Tebakan

Bertemu orang baru belum tentu berarti bertemu pertanyaan baru, tapi kadang tetap ada pertanyaan atau pernyataan yang cukup membuat terhenyak sesaat.

Seorang kawan baru dalam kursus penulisan memulai obrolan kami dengan pertanyaan, “Kamu orang Arab ya As?”.

Jelas saja aku tergelak mendengar tanyanya. Heran, entah bagian mana dari wajahku yang membuat orang-orang sering menebak asal muasalku dengan penuh keyakinan.

Lain waktu, dia membuat penyataan mematikan. “Kemarin aku baca blogmu, dan aku merasa menemukan dirimu yang berbeda. Tampilan keseluruhan dari blogmu menunjukkan padaku siapa sebenarnya kamu, sesuatu yang coba kamu lawan. Kamu orang yang kesepian.”

Skak mat!

Wah…apa perlu kuganti template blog ini? Sudah waktunyakah “Falling Dreams” karya Razvan Teodorescu kupensiunkan?

Percaya atau tidak, kadang kita mengambil keputusan atau menentukan pilihan pada hitungan sekian detik, tanpa banyak pertimbangan. Benar-benar datang dari bawah sadar. Seperti halnya siapa orang pertama yang refleks kita telepon saat kondisi genting. Begitulah, semacam itu…
Falling Dreams terlalu menggodaku. Razvan tahu benar seleraku. Minimalis, tapi kuat. Paduan abu-abu dan putih dalam blog ini membuatku terpikat erat. Apalagi gambar pohon besar di tengah padang itu..membuatku senantiasa berkhayal duduk di bawahnya sambil membaca buku atau menggelar kain berwarna kotak-kotak cerah dengan banyak makanan di atasnya.

Berganti orang, ada pertanyaan lain pula yang terhidangkan.
“Kenapa bukan daun yang bersemi? Kenapa harus daun-daun gugur?”

Ah, aku mengerti. Kamu pasti sedang bicara tentang friendsterku, multiplyku, atau IMvironment YM ku. Ya, semuanya memang tentang daun-daun gugur.

Bagaimana lagi, aku suka daun-daun gugur, begitu saja, tanpa rencana. Ada ngelangut yang kurasa. Itu saja alasannya.

Post to Twitter Tweet This Post

Kelas Menulis Narasi-Pantau

Akhirnya, saya punya kesempatan ikut kursus narasi yang diselenggarakan Yayasan Pantau. Alhamdulillah, terwujud juga salah satu resolusi tahun 2008 ini :) Sabtu 21 JUni adalah hari pertama saya ikut kursus, sekaligus hari pertama bertemu teman-teman baru dan guru yang sangat membumi.

Awalnya, saya pikir guru kami pastilah sudah sepuh…nyatanya, Budi Setiyono sangat jauh dari penggambaran itu :) Sedikit kecewa memang, karena saya mesti menunda hasrat bertemu Andreas Harsono, orang yang kurang lebih 2 tahun lalu blognya tak sengaja saya temukan lewat bantuan Paman Google. Sebuah blog yang kemudian rajin saya kunjungi, sampai sekarang. Pak Andreas seharusnya mengajar kami Sabtu lalu. Berhubung beliau sedang sakit, jadwal mengajar beliau diubah ke Sabtu mendatang.

Sebulan ke depan, 16 peserta kursus akan banyak belajar tentang jurnalisme sastrawi, akan membaca banyak artikel, dan banyak berdikusi. Bisakah Anda membayangkan belajar menulis di sebuah pendopo yang sejuk? Begitulah yang kami alami.

Diawali dengan tersasar saat mencari tempat tujuan, akhirnya berhasil juga sampai di Yayasan Cindelaras. Sepintas melihat pintu gerbangnya, saya merasa seperti masuk ke istana jaman kerajaan Majapahit. Ah, rasanya seperti syuting film Angling Dharma atau Tutur Tinular :)   Masuk ke halaman, saya bertemu dengan beberapa pohon kecil yang menyegarkan mata. Tanahnya begitu asli, tiada paving di sana. Kecuali untuk bangunan kecil di samping halaman yang difungsikan menjadi semacam garasi.

Pusat perhatian dari bangunan yayasan ini adalah pendopo Jawa yang asri. Warnanya coklat, dengan banyak tiang berukir yang menjadi penyangga atap. Tiang-tiang ini juga yang kemudian menjadi tempat menyandarkan punggung peserta kursus sepanjang siang. Benar-benar tempat yang nyaman. Tapi ya itu, saya harus bekerja keras melawan kantuk yang menyerang gara-gara nonton bola sampai pagi. Masih pula ditambah dengan angin berhembus pelan. Lengkap sudah.

