Pada Akhirnya, Orang Hanya Ingin Hidup Tenang

Resolusi di tahun yang baru? Ada, beberapa. Detail lengkap cukuplah tertempel di tembok kamarku, penyemangat untuk terus maju ketika seolah banyak hal di belakang sana melambaikan tangan atau bahkan berusaha menarik mundur beberapa langkah.

Tapi satu hal itu pasti, pada akhirnya orang hanya ingin hidup tenang. Termasuk aku. Tak tahu apakah orang lain menginginkan hal yang serupa atau tidak. Sepengetahuanku, hidup yang tenang itu mahal.

Seperti halnya rumah yang punya pintu, begitu pula hidup setiap orang. Tak perlu saling mendobrak pintu rumah masing-masing jika memang ketenangan yang diinginkan..

Datanglah dengan sopan, ketuklah pintu, sebutkan namamu, dan apa kepentinganmu. Tak perlu menyadap saluran telfon pemilik rumah, tak perlu pula menganalisis setiap tulisan si pemilik rumah di blognya. Katakan dengan jelas maksudmu, as simple as that.

Unfortunately, for some people, being simple is not simple. Sometimes..

Post to Twitter Tweet This Post

Sapaan Aneh Menjelang Tengah Malam

“Halo, apakah saya bicara pada orang yang benar?”

Itu sapaan paling aneh yang pernah kuterima di jam setengah dua belas malam.

“Ya, Anda bicara pada orang yang benar..”, jawabku sambil berusaha menggenapkan nyawa.

Lantas tawa kami pun berderai. Suara di seberang sana sangat kukenal, sudah dua minggu pula ia menghilang. Ah, komand(i)an-ku..dia meninggalkanku untuk berguru pada si bapak itu..

“Aku baru sampai di Jogja nih. Tugas selama kursus banyak banget. Oya, kamu dapat salam…”

“Dari siapa?”

“Dari mas Andreas Harsono…”

Nyawaku langsung genap dengan seketika! Andreas Harsono? Uggghhhh…kapan ya aku bisa ikut kursusnya…

Telfon malam itu diakhiri dengan satu janji,

“Nanti kita ngobrolin pak Andreas di nikahannya Pak Didik ya..”

“Ok Astri, sampai ketemu ya..”

Telfon ditutup, dan aku terbang lagi ke alam mimpi. Tak lupa, sebelumnya cek status SMS yang kukirim berjam-jam lalu. Hmmm, belum terkirim…semoga kamu baik-baik saja ya..

Siang ini, komand(i)an menyapaku lagi

24/12 11:43

Rasanya senang kembali ke Jogja..menghirup udaranya…menjejaki tanahnya..merasakan panas mentari..meringkuk di kamar, juga mengunjungi sudut-sudut kotanya..Jogjakarta berhati nyaman!

 

*tak lama kemudian, satu telfon lain datang padaku. Telfon yang kutunggu sejak beberapa hari lalu. Alhamdulillah kamu baik-baik saja, aku lega…Take care :)

 

Post to Twitter Tweet This Post

Ketika Mereka Libur Hingga Tahun Baru…

Iri? Tidak. Iri kan tanda tidak mampu :) Aku bisa kok, menciptakan liburku sendiri. Paling tidak, kuliahku judulnya “LIBUR” sampai tahun baru.

Kantor bagaimana? Baik-baik saja, tidak ada cuti bersama. Tak apa, anggaplah sambil aku bisa online untuk cari bahan tugas akhir semester yang bejibun itu. (Psstt…ada yang mau membantuku nggak?:D)

Niatnya sih mau nyicil ngerjain proposal thesis juga, tapi rada pesimis bisa terwujud. Tugas akhir semester bisa selesai saja sudah alhamdulillah :D Belum lagi ditambah godaan nulis blog…wah, paling ga tahan deh yang ini :D Plus godaan untuk utak-atik lagi lapangan bulutangkis si Yudha dan bapaknya itu. Terus terang, memang ada target yang kubuat terkait dengan lapangan bulutangkis itu :) Doakan ya..

Suatu hari nanti, aku berharap bisa merasakan libur itu. Cuti seminggu, menghabiskan waktu dengan keluarga kecilku..minum milo hangat saat menjelang pergantian tahun, lalu berdoa bersama supaya tahun berikutnya kami bisa terus melangkah bersama, bisa menjadi orang yang lebih baik lagi, dan lebih berguna untuk sesama…

Post to Twitter Tweet This Post

For Me, It’s Not Just Little Magic…:)

Di depanku sekarang ada buku Batas Maritim Antarnegara. Ditulis oleh pria Bali belum genap 30 tahun yang kecerdasannya membuat UGM dan Indonesia bangga :) Sekarang Pak Andi sedang di Markas PBB di New York sana. Berikut cuplikan dari halaman belakang bukunya.

