Pada Suatu Pagi Hari, Karya Sapardi Djoko Damono

Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.

Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.

Sapardi Djoko Damono, 1973

Post to Twitter Tweet This Post

Sadar Media

“Sadar media”. Dua kata ini sering diucapkan salah satu atasan saya di kantor. Latar belakang beliau sebagai pengusaha membuat beliau tetap kritis dengan segala upaya “jualan” di media. Bekerja di tim yang mengurus gempa ternyata tidak membuat beliau kehilangan naluri pengusahanya.

Kata bapak itu, orang yang “sadar media” akan bisa memanfaatkan media untuk kepentingannya. Persoalannya adalah, seberapa pintarkah orang-orang untuk mempraktekkannya. Orang yang benar-benar pintar, akan mendapat untung. Orang yang tidak hati-hati, justru bisa merugi. Begitulah, media memang punya kekuatan “mengerikan”. Seorang presiden pun bisa jatuh karena media. (Ingat “All the  President’s Men”-nya Dustin Hoffman ?).

Berikut ini ada beberapa kejadian yang membuat saya berpikir, mana yang sadar media dan mana yang tidak ya?

1. Beberapa tahun yang lalu saya pernah melihat tayangan televisi yang membuat hati miris. Gambar di televisi itu dengan jelas menunjukkan bagaimana sebuah kelompok menyerbu salah satu kantor kedutaan negara asing yang ada di Jakarta. Wajah mereka memang tertutup kain, tapi sorot mata dan ayunan segala benda di tangan mereka tak bisa menyembunyikan kesan beringas. Saat melihat tayangan itu, yang terlintas di benak saya hanya pertanyaan dan pertanyaan. Bagaimana jadinya kalau berita ini sampai muncul di televisi asing? Bisakah diplomat kita meyakinkan dunia bahwa Indonesia itu aman-aman saja ? Kalau kejadiannya sudah begini, yang rugi bukan cuma kelompok penyerbu yang lalu mendapat predikat “garis keras”. Repotnya, pelaku industri pariwisata bisa gulung tikar karena tidak ada turis yang mau datang. Roda ekonomi juga bisa makin seret karena investor asing memilih memindahkan investasinya ke negeri tetangga yang stabilitas keamanannya terjamin. Ujung-ujungnya, jumlah pengangguran bisa bertambah.

2. Saat sebuah konferensi pers berlangsung di kantor saya, ada seorang nara sumber yang menurut saya “sangat sadar media”. Setiap ada recorder di meja di depannya yang otomatis mati karena kasetnya sudah habis, tangan bapak itu akan dengan sigap mengulurkan recorder pada sang pemilik. Baik hati? Bisa juga. Yang jelas, kalau  kasetnya nggak berputar lagi, sia-sia dong bapak itu ngomong, kan wartawan nggak bisa merekam apa yang dia katakan. Tahu sendiri kan resiko kalau berita tidak terekam, bisa saja data yang muncul dalam berita menjadi kurang akurat. Kalau berita yang muncul tidak akurat, nara sumber bisa juga kena getahnya, selain wartawan penulisnya tentu saja. Herannya, ada seorang wartawan yang duduk di sebelah saya yang dengan nyamannya tidak membuat catatan sama sekali. Sama sekali! Hebat, pastilah dia punya daya ingat yang kuat. Tapi, waktu menunjukkan bahwa perkiraan saya salah besar. 5 menit kemudian, wartawan itu dengan polosnya berkata pada saya, “Mbak, nanti saya copy file-nya Mbak ya. Mbak bikin notulensi kan?” Deg! Wartawan yang satu ini punya tingkat kepercayaan diri yang tinggi! Lalu, jawaban saya apa? Saya bilang, “wah, maaf Mbak, notulensi ini hanya untuk internal kantor. Kalau untuk wartawan kan sudah ada siaran pers. Apalagi sejak tadi pasti Mbak sudah merekam dan mencatat apa yang disampaikan nara sumber kan?” Saya bisa melihat, ada semu merah di wajahnya saat mendengar jawaban saya. Bukannya nggak mau bantu dia, tapi saya kurang sreg dengan caranya. Beda kondisinya kalau dia mencatat, lalu dia mau meng copy file saya untuk bahan perbandingan siapa tahu ada informasi terlewat, monggo-monggo saja :) 3. Ketika bulletin berisi informasi rehabilitasi dan rekonstruksi gempa bagi kelompok masyarakat akan diterbitkan, atasan saya sempat nyeletuk, “seandainya boleh ada iklan yang masuk dalam bulletin ini, pastilah banyak perusahaan semen yang mau beriklan.”  Halah..!! Kalau yang ini sih sadar peluang bisnis :)

4. Ketika bencana datang, kenapa ya banyak pemberi bantuan yang tingkat “sadar media”-nya melonjak tinggi? Berbagai bendera bisa muncul tanpa dosa dalam foto-foto penyerahan bantuan. Memang, dokumentasi itu penting. Tapi, haruskah acara serah terima bantuan difoto dalam posisi dua wajah menghadap ke kamera sambil tangan bersalaman? Atau jangan-jangan, tangan kanan memberi, tangan kiri tetap harus tahu?  

