Suddenly I Miss You, Dan…

Dan, terimakasih untuk “buzz” kemarin. Cukup untuk meyakinkan bahwa kamu baik-baik saja. Tapi memang iya, kamu baik-baik saja kan?

Lama tak bertemu denganmu, hanya sempat melihat profilemu di Friendster ataupun membaca blogmu. Tulisan-tulisan indah plus foto-foto bagusmu. Hanya saja, aku merasa tulisanmu akhir-akhir ini membiru…

 

Cuma mau bilang, suddenly i miss you, Dan…

Dana yang “itu”, yang cantik, yang dikaruniai otak cerdas, yang jago bahasa Inggris dan Jerman, yang cinta Ari Wibowo, yang pecinta sejati AC Milan, yang salah jadwal pas mau lihat AC Milan latihan (dududududu…), yang cinta mati dengan warung makan “Suka-Suka” Jalan Kaliurang, yang bersamaku makan Sate Karang di Kotagede, yang berbagi cerita via YM malam-malam walau kita terpisah benua, yang memberiku tumpangan tidur saat ikut tes Deplu tahap pertama (inget PRJ, Dan?), yang selalu menyebutku “Jogja Lover” karena hatiku yang tak bisa pergi dari Jogja…

Terlalu banyak kenangan, Dan…

Apalagi tiap ada mie goreng atau rebus di hadapanku, aku ingat kamu. Kamu yang selalu bilang, “Makanan paling enak sedunia adalah Indomie goreng dan Supermi rebus rasa ayam bawang…” Dasar anak kos, jiwa mie goreng dan mie rebus! :D

Semoga kamu baik-baik saja ya, Dan…

Post to Twitter Tweet This Post

Sekolah Itu Mendebarkan

Hari-hari ini saya merasa sedang di ospek. Diajari untuk tahu rasa dag-dig-dug memikirkan pendidikan si bungsu. Selain biaya, hal lain yang sekarang selalu mampir di otak saya adalah, “nyamankah dia belajar di sekolah barunya?”

Cerita si bungsu tentang kawannya yang stress (bahkan sampai harus masuk rumah sakit) membuat saya cukup kuatir.

Dia nggak ketrima di SMA A, padahal dia kepengen banget masuk SMA itu. Akhirnya dia masuk ke SMA B, dan ada kakak kelasnya yang galak banget. Sepanjang MOS dia sering dimarahi kakak kelasnya itu….”

Deg! Tiba-tiba saya seperti disadarkan betapa berat beban yang ditanggung anak-anak muda ini. Selama mereka duduk di kelas 3 SMP, setahun penuh mereka dibayang-bayangi hantu bernama Ujian Akhir Nasional. Alhamdulillah si bungsu lulus dengan nilai memuaskan dan diterima di SMA impiannya.

Tapi saya juga tahu, tidaklah mudah baginya mencapai hal itu. Kadang, saya curi-curi kesempatan membaca diarynya. Tentu saja kata pertama yang dia tuliskan adalah “Diary,…” dan setelah itu disambung dengan kalimat “hari ini aku…bla..bla…bla…”

Tiap berhasil curi-curi kesempatan seperti itu, saya bisa sambil senyam-senyum membaca tulisannya. Membaca kekhawatirannya seandainya tidak lulus UAN, membaca kekhawatirannya seandainya tidak bisa memenuhi harapan bunda dan kakak-kakaknya, plus membaca pergulatan batinnya untuk menumbuhkan rasa percaya diri di antara teman-temannya yang serba “lebih”.

Sungguh saya bersyukur dia mampu menumbuhkan rasa percaya diri itu walau sedikit demi sedikit, rasa yang dipupuknya lewat kemampuan akademik yang dia miliki. Ketika sebuah ujian yang dianggap sebagai barometer kemampuan akademik tak bisa terlewati dengan baik, pastilah ada efeknya bagi rasa percaya diri si anak. Mungkin itu juga yang sekarang ini dirasakan oleh teman si bungsu yang sedang dirawat di rumah sakit itu.

