Kedai Persinggahan

 

Kami cuma turis dengan karcis pulang-pergi. Singgah sekejap di kedai riuh bernama dunia.
Duduk, minum dan bergurau di bawah cuaca,
menunggu siklus petang tiba-yang mengantar balik-ke asalnya semula

Kelana-kelana asing akan bersapaan di sini, membincangkan arah angin,
juga tentang bayang-bayang yang jatuh pada rumput memanjang ke timur selepas tengah hari.
Angin mempertemukan kami.

Bayang-bayang kami merapat. Bayang-bayang kami berbincang tentang warna langit.

Nun di barat, horison menyimpan rencana lukisannya.
Hanya Ia-Maha Raya-yang tahu pasti komposisi apa yang akan cahaya perbuat pada sebentang ruang senyap antara mata kami dan matahari.
Barangkali nanti jingga akan teracak rata pada latar magenta, dan tirai violet bertebar tipis atas kelabu,  seperti memar fajar lalu.
Kami memang cuma pandai menerka-nerka.

Namun, apapun yang menjelang,
kami telah membukukan janji untuk tak menunggu ujung senja itu dalam sendiri.
Kami berbagi anggur dan roti. Menghadapi meja yang sama.
Saling tergenggam pada jemari dan mulai mengeja kedamaian-kedamaian sederhana.
Perlahan, seperti alir sungai-sungai yang setia.

Pada kedai penantian yang manis ini kami percaya,
nama kami berdua telah dicantumkan-Nya
dalam garis tangan kami sejak jauh sebelum langit diciptakan

(Suffianto R.Wijaya) 

 

Post to Twitter Tweet This Post

Seribu Kunang-Kunang di Merbabu

 

Kemarin, saya temukan seribu kunang-kunang di Merbabu. 

Misi utama sebenarnya mengantar si bungsu beli buku pelajaran. Sejak dulu, mama membiasakan saya dan adik-adik saya untuk beli buku di kios buku belakang Stadion Sriwedari Solo. Kami biasa menyebut tempat itu “BU SRI”. Mburi Sriwedari. Belakang Sriwedari.

Cukup lama saya tak datang ke sana. Ramainya masih seperti dulu. Awal tahun ajaran baru membuat Bu Sri terlihat penuh kemarin. Orang tua datang bersama anaknya. Sang anak terlihat erat menggenggam selembar atau dua lembar kertas. Itulah daftar buku pelajaran yang dipakai di sekolah selama setahun ke depan.

Parkir motor penuh. Tukang parkir berbaju kuning sibuk berlari kesana kemari. Motor berjajar di depan kios-kios yang berderet rapi. Mobil-mobil diparkir di seberang jalan. Di atas gerbang belakang stadion Sriwedari, ada spanduk bertuliskan “Wisata Ilmu-Kios Buku BU-SRI”.    

Di BU-SRI ada buku bekas, ada pula buku baru. Harga buku baru terpaut cukup lumayan dengan harga di toko buku, asal kita pandai menawarnya. Selain buku pelajaran, ada juga novel dan majalah. Kalau beruntung, bisa bertemu buku-buku langka.

Setelah si bungsu mendapatkan buku yang dia perlukan, saya ajak dia berburu Seribu Kunang-Kunang di Manhattan. 

“Wonten bukune Umar Kayam, Pak?”

“Mboten, Mbak”

“Wonten bukune Umar Kayam, Bu?”

“Umar Kayam? Sinten niku, Mbak?”

Belasan kios kami lewati. Pertanyaan yang nyaris sama selalu terucap dari mulut. Tanpa hasil.

Kami hampir tiba di ujung, kios buku tinggal beberapa.

“Wonten bukune Umar Kayam, Pak?”

Seorang pria setengah baya sedang sibuk menata buku-buku di rak depan kiosnya. Rupanya dia baru akan buka. Mendengar pertanyaan itu, aktivitasnya terhenti. Dia seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.

“Judul bukune nopo, Mbak?”

“Seribu Kunang-Kunang di Manhattan.”

“Kadose wonten mbak. Nenggo sekedap kerso? Kulo pendet riyin wonten kios sing setunggale.”

“Tebih, Pak?”

“Caket kok, Mbak.”

Dia bergegas. Lima menit. Sepuluh menit. Saya melihatnya datang tergopoh-gopoh membawa buku bersampul biru.

“Sing niki, mbak?”

“Injih, Pak. Pinten niki?”

“Gangsal welas.”

Saya membuka buku itu. Melihatnya sekilas dari halaman 1 hingga 146. Masih bagus. Lima belas ribu sebenarnya sudah terbilang murah. Tapi saya ingin mencoba menawarnya, siapa tahu berhasil. Saya pasang muka “sok tidak butuh buku (padahal pengen)” itu. Perjuangan dimulai.

“Mbok regine dikirangi to Pak..”

“Dikirangi pinten nggih mbak..Pun, kalih welas mawon..”

“Kalih welas?”

Saya buka lagi buku itu. Diam agak lama.

“Sedoso mawon nggih Pak..”

“Sedoso? Nggih pun lah mbak..”

Dua lembar limaribuan saya ulurkan padanya.  

Saya berusaha mengingat letak kios ini, siapa tahu besok-besok saya kembali padanya untuk berburu Sapardi. Mendongak ke atas, mata saya tertumbuk pada sederet tulisan. “Kios Merbabu”.

