Saya Merasa Kehilangan

Sudah dua minggu ini rubrik “Aku dan Rumahku” tak lagi saya temukan di Kompas Minggu. Saya merasa kehilangan. Sejauh ini, ada dua edisi yang menjadi favorit saya. Satu, saat membahas rumah Sapardi Djoko Damono, dan kedua, rumah Prof Dr. Ichlasul Amal (Pak Amal), mantan rektor UGM yang sekaligus dosen saya.

Ada gusar yang mampir di hati saya saat tak menemukan separuh halaman istimewa itu di Kompas hari Minggu kemarin. Tanpa saya sadari, saya menunggu kehadirannya, dan saya kecewa saat tak menemukannya.

Bagi saya, itu adalah sebuah rubrik yang sangat manusiawi. Di rumahnya, setiap orang bisa menjadi dirinya sendiri. Melepaskan segenap topeng tangguh tegar atau apa lah namanya. Nyaman yang luar biasa. Lihatlah wajah Pak Amal yang damai saat duduk di teras rumah bersama Bu Amal, sambil memandang ikan koi di kolam. Atau, lihatlah gaya Pak Amal yang dengan cueknya berdiri di dekat pagar dengan memakai sarung. Mana bisa saya lihat Pak Amal bersarung saat mengajar :)

Mungkin, rubrik itu menghilang sesaat karena ada “inspiratorial” yang menggantikannya. Maklum, inspiratorialnya satu halaman penuh, pastilah mahal.

Hanya saja, saya merasa kehilangan…  

Post to Twitter Tweet This Post

Saya Suka Bulan Mei

Kalau ada bulan yang selalu saya tunggu, pastilah itu Mei. Bulan dimana, secara tak sengaja, beberapa sahabat hari lahirnya ternaungi di dalamnya. Bulan yang istimewa. Mbak Ilma, Dani, Domas, dan Andy, ulang tahunnya ada di bulan ini.

Mei juga adalah bulan dimana saya harus makin sering merapatkan jaket. Mei tahun ini terasa begitu dingin. Sinusitis saya makin menghebat saja rasanya. Milo hangat makin tak bisa saya lepaskan. Jaman masih siaran di radio dulu, terkurung di dalam studio selama berjam-jam bukanlah sebuah hal yang mudah. Siarannya sih asyik, putar lagunya juga enak. Lalu apa masalahnya?

Saya tidak tahan udara dingin. AC studio kadang terasa tak manusiawi. Wajar saja, karena memang sengaja disetel 16 derajat, untuk menjaga mixer supaya tidak cepat rusak. Maka, saya mesti rela jadi “beruang kutub”. Jaket tebal tak bisa saya lepaskan. Plus secangkir teh hangat selalu saya siapkan di luar studio, pertolongan pertama saat hidung saya mulai dingin dan nafas mulai megap-megap. Saya suka mendekap mug tempat teh panas itu dengan kedua tangan. Membiarkan hangatnya meresap lewat telapak tangan, lalu mengalir ke seluruh tubuh.

Mei kali ini, saya baru sadar, sudah seminggu ini langit malam di Jogja diterangi banyak bintang dan bulan yang terang cahayanya. Dulu, saya sering menatap langit malam sekedar untuk memastikan paling tidak ada satu bintang yang bersinar. Saya memang suka memandang bintang.

Sapardi memang tak membuat puisi tentang Mei. Tapi tak mengapa. Saya tetap menyukai bulan ini, walau tahun ini saya merasakan kebimbangan. Kita lihat saja nanti, kemana perjalanan ini akan membawa saya. Jikapun jadi pergi, saya ingin cepat kembali. Ada yang menunggu saya di rumah. Satu paket dengan milo hangat, koleksi lagu Beatles lengkap, dan injakan mesra di kaki kanan saya saat kami makan bersama.  

Dalam hitungan hari, Mei akan pergi lagi. Saya pasti rindu padanya. Pasti.

Post to Twitter Tweet This Post

Goodbye My Lover

Semuanya berawal seusai menonton final Piala Uber beberapa waktu lalu. Jemari saya sibuk memencet remote TV, dan….saya melihatnya !! Saya melihat pria itu ! Pria yang memikat saya dengan suksesnya saat dia bermain piano di acara Oprah Winfrey, dulu.