Demi melawan rasa kantuk, saya melangkah ke bagian samping pendopo. Mengambil cangkir, menentukan takaran gula, lalu memindahkan cairan dari sebuah wadah penampung bertuliskan “KOPI”.

Begitu kembali ke tempat duduk semula, saya pun menikmatinya. Hmmm…beberapa kali tegukan, dasar cangkir kecil mulai terlihat. Sebuah SMS tiba-tiba masuk.

“Bunda, sudah berapa cangkir kopi hari ini?”

Aduh!! Saya baru sadar, yang barusan itu adalah cangkir kedua saya hari ini… :D

Post to Twitter Tweet This Post

Seperempat Abad

Bagi saya, seperempat abad terasa istimewa karena saya menandainya dengan membuat beberapa keputusan besar. Beberapa diantaranya membuat saya berada dalam posisi sulit dan terpojok. Termasuk menerima penghakiman dari banyak orang. Tidak apa-apa, saya mengerti. Orang lebih mudah menghakimi daripada menjalani kalimat demi kalimat yang mereka buat sendiri.

Hampir sebulan lalu, seperempat abad sudah saya ada di bumi. Tak ada kue, tak ada lilin. Tak ada juga telepon dini hari dari orang rumah. Sesuatu yang jelas tak mungkin terjadi setelah tanggal 28 malam saya memberi tahu mereka lewat udara bahwa saya memutuskan tidak jadi melakukan sebuah perjalanan, yang katanya, “besar” itu.

Sebelumnya, saya merasa heran, semua orang mengucap “selamat” tapi tak ada yang bertanya apakah saya ingin berangkat. Saya yang menjalaninya, tapi mengapa tak ada yang mencoba bertanya apa yang saya rasa?

Keberangkatan yang saya batalkan (dan disesalkan banyak orang) itu memang menggoda, tapi ada perjalanan lain yang ingin saya lakukan. Perjalanan menuju stasiun terakhir. Perjalanan yang saya tahu akan menguras tenaga dan butuh banyak perjuangan.

Saya belum lama mengenalnya. Bahkan sebelum kami sempat bertatap muka, dia telah memunculkan kata “pernikahan”. Keyakinannya, keteguhannya, dan upayanya memperjuangkan saya, membuat saya mengerti satu hal. Mungkin Tuhan sedang menunjukkan arah jalan pulang yang selalu saya tanyakan pada-Nya dalam setiap kesempatan.

Saya percaya Tuhan mengerti. Saya lelah menangis. Lelah mempertahankan sebuah hubungan sendirian, tanpa dukungan.

Kini saya menemukannya, jalan pulang yang saya impikan.

Post to Twitter Tweet This Post

Stasiun Terakhir

Perkataan sahabat saya benar, setiap orang akan menuju stasiun terakhirnya. Tapi saya bukanlah stasiun terakhirnya, begitu pula sebaliknya.

Kami sama-sama tahu, sore itu mungkin adalah terakhir kali kami bertemu. Saya akan melangkah maju. Begitupun dia, akan melanjutkan hidupnya. Sambil terus melakukan perjalanan menuju stasiun terakhir yang dia inginkan.

Enam tahun usia persahabatan kami. Persahabatan itu pula yang membuat kembalinya saya ke kampus terasa sebagai perjuangan melawan kata deja vu.

Tentu saja, persahabatan kami dihiasi dengan saling mengagumi dan saling menguatkan. Dialah satu-satunya orang yang menepuk pundak saat saya berada di tepi jurang.

“Saat kamu mulai redup, tetaplah tenang. Ada orang yang selalu bisa kamu andalkan…”

Saya tahu, sebaris kalimat yang diucapkannya dulu itu akan berakhir masa berlakunya dalam waktu dekat ini. Tepat pada saat saya tiba di stasiun terakhir, menemui seseorang yang kepadanya saya sematkan kata “pulang”…

Post to Twitter Tweet This Post

Maaf

Untuk semua kata dan perbuatanku yang menyakitimu, maaf.

Lemparkan kemarahan dan kekecewaanmu padaku, bila itu melegakanmu.

Aku terima, dan aku tak akan membalasnya.

Tak ada dendamku untuk itu…

Post to Twitter Tweet This Post

WordPress Themes