Perjalananmu Akan Baik-Baik Saja

Perjalananmu akan baik-baik saja. Seburuk apapun jalannya, separah apapun keadaannya, nikmati saja. Setiap orang punya alasan untuk melakukan perjalanan. Ke pantai, ke gunung, ke lain kota, atau pun ke dalam diri. Selalu ada alasan untuk itu, dan tak seorang pun berhak menghakimi pilihan perjalanan yang ingin dilakukan seseorang. Tidak seorang ibu, suami, pacar, bos, psikolog, atau bahkan trainer outbondmu.

Itu sebabnya, aku tak pernah menahan langkah siapa saja untuk berjalan ke mana saja. Seperti halnya aku, yang tak mau langkahku dibatasi atas nama penghakiman orang lain. Biar saja mereka bilang jalanmu berbahaya, biar saja dikatakan terkenang-kenang pada zona nyaman dan tak mau berkembang, tak apa juga disebut gila karena menantang bahaya.

Cuma kita yang paling tahu kenapa kita ingin melakukan sebuah perjalanan, sehingga tak ada alasan bagi orang lain untuk sok tahu dan kecewa saat kita jawab pertanyaan “kenapa” dengan kalimat “personal reason..”. Artinya, sampai batas itu saja dia boleh bertanya-tanya, tidak lebih.   

Perjalananmu akan baik-baik saja, karena kau sudah mengerahkan segenap kemampuanmu untuk melakukan perjalanan ini. Bahkan jika Tuhan menghendaki sesuatu di luar rencanamu terjadi, kamu tetap baik-baik saja, karena setidaknya kamu sedang dalam upaya melakukan apa yang kamu mau, sesuatu yang membuatmu merasa “hidup”, sesuatu yang sangat kamu suka. Atau bahkan, kamu melakukan perjalanan ini untuk mencari atau menaklukkan sesuatu. Tak masalah, tak perlu pikirkan “apa kata orang”.

Perjalananmu akan baik-baik saja..

Oya, akan kukatakan satu hal padamu. Kukutip ini dari kalimat seorang temanku.

“Pulang juga sebuah perjalanan..”

Menurutku, bisa jadi itulah perjalanan yang terberat dan terbesar… 

 

Post to Twitter Tweet This Post

Lelah

Aku mulai lelah dengan urusan firasat ini. Untuk gampangnya, baca sajalah cerpen “Firasat” di Rectoverso karya Dee. Seperti itulah rasanya. Entah apakah Dee juga bisa merasakan hal seperti itu. Aku rasa, dia bisa.

Iya, alam memang berbahasa, ada makna di balik semua pertanda. Tapi ini mulai melelahkan. Seolah aku mesti bersiap dengan “serangan” mendadak, jantung berdebar tidak karuan…bertanya-tanya apa lagi yang akan terjadi setelah ini. Bunyi sms dan telfon jadi terasa menakutkan. Aku takut berita buruk datang.

Aku lelah. Lebih tepatnya, tersiksa. Aku seolah diberitahu ada sesuatu akan terjadi, tapi aku tak tahu apa, dan pada siapa. Tentu saja aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku mencoba mengerti, Tuhan mungkin ingin aku bersiap diri untuk hal-hal “hebat” yang mungkin terjadi. Menyiapkan hati…

Menerima. Berdamai dengan itu semua. Cuma itu yang kubisa…

Post to Twitter Tweet This Post

Hari Pertama (bagian dua : LONTAR)

Buku Before Dawn-ku perlu ditukarkan di Lontar, karena ada kurang lebih sepuluh halamannya yang hilang. Sebelum ke sana, tentu saja aku telfon dulu, memastikan apa bisa aku mendapatkan buku pengganti. Setelah mereka bilang “bisa mbak…ke sini aja, bawa bukti pembeliannya”,  semangatku bangkit dengan segera.

Ternyata, lokasi Lontar minta ampun tidak strategisnya :) Tapi begitu masuk ke dalamnya, dijamin jatuh cinta, apalagi saat masuk ke perpustakaannya di lantai dua. Saat aku datang dan mengatakan pada front office tentang tujuanku untuk menukar buku, dia memanggil mbak Inna, yang kemudian mengajakku masuk ke semacam ruang yang memajang buku-buku terbitan Lontar. Before Dawn-