I Made Andi Arsana, ST, ME. Lahir di Tabanan tahun 1978 dan menyelesaikan pendidikan dasar hingga SMA di Bali. Tahun 1996 kuliah di Jurusan Teknik Geodesi Fakultas Teknik UGM hingga 2001 dan sempat bekerja di Unilever dan Astra sebelum menjadi dosen di almamaternya.

Penulis mulai menekuni aspek geodesi hukum laut, terutama yang terkait dengan batas maritim sejak menjalani pendidikan di University of New South Wales (UNSW), Australia. Penulis telah mempublikasikan puluhan karya pada konferensi, jurnal, buku, dan media cetak nasional maupun internasional. Dalam Annual Research Seminar 2005 yang diselenggarakan UNSW misalnya, penulis meraih penghargaan presentasi terbaik.

Saat buku ini diterbitkan, penulis tercatat sebagai peneliti tamu di Australian National Centre for Ocean Resources and Security, University of Wollongong, Australia dan UN Department of Ocean Affairs and the Law of the Sea di New York, US. Keduanya atas dukungan United Nations dan Nippon Foundation.

Itulah Pak Andi :) Siang ini chat dengan Pak Andi, bercerita tentang tugas presentasiku Januari nanti. Topik : lepasnya pulau Sipadan Ligitan. Aku tahu, aku harus baca buku Pak Andi. Dan…mengalirlah percakapan ini…

Andi : mau saya kasih buku gratis gak?
astri : wah..
astri : yang bener pak?
astri : mau pak
astri : terimakasih :)
Andi : ditunggu aja ya, nanti ada yang bawakan

astri : siapa pak? jangan2 tar pak andi tiba2 nongol di kantor saya ya? :D
Andi : he he he … apapun bisa terjadi..yg diperlukan hanya keyakinan.. ya to?
Andi : kalau sampai sore jam 6 tidak ada orang.. kontak saya ya
astri : lho? ini pak andi dimana?
astri : saya dikantor sampai malam, paling tidak jam 7, karena menambah jam kerja yang terpakai kuliah
Andi : ok kalau nanti gak ada yang datang. kontak saya di email atau di YM… 

Selang beberapa waktu, ada tamu datang ke kantor, “Ibu Astri-nya ada? Ini ada kiriman buku dari Pak Andi..”

Yeah, aku dipanggil Ibu :) Seorang Bapak menungguku di ruang tamu. Menyerahkan buku Batas Maritim Antarnegara. Pak Dalijo namanya. Terimakasih ya Pak Dalijo.. :)

Kembali ke mejaku, perbincanganku dengan Pak Andi berlanjut..

astri : pak andi, terimakasih bukunya
astri : sudah saya terima
astri : :D
astri : tadi yang mengantar pak dalijo namanya
Andi : my little magic :)

Andi : saya senang kalau astri senang menerima bukunya :)
astri : saya senang sekali pak andi…terimakasih banyak …
Andi : sama-sama.. td gmn pak dalijo? ada pesan?
astri : saya pesan : ucapan terimakasih untuk pak andi :D
Andi : :D
Andi : tadi saya telepon ke kampus… minta dikirim bukunya.. saya memang sering melakukan ini, makanya beliau2 yang di kampus sudah paham kebiasaan saya
astri : o gitu ya pak..:D

Andi : enjoy the book ya..
Andi : saya membayangkan ada orang mau menulis resensinya di koran.. atau di blog lah paling nggak..:)

huaduuuhhh…ini dia…nulis resensi…dududu..:D Baik Pak, insyaAllah akan saya tulis, tentunya setelah saya selesai baca bukunya ya Pak :)

Sekali lagi, terimakasih banyak Pak Andi..:) 
 

Post to Twitter Tweet This Post

Membuka Jalan

“Mbak, aku nunggu kamu.”

“Dia minta balik?”

“Iya, dan kami kembali ke rencana semula. Tahun depan.”

“Kalau memang sudah mantap, duluan saja. Nggak harus nunggu aku.”

“Tapi aku nggak mau nglangkahi…”

“Nggak pa-pa..kamu duluan saja..”

Langit tidak terlalu mendung sore itu. Aku lega, membuka jalan baginya.

Post to Twitter Tweet This Post

WordPress Themes