Nilai ujiannya tidak memuaskan, dia tidak bisa masuk ke SMA impian. Dan ketika dia datang di SMA yang menjadi pilihan kedua, ternyata perlakuan kakak kelasnya membuatnya tertekan. Pastilah dia merasa semakin kecewa, ingin lari tapi tidak bisa. Terperangkap.

*****************************

Saat saya pulang ke Solo, Jumat lalu, saya bisa melihat si bungsu sudah disibukkan dengan berbagai tugas sekolahnya. Padahal belum genap sebulan dia jadi anak SMA.

Tak cuma itu, hampir tiap dua hari sekali dia meminta dibelikan buku pelajaran. “Tadi disuruh beli buku yang judulnya….bla..bla..bla…Anterin ke Bu Sri ya Ma.” Bu Sri itu singkatan dari mBuri Sriwedari, atau belakang Sriwedari. DI belakang stadion Sriwedari ada deretan kios yang menjadi tempat membeli buku dengan harga yang lebih murah daripada di toko buku. Meskipun sudah lebih murah, tapi karena harga bukunya memang mahal jadi ya tetap saja satu buku jatuhnya sekitar 50 ribu rupiah. Wahhh…

**************************** 

Siapa sangka, memikirkan sekolah si bungsu ternyata cukup membuat sport jantung. Biaya sekolah memang bisa segera dicarikan solusinya, tak peduli harus pinjam sana-sini. Tapi jika mental si anak sudah tertekan, tidaklah mudah untuk menyembuhkannya…

 

Post to Twitter Tweet This Post

Kotak Demi Kotak Itu….

Kotak demi kotak itu punya daya tarik yang unik. Kadang mudah, kadang sulit, tapi godaannya maut. Ketika ada satu pertanyaan yang membuat dahi berkerut, rasanya tidak rela kalau kotak itu tetap kosong walau sudah 5 menit dihabiskan untuk “berimajinasi”.

Kotak demi kotak itu hari minggu lalu jadi topik menarik di Oprah Winfrey. Baru tahu, Bill Clinton pun meluangkan waktu untuk kotak demi kotak itu. Ternyata, kecanduan TTS tak mengenal batas negara ataupun posisi di pemerintahan. Asalkan ada kotak kosong, maka berpikirlah apa jawaban yang tepat untuk diisikan di sana.

Kotak demi kotak itu, saya tunggu lewat Kompas hari Minggu. Kadang mudah, kadang nganyelke karena pakai istilah yang aneh-aneh. Padahal, saya tidak punya Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Mendatar ataupun menurun, sama saja susahnya. Tapi kok tidak bisa berhenti ya?

Kotak demi kotak itu…. 

*********************************************

Hidup. Benar juga kalau ada yang menyebut hidup itu seperti TTS. Sudah ada yang mengatur jawabannya. Ya siapa lagi kalau bukan sang pembuat TTS itu :)

Hidup. Ketika satu pertanyaan mendatar terjawab, biasanya ada pertanyaan menurun yang ”menjebak”. Jawaban terlihat benar, bahkan kotaknya bisa saja pas. Tapi kok tidak cocok dengan jawaban mendatar sebelumnya.   

Memang begitu kan adanya hidup? Penuh pertanyaan, kebimbangan akan masa depan. Tapi, memang iya, benar kata Iwan Fals, hadapi saja…

Post to Twitter Tweet This Post

Bintang, bintang

Akhir-akhir ini ada yang sering bercerita tentang Bintang. Bintang dengan huruf B besar, menunjukkan bahwa itu bukanlah benda langit nun jauh di atas sana. Bintang yang ini bisa berpetualang, dan bisa membuat dia, teman baru saya, kebingungan menebak apa maunya…

Menghabiskan malam bersama Bintang, itu status yang sering dia tulis di YM. Bintang dengan huruf B besar, ataupun bintang dengan huruf b kecil, buat saya sama indahnya. Indah, karena saya tetap saja teringat pada benda langit itu, yang bentuknya sering dijadikan sebagai lambang, misalnya untuk kop surat Presiden ataupun lambang partai.

