Sedang Hujan di Jogja

sedang hujan di Jogja..

tak bermaksud mengajak ngobrol,

hanya sekedar ingin membagi suasana sore ini padamu.

Post to Twitter Tweet This Post

Hujan (di Jogja) Itu Indah…

Hujan sore itu membuat bajuku basah. Menghidupkan motor di parkiran Grha Sabha Pramana UGM, titik-titik indah itu mulai menyentuh wajah. Seperti sebuah sentuhan tangan mendamaikan jiwa yang lelah..

November akan segera datang, suara Axl Rose akan mulai didengar orang-orang, lagi. Tapi, tak cuma itu. Tahun ini aku punya Morning Rain milik Jubing Kristianto. Untuk sebuah pagi dalam hujan, yang pasti akan membuatku semakin malas untuk bangun….

Jangan tanya kenapa aku bisa jatuh cinta pada hujan.

Bau tanah basah.

Waktu yang seolah berhenti dalam sebuah tarian hujan, dan aku menjadi penonton yang terkesima tanpa diminta…

Ya, aku menginginkannya. Buku, kopi, dan sebuah jendela yang basah.

Dinikmati sendiri atau berdua, hujan tetaplah keindahan yang terlampau sayang untuk dilewatkan. Melamun memandang hujan, damai sekali, walau kadang ada juga sepi yang menemani. Kadang, hujan itu mampir juga ke sudut-sudut mata. Deras, mengalir begitu saja dalam diam. Pernahkah kau merasakannya ?   


Pun begitu, hujan (di Jogja) itu indah. Percayalah.

Post to Twitter Tweet This Post

Ingin, Tapi Belum Bisa…

Saya ingin sekali melakukannya, tapi belum bisa. Rasanya sesak sekali di dada, mesti menahan lagi dan lagi. Saya tahu saya belum mampu, mungkin Tuhan ingin saya belajar dulu yang banyak sebelum melakukan sesuatu yang sangat saya inginkan itu. Mungkin…

Tapi, kapan saya bisa dan boleh ? Membaca blog beliau, saya semakin sering menelan ludah. Apalagi tiap ada pengumuman tentang program itu. Baru sekarang terasa bahwa Jogja dan Jakarta itu jauh. Saya tak bisa ngebut naik motor dalam 10 menit untuk mencapai tempat itu.

Malam ini semakin tidak percaya diri.

“Peserta adalah orang yang biasa menulis untuk media. Setidaknya berpengalaman lima tahun. Peserta maksimal 16 orang agar pengampu punya perhatian memadai buat semua peserta. Calon peserta diharapkan mengirim biodata dan contoh tulisan agar pengampu mengetahui kemampuan dasar peserta lebih awal.”

Saya tidak masuk kriteria itu. Pupus sudah.

Saya semakin tak berani….

Guyon dengan Mya dulu saat membahas kursus yang sedang saya ikuti jadi terasa “kena” sekarang :)

“Ayo Mbak, kalau ini saja nggak bisa, gimana mau ketemu Andreas Harsono..”

hehehehe….saya mau ketawa saja lah malam ini… :)

Post to Twitter Tweet This Post

Saya, dalam Delapan Hal

Tidak bermaksud untuk narsis, siapalah saya :)  Hanya memenuhi tugas dari Mbak Ilma, menuliskan 8 hal tentang diri sendiri. Maaf jika tidak berkenan.

  1. Senang Belajar Menulis

Menulis itu menyembuhkan. Saya percaya. 

  1. Pecinta Kopi

Buku, kopi, dan sebuah jendela basah adalah mimpi yang semakin sering muncul ketika senja datang.  Di kantor, saingan utama dalam hal minum kopi adalah Pak Tatwo. Bedanya, kopi di mug capung hijau saya kenal creamer, sedangkan kopi Pak Tatwo kopi tubruk hitam pekat cap Liong Bulan dari Bogor. Bau kopinya? Mantab! Dari dulu ditantang Pak Tatwo untuk coba minum kopi beliau. Jelas, saya tidak berani.. :D

  1. Pecinta Wedangan

Wedangan, atau hik, adalah tempat nongkrong favorit saya. Nasi kucing, sate telur, sate usus, kikil, teh nasgitel, pisang owol…Ah…orang Solo itu memang terkenal hobi makan ya? Saya salah satunya. Wedangan Pak Gerok di Solo menjadi salah satu alasan bagi saya untuk pulang…

  1. Senang melamun

Tempat melamun ternyaman adalah perpustakaan Natsuko Shioya, sambil memandang sawah yang terhampar di depan sana. Melamun juga menjadi sebuah proses untuk menemukan materi ”membangun jembatan” :)

