Kereta
Kereta punya daya tusuk yang berbeda terhadap perasaan setiap penumpangnya. Bagi orang yang berangkat diiringi tatapan “Tolong jangan pergi!”, kereta adalah semacam pembuktian bahwa kita dibutuhkan. Mungkin ada sepercik kebahagiaan yang aneh saat merasa mengenal tatapan itu. Lalu hati akan begitu saja berkata, “Lihatlah, kamu membutuhkan aku tapi tak mau mengaku! Hilang ke mana semua kesombonganmu kemarin itu?”
Berbeda pula perasaan penumpang kereta yang meninggalkan sebuah kota untuk seterusnya. Mungkin atas nama pekerjaan, mungkin atas nama pulang kampung setelah wisuda. Kenangan demi kenangan selama bertahun-tahun akan berkelebat begitu saja. Untuk sesaat, bisa jadi romantisme menyeruak tak tertahan. Tentang hari-hari irit makan, tentang “nona itu”, lengkap dengan kenangan tentang masa penantian mendapat jawaban atas pertanyaan terkait “masa depan”. Tujuan keberangkatan, dan kenangan yang tertinggal di belakang, membuat kereta akan selalu punya daya gedor yang mantap bagi setiap penumpang.
Untuk orang yang takut naik pesawat terbang seperti saya ini, naik kereta adalah sebuah kenikmatan. Ada waktu yang panjang untuk bicara dengan diri sendiri, melamun, sambil sesekali menerima “gangguan” pertanyaan dari orang yang duduk di sebelah badan. Pertanyaan standar. “Mau kemana mbak?”, “Aslinya dari mana?, “Kuliah di Jogja?”. Ya, semacam itu.
Jika melakukan perjalanan malam, saya senang meresapi huruf demi huruf pada sebuah bacaan. Atau, kalau sedang sok puitis, mencoba membuat kalimat-kalimat singkat yang selanjutnya hanya terdiam patuh di “My Document”. Tak ada keberanian tampil di tempat lain.
Pada perjalanan siang, saya begitu menyukai hamparan sawah yang seperti berkejaran dengan kereta. Ada yang masih berwarna hijau, ada pula yang sudah coklat nyaris mendekati panen. Pematang-pematangnya terlihat menggoda. Kalau ada tukang potret, sesekali saya ingin juga bergaya di sana dengan pasangan jiwa. Pre-wedding, katanya.
Sudah, itu saja ya tulisan saya kali ini. Tiba-tiba ingin menulis tentang kereta, setelah membaca tulisan seorang kawan. Sebuah keberangkatan sedang disusun, dan saya rasa dia benar, ada satu hal yang masih harus ditaklukkan sebelum perjalanan ini dimulai. Diri sendiri.