Bersih Udara Gadjah Mada

*Untuk Mya 

Kantorku hanya sepelemparan batu dari kampus. Kalau sedang kangen suasana kampus, aku akan sengaja berangkat ke kantor dengan “menyasarkan diri” masuk ke kompleks UGM di Bulaksumur. Nyasar versi sadar, itu judulnya. Sekarang? Sudah bukan nyasar lagi :)

Semua datang serba mendadak. Pengumuman beasiswa yang mendadak. Mengurus jadwal kerja dengan serba mendadak pula. Dan yang terpenting, persiapan mental dalam waktu yang juga mendadak. 

Senin minggu lalu adalah hari pertama kuliah. Rasanya aneh sekali. Pakai acara kesasar mencari ruang kelas pula! Duh, memalukan ! Padahal dulu aku kuliah di tempat ini…Tak cuma itu, seminggu ini tiap datang ke kampus, aku merasa salah parkir motor. Ingatanku begitu saja menuntunku membelokkan motor ke wilayah mahasiswa S1. Padahal ada parkir motor untuk mahasiswa S2 di dekat gedung kuliah bersama Fisipol dan Fakultas Hukum, yang letaknya lebih dekat dengan ruang kuliah. Jadilah aku jalan lumayan jauh untuk mencapai ruang kuliah… 

Saat kuliah, rasanya lebih tidak pede lagi karena seolah aku yang paling tua di kelas. Bayangkan, kebanyakan mahasiswa di kelasku S1-nya angkatan 2003. Astaga…anak-anak muda ini mengerikan sekali! Dan aku iri, mereka masih bisa datang kuliah dengan pakai jeans, kaus berkerah, ransel, dan sneakers. Kalau tak ingat bahwa setelah kuliah aku mesti balik ngantor, ingin rasanya menikmati seragam masa S1 itu lagi… 

Lalu bagaimana dengan dosen-dosennya? Ah, mereka masih tetap menawan dan bikin kangen. Pak Mohtar, Mas Riza, Mbak Poppy, dll. Sayangnya, Mas Rachmat dan Mas Eric sedang kuliah di Australia. Padahal mereka berdua dosen favoritku. Mas Rachmat ini dosen baik hati yang menjadi penguji skripsiku. Mas Eric? Dosen yang meminjamkan winter coat-nya padaku saat aku akan berangkat ke Oberlin dulu..(Wijiel, dilarang jealous! Hahahahaha…) 

Buku-buku kuliahya? Buanyak dan tebal-tebal! Biaya fotokopi juga banyak.:D Ups, ini melanggar hak cipta… 

Btw, apa kabar lobby? Lobby tak lagi nyaman, menurutku :( Tak bisa lagi duduk melingkar di lantai karena tempat di lobby sudah habis untuk menaruh komputer-komputer bagi para mahasiswa. Dulu, lobby ini adalah tempat favorit untuk menyelenggarakan acara-acara mahasiswa HI. Ada yang namanya Kulonuwun Party, ada juga yang namanya HI-kustik. 

Kulonuwun Party adalah semacam acara “minta permisi” dari anak-anak angkatan baru pada angkatan-angkatan di atasnya. Tidak, jangan berfikir ini kental dengan nuansa senior yunior. Semua angkatan bisa melebur pada acara itu…Selain itu, acara ini juga waktu yang tepat bagi adik angkatan untuk PDKT pada kakak angkatan, atau sebaliknya..:p 

Lalu, apa itu HI-kustik? HI-kustik adalah acara musiknya anak HI. Berbagai angkatan di HI, mulai yang paling tua sampai yang paling muda, mengirimkan perwakilannya untuk ikut acara ini. Cuma dengan gitar bolong plus suara yang kadang merdu kadang fals, sambil duduk beralas tikar di lobby. Sederhana, tapi terasa hangat. Entah apakah angkatan sekarang masih punya acara ini… 

Oya, papan di lobby masih ada lho, tapi entah pesan-pesan apa yang tertempel di sana. Setiap mahasiswa HI yang baru datang ke kampus, biasanya akan mengawali aktivitasnya dengan berdiri di depan papan itu, mencari adakah pesan/pengumuman untuknya. Papan di lobby itu kedudukannya setara dengan offline messages Yahoo Messenger. Mulai janji untuk diskusi bahan kuliah di lobby, pengumuman nonton film bareng, sampai janji untuk bertemu di lobby setelah kuliah. Percayalah, itu papan yang bersejarah. Pernah juga ada surat terbuka dua senior terpasang di sana. Dua surat terbuka sarat kata-kata tingkat tinggi yang (sungguh) aku tidak mengerti. 

