Kemarin, saya temukan seribu kunang-kunang di Merbabu.
Misi utama sebenarnya mengantar si bungsu beli buku pelajaran. Sejak dulu, mama membiasakan saya dan adik-adik saya untuk beli buku di kios buku belakang Stadion Sriwedari Solo. Kami biasa menyebut tempat itu “BU SRI”. Mburi Sriwedari. Belakang Sriwedari.
Cukup lama saya tak datang ke sana. Ramainya masih seperti dulu. Awal tahun ajaran baru membuat Bu Sri terlihat penuh kemarin. Orang tua datang bersama anaknya. Sang anak terlihat erat menggenggam selembar atau dua lembar kertas. Itulah daftar buku pelajaran yang dipakai di sekolah selama setahun ke depan.
Parkir motor penuh. Tukang parkir berbaju kuning sibuk berlari kesana kemari. Motor berjajar di depan kios-kios yang berderet rapi. Mobil-mobil diparkir di seberang jalan. Di atas gerbang belakang stadion Sriwedari, ada spanduk bertuliskan “Wisata Ilmu-Kios Buku BU-SRI”.
Di BU-SRI ada buku bekas, ada pula buku baru. Harga buku baru terpaut cukup lumayan dengan harga di toko buku, asal kita pandai menawarnya. Selain buku pelajaran, ada juga novel dan majalah. Kalau beruntung, bisa bertemu buku-buku langka.
Setelah si bungsu mendapatkan buku yang dia perlukan, saya ajak dia berburu Seribu Kunang-Kunang di Manhattan.
“Wonten bukune Umar Kayam, Pak?”
“Mboten, Mbak”
“Wonten bukune Umar Kayam, Bu?”
“Umar Kayam? Sinten niku, Mbak?”
Belasan kios kami lewati. Pertanyaan yang nyaris sama selalu terucap dari mulut. Tanpa hasil.
Kami hampir tiba di ujung, kios buku tinggal beberapa.
“Wonten bukune Umar Kayam, Pak?”
Seorang pria setengah baya sedang sibuk menata buku-buku di rak depan kiosnya. Rupanya dia baru akan buka. Mendengar pertanyaan itu, aktivitasnya terhenti. Dia seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.
“Judul bukune nopo, Mbak?”
“Seribu Kunang-Kunang di Manhattan.”
“Kadose wonten mbak. Nenggo sekedap kerso? Kulo pendet riyin wonten kios sing setunggale.”
“Tebih, Pak?”
“Caket kok, Mbak.”
Dia bergegas. Lima menit. Sepuluh menit. Saya melihatnya datang tergopoh-gopoh membawa buku bersampul biru.
“Sing niki, mbak?”
“Injih, Pak. Pinten niki?”
“Gangsal welas.”
Saya membuka buku itu. Melihatnya sekilas dari halaman 1 hingga 146. Masih bagus. Lima belas ribu sebenarnya sudah terbilang murah. Tapi saya ingin mencoba menawarnya, siapa tahu berhasil. Saya pasang muka “sok tidak butuh buku (padahal pengen)” itu. Perjuangan dimulai.
“Mbok regine dikirangi to Pak..”
“Dikirangi pinten nggih mbak..Pun, kalih welas mawon..”
“Kalih welas?”
Saya buka lagi buku itu. Diam agak lama.
“Sedoso mawon nggih Pak..”
“Sedoso? Nggih pun lah mbak..”
Dua lembar limaribuan saya ulurkan padanya.
Saya berusaha mengingat letak kios ini, siapa tahu besok-besok saya kembali padanya untuk berburu Sapardi. Mendongak ke atas, mata saya tertumbuk pada sederet tulisan. “Kios Merbabu”.
Saya temukan seribu kunang-kunang di Merbabu