Saya Merasa Kehilangan
Sudah dua minggu ini rubrik “Aku dan Rumahku” tak lagi saya temukan di Kompas Minggu. Saya merasa kehilangan. Sejauh ini, ada dua edisi yang menjadi favorit saya. Satu, saat membahas rumah Sapardi Djoko Damono, dan kedua, rumah Prof Dr. Ichlasul Amal (Pak Amal), mantan rektor UGM yang sekaligus dosen saya.
Ada gusar yang mampir di hati saya saat tak menemukan separuh halaman istimewa itu di Kompas hari Minggu kemarin. Tanpa saya sadari, saya menunggu kehadirannya, dan saya kecewa saat tak menemukannya.
Bagi saya, itu adalah sebuah rubrik yang sangat manusiawi. Di rumahnya, setiap orang bisa menjadi dirinya sendiri. Melepaskan segenap topeng tangguh tegar atau apa lah namanya. Nyaman yang luar biasa. Lihatlah wajah Pak Amal yang damai saat duduk di teras rumah bersama Bu Amal, sambil memandang ikan koi di kolam. Atau, lihatlah gaya Pak Amal yang dengan cueknya berdiri di dekat pagar dengan memakai sarung. Mana bisa saya lihat Pak Amal bersarung saat mengajar
Mungkin, rubrik itu menghilang sesaat karena ada “inspiratorial” yang menggantikannya. Maklum, inspiratorialnya satu halaman penuh, pastilah mahal.
Hanya saja, saya merasa kehilangan…