Papan itu juga tempat bagi Mas Edy, bagian Tata Usaha jurusan HI, untuk menempelkan jadwal seminar proposal dan jadwal pendadaran skripsi. Jadi, tak perlu kirim kabar pada teman-teman pun, pasti semua tahu siapa yang akan maju ujian. Manis bukan bila saat akan ujian teman-teman berdatangan untuk memberi dorongan? :)

Sampai hari ini masih merasa takjub, bahwa ternyata aku kembali pada bersih udara Gadjah Mada… 

Post to Twitter Tweet This Post

Buku, Kopi, dan Sebuah Jendela Basah

Membaca status mas Eko siang ini. Dan aku langsung bisa membayangkan bentuk nyata 3 benda itu. Buku, kopi, dan sebuah jendela basah. Ah, nyaman sekali…Aku tak menolak untuk menikmatinya.

eko : itu dari percakapan dengan teman lama.
eko : suatu saat suatu waktu.
eko : tentang apa yang paling diinginkan.
eko : yang ternyata kurang lebihnya sama :)

Mas Eko, terimakasih. Lumayan bikin saya punya hasrat lagi.

Buku, kopi, dan sebuah jendela basah… 

Post to Twitter Tweet This Post

Langkah Kecil

Satu langkah kecil lagi. Satu setengah tahun ke depan akan banyak berjuang. Tak apa. Seperti kata Pak Tatwo tadi pagi, “dinikmati saja ya As…”

Iya Pak…InsyaAllah lancar…terimakasih dukungannya selama ini :)
Akan semakin sering jadi manusia malam dan dini hari. Kembali berkutat dengan sebuah hal yang setahun lalu berusaha keras kutinggalkan..Datang lagi ke tempat yang sama…Menghirup lagi bersih udara gadjah mada..


Tidak, ini bukan deja vu..Ini waktunya melangkah maju. Walau langkah kecil saja.

Post to Twitter Tweet This Post

Beatles van Jakal

Tadi malam, bertemu teman-teman Sabayatsa di tempat biasanya, Surabi Imut Jalan Kaliurang (Jakal). Kebetulan Mas Affi, ketua Sabayatsa, adalah pemilik tempat itu. Secara tidak resmi, tempat itu telah kami jadikan tempat janjian untuk ngumpul :)

Dan di tengah obrolan hangat penuh canda tawa (padahal kami sebenarnya sedang membicarakan tentang rekrutmen anggota baru Sabayatsa :p), seorang Bapak mencuri perhatianku. Beberapa kali aku bertemu dia di sepanjang jalan Kaliurang. Berkacamata, menyandang gitar, plus sebuah harmonika tergantung di lehernya.

Tadi malam dia memainkan lagu Oh Yoko. Lalu kutanyakan padanya, maukah dia memainkan Oh My Love milik John Lennon. Keningnya berkerut sesaat, “lagunya yang gimana ya mbak?”. Kunyanyikan sebaris, dan dia langsung paham. Mengalunlah Oh My Love milik John Lennon malam itu.

Aku menyebutnya Beatles van Jakal. Sebuah panggilan sayang, karena sampai tadi malam aku selalu lupa bertanya namanya. Aku terlanjur terpesona pada setiap lagu Beatles yang dia mainkan :)

Yang aku suka dari dia, dia memainkan lagu-lagu Beatles itu dengan sepenuh hati. Matanya berbinar, permainan gitarnya bertenaga (aku jelas ga bisa!), tiupan harmonikanya melengking bernada, badannya bergerak ke kanan kiri mengikuti irama gitar dan harmonika, tak lupa kakinya membuat ketukan-ketukan pengingat tempo lagunya.

Dulu saat makan malam di pinggir Jakal. aku melihatnya sedang memainkan Hard Days Night. “Aku suka Bapak ini”, itu ucapku dalam hati. Sejak itu, tiap beli makan di Jakal, aku mengedarkan pandangan. Mencarinya.

