Kursus Penulisan Umar Kayam

Siapa tahu ada yang tertarik untuk ikut :)

Kursus ini ditujukan bagi para calon penulis dan penulis muda potensial, tanpa membedakan latar belakang etnis, budaya, ketertarikan, gender, dan pendidikan. Diutamakan, selama program berlangsung, peserta tinggal di Yogyakarta (kurang lebih selama 4 bulan).

Syarat, pengumuman, dan sistem kerja :

1. Calon peserta menyerahkan 1 lembar sinopsis calon novelet.

2. Calon peserta menyerahkan copy karya sastra yang pernah dihasilkan.

3. Calon peserta menyerahkan biodata lengkap, beserta kontak yangbisa dihubungi.

4. Peserta terpilih akan dihubungi pihak Yayasan Umar Kayam

5. Selanjutnya, peserta terpilih berhak atas fasilitas diskusi bulanan, pelatihan penulisan, dan menciptakan karya sastra (novelet).

6. Pihak Umar Kayam akan membeli karya sastra terpilih.

7. Segala prasyarat (no 1-3) diserahkan selambat-lambatnya tanggal 10 September 2007 (cap pos) ke alamat Perum Sawit Sari Blok I, No 3, Condong Catur, Sleman, Yogyakarta. Telp/fax 0274-885887, atau kirim file ke e-mail : info@umarkayam.org.

Info lebih lengkap silakan buka www.umarkayam.org

Post to Twitter Tweet This Post

V-V-K-V-V

Minggu saat maghrib, masih berada di kereta terakhir untuk pulang ke Jogja. Di sebelahku ada seorang ayah yang masih cukup muda bersama putri kecilnya yang duduk di bangku TK nol besar. Ketika kutanya siapa namanya, dia jawab “Jessica..”. Nama yang bagus. Aku suka mata nona Jessica ini. Mata yang cerdas. Berkali-kali kupergoki dia mencuri pandang pada buku yang tengah kubaca. Nona ini suka buku rupanya :) “Jessica sudah bisa baca?” Dia mengangguk sambil tersenyum manis. Setengah perjalanan, dia mulai mengantuk, dan akhirnya terlelap dalam dekapan ayahnya. 

Di seberangku, ada seorang nona manis, dengan jilbab warna peach, atasan putih berbunga dan rok warna peach pula. Hidungnya mbangir, mata cerdas berkilau menawan, wajah khas timur tengah. Nona kecil itu tak henti bertanya pada ayahnya yang duduk di sampingnya. Dan sang ayah tampak berusaha sabar menjawab pertanyaan putri kecilnya, satu demi satu. Sampai kereta tiba di Jogja, nona kecil itu belum kehilangan tenaga untuk bertanya. Fiuh, pastilah ayahnya kebingungan mencari jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaannya :)

Melihat nona kecil itu, aku seolah diingatkan bahwa hari ini Tuhan memperlihatkan sebuah nama indah sebanyak 2 kali, di kota yang berbeda pula. Nama yang begitu kusuka sejak dulu, lima huruf terdiri atas empat vokal terpisah oleh satu konsonan. Nama yang bisa diberikan pada anak lelaki atau perempuan. Nama yang mengandung arti “pemimpin”…

Suatu hari, kalau Tuhan mengijinkan, aku ingin memberikan nama itu… 

Post to Twitter Tweet This Post

Iman Persada

Kakak tingkat masa kuliah (tapi aku lulus duluan! :p) , teman kerja saat di radio dulu, rival saat seleksi beasiswa (hyahaha), pemberi tumpangan yang baik hati, rekan kerja di Sabayatsa, dan teman kerja di kantor sekarang.

Jogja memang kecil. Ketemu dengan orang yang itu-itu saja. Aku bersyukur dia menjadi rekan kerjaku di kantor ini, aku merasa benar-benar terbantu. Mungkin karena kami sudah terbiasa bekerjasama di Sabayatsa :)

Dan, seminggu lalu dia bilang akan pergi, untuk sesuatu yang lebih baik bagi masa depannya. Aku senang mendengarnya, walau agak sedih juga, karena berarti aku akan jadi “google.com” lagi di sini, hehehehe :D Tak ada lagi yang bisa kuajak bernostalgia tentang masa kuliah di HI UGM. Tak ada lagi teman untuk berbagi kekaguman pada seorang dosen bernama Eric Hiariej (hahahaha :D ). Dan tentu saja, tak ada lagi yang akan mengirim SMS padaku pagi-pagi, “As, nitip absen ya. Thx.” atau “Mau nitip beli sarapan ga As?” :)

Dulu, saat aku tes untuk sebuah pekerjaan di Jakarta, dia kirim SMS yang masih kusimpan sampai sekarang, “Good luck ya, santai dan loss aja. Let them see the truly you, Astri Kusuma the Great..” Ah, rasanya melayang..makasih Man.. 

Baru saja dia pamitan pada pimpinan. Ketika kutanya, “Gimana?” Dia jawab, “Well, it was quick and painless. Seperti cabut gigi saja…” :D

Baiklah, good luck Iman Persada.. Sampai bertemu di pertemuan Sabayatsa berikutnya..:)

 

Post to Twitter Tweet This Post

Kagum

Kami mengagumi Bapak

dengan alasan yang tidak sama

 

Kata Ibu saya,

tiap lihat Bapak bilang Mak Nyuss

hatinya jadi bahagia.

 

Kata adik saya,

setiap suap nasi yang ditelannya berganti rasa

seolah tiap makanan yang Bapak coba

juga mampir ke piringnya.

 

Kata saya,

Bapak luar biasa

membuat saya merinding

tiap membaca “Pada Sebuah Beranda”

 

(untuk Bondan Winarno. Percayalah, ini bukan puisi cinta :) )

 

Post to Twitter Tweet This Post

Tak Ada Hujan di Mataku

Hujan. Hebat sekali kata yang satu ini, sanggup membuat seorang Sapardi jatuh hati, untuk kemudian menuliskannya dalam baris-baris puisi. Bahkan Sapardi bilang, tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni..

Minggu sore, kami berdua memandang butir-butir bening mengalir deras dari langit, di sebuah teras mungil berkursi biru. Kami melakukannya dalam diam, masing-masing sibuk dengan berbagai pemikiran tentang masa lalu, hari ini, dan nanti. Sepertinya dia cukup mengerti mulutku sedang ingin mengunci, jadi dia hanya memandangku, dengan tatapan aneh. Aku tahu bahwa dia tahu, sesuatu terjadi. Tapi jangan tanya dulu kali ini, aku sedang tak ingin berbagi.

Pada adenium yang berbunga aku pulang, ingatkah kau kalimatku itu? Dan hari ini aku duduk di sini, menemanimu memandang adenium-adenium itu, baik yang sudah mekar berbunga maupun yang tengah belajar bertumbuh. Mereka semua menikmati butir-butir bening itu, dalam diam. Sore ini sepi sekali…

Maaf kali ini aku kehilangan selera untuk bertanya tentang Senin sampai Jumat yang kau lewati tanpa aku. Maaf kali ini aku kehilangan daya untuk berpura-pura tertawa. Maaf, jangan bertanya dulu. Aku sedang tak ingin ada hujan di mataku..

Post to Twitter Tweet This Post

WordPress Themes