Menanti Lintang, Menanti Pria Cemara Angin

Dari semua kehebohan tentang film Laskar Pelangi, Lintang adalah tokoh yang paling saya tunggu kemunculannya. Sebutlah saya gombal, tapi sepertinya saya terpikat padanya sejak pembacaan pertama :) Saya menyukai kepintarannya. Saya menyukai kerja kerasnya. Demi pergi ke sekolah, dia rela naik sepeda berkilo-kilo meter jauhnya. Sekali waktu, dia terlambat datang ke sekolah gara-gara harus menunggu buaya yang lewat di jalan dekat rawa.

Dari semua hal tentang Lintang, putus sekolah adalah bagian yang paling tidak bisa saya terima. Anak sepintar itu dipaksa menyerah pada nasib. Tapi, di Indonesia Raya ini banyak anak kecil bernasib mirip Lintang. Kemarin saya baca artikel di Kompas tentang anak-anak yang terpental dari bangku sekolah dengan alasan biaya. Macam-macam biaya. Beli buku, beli seragam, beli sepatu, dan lain sebagainya. Demi alasan biaya pula, banyak anak kecil yang terpaksa sekolah sambil bekerja.

Iwan Fals mencontohkan dengan miris dalam salah satu lagunya, Sore Tugu Pancoran. Tentang si Budi kecil yang kuyup menggigil menahan dingin tanpa jas hujan di simpang jalan Tugu Pancoran demi menjajakan koran. Lalu saat pagi menjelang, si Budi gelagapan karena baru menyelesaikan setengah dari tugas sekolahnya. Iwan Fals lantas bertanya, “sanggupkan si Budi diam di dua sisi?”

Kalau saya ditanya seperti itu, jawaban saya adalah “sanggup, tapi tidak mudah.” Sekolah sambil bekerja bukan sebuah hal yang enteng dilaksanakan. Saat badan sudah lelah bekerja, masih juga harus membaca materi pelajaran plus mengerjakan tugas. Dulu, saat masih kuliah semester satu, saya pernah tidak ikut kuis mata kuliah Diplomasi dengan alasan yang buat saya agak menjengkelkan. Saya ketiduran sampai siang gara-gara siaran sampai tengah malam. Begitu bangun, hp saya dihiasi missed call dan sms berbunyi, “kamu dimana, kuisnya udah mulai!”

Membaca tentang Lintang dan mendengar tentang Budi, membuat saya bersyukur bahwa saya bisa bertahan sejauh ini. Entah apa jadinya bila dulu tak kuliah sambil bekerja plus tak ada beasiswa. Entah apa jadinya…

Kesedihan saya saat membaca nasib Lintang makin terasa ketika Andrea Hirata menggambarkan tentang ayah Lintang. “Pria Cemara Angin”, kalau tidak salah itulah kalimat yang dipakai Andreas Hirata untuk menyebut ayah Lintang. Dialah ayah yang senang punya anak pintar sekaligus ayah yang sedih karena memikirkan anaknya terancam tak bisa melanjutkan sekolah.

Saya ingat, dalam Kick Andy edisi film Laskar Pelangi, Andy F. Noya bertanya pada si pemeran Lintang, “Mau seperti Lintang?”. Sang aktor menjawab tegas, “Nggak mau.” Mau pintarnya, tapi tak mau putus sekolahnya, itu maksudnya.

Bicara tentang Lintang membuat saya ingat pada seorang sahabat. Dulu, menjelang kepindahannya dari Jogja ke Jakarta, saya menulis tentangnya. Lintang, muncul pada paragraf terakhir di sana.

Untuk Ali

Tinggal menunggu waktu sebelum kamu pergi. Aku bangga, temanku bisa menggapai mimpinya. Kamu bilang, kalau boleh pilih, kamu pilih Bank Indonesia daripada Deplu. Tapi Ali, Tuhan sudah menunjukkan jalan padamu, dan kamu hanya perlu menjalaninya.

Aku rasa kelas kita akan segera sepi jika nanti sekolah diplomatmu dimulai. Tidak akan ada lagi yang protes padaku jika aku belum selesai mempelajati sebuah bahan bacaan. Tidak ada lagi yang akan berkata padaku, “As, kamu ngerti ini nggak? Jelasin dong, kamu kan anak HI..”

Tidak akan ada pula jawaban putus asaku itu, “Aku nggak se-HI itu, Li..”

Tidak akan ada yang berani mendebat dosen dengan nada penuh keyakinan dan bersemangat. Juga tidak akan ada lagi yang mengajakku bermain bulutangkis tiap Minggu malam dan protes tiap aku minta waktu sebentar untuk membalas SMS di pinggir lapangan. Tidak akan ada lagi..

Ironis ya, sejak kecil aku begitu memimpikan posisi yang kini kamu capai. Aku memperjuangkannya sejak SMA, pakai acara menentang pilihan orang tua, pakai acara hidup mandiri di Jogja. Demi HI, demi cita-cita.

Apa aku menyesal dengan perjuanganku? Tidak, sama sekali tidak. Walaupun harus kuakui, terhenti pada kata “nyaris” itu sangat menyakitkan. Ya, sangat menyakitkan. Tapi aku percaya, Tuhan Yang Maha Baik sudah mengaturnya. Mulai dari grand design sampai detail-detailnya. Tuhan mungkin ingin berkata, “Sampai di sini saja, Astri. Ada jalan lain yang harus kamu tempuh..”

Kamu tahu Li, aku malu. Malu pada semangatmu yang bergelora. Kamu anak Hukum yang jatuh cinta pada HI.

