Tentang “Sahabat yang Datang Belakangan” dan Seorang “Komandan”
Dia sering menyebutku “sahabat yang datang belakangan”. Dan aku, menyebutnya “komandan”.
14 Februari, dikirimkannya satu pesan singkat padaku. “Aku ingin menjabat tanganmu erat sepanjang hidupku, sahabatku..”
********************
Jumat malam, kami punya janji melakukan kebiasaan “itu”. Minum hot chocolate sambil duduk mengamati orang-orang di sekitar. Merekamnya dalam ingatan, untuk kemudian esok paginya dituangkan dalam bentuk tulisan.
Jumat siang, hp-ku bergetar.
“Astri, aku di Panti Rapih. Maaf mesti batalin janji minum hot chocolate…”
Aktivitas multitasking-ku berhenti. Jariku berhenti mengetik, memindahkan letak hp ke tangan kanan. Lalu mendengar sederet kalimat, termasuk nama dan nomor kamar. Padahal, tak sampai dua jam lalu kami masih chat, membahas daftar media yang masing-masing kami miliki.
Maghrib, tergesa ke tempat itu. Menemukannya. Meringkuk kesakitan, dikelilingi teman-teman baik. Senyumnya saat menyambutku masih juga sama seperti biasanya.
“Halo, Astri..komandanmu sedang sakit, Astri…”
Sapanya terdengar tak bertenaga. Kulihat tetes keringat di dahinya.
“Tidak apa-apa, komandanku kan juga manusia…bisa sakit juga..”
Aku mencoba tetap tersenyum sambil menggenggam tangannya. Ah, kenapa dokter yang diharapkan tak segera muncul jua, sedangkan perawat tak mau memberikan nomor sang dokter. Padahal, komandanku cuma ingin bicara dengan dokter untuk menenangkan dirinya…
“Apa kata dunia kalau tahu komandanmu sakit, Astri…” tanyanya padaku yang duduk di samping pembaringannya.
“Dunia bilang “tidak apa-apa”, komandan..”
Selang beberapa waktu, aku pamit karena dia perlu bicara dengan adik tersayangnya. Keluar dari kamar, aku berbelok ke kiri. Lift kulewati. Di tangga antara lantai 4 dan lantai 3, butir-butir yang kutahan itu jatuh jua…
**********************
Pulang ke kos, lalu beli makan malam. Tercekat saat kudengar Duta bernyanyi lewat pengeras suara. Teringat tentang komandanku, terutama saat kukatakan padanya dalam sebuah perbincangan kami bahwa aku paling suka lagu “Kisah Klasik Untuk Masa Depan”.
“Ya, itu lagu bagus,” jawabnya sambil tersenyum simpul tanpa kutahu bahwa sejarah hidupnya erat melekat dengan band itu.
Saat menyantap makanan, sebuah SMS datang.
“Astri, tempat tidur di sampingku kosong..”
Pulang makan, berkemas, berangkat ke rumah sakit. Adu pendapat dengan satpam yang galak gara-gara aku tidak punya “Kartu Tunggu”. Untung bisa lewat, dengan embel-embel “besok lagi pakai Kartu Tunggu, Mbak!”. Hatiku bilang, “Karepmu, Pak..”
Membuka pintu kamarnya, dia sendirian. Aku mencoba membuatnya lupa rasa sakitnya dengan kalimat demi kalimatku yang kurasakan begitu kering. Saat kami mulai ngobrol, aku cuma bisa terheran-heran. Perbincangan kami malam itu cukup ajaib. Dalam kondisi menahan sakit, dia masih juga bicara tentang gempa, tentang kesedihannya tak bisa naik sepeda lagi, tentang dua album Kings of Convenience yang akan dipinjamkannya padaku saat dia sembuh nanti, tentang pertandingan sepak bola antara Manchester United dan Arsenal yang akan berlangsung Minggu dini hari, termasuk tentang janji minum hot chocolate yang akan kami penuhi suatu hari nanti…
****************
Minggu pagi, aku terbangun oleh suaranya lewat telfon.
“Astri, MU menang 4-0…”
*Komandan, cepatlah sembuh…aku ingin menjabat tanganmu erat, sepanjang hidupku…
Iya, Aku Akan Sering Menyapamu
Aku terakhir bertemu dengannya saat Lebaran lalu. Wajahnya masih tampan, aku suka hidung mancungnya. Aku baru sadar, badannya tak setegap dulu. Adik-adikku terlihat menjulang di sampingnya.
Petang ini aku menyapanya. Tak bisa disembunyikannya rasa bahagia saat mendengar suaraku. “Sering-seringlah pulang kemari,” itu permintaannya.
Lalu dia bertanya tentang kesehatanku, tentang pekerjaanku, tentang kuliahku. Saat tiba giliranku bertanya keadaannya, diberikannya jawaban tentang “tidak enak badan”, dan tentang “kesepian”.
“Jaga kesehatan ya, jangan terlalu keras bekerja. Ingat istirahat. Kalau sempat sering-seringlah telfon…”
Iya, aku akan sering menyapamu. Awal Maret, aku akan datang, membawa sebuah gitar baru, buatmu.
*i miss u, Dad…
P.S. I Love You
Semalam ke Gramedia. Ada banner promosi buku P.S. I Love You yang filmnya dibintangi Hillary Swank. Sepertinya bagus, masuk dalam daftar buku yang mungkin dibeli bulan depan, plus daftar film yang ingin ditonton.
