saya salah besar. 5 menit kemudian, wartawan itu dengan polosnya berkata pada saya, “Mbak, nanti saya copy file-nya Mbak ya. Mbak bikin notulensi kan?” Deg! Wartawan yang satu ini punya tingkat kepercayaan diri yang tinggi! Lalu, jawaban saya apa? Saya bilang, “wah, maaf Mbak, notulensi ini hanya untuk internal kantor. Kalau untuk wartawan kan sudah ada siaran pers. Apalagi sejak tadi pasti Mbak sudah merekam dan mencatat apa yang disampaikan nara sumber kan?” Saya bisa melihat, ada semu merah di wajahnya saat mendengar jawaban saya. Bukannya nggak mau bantu dia, tapi saya kurang sreg dengan caranya. Beda kondisinya kalau dia mencatat, lalu dia mau meng copy file saya untuk bahan perbandingan siapa tahu ada informasi terlewat, monggo-monggo saja
3. Ketika bulletin berisi informasi rehabilitasi dan rekonstruksi gempa bagi kelompok masyarakat akan diterbitkan, atasan saya sempat nyeletuk, “seandainya boleh ada iklan yang masuk dalam bulletin ini, pastilah banyak perusahaan semen yang mau beriklan.” Halah..!! Kalau yang ini sih sadar peluang bisnis
4. Ketika bencana datang, kenapa ya banyak pemberi bantuan yang tingkat “sadar media”-nya melonjak tinggi? Berbagai bendera bisa muncul tanpa dosa dalam foto-foto penyerahan bantuan. Memang, dokumentasi itu penting. Tapi, haruskah acara serah terima bantuan difoto dalam posisi dua wajah menghadap ke kamera sambil tangan bersalaman? Atau jangan-jangan, tangan kanan memberi, tangan kiri tetap harus tahu?
Tweet This Post