Sederhana

Kami memulai perjalanan untuk mengeja kedamaian-kedamaian sederhana. Sederhana, karena kami memang tidak bisa muluk-muluk. Sejujurnya, sederhana juga merupakan kata kunci kenapa kami saling mengagumi.
Perkenalan yang sederhana. Obrolan yang sederhana, tapi kemudian menjadi tidak biasa. Berbagai persamaan remeh temeh yang muncul satu persatu tanpa sengaja seolah menjadi kejutan manis yang kami dapat tiap harinya. Sama-sama kuliah sambil kerja. Pernah merasakan dinginnya salju. Suka baca buku. Hobi nonton film. Penonton setia American Idol dan Nanny 911. Suka lagu Beatles, Bryan Adams, dan lagu tahun delapanpuluhan. Takut makan sambal. Plus, sama-sama tak bisa berenang.
Keras hidup menempanya menjadi pria rendah hati, dan sungguh, saya menyukainya. Status sama-sama sebagai anak sulung juga telah mendekatkan kami. Beban bisa dibagi, motivasi bisa didapat. Ya, dia memang motivator ulung. Protes-protesnya kadang terasa menjengkelkan karena begitu sering diulang. Tapi akhirnya saya paham, dia ingin saya lebih berkembang dan banyak belajar bermacam hal. Proses berkembang dan belajar ini tak saya jalani sendirian, dia setia mendampingi dalam berbagai keadaan. “Sederhana” dalam hubungan kami telah menimbulkan rasa nyaman.
Pernahkah kami berselisih paham? Sering. Meskipun kepala kami sama kerasnya, tapi kami juga bisa saling mengalah. Beradu argumen sudah jadi hal biasa. Tak mudah memang untuk melakukan kompromi, tapi kami sepakat untuk terus belajar saling mengerti. Di sisi lain, tetap ada hal-hal yang kami biarkan melekat pada diri masing-masing tanpa perlu dipaksa untuk “disamakan”. Kami memang berbeda, itu sudah pasti. Terutama soal selera. Contoh paling gampang, dia suka naik gunung, sedangkan saya lebih suka bermalasan di rumah menikmati hidup (versi saya) :baca buku sambil tiduran plus sesekali menyeruput kopi atau cokelat hangat ditemani permainan gitar Jubing atau Tohpati.
Meski kami berbeda, kami punya mimpi yang sejalan tentang seperti apa kami ingin membangun keluarga, termasuk bagaimana cara mendidik anak-anak nantinya. Itulah yang membuat kami yakin tak ada lagi yang perlu ditunggu untuk menuju jenjang pernikahan. Kami merasa lengkap. Merasa genap untuk menjadi sebuah tim yang bisa bekerjasama.
Faktanya, kami adalah dua manusia yang hidup ditemani deadline. Dia cuma dapat cuti dua hari, Kamis dan Jumat, 21 dan 22 Agustus 2008. Jumat pagi akad, Jumat petang kami sudah dalam perjalanan menuju Surabaya. Sabtu sore lanjut meluncur ke Malang. Sabtu malam dia sudah mampir kantor untuk persiapan event Minggu pagi. Semua atas nama masa depan. Kami menjalani kesibukan, keruwetan, keriuhan, atau apapun itu namanya dengan tertawa saja. Demi Aulia, demi Jihan.
Kami percaya, suatu hari, kami bisa berada di kota yang sama, di rumah yang sama. Menyambut pagi dengan sholat Subuh berjamaah, jalan-jalan di sekitar rumah, ataupun olahraga ringan di lapangan bulutangkis sebelah rumah. Minum teh bersama setiap pagi. Nonton Bayu Sutiyono dan Sinden Gosip di TV. Mengisi TTS di Kompas Minggu, membaca buku di perpustakaan kecil kami. Siapapun yang lebih dulu sampai di rumah setelah pulang bekerja, punya tugas membuat teh untuk yang datang belakangan. Ya, kami percaya kami tak akan tinggal berjauhan. Kami sedang memperjuangkannya.
Hal-hal lain pun telah menunggu direalisasikan. Jalan-jalan ke Bromo dan Semeru. Datang ke museum Ullen Sentalu. Menikmati Festival Malang Kembali, dan lain-lain. Begitu banyaknya, dia merasa perlu beberapa kali berkata, “Buka drive E, bikin folder baru, lalu tulis semua hal yang ingin kita lakukan…”
Persamaan dan perbedaan telah menyatukan kami. Dulu, 12 sentimeter perbedaan tinggi badan di antara kami pun sempat jadi perkara.
“Aku lelah harus mendongak terus tiap bicara denganmu,” keluh saya waktu itu.
Jawaban yang saya terima tak bisa saya lupa hingga hari ini.
“Kamu boleh berjinjit di atas kakiku, maka kamu akan berdiri di ketinggian yang sama denganku.”
Begitulah, 12 sentimeter itu kini tak jadi masalah lagi…