Minggu pagi adalah saatnya sedikit memanjakan diri. Bangun agak siang, atau tetap bangun pagi tapi memberi waktu bermalas-malasan sejenak di tempat tidur sambil menikmati Kompas Minggu. Tapi, seorang sahabat memberi tawaran berbeda untuk sebuah Minggu pagi, dan saya menerimanya. Acara itu bernama “Jelajah Desa”.
Dalam perjalanan menjemputnya, terhenti di sebuah perempatan, melihat bapak-bapak penjual koran. ASTAGA! HAMPIR LUPA! Saya punya janji pada seorang tukang jalan-jalan!
Tiga ribu rupiah, koran pagi masuk ke ransel. Perjalanan dilanjutkan. Bertemu, lalu kami sarapan. Mencuri waktu membaca sejenak cerita pendek di koran pagi itu, lantas mengirim pemberitahuan pada tukang jalan-jalan bahwa saya sudah membaca tulisannya. Tak ada balasan.
Di sela sarapan, kami berjanji untuk menikmati hari ini. Menyimpan rapat-rapat kepedihan dan kecemasan pada sebuah kotak yang khusus untuk hari itu kami letakkan di beranda hati. Sehari saja, kami ingin mengisi hati dengan tawa. Siapa tahu, besok kotak kesedihan itu berjalan sendiri memasuki hati tanpa kami sadari.
Lontong opor Sumatra ternyata enak juga. Tandas. Kami berdua segera menuju Karta Pustaka, titik awal pemberangkatan. Di sana, kami tak henti menahan tawa. Entahlah, senang saja rasanya melihat dua bus kecil telah siap untuk berangkat. Kami seperti anak-anak kecil yang hendak berdarmawisata untuk pertama kalinya. Dulu, langit berbintang saya tak pernah absen mengisi kotak makanan di tas dengan berbagai macam pengganjal perut. Dia tahu, daya tampung perut anak sulungnya agak luar biasa.
Dan…berangkat!! Duduk di deretan belakang, asyik membaca brosur tentang paket jelajah desa sambil mendengar penjelasan dari panitia acara. Rasanya seperti turis
Tujuan kami adalah Desa Giriloyo, Imogiri, Bantul. Saat sampai di lokasi, perjalanan diawali dengan mendaki bukit kecil menuju kompleks makam Giriloyo. Mungkin tak bisa dikatakan bukit karena ukurannya terlalu mungil, tapi lumayan melelahkan juga. Kami berjalan di barisan belakang sambil mendengar perbincangan ibu-ibu di depan. Tentang menstruasi yang sedang datang, tentang sandal hak tinggi yang menyiksa kaki, tentang anak-anak yang asyik berlari. Hmm…anak-anak…sejenak teringat pada Aulia…
Akhirnya sampai juga di makam Giriloyo. Berada di kompleks makam di puncak bukit itu terasa seperti berada di atap Jogja. Menebarkan pandangan ke segala arah, membiarkan kaki telanjang meresapi dinginnya tanah. Juru kunci makam bercerita tentang dedaunan di kompleks makam yang katanya dapat menyembuhkan penyakit dan mempercepat kedatangan buah hati bagi pasangan yang belum dikaruniai momongan.
“Tentu saja, dedaunan itu hanyalah perantara,” sang juru kunci tak lupa mengingatkan. Kepercayaan yang utama dan satu-satunya hanyalah pada Dia, Sang Penguasa.
Selesai mengunjungi makam, kami turun ke sentra industri batik tulis Giriloyo. Senangnya melihat senyum cerah ibu-ibu yang menyambut kami. Sapaan mereka hangat, disambung dengan tawaran memilih motif pada kain yang akan menjadi sarana belajar membatik. Selama ini, desa Giriloyo terkenal dengan batik tulis motif “Boketan”, berasal dari kata “booket”. Itu sebabnya, motif yang menjadi ciri khas daerah ini adalah motif bunga dan hewan.
Saya pilih motif bunga. Sahabat saya memilih motif kupu-kupu. Bu Waziyah dan beberapa ibu yang lain setia menjadi mentor yang baik untuk kami, dua perempuan Jawa yang gagap memegang canting. Jemari terasa kikuk saat mencelupkan canting ke wajan kecil berisi malam, lalu menggoreskannya di atas kain. Fiuh…
Setelah beberapa menit, kami mulai terbiasa. Sreet..sreeettt….makin berani menggerakkan canting di atas kain..Celetukan-celetukan Bu Waziyah pun terlontar, tentang keyakinannya bahwa kami pasti sudah pernah belajar membatik sebelumnya, dan tentang cukup bagusnya hasil karya kami. Jelas saja saya tidak percaya kalimat itu! Lha wong saya baru sekali itu pegang canting!
Begitulah, kain-kain yang telah kami batik akhirnya siap diwarnai. Selagi menunggu proses pewarnaan, kami menyantap pecel yang mak nyus-nya tidak perlu dipertanyakan. Sambal kacangnya manis, khas Jogja. Lauk yang tersedia pun sepadan nikmatnya, tahu bacem dan tempe bacem, plus karak berukuran mini.
Selesai makan, kami melihat proses pewarnaan. Lalu, tibalah momen itu. Ketika satu demi satu kain-kain kecil itu dijemur, wajah-wajah penasaran peserta kursus membatik langsung terlihat. Semua sibuk mencari-cari mana hasil karyanya. Ketika akhirnya kain kecil itu sampai di telapak tangan, rasanya bangga sekali. Lumayan, hasil batikan saya tidak jelek-jelek amat, cukup layak diceritakan pada langit berbintang
Kain di genggaman itu pula pertanda bagi kami untuk segera pulang. Paket jelajah desa untuk hari itu sudah selesai. Kami pun kembali ke Karta Pustaka, titik awal pemberangkatan.
Di dalam bus, sahabat saya berkata, “Lihatlah, wajah semua orang di bus ini terlihat bahagia…”
***************
Tanpa jas hujan, tanpa jaket, tanpa sarung tangan, saya memutuskan pulang pada kehangatan langit berbintang setelah paket jelajah desa selesai dilaksanakan. Sampai di daerah bandara Adi Sucipto, tarian hujan makin deras. Menepi, minta permisi pada empunya toko yang emperannya saya pinjam untuk berteduh. Mengeluarkan koran hari itu, lalu tenggelam dengan suka rela pada lautan kata si tukang jalan-jalan.
Selesai membaca, tercenung. Memandang hujan dalam diam. Tak ada senja. Kedinginan. Begitu ingin berbagi, tapi HP saya pingsan. Solo masih enam puluh kilometer lagi. Burung besimu terbang pada langit berhujan sore itu.
Tweet This Post