Saya temukan seribu kunang-kunang di Merbabu :)

 

Post to Twitter Tweet This Post

Seribu Kunang-Kunang di Manhattan

Buku ini memuat 14 versi cerpen Seribu Kunang-Kunang di Manhattan. Versi pertama, versi bahasa Indonesia. Versi kedua hingga keempatbelas adalah versi bahasa daerah.Siribee Meuk di Manhattan (Bahasa Aceh),

Hillophillop Ni Lampoting di Sosor Manhattan (Bahasa Batak Toba),

Saribu Api-Api di Manhattan (Bahasa Minangkabau),

Saribu Cicika di Manhattan (Bahasa Sunda),

Sewu Kunang Ing Manhattan (Bahasa Cirebon),

Konang-Konang Ing Manhattan (Bahasa Jawa),

Prappa’na Nang-Konang Nabuy E Manhattan (Bahasa Madura),

Siu Kunang-Kunange Ring Manhattan (Bahasa Bali),

Seribu Ntep-Ntep Leq Manhattan (Bahasa Sasak),

Sisakbu Kullu-Kullu ri Manhattan (Bahasa Bugis Makasar),

Sisebbu Api-Api Ri Manhattan (Bahasa Bugis),

SangSa’bu Lupeppe’ Dio Manhattan (Bahasa Toraja),

Sallessorang Belung-Belung Dio Manhattan (Bahasa Mandar).

Saya masih berharap bisa menemukan buku Seribu Kunang-Kunang di Manhattan versi asli, kalau tidak salah dari penerbit Grafiti…hmm..perburuan belum selesai..

Post to Twitter Tweet This Post

Makna Kehilangan

Saat berkemas menjelang kepulangan, saya sengaja tak memasukkan buku The Beatles Anthology di dalam tas besar yang akan masuk ke bagasi pesawat. Saya lebih memilih memasukkannya ke dalam tas ransel berwarna abu-abu bertuliskan Djarum, sebuah tas yang dimiliki oleh setiap penerima beasiswa Djarum Bakti Pendidikan. 

Perjalanan dimulai. Perjuangan terasa tiap kali transit di bandara untuk ganti pesawat. Tas ransel yang berat setia berada di punggung, menemani saya saat berlari melewati gate demi gate, menuju gate yang sesuai dengan yang tertera di boarding pass. Ukuran buku itu 34 kali 25 cm dengan tebal 368 halaman, membuat saya bisa merasakan buku itu menekan-nekan punggung saat saya berlari, plus membuat ransel jadi terasa membebani bahu. Tapi tak apa, atas nama cinta.

Perasaan saya mengatakan akan susah menemukan buku itu di Indonesia, jadi saat saya melihat buku itu di salah satu supermarket di Cleveland, saya langsung membelinya. Harganya 10 dolar saat itu. Jauh lebih murah daripada dua buku tentang U2 yang saya beli di Rock and Roll Hall of Fame, Cleveland. Dua buku tentang U2 itu sukses menguras tabungan saya.

Empat tahun sudah buku The Beatles Anthology setia menemani saya. Saat beberapa waktu lalu buku itu hilang, rasanya tak rela. Ada banyak cerita saya bersama buku itu. Ada perjuangan yang saya lakukan untuk mendapatkannya, untuk memilikinya.

Tapi akhirnya saya mengerti, kehilangan buku The Beatkes Anthology membuat saya kembali harus melihat ke dalam, tak sekedar mengumbar kemarahan. Mungkin saya tidak bisa memperlakukan buku itu dengan baik. Mungkin, saya belum membacanya dengan benar. Mungkin, saya belum memahami isi buku itu dengan mendalam, tak sekedar membaca huruf demi hurufnya.

Setiap orang pasti mengalami kehilangan, itu hal yang wajar. Persoalannya tinggal bagaimana cara memberi makna pada kehilangan itu. Sekarang, saya memilih membiarkan buku itu melakukan perjalanannya. Semoga dia baik-baik saja. Saya berharap pemilik barunya bisa merawatnya dengan baik, lebih baik daripada saya.

Dalam hitungan hari, buku The Beatles Anthology yang baru akan segera hadir. Benar, buku itu memang tak memiliki kenangan yang sama dengan yang saya ukir bersama buku sebelumnya. Tapi, kenangan memang letaknya di belakang bukan?

Yesterday is history, tomorrow is mystery, and today is gift. That’s why it’s called “the present”.

Gede Prama mengutip kalimat ini dalam tulisannya berjudul “Damai Dalam Setiap Langkah” yang pernah dimuat di Kompas. Kutipan yang sama muncul juga dalam salah satu dialog di film Kung Fu Panda.

Seperti itulah saya ingin memaknai kehilangan saya kali ini. Buku lama hilang, waktunya bagi saya untuk lebih memperhatikan buku-buku lain yang ada di kamar saat ini, menjaganya baik-baik supaya tak ada yang hilang lagi.

Buku baru akan segera datang, maka saya bersiap pula untuk menggores cerita baru bersamanya.

Akhirnya, kehilangan ini membawa saya pulang pada satu kata, “bersyukur”. Tetap berupaya memandang sisi terangnya…  

Post to Twitter Tweet This Post

Hari Terakhir

Tenang saja bunda,

tidak ada yang berubah..

karena kita anak-anak muda yang pantang menyerah.

Kamu…

Aku…

Kita…

Tidak ada masalah dengan hari terakhir ini…
*thanks, Dear

Post to Twitter Tweet This Post

WordPress Themes