  1. Ingin punya perpustakaan

Seseorang berkata betapa dia ingin mendirikan sebuah perpustakaan bersama saya. Saya tersanjung dibuatnya. Ini salah satu mimpi. Semoga bisa terwujud ya. Amin :)

  1. Kalap di pameran buku

Iya, saya sering “kalap” kalau pergi ke pameran buku. Pengen beli buku ini itu, tapi dana tak mencukupi :p

  1. Fast learner

Kata beberapa kenalan, saya termasuk tipe fast learner, bisa belajar dengan cepat ketika masuk dalam sebuah tempat baru. Masalahnya kemudian adalah :
”Astri, kakimu berpijak di banyak tempat. Tapi pijakannya tidak kuat. Fokuslah pada satu bidang. Jadilah seorang ahli di satu hal saja !”
 

Semalam saya berpikir lagi tentang kalimat ini, kalimat yang sudah mampir di telinga sejak beberapa tahun lalu. Seusai kursus penulisan semalam, saya katakan pada Dimas tentang kebingungan saya untuk maju. Ternyata Dimas juga mengalaminya. Kami seperti orang yang berada di persimpangan dan kebingungan menentukan arah tujuan…. 

  1. Pecinta Musik

Kalau yang ini, warisan dari Papa. Sejak kecil ”dipaksa” dengar Queen, Beatles, dll. Tua banget ya? :) Musik juga menjadi alasan kenapa saya dulu bekerja di radio, selain bahwa saya perlu uang untuk bertahan hidup di Jogja. Bagian yang paling menyenangkan bagi saya sebenarnya bukanlah siaran. Tapi saat mendengarkan berbagai jenis musik yang tersimpan pada database radio….

sudah ya.. :)

Post to Twitter Tweet This Post

Sebuah Bahasa Bernama “Understanding”

Cerita Kancil

Kata Pak Mohtar Mas’oed, dosen saya yang sekaligus Dekan Fisipol UGM, jika dibandingkan dengan bahasa lain, bahasa Indonesia itu bahasa yang agak tidak ketat dalam penggunaannya. Saking tidak ketatnya, cukup satu kata saja sudah bisa menggambarkan apa yang terjadi, tanpa perlu subjek atau predikat. Beliau mencontohkan seperti ini : di dalam sebuah ruangan ada beberapa orang. Lalu, di luar mulai turun hujan. Salah seorang diantara mereka nyeletuk, “hujan..”, maka pastilah semua orang di ruangan itu akan paham maksud orang yang mengucapkan kata hujan itu. Sekarang, coba bandingkan dengan bahasa Inggris. Tak bisa sekedar mengatakan “rain..”, tapi harus “it’s raining…”

Kalau saya melihat, sebenarnya bukan bahasanya yang tidak ketat. Tapi memang orang Indonesianya saja yang tidak mau diatur dalam hal penggunaan bahasa, kecuali kalau penggunanya memang sedang butuh. Misalnya untuk membuat skripsi, thesis, membuat berita di koran atau televisi, laporan pekerjaan, dll. Bisakah Anda bayangkan jika semua blogger di Indonesia ini diharuskan menulis menggunakan bahasa Indonesia gaya Ejaan Yang Disempurnakan? Saya kok agak susah membayangkannya..

Bahasa Smurf

Anda pernah baca komik Smurf ? Ini salah satu komik favorit saya. Tokohnya lucu-lucu dan berwarna biru. Nama-nama mereka juga unik, misalnya : Papa Smurf, Smurf Penggerutu, dll.

Membaca komik ini sebenarnya juga berlatih untuk menjadi dukun atau paranormal, mengingat tokoh-tokoh dalam komik ini senang mengganti kata kerja dan kata benda cukup dengan satu kata, “smurf”. Kalau tidak salah, dulu saat membaca salah satu komiknya ada kalimat seperti ini : “Kita perlu men-smurf apa yang bisa di-smurf..” Ini komik yang benar-benar sak karepe dhewe :)

Ajaibnya, mereka bisa saling mengerti dan memahami maksud masing-masing.

Mars dan Venus

Dulu, saya sering dengar sebuah insert di radio yang terkait dengan urusan komunikasi antar personal. Saya lupa judulnya apa, tapi sepertinya acara itu dibuat berdasarkan buku Men Are From Mars and Women Are From Venus. Saya suka kalimat terakhir penyiar acara itu ketika akan pamitan.

Orang Mars, bicara pakai bahasa Mars. Orang Venus, bicara pakai bahasa Venus. Tapi, ada satu bahasa lagi, namanya understanding…”

*Dimas, terimakasih boneka Smurf-nya. Tak disangka, akhirnya bisa punya boneka Smurf :)

Post to Twitter Tweet This Post

WordPress Themes