Sepelemparan Batu

Kantor saya hanya sepelemparan batu dari sana, tempat menghabiskan tahun-tahun penuh tawa. Kemarin datang lagi, bertemu dosen-dosen ramah khas HI. Ada Pak Dafri dan Mas Eric, sayang sekali Mas Rachmat tidak ada.

Saya sempat merasa sungkan pada Pak Dafri. Dosen yang satu ini tak henti mensupport saya untuk maju, dan maju. Tapi saya kok merasa belum bisa memberikan hasil yang memuaskan bagi beliau. Maaf ya Pak.. 

Oya, lobby HI sekarang sudah berbeda, tidak ”hangat” (menurut saya lho ya :) ). Mungkin karena sekarang ada banyak komputer memenuhi lobby, membuat mahasiswa hanya fokus pada monitor komputer. Beberapa kali saya intip dari belakang, ternyata pada buka friendster. Kok ya sama saja dengan saya, hehehe. Entah bagaimana pendapat Pak Mohtar Masoed kalau beliau melihat mahasiswanya sibuk buka friendster dan bukan cari bahan kuliah, hehehe :D

Ternyata kampus memang membuat kangen. Masa-masa duduk melingkar dan berdiskusi di lobby tak lagi saya temui, tapi itu tetap terkenang. Membekas begitu dalam. Lalu, ketika mendengar kabar teman-teman seangkatan dulu, saya disadarkan bahwa hidup memang terus berjalan. Terus… :)

Mungkin tinggal menunggu waktu, entah sekarang atau nanti, saya akan pergi. Mungkin..

Post to Twitter Tweet This Post

Hujan Bulan Juni (Lagi)

Mungkin karena puisi Sapardi berjudul Hujan Bulan Juni, maka Jogja masih juga diguyur hujan di bulan Juni. Hujan turun sejak malam sampai pagi.

Lalu apa kabar langit? Dua hari ini mendung. Membuat dag-dig-dug siapapun yang sudah mengagendakan janji pertemuan :) Membuat mata mengantuk selama jam kerja, dan udara dingin terus menerpa.

Kata seorang teman dalam status YM nya, “udara Jogja seperti di Eropa“…

 

Post to Twitter Tweet This Post

A Touch of Spice

Saya suka film ini.

“Jangan menoleh ke belakang. Jangan..”

Itu kalimat tokoh utama saat melepas pujaan hati di stasiun kereta. Ada senyum yang pedih di wajahnya. Saat itu mungkin dia baru paham makna kalimat mendiang kakeknya.

“Cinnamon… is bitter and sweet, just like a woman”

A Touch of Spice, film Yunani dirilis tahun 2003. Judul aslinya Politiki Kouzina. Film pertama yang membuat saya “agak” tertarik dengan dunia masak-memasak, sekaligus membuat saya semakin tidak pede dengan kemampuan memasak yang saya miliki. Memasak mie dan telur bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan.

A Touch of Spice mengangkat bumbu dapur menjadi bagian dari skenario yang bagus dan cerdas. Kalimat-kalimat yang muncul menjadi tidak “biasa”. Contohnya,

“Pepper…is hot and scorches, just like the sun”

atau,

“Salt… is used as needed to spice up one’s life”

Tiga kalimat tentang bumbu dapur itu muncul dalam perbincangan antara Fanis Iakovides dan kakeknya. Perbincangan di masa kecil yang tidak terlupa bahkan hingga Fanis dewasa. Kakeknya telah membuat gastronomi menjadi punya hubungan yang sangat dekat dengan astronomi. Merica itu matahari, kayu manis itu Venus, dan garam adalah bumi.  

 

Untuk lebih lengkapnya, baca yang berikut ini saja ya.

http://en.wikipedia.org/wiki/A_Touch_of_Spice

Fanis Iakovides, professor of astronomy and astrophysics, recalls his childhood memories from growing up in Istanbul. When Fanis was 7 years old, his grandfather Vassilis was an owner of a general store with a specialty in spices. He was also a culinary philosopher and his mentor. Fanis grew very attached to his grandfather who would assist with his homework using imaginative techniques. For instance, Vassilis would teach his grandson the planets of the Solar System by showing an illustration of it and replacing the planets with spices. Cinnamon took the place of Venus since according to Vassilis, “like all women, cinnamon is both bitter and sweet”. Fanis also fell in love for the first time in his grandfather store’s upper floor with a young Turkish girl, Saime.