Dan tadi malam, akhirnya aku bertemu lagi dengannya :)

 

Post to Twitter Tweet This Post

Letters From Iwo Jima : Surat-surat Cinta Tukang Roti dan Komandan Pasukan

Aku tak pandai membuat review film. Apa yang bisa kukatakan tentang sebuah film yang membuat air mataku terus mengalir sepanjang pemutarannya? Cengeng sekali aku ya. Padahal film ini penuh dengan adegan dar der dor serta darah dimana-mana. Saat menonton film sejenis seperti Saving Private Ryan pun, seingatku tidak sampai secengeng ini. Untung nonton film ini sendirian di kamar. Coba kalau ada si bungsu, dijamin malu :)

Letters From Iwo Jima, bercerita tentang satu pasukan Jepang yang ditugaskan mempertahankan pulau Iwo Jima agar tidak jatuh ke tangan Amerika Serikat dalam pertempuran tahun 1944. Jika Iwo Jima jatuh, maka pulau itu akan dijadikan pangkalan bagi Amerika Serikat untuk melanjutkan serangannya ke daratan Jepang.

Film mengalir melalui pandangan dua orang. Yang pertama melalui Saigo, seorang prajurit rendahan, dan yang kedua melalui Kurabayashi, sang komandan. Selama bertugas di Iwo Jima, dua tokoh itu selalu terkenang pada keluarganya. Diantara usaha mereka untuk bertahan hidup, mengalirlah ucapan-ucapan cinta pada keluarga melalui surat-surat yang mereka tuliskan berteman remang cahaya.

Surat Saigo selalu diawali dengan menyebut nama istrinya, “Hanako..“, sedangkan Kurabayashi mengawali suratnya dengan kata “Taro..”, nama anak lelakinya.

Bagian paling menyebalkan dari film ini adalah adegan ketika suatu hari seorang prajurit Jepang datang ke rumah Saigo membawa surat perintah bagi setiap pria untuk maju berperang. Hanako berusaha menahan suaminya, apalagi saat itu dia tengah hamil. Namun dia justru dihardik oleh seorang wanita tua yang mengatakan sudah kewajiban seorang perempuan untuk menyerahkan suami dan anak laki-lakinya kepada negara. Anjuran yang mengerikan!

Trenyuh rasanya melihat kekhawatiran Hanako akan nasib Saigo, sementara Saigo berusaha menentramkannya sambil berbisik pada calon bayi di perut istrinya, bahwa dia akan kembali dengan selamat.

Lebih trenyuh lagi saat adegan perbincangan Kurabayashi dan Saigo menjelang “pertempuran penghabisan”. Kurang lebih begini perbincangan mereka :

Kurabayashi : kamu prajurit yang hebat

Saigo : tidak, saya hanya seorang tukang roti biasa

Kurabayashi : punya keluarga?

Saigo : istri, dan anak yang mungkin sudah lahir sekarang. Saya belum pernah melihatnya…

Kurabayashi : dulu, aku berjanji pada keluargaku untuk memberikan yang terbaik bagi negara. Tapi sekarang, ingatanku akan keluarga justru membuatku merasa sulit  memenuhi janji itu…

Sebelum berangkat ke “pertempuran penghabisan” itu, Kurabayashi meminta Saigo tetap tinggal di terowongan tempat mereka berlindung selama ini. Dan dia meminta Saigo untuk membakar semua benda-benda miliknya, termasuk surat-suratnya. Namun, Saigo akhirnya memutuskan mengubur surat-surat Kurabayashi, termasuk surat-surat milik Saigo sendiri, di lantai terowongan.

Semuanya mencapai klimaks di penghujung film. Adegan terakhir, hujan di mataku mengalir deras, saat kantung coklat berisi surat-surat cinta itu ditemukan di tahun 2005. Seorang penggali mengambil kantung itu, dan surat-surat itu jatuh melayang perlahan ke tanah…satu persatu…Membawa cinta tak terkira besarnya untuk keluarga di rumah, yang begitu jauh letaknya dari pulau Iwo Jima…..

*Film ini seolah juga menunjukkan padaku bahwa “menulis itu obat yang menyembuhkan”. Seperti kalimat Saigo dalam surat terakhirnya kepada Hanako. “Hanako, aku tidak tahu apa surat ini akan sampai padamu. Tapi setidaknya, menuliskannya sudah cukup menghiburku…”

        

Post to Twitter Tweet This Post

WordPress Themes