Goodbye My Lover, itu lagu yang dia nyanyikan di acara Oprah Winfrey. Sisi lain dari lagu You’re Beautiful yang ngelangut itu. Ah, saya masih ingat penampilannya malam itu. Sendirian di tengah panggung, tersembunyi di balik grand piano. Suaranya khas, membuat orang langsung mengenal tanpa perlu melihat wajahnya. Itulah pertama kali saya melihatnya bermain piano, memainkan lagu yang belum pernah saya dengar, tapi langsung membuat saya berjanji dalam hati untuk mencari lagu itu.

Ketika saya berkesempatan melihatnya memainkan lagu itu lagi, apa yang saya rasakan ternyata masih sama. Tergetar. Kagum pada lirik lagu, pada permainan piano, dan pada penghayatannya saat menyanyi. Tak perlu koreografi yang rancak, tak perlu pula tata panggung dengan lampu ribuan watt. Dia sudah cukup kuat untuk membuat setiap penontonnya terbius dengan rela…

Post to Twitter Tweet This Post

Belajar Berpadu

Lintas generasi. Aku teringat kalimat yang menjadi slogan Kompas itu setelah sebuah pembicaraan semalam. Ternyata, tidak mudah untuk menciptakan sesuatu hal yang bisa diterima oleh berbagai usia. Apalagi jika telah ada satu kebiasaan yang lebih dulu terjadi, maka keinginan untuk lebih simpel dan tidak ribet menjadi terkesan “menyalahi adat”, menyalahi kebiasaan.

“Mama takut kehilangan kamu,” itu katamu, Dear..

Benar. Aku rasa langit berbintang takut kehilangan aku. Tapi aku tetaplah anaknya, walau akan segera melangkah maju bersamamu.

Ibu tetaplah Ibu. Ada rasa sayang dan kekuatiran berlebihan. Itu yang kurasakan. Aku bisa memahami itu. Aku bisa memahaminya, walau berulangkali aku hanya bisa menghela nafas untuk meredam apa yang kutahan di dada..

Begitulah. Yang tua ingin segalanya berjalan sesuai adat, sesuai kebiasaan. Sedangkan yang muda maunya yang simpel-simpel saja, tidak ribet, yang penting esensinya, yang penting sahnya.. :)

Post to Twitter Tweet This Post

Liburan

“Liburan seperti apa yang ingin kau berikan untukku? Mengajakku keluar masuk pertokoan?”

Kamu menggeleng. Ah, senangnya hatiku.

“Aku ingin mengajakmu berjalan di antara lelampuan taman, sambil kita belajar tentang kehidupan dari orang-orang di sekitar.”

Indahnya. Itulah yang membuatku menyukaimu. Kesederhanaanmu.

“Kalau kamu datang ke kotaku, aku akan mengajakmu ke sebuah tempat dimana kita bisa melihat bintang begitu terang benderang hingga kau ingin mengacungkan tanganmu ke langit sekedar untuk menghitungnya.”

“Banyakkah bintangnya?”

“Banyak. Tapi kalau kamu sedang capek memandang ke atas, kamu bisa memandang ke bawah. Ada banyak lampu berpendar di kejauhan. Ada yang warnanya putih, ada juga yang kekuningan.”

“Itu lampu apa?”

“Lampu rumah-rumah penduduk. Tempat kita memandang bintang ada di atas bukit, kamu pasti akan menyukainya. Kita bisa memandang itu semua sambil bicara tentang masa depan. Kalau kamu mau, kita akan bicara sambil makan jagung bakar dan merasakan hangatnya wedang jahe atau teh panas.”

“Itu tawaran yang menarik.”

“Tentu saja itu tawaran yang menarik. Kalau perlu, aku bisa juga memberimu tawaran yang tidak bisa kamu tolak, seperti halnya tawaran Don Corleone di film Godfather.”

“Ah, kamu sedang mengancamku?”

“Sama sekali tidak, Nona..”

“Kata orang, kotamu dingin sekali ya?”

“Iya, dingin. Sampai kamu harus memakai dua selimut yang ditumpuk secara tepat supaya saat tidur badanmu terasa hangat. Jangan khawatir, saat kita lihat bintang, kamu boleh pakai jaket merahku.”

“Terimakasih. Lalu ada apa lagi di kotamu?”

“Ada aku. Orang yang akan memberikan tiket liburan sepanjang masa. Menghabiskan sisa hidup bersama. Kamu mau berlibur bersamaku?”

Dear, itu benar-benar tawaran yang tidak bisa kutolak…

 

* terinspirasi lagu Holiday-Scorpions dan serial Jepang “Long Vacation”

 

Post to Twitter Tweet This Post

WordPress Themes