However, after the Turkish invasion of Cyprus and the increasing tension between Turkey and Greece, most Greek citizens that lived in Istanbul were deported to Greece, while never having previously resided there. Since Vassilis was the holder of a Turkish passport, he was forced to stay behind while his grandson Fanis and his parents moved to Athens. Fanis had trouble initially adapting in Greece, constantly trying to spend his time in the kitchen cooking, as it was the only link between him and his homeland. However, this would upset his mother who was afraid that the boy was either severely depressed or a homosexual. Fanis grew from childhood to adulthood, preserving his culinary talents and often offering his secrets of the Istanbul (Politiki) Cuisine to those that ask for his help.

As the years passed by, and the tension between Turkey and Greece resolved, grandfather Vassilis made several promises to visit his grandson in Athens but failed to keep them. The reason for the final incompletion of this engagement was his heavily declining health. Consequently, Fanis returns to Istanbul after 3 decades to visit his near-death grandfather and also runs into his old love, Saime, who is now married. Together they reflect on their lives and the way politics managed to change everything. Fanis will eventually realize that contrary to what his grandfather had taught him, he forgot to put a little bit of spice in his own life.

…..ini film yang indah….

Post to Twitter Tweet This Post

Tentang Kakak Saya yang Baik Itu

Kami bertemu ketika dia melatih saya baris berbaris di SMP 1. Saat itu saya kelas 3 SMP dan dia kelas 3 di SMA 1 Solo, SMA favorit di kota saya. Statusnya sebagai mantan ketua OSIS SMP 1 sekaligus masih menjabat ketua OSIS SMA 1 cukup bikin saya keder. Apalagi dia punya wajah yang bisa dibilang cukup serius :D

Selesai acara baris berbaris itu, kami bertemu lagi di sebuah lembaga bimbingan belajar di Jl Supomo, dekat Sriwedari. Saya masih ingat awal dia menyapa saya. “Dik, anak SMP 1 ya? wajahnya kok familiar banget.” Sapaan itu sekarang kok jadi terasa jayus ya, hehehe :D

Kami menjadi saling mengenal ketika suatu hari, Papa saya lupa tidak menjemput saya les. Jadilah saya menunggu berjam-jam sampai hari gelap di depan tempat les itu. Dan dia, menemani saya menunggu. Mungkin karena tidak tega melihat muka saya yang memelas :D Obrolan kami saat itu menyenangkan sekali. Seperti punya kakak kandung. Ternyata enak :)

Dia menjadi role model yang baik untuk saya. Pandai, rajin, taat agama, pintar berorganisasi. Tidak heran banyak cewek yang naksir padanya, termasuk kakak kelas saya jaman SMP :D

Ketika dia diterima menjadi mahasiswa di Fakultas Kedokteran UNS, saya adalah salah satu yang bahagia. Kakak saya akan jadi dokter! :) Tapi, ada juga efek buruknya buat saya, kakak saya yang baik itu menjadi luar biasa sibuk. Kuliah, organisasi, dan tentunya, pacaran :D Jadilah adiknya ini merasa sendirian, tidak ada lagi yang jadi tempat mengadu. Padahal, ketika saya mulai masuk SMA, Ibu saya tiada henti berkata, “belajar yang rajin, biar bisa jadi dokter, seperti kakakmu itu.”

Saat itu, komunikasi kami lebih banyak lewat surat. Bayangkan, kami sekota tapi kami saling berkirim surat! Tulisannya sudah mulai menjelma tulisan dokter, ruwet dan diseret. Membuat saya merasa yakin bahwa dia menulis itu dalam kondisi sibuk berat, membuat saya merasa bersalah.

Tapi, dia tetap kakak yang baik untuk saya. Menyempatkan menelfon sekedar bertanya bagaimana nilai rapor saya (tidak ada yang bertanya selain ibu saya), atau tiba-tiba nongol di rumah masih dengan baju dokter-nya.

Ketika dia lulus kuliah, mulailah dia dengan kesibukan barunya. Co ass, lalu bekerja di sebuah klinik di jakarta, sampai sekarang.

Tahun ini, dia akan menikah. Saya senang sekali mendengarnya:) Kakak saya yang baik itu menemukan pelabuhannya.

Sampai hari ini, dia kakak yang baik untuk saya.

Wawan Budisusilo.

Post to Twitter Tweet This Post

WordPress Themes