Pertama kali kenal kalimat P.S. I Love You dari judul lagu The Beatles. Seorang teman menjadikan judul itu menjadi e-mail address. Dulu saat awal mengenalnya, aku bertanya, “lagunya Beatles ya?”. Jawaban dia, “wah, ternyata kamu tahu ya?”
Pagi ini, tertarik ingin tahu p.s itu sebenarnya singkatan apa. Bertanya pada Wikipedia, p.s dalam bahasa Inggris adalah kependekan dari “postscript“, after writing, tambahan. Asal katanya dari bahasa Latin, post scriptum.
Beli beberapa kartu pos. Sepuluh ribu dapat empat. Aku memang suka mengumpulkan kartu pos, melihat gambar-gambarnya menimbulkan perpaduan rasa nyaman, adem, dan ngelangut, terutama saat aku sedang butuh bersandar. Kartu pos yang memajang foto-foto karya Agus Leonardus adalah yang paling kusuka.
Agus Leonardus adalah fotografer yang banyak memotret suasana Jogja. Dosen dari mas fotografer di kantor, jagoan candid yang menghasilkan foto “tudung merah” itu
Pak Agus Leonardus punya satu buku kumpulan foto tentang gempa di Jogja, berjudul “Fifty Seven Seconds”. Mahal tapi bagus. Kalau tidak salah harganya sekitar tiga ratus ribu, naskah dalam bahasa Inggris.
Empat kartu pos. Tiga karya Agus Leonardus, satu kartu pos tidak teridentifikasi siapa pembuatnya. Komentar untuk kartu pos yang satu ini? Unik! Menarik! Priceless!

Hmm…kira-kira ada nggak ya yang membuat kartu pos tentang serial Tapak Sakti? Aku suka sekali tokoh Sembilan Benua dan Hati Baja. Aku suka nama tokoh perempuan yang satu ini, Hati Baja. Pengorbanan total untuk suami tercinta…
Naik ke lantai tiga Gramedia, bertemu buku-buku bernuansa cinta. Entah, mungkin terkena euforia hari kasih sayang. Ada tiga buku yang menarik perhatian. Khadijah. Aisyah. Fatimah. Tiga judul buku tentang tiga perempuan yang disayang Rasulullah S.A.W.
Kalau pun mau bicara tentang cinta, cinta Rasulullah S.A.W kepada Khadijah terasa menggetarkan hati…
Sebening Embun
Yahoo Messenger hari ini. Mataku terhenti pada status seorang teman lama.
“cemerlang sebening embun…”
Tergelitik, aku menyapanya.
“ebiet g ade?”
“sebening embun?”
Lantas icon tertawa terbahak-bahak muncul di layar, disambung satu kata, “ember!!!”
“punya liriknya? bagi dong,” itu lanjutan kalimatnya.
Ah, lagu itu. Aku tak cuma punya liriknya, lagunyapun ada di laptopku, sering menemani derap jariku saat insomnia menyerang ataupun memang karena kewajiban begadang atas nama “belajar”
Selain Chrisye, Ebiet G. Ade adalah salah satu penyanyi yang bisa diterima oleh hampir semua anggota keluarga kami. Dulu papa sering memainkan lagu milik Ebiet dengan gitarnya, sedangkan langit berbintangku kerap pula menyenandungkannya. Saat Kick Andy menghadirkan Ebiet G. Ade sebagai tamu, aku dan langit berbintangku duduk manis di depan televisi, terpesona pada Ebiet dan tentu saja, si Andy
Sayang, acara “duduk manis” itu kerap terinterupsi saat gambar di layar tiba-tiba menjadi tidak karuan. Terpaksalah berulang kali lari ke belakang, memutar-mutar antena supaya gambar bisa kembali terang….
Belum pernah dengar lagu ini? Cobalah dengarkan, walau sekali. Liriknya puitis dengan makna yang dalam, khas Ebiet G. Ade. Apa yang terlintas di kepala saat mendengar lagu ini?
Menua bersamamu….
****************
Setibanya di rumah, ibu terbaring lemas. Kami membantunya dengan membasuh tangan dan kakinya dengan minyak kayu putih, memberi termos panasnya, dan menyelimutinya dengan selimut yang tebal. Ketika aku meninggalkannya agar bisa tidur, Bapak duduk di sisi tempat tidur memandangi Ibu. Tangannya memegang kakinya yang dingin.
Aku sendiri berjuang melawan dingin dengan menonton televisi di kamar. Setelah beberapa waktu, aku bangkit menengok Ibu di kamar. Ibu sudah tertidur. Di sampingnya, Bapak memeluknya dengan sebelah tangannya. Sudah agak lama mereka jarang tidur berdampingan karena mereka punya irama hidup yang berbeda. Bapak banyak terjaga, karena itu beliau mengisinya dengan mengaji atau sholat malam.
Rambut Ibu yang putih agak awut-awutan di atas dahinya. Sementara Bapak, pria keras itu sudah mendekati botak. Tapi semakin tua, Bapak lebih banyak diam menghadapi Ibu.
“Ibu kamu itu nggak pernah kemana-mana, hidupnya cuma ngurusin kamu semua aja,” katanya lirih. “Makanya Bapak mendingan diam aja.”
Aku mengerti, kututup pintu kamar itu pelan-pelan. Bapak kelihatan sangat takut kehilangan Ibu. Karenanya pelukan itu jadi indah.
*dikutip dari “Menua Bersamamu” (terimakasih untuk Mas Bagus)