Dia menyambut kedatanganku di tempat nyaman itu dengan hangat. Hmm.ini tempat yang enak, tapi cuma sesekali kudatangi. Kursinya empuk. Ada dua bantal besar lembut yang mengganjal punggungku, dan punggungnya. Lumayan, sedikit mengurangi nyeri di punggungku akibat kecelakaan kecil di kantor yang terjadi sore harinya.
“Aku sudah pesan. Kamu mau pesan apa?’
‘Hot chocolate saja.”
Hot chocolate, itulah alasan kenapa kami bertemu. Menikmati hot chocolate bersama.
”Kamu harus coba cheese balls dengan saus blueberry-nya. Enak lho..”
Pengetahuannya tentang menu yang enak di tempat ini membuatku yakin dia sering menikmati waktu di sini. Seorang mbak yang manis segera menyiapkan pesanan kami. Hebat temanku ini, hafal nama-nama mereka sekaligus tempat bertugasnya.
”Mbak yang itu biasanya di Parsley Adi Sucipto, As…nggak di sini..”
Dia tak pernah mau mengakui berapa tepatnya umurnya. Tak masalah. Buatku, dia tetap teman yang menyenangkan. Mendengar cerita demi ceritanya membuat waktu begitu cepat berlari. Aku belajar banyak darinya. Dia memang orang NGO sejati. Pengalamannya luar biasa.
Kami bicara mulai tentang urusan gempa sampai tentang serial Commander in Chief yang penuh intrik. Ditemani sensasi kenikmatan secangkir coklat hangat yang terasa pas karena aku menambahkan isi dari dua kantung kertas kecil bertuliskan ‘sugar” ke dalam cairan itu. Manis dan hangat menyusup begitu saja, mengusir sebentar rasa sepi yang terasa dalam sebuah sore hingga senja yang terbakar cemburu. Sepi membuatku teringat satu pesan singkat dari seseorang di bulan Ramadhan lalu.
‘..ada yg bilang, saat sepi berzikirlah :) aku lagi buka di grand melia nih,
di tepi kolam renang, anginnya kuat sekali. Dan tiba-tiba aku kesepian..”
Obrolan kami malam itu menyenangkan. Ditemani lagu-lagu tahun 80-an dan 90-an yang mengalun lembut. Aku kenal lagu-lagu itu, sesekali kami bersenandung pada bagian reff yang kami hafal. Cherish milik Kool and The Gang, One of Us milik Joan Osbourne, ataupun The Hardest Day milik The Corrs feat Alejandro Sanz. Aku lupa bagaimana awalnya, obrolan kami begitu saja masuk pada topik tentang “aku ingin menjadi apa”, dan tiba-tiba dia berkata,
“kamu tahu As, sejauh pengamatanku, kamu orang yang pinter. Dan..salah satu ciri orang yang pinter itu adalah… “TIDAK FOKUS” “
Hening sesaat. Lalu tawaku meledak begitu saja. Skak mat!! Aku merasa ”dihabisi” !
Aku, perempuan hampir seperempat abad ini, memang masih bingung menentukan pilihan. Dulu bahkan ada yang bilang, ’Kakimu itu berpijak di banyak tempat, tapi pijakannya tidak kuat..”
Bukti ketidakfokusanku baru-baru ini? Kuliah lagi tapi tetap ingin apply kerja ke sana-sini. Seseorang bahkan sampai berkata, ’boleh aku beri saran? Selesaikan dulu kuliahmu, baru setelah itu apply kerja..”Teman minum coklatku ini membuatku terhenyak dengan kalimat lugasnya.
”Tentukan sejak sekarang kamu ingin fokus di bidang apa, sebelum kamu akhirnya ”tidak menjadi apa-apa”.
”Astri, orang menjadi sukses karena dia fokus. Orang bisa fokus, karena dia konsisten. Kamu tahu kenapa Oprah sukses? Dia konsisten, dia tak pernah meninggalkan bidangnya.”
Great, aku benar-benar ”kena”. Telak. :) 5 tahun di dunia radio, dan aku memutuskan meninggalkannya…
Fokus dan Konsisten, itu kata kunci. Aku rasa, itu pula yang membuat Jubing Kristianto akhirnya memilih meninggalkan pekerjaannya sebagai jurnalis dan FOKUS menjadi gitaris. Mengikuti panggilan hati. Lalu, apa panggilan hatiku?
”Kamu punya 5 pintu, Astri. Kamu hanya perlu membuka satu pintu itu, lalu fokus di dalamnya..Kamu tinggal pilih. Balik ke dunia radio, lanjut di NGO, jadi birokrat, jadi penulis, atau jadi dosen. Setelah kamu tentukan, kamu harus membuat langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan untuk mencapainya.”
Hmm…tiba-tiba aku teringat pada materi kuliahku siang tadi, bahwa tujuan politik luar negeri suatu negara hanya bisa tercapai ketika ada kesesuaian dengan cara berdiplomasinya. Ambil contoh, mengapa Timor Timur lepas dari Indonesia? Tujuan politik luar negeri Indonesia salah satunya adalah menghapuskan penjajahan di atas dunia. Tapi lihat cara berdiplomasinya, Indonesia justru mengokupasi Timor Timur. Wajar jika Indonesia tidak mendapat dukungan dari dunia internasional saat isu Timor Timur merebak.
Ya, aku sadar, aku harus menentukan pilihan sejak sekarang. Usiaku tak lagi muda, bukan waktunya untuk bermain-main lagi. Aku ingin menentukan pintu yang ingin kubuka..tapi…
Tweet This Post