Bintang, akan terlihat bersinar terang ketika penerangan di sekitar temaram. Jaman kuliah dulu, kami, para penerima beasiswa Djarum, mengadakan bakti sosial pemeriksaan gigi gratis di sebuah desa di wilayah Gunung Kidul. Desa itu menjadi sepi selepas maghrib, dan ketika berjalan di tengah desa, langit luar biasa indah. Kemilau berbintang. Lampu-lampu yang terbatas dengan nyala yang suram justru membuat cahaya bulan dan bintang bisa maksimal. Ketiadaan gedung tinggi di desa itu membuat langit menjadi luas, jauh melebar bila dibandingkan langit Jogja yang terkorupsi oleh gedung bertingkat.

Bintang, menentramkan hati ketika merasa sendiri dan kesepian. Melihat bintang saja sudah cukup. Mungkin kata orang itu cuma sugesti, tapi kok ngefek ya? Setidaknya untuk saya.

Bintang, juga mengingatkan saya pada teman kos saya dulu. Seorang mbak yang sangat bisa disebut sebagai high quality jomblo. Manis, pintar, jago masak, jago main musik pula. Wah, kalau saya cowok, sudah saya lamar Mbak yang satu itu sejak dahulu kala. Berhubung saya perempuan, cukuplah saya mengaguminya.  

 

Mbak yang itu, suka sekali dengan lukisan Vincent Van Gogh, Starry Night. Sebuah kebetulan, nama Mbak itu telah tercakup dalam kata Starry. Saya sering merasa, Mbak itu memang ditakdirkan untuk bersinar. Starry Ary..

Mbak yang itu, juga suka memainkan gitar dan bernyanyi lagu Vincent (Starry Starry Night) milik Don McLean. Suaranya merdu, permainan gitarnya tak kalah dengan Tohpati, pujaan hati saya. (Halah!:p). Judul lagunya kok sama dengan judul lukisannya? Lagu Starry Night memang ditulis berdasarkan kisah hidup sang pelukis, Vincent Van Gogh. Ya, Starry Night-nya Don McLean adalah versi asli. Sedangkan Josh Groban dan Vonda Shepard menyanyikannya kembali. Recycle. Ketika saya tuliskan bait pertama lagu itu di status YM, seorang teman langsung nge-buzz.“Mbak Astri, aku suka banget lagu ini…”

Kemarin, Starry Ary, minta dikirim file lukisan Starry Night via YM. Lukisan itu memang indah, dan saya tetap tak peduli walau teman kantor saya bilang, “Pelukisnya ‘kan gila. Memotong telinganya sendiri..” Dan saya cuma bilang, “Lho, bukannya manusia suka mengatakan orang lain gila untuk menunjukkan dirinya waras?”

Starry, starry night. Paint your palette blue and grey,look out on a summer’s day, with eyes that know the darkness in my soul…

Shadows on the hills, sketch the trees and the daffodils. Catch the breeze and the winter chills, in colors on the snowy linen land…

Now I understand, what you tried to say to me. How you suffered for your sanity, how you tried to set them free. They would not listen, they did not know how. Perhaps they’ll listen now….

*Vincent (Starry Starry Night), Don McLean, 1971

Post to Twitter Tweet This Post

Senja di Balik Jendela

 

Terus terang aku tidak pernah tahu ke mana dia pergi. Hidup mempertemukan kita dengan seseorang, lantas memisahkannya lagi. Tidak selalu kita bisa berpisah dengan lambaian tangan. Tidak selalu kita bisa berdiri di tepi dermaga, melambaikan tangan kepada seseorang di atas kapal yang juga melambaikan tangan kepada kita sambil berseru, “Jangan lupakan aku!”. Tidak selalu. Kadang-kadang kita bertemu begitu saja dengan orang yang tidak pernah kita kenal, menjadi begitu lengket seperti ketan, lantas mendadak berpisah begitu saja tanpa penjelasan apa-apa.

..Senja di Balik Jendela..Seno Gumira Ajidarma…

*dari semua tulisan Seno, paragraf ini yang bertahan paling lama di ingatan saya

Post to Twitter Tweet This Post

WordPress Themes