“Aku tuh dari dulu pengen kuliah di HI, tapi nggak kesampaian As. Baru sekarang bisa. Makanya aku nggak mau main-main…”

Itu katamu di awal masa kuliah kita beberapa bulan lalu. Dan kamu membuktikannya. Dua buku Pak Mohtar Mas’oed kamu lahap dalam beberapa malam saja. Suplemen bacaanmu pun beraneka ragam. Mulai buku-buku hukum sampai pengetahuan mendalam tentang kemampuan diplomasi Haji Agus Salim dan Muhammad Roem.

Jadi Ali, kamu memang pantas untuk semua ini. Aku rasa, Deplu baru saja mendapatkan sebuah aset yang berharga. Semoga, kamu bisa menjadi diplomat yang tak semata terikat pada berbagai aturan protokoler. Semoga, nurani dan sikap kritismu tetap terjaga.

Kamulah Lintang dalam kelas kami, dengan kecerdasan di atas rata-rata dan perjuangan tiada tara. Namun, kamu punya perbedaan besar dengan tokoh dalam Laskar Pelangi itu, nasibmu dinaungi fortuna. Sekolah tidak terputus, tidak perlu naik sepeda ke kampus, dan tak perlu bertemu buaya di dekat rawa..               

 

Post to Twitter Tweet This Post

Kartu Pos Bergambar

 

Setelah membaca cerpen “Kartu Pos dari Surga” karya Agus Noor di Kompas Minggu 21 September 2008, saya jadi teringat pada beberapa kartu pos yang saya terima, saya kirim, atau sekedar dikoleksi. Kita lupakan sejenak kartu pos polos warna oranye, karena sejak kecil dulu saya terlalu sering kirim jawaban kuis pakai kartu pos jenis itu. 
 

Dalam cerpen “Kartu Pos dari Surga”, Agus Noor menunjukkan bagaimana kartu pos bisa menjadi pemompa semangat sekaligus penabur perih, buat penerima ataupun pengirimnya. Pengalaman saya menunjukkan hal itu memang benar. Beberapa kartu pos menaikkan gairah hidup, dan beberapa lainnya menyimpan luka yang kadang muncul malu-malu diantara gambar dan kata-kata.
 

Gara-gara gambar indah di kartu pos, saya jadi penasaran seperti apa kota Vienna alias Wina. Salah satu dosen saya, mbak Diah Kusuma, orang-orang memanggilnya “Dikei”, pernah ke Wina. Saya kagum pada caranya memberikan semangat bagi mahasiswa-mahasiswinya. Mudah saja, Mbak Dikei mengirim kartu pos bergambar kota Wina kepada kami, dengan beberapa baris kalimat di baliknya.


 

“Hi Astri, Vienna jauh lebih cantik dari fotonya lho….make sure that you make efforts to visit this wonderful city one day. Love, Diahkei.” 

Inilah salah satu kartu pos favorit saya, sampai hari ini. Keingintahuan saya pada Wina makin menyala saat teman saya, seorang pejalan jauh, memberi judul salah satu tulisannya “Wina dan Sepucuk Sajak Lorca.” Judul yang terasa romantis untuk sebuah tulisan tentang Piala Dunia sepakbola. Hey, saya jadi ingat! Sepertinya kawan saya itu juga senang berkirim kartu pos. Dalam profil blognya (yang sudah almarhum), kalau tidak salah dia pernah menulis hobinya adalah jalan-jalan sambil sesekali mengirim kartu pos.
 

Mungkin memang begitu caranya menandai perjalanan. Berkirim kartu pos dari tempat yang didatangi sekaligus punya arti untuk disimpan dalam kenangan. Lantas, si penerima akan mencoba membuat penafsiran atas gambar di bagian depan dan kalimat sang pengirim di bagian belakang. Saya tak tahu apakah Sapardi Djoko Damono berada dalam status sebagai pengirim ataukah penerima Kartu Pos Bergambar Jembatan Golden Gate San Fransisco. Buat saya, seperti ada kepedihan yang terpendam dalam larik-larik puisinya, walau beberapa kata tak saya tahu maknanya. 

“kabut yang likang 
dan kabut yang pupuh 
lekat dan gerimis pada tiang-tiang jembatan 
matahari menggeliat dan kembali gugur 
tak lagi di langit berpusing 
di perih lautan” 

Seperti apa ya gambar Jembatan Golden Gate San Francisco jika dipasang di kartu pos? Saya kadang bertanya-tanya, bagaimana cara memilih gambar yang tepat untuk sebuah kartu pos agar tak terasa biasa-biasa saja?

 

Kalau suatu hari saya bertemu atau kirim e-mail ke Agus Leonardus, akan saya tanyakan padanya. Semoga saya tak lupa. Jika Gede Prama menandai setiap tulisannya dengan kalimat penutup “Gede Prama, bekerja di Jakarta, tinggal di desa Tajun, Bali Utara”, maka Agus Leonardus punya cara tak jauh berbeda. Di salah satu sudut kartu pos yang memajang foto karyanya, berderet rapi alamat e-mailnya. Kartu pos ini mudah ditemui di toko buku atau hotel di Jogja. Tak semata menjual keindahan pemandangan, tapi ada pula tema tentang manusia yang menyentuh.  Kartu pos berjudul “Going Home”, “Happy  Old Javanese Couple” dan “It is Hard to be A Man” menjadi favorit saya.  
****

Sudah lama saya tak mengirim kartu pos. Setahun terahir, seingat saya hanya dua kartu pos yang membuat saya terhenyak lama menyusun kalimat sebelum menuliskannya di balik kartu pos. Hanya dua kartu pos itu pula yang terkirim.  

Post to Twitter Tweet This Post

WordPress Themes