Before Dawn:The Poetry of Sapardi Djoko Damono


“Aku beli bukunya Sapardi. Judulnya Before Dawn. It’s so you, isn’t it?” Ingatanku melayang pada sms itu saat kuterima kejutan manis pagi ini, sebuah paket di meja kerja. Before Dawn karya Sapardi, kumpulan puisinya dalam bahasa Inggris.

Seharian ini aku sibuk mengelus sampulnya, membaca-baca isinya. Dengan ketakjuban, tentu saja…

ps : terimakasih banyak ya… :)

Post to Twitter Tweet This Post

Gerimis

 

“Aku selalu suka hujan gerimis,” itu katamu suatu ketika saat hari hujan, sambil kita berdiri di samping jendela besar. Aku suka pemandangan ini. Padang rumput terlihat makin hijau di samping pondok kayu, dan aku yakin pinus-pinus di kejauhan pasti sudah basah.

“Aku suka gerimis. Gerimis saja. Bukan deras, tak pula disertai angin kencang dan pohon tumbang,” kau ulang lagi pernyataanmu sambil mendekap mug dengan kedua telapak tanganmu.

Aku tersenyum mendengar kalimatmu itu, karena seingatku aku tak pernah sedetail itu membuat pemisahan jenis hujan seperti apa yang kusuka. Mungkin tragedi angin kencang yang beberapa waktu lalu datang membuatku perlu melakukan kategorisasi hujan yang bisa dinikmati berdasarkan faktor keselamatan.

“Kenapa suka gerimis?” tanyaku dengan bibir yang masih sibuk mengecap cokelat hangat.
Kamu meletakkan mug di pinggir jendela, lalu memandangku tepat di bola mata.

“Aulia, gerimis akan membawamu pada nuansa magis. Sendiri, tapi terasa manis.”

“Oya?” tanyaku menggoda.

“Gerimis itu seperti menulis, Aulia. Indah, nyaman, menyenangkan. Saking terbuainya, kau bermimpi ingin membagi momen itu dengan seseorang. Tapi pada akhirnya kau sadar, gerimis dan menulis itu sebenarnya sesuatu yang sangat personal.”

Aku tertegun. Sesuatu yang sangat personal….

Petikan gitar Once Upon A Rainy Day menemani pikiranku yang mengawang…

 

*Pak Jubing, Once Upon A Rainy Day karya Anda indah sekali :)

Post to Twitter Tweet This Post

Perjalanan Besar

Pergi haji adalah sebuah perjalanan besar. Besar biayanya, besar persiapannya, besar kesabarannya, besar pula pelajarannya. Kompas hari Kamis 6 November 2008 menyebutnya sebagai “bukan perjalanan biasa”. Inilah ibadah yang untuk bisa melaksanakannya perlu perjuangan besar. Bertahun-tahun menabung (bisa juga menjual tanah atau sawah), dibumbui rebutan kuota, “dipermanis” pula dengan kesabaran luar biasa.

Cuaca dingin, pemondokan jauh, dan faktor usia jemaah. Itulah yang disorot dalam artikel Kompas. Artikel itu juga yang membuat saya jadi ingat kalimat Ibu saya, Sebelum mati, aku ingin ibadah haji.” Yang langsung terlintas di kepala saya adalah bagaimana jika dia nanti kebingungan di sana. Bagaimana pula bila dia lapar tapi jatah makan terlambat diberikan seperti yang terjadi beberapa tahun lalu? Lantas bagaimana jika dia kelelahan berjalan, padahal kakinya sering kram jika lelah tak tertahan. Siapa yang akan mengoleskan Counterpain atau balsam di betisnya…

Datangnya musim haji menyegarkan lagi kekaguman saya pada film Le Grand Voyage, film tak terlupakan tentang perjalanan naik haji yang dilakukan seorang ayah yang minta diantar anak lelakinya, lewat jalan darat. Melewati kota demi kota, mengandalkan peta.

Perjalanan itu menjadi “besar” karena jembatan pengertian di antara dua generasi ini coba dibangun. Konflik demi konfliknya terasa menggugah, tentu saja tanpa melupakan cinta ayah pada anaknya. Sedangkan cinta sang anak pada ayahnya terasa pilu karena kental dengan rasa sesal saat dia menemukan ayahnya sudah tak bernyawa di tengah ibadah hajinya..

Yang saya tahu, semua yang pergi menunaikan ibadah haji tentu punya harapan yang indah. Menjadi haji yang mabrur.

Sedangkan untuk keluarga di kampung halaman, harapan itu ditambah satu doa besar tentang keselamatan. Mereka tahu benar, melepas anggota keluarga yang hendak pergi haji butuh keikhlasan, karena belum tentu yang pergi akan kembali pulang.

Post to Twitter Tweet This Post

Tentang Aulia

 

Tadi siang saya berjumpa lagi dengan Aulia setelah beberapa waktu lalu bertemu dengannya dalam sebuah seleksi. Tak cuma berjumpa, tadi kami duduk bersebelahan, berbagi cerita dan tawa sebelum pengawas tes datang.

Dia masih Aulia yang dulu saya kenal. Hangat, banyak teman, cerdas, aktif, cantik :) Dia tahu benar bagaimana membuat obrolan menjadi hidup. Gerakan matanya lincah mengikuti naik turun intonasi suaranya. Bahasa Inggrisnya fasih sekali, lidah Jawanya entah sudah hilang kemana :)

Saya pertama kali mengenalnya beberapa tahun lalu di komunitas Liaison Officer Sabayatsa,di Jogja. Jujur, saya mengaguminya sejak perbincangan pertama :) Kini, dia menjelma menjadi ibu muda dengan anak lelaki yang sedang lucu-lucunya, dan saya makin terpesona padanya. Telah pula saya katakan padanya, saya ingin memberikan nama yang sama dengannya untuk anak saya nantinya. Aulia..

3 November 2008 

 

Post to Twitter Tweet This Post

Jogja Jam Setengah Tiga Pagi

Stasiun Tugu cantik sekali, dan jalanan begitu sepi. Dari jendela taksi, kunikmati Jogja jam setengah tiga pagi…  

 

Post to Twitter Tweet This Post

WordPress Themes