 

 

Post to Twitter Tweet This Post

I Am Sam : Sean Penn, Dakota Fanning, Beatles, dan Starbucks

 

Beberapa minggu yang lalu saya dan adik saya nonton film berjudul I Am Sam di Trans 7. Sejak pertama kali melihat iklan film itu di Trans 7, saya sudah memasukkannya dalam jadwal saya sebagai sebuah film yang wajib ditonton. Ada Dakota Fanning di sana. Apalagi, potongan lagu Across the Universe milik Beatles dalam iklan film itu terasa begitu miris.

I am Sam berkisah tentang Sam Dawson, seorang ayah dengan keterbelakangan mental, yang hidup bersama anak perempuannya yang masih kecil, Lucy Diamond Dawson. Walaupun terbelakang secara mental,  Sam adalah penggemar berat The Beatles! Sam Dawson diperankan oleh Sean Penn. Lucy Diamond Dawson? Ya jelas Dakota Fanning! Sam harus membesarkan Lucy sendirian, karena sang ibu lebih memilih meninggalkan anaknya setelah melahirkan di rumah sakit. Dengan pekerjaannya sebagai pelayan di Starbucks, Sam berusaha memenuhi kebutuhan putri kecilnya.

Permasalahan timbul ketika Sam dianggap oleh dinas sosial negaranya sebagai seorang ayah yang tidak akan mampu membesarkan anaknya. Alasannya, Sam terbelakang mental, sedangkan Lucy cerdas! Pemikiran Sam setara dengan anak usia 7 tahun. Pengetahuannya tentang kata-kata pun terbatas. Lalu, bagaimana nanti bila Lucy sudah melebihi usia 7 tahun?
 

Beberapa adegan yang tak boleh dilewatkan :

  1. Saat Sam ingin membelikan sepatu untuk Lucy, uangnya tidak cukup. Lalu, teman-temannya (yang juga terbelakang secara mental), memberikan uang mereka kepada Sam. Alasannya cuma satu, putri kecil yang lucu itu sangat mereka sayangi. Ada tulus yang terasa dalam adegan ini.    

  1. Saat Sam meminta Lucy untuk membaca sebuah buku sebelum tidur, Lucy berhenti membaca di tengah-tengah sebuah kalimat. Sam terus memaksanya untuk meneruskan membaca, tapi dia tetap tidak mau. Kenapa? Karena, pertengahan kalimat dimana Lucy berhenti membaca, adalah sebuah kata yang tidak bisa diucapkan oleh Sam dengan benar. “Aku tidak mau membacanya karena kau tidak bisa membacanya, Ayah…”. Lucy tak mau membuat ayahnya merasa lebih bodoh daripada dirinya….

  1. Saat Lucy dihadirkan sebagai saksi di pengadilan, dia diberi pertanyaan, “apa hadiah ulang tahun dari ayahmu?” Tahu dia menjawab apa? “Album Help edisi terbatas dari The Beatles”. Gubrak!

  1. Saat Sam duduk di kursi saksi, jaksa menanyakan banyak hal pada Sam. Maaf saya lupa pertanyaannya apa saja. Tapi sungguh, jawaban Sam bikin trenyuh. Saya lupa kalimat persisnya gimana, yang jelas dia menjelaskan proses pembuatan lagu “Michelle” milik The Beatles. Bahwa Paul McCartney menulis bait pertamanya, lalu dilanjutkan oleh John Lennon mulai dari kalimat “I love you, i love you, i love you…”. Intinya, tanpa ada kerjasama antara Paul McCartney dan John Lennon, lagu “Michelle” tidak akan pernah ada dan tidak akan pernah terkenal sampai sekarang. Begitu juga Sam dan anaknya, mereka adalah sebuah kesatuan, tak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya…

Itulah beberapa adegan yang tidak boleh dilewatkan. Nonton sendiri aja deh, filmnya bagus kok. Tapi, selesai nonton film itu, saya masih bertanya-tanya, mana lagu Across the Universe-nya? Kok nggak ada? Apa saya melewatkan adegan saat lagu itu muncul? Mungkin saja saat itu saya sedang ke kamar mandi. Atau, jangan-jangan adegan film ini banyak yang dipotong, mengingat bagian akhir dari film ini sepertinya kok loncat-loncat, lalu tiba-tiba habis. The End! Adik saya sampai bengong. “Lho, filmnya udah habis ya Mbak?”  

Satu lagi, film ini terasa “sangat Beatles”, dan “sangat Starbucks”, percayalah..hehehe:D

Post to Twitter Tweet This Post

WordPress Themes