Minggu Pagi di Kereta

Minggu pagi di dalam kereta. Duduk bersebelahan dengan seorang Ibu manis parasnya. Kami pun berbicara dalam banyak kata.

Anaknya tiga, lelaki semua, sudah dewasa. Yang bungsu 22 tahun usianya. Cucunya baru satu, sangatlah menggoda. Membuatnya rela bolak balik Solo Jogja.

“Bapak sudah tiada,” gumamnya mengenang pendamping setia. “Dulu, kemanapun Bapak ditugaskan, saya ikut serta. Mulai kota kecil sampai Jakarta, semua pernah dicoba. Siapa sangka, penyakit jantung justru menyerang Bapak di masa pensiunnya. Siapa sangka.”

“Mbak suka baca ya? Persis seperti Bapak. Bapak mengajari saya dan anak-anak untuk suka membaca. Perpustakaan pribadipun saya punya. Buku karya Danielle Steel sampai Marga T juga ada. Menantu saya yang biasanya menyampul lalu merawatnya.”

Minggu pagi di kereta, matanya menerawang penuh rasa. Cinta.

Post to Twitter Tweet This Post

Sigaraning Nyawa

Garwa. Sigaraning nyawa. Belahan jiwa. Ketika hati berkata “dialah orangnya”.

“Saya kenal Bapak pertama kali ya di gedung pusat itu. Saya kerja di perpustakaan, dan Bapak waktu itu sering ke sana pinjam buku untuk bahan mengajar.”

Kami duduk di ruang tamu yang penuh dengan hiasan dinding, memandang lukisan gedung pusat UGM yang tergantung indah di tembok. Lukisan itu dihadiahkan fakultas ekonomi UGM pada mereka yang pernah menjabat sebagai dekan di sana.

“Nah, perpustakaannya di sini…”, tangan beliau menunjuk salah satu sudut pada lukisan gedung pusat UGM.

Hmmm…di situ rupanya lokasi awal cinta bersemi. Di gedung pusat UGM di jalan kaliurang. Gedung indah dihiasi pilar-pilar menawan.

Entah sejak kapan, aku memperhatikan mereka. Sepasang suami istri yang telah berpuluh tahun berjalan beriringan, tapi tetap terlihat seperti orang pacaran. Bapak dan Ibu, begitu aku memanggil mereka. Padahal mungkin lebih tepat jika aku menyebut Eyang pada mereka berdua.

Rasanya baru kemarin mulai bekerja di kantor ini. Aku masih ingat, saat tes wawancara, Bapaklah yang mengajakku ngobrol sekedar mencairkan suasana. Walaupun sudah 71 tahun, semangat Bapak terhitung tinggi untuk orang seusia beliau, badan juga masih segar bugar. Mungkin semua itu karena selera humor Bapak yang memang “tinggi”.

Kata Bapak, ada cara untuk membuat otak tidak cepat pikun. Nyetir sendiri! Aku paling suka jika Bapak datang ke kantor naik “kereta kencana”. Mobil antik warna biru setir kiri. Kata Bapak, itu mobil jaman pacaran dengan Ibu. Kami sekantor sempat foto-foto besama mobil itu.

Tiap akan ke Jakarta untuk urusan kantor, Bapak dijemput pagi-pagi. Ketika Bapak naik ke mobil, Ibu setia mengantar sampai ke gerbang. Dan adegan favoritku pun dimulai. Ibu akan melambaikan tangan sambil berkata “Love you” atau “See you”, dan Bapak akan balas melambaikan tangan sambil mengucap kata yang sama. 

Bapak dan Ibu memang masih seperti orang pacaran. Apalagi anak cucu beliau tinggal di kota lain. Jadilah rumah besar itu hanya dihuni Bapak Ibu dan pembantu. Kata Bapak, Ibu membunuh sepi di rumah dengan membaca buku. Tak terhitung jumlah buku yang telah dibaca Ibu. Danielle Steel penulis favoritnya. Satu buku karya Danielle Steel dipinjamkan Ibu padaku. “Mbak Astri baca ya, ini bisa melatih bahasa Inggris lho..”

Minggu lalu, kami sekantor menjenguk Ibu di Rumah Sakit. Bapak setia menemani Ibu. Ketika kami berada di sana, terlihat benar cinta di mata mereka. Rasa hangat juga terasa dalam setiap canda yang muncul sore itu.

Minggu depan, Ibu ke Singapura untuk berobat. Bapak tetap setia menemani Ibu. Di antara bertumpuk tugas tentang gempa, Bapak tak pernah lelah mendampingi Ibu.

Mendampingi belahan jiwa. Sigaraning nyawa.

  

Post to Twitter Tweet This Post

Natsuko Shioya

 

Perpustakaan ini tidak pernah habis untuk diceritakan. Menjadi tempat favorit untuk menyepi. Duduk di bangku kayu, memandang lepas taman dan sawah. Permadani hijau tanpa pewarna buatan.

Menceritakan tempat ini pada teman-teman semoga tak membuat perpustakaan ini kehilangan ketenangannya. Tenang berujung nyaman.

 

Post to Twitter Tweet This Post

Ingin Berhenti Merokok ?

 

Ini adalah salah satu bentuk kampanye berhenti merokok di Singapura. Dilakukan pembagian tembakau dalam sebuah kemasan plastik bergambar orang yang menderita karena merokok, plus nomor telfon lembaga konseling yang bisa dihubungi oleh mereka yang ingin berhenti merokok.

Gambar ini saya peroleh dari Pak Tatwo, atasan saya di kantor. Pipa cerutu tak pernah bisa dilepaskan dari beliau.

Atasan saya yang lain, sejak Jumat 20 Maret yang lalu memutuskan mengakhiri masa “berhenti merokok” yang telah dijalaninya selama beberapa tahun. Alasannya, daripada jadi perokok pasif di antara perokok “super aktif”, mending jadi perokok aktif sekalian.

Padahal, Kamis malam, 19 Maret, dalam perjalanan dari Semarang ke Jogja, beliau bercerita tentang kebahagiaannya bisa berhenti merokok …

Post to Twitter Tweet This Post

Perempatan Kentungan Pagi Ini

Perempatan Kentungan Jalan Kaliurang KM 6, pagi ini. Lampu merah. Pandangan mata saya lekat menatap tulisan di kaos pengendara motor di depan saya.

“Alangkah indahnya hidup, tanpa sinetron”

Post to Twitter Tweet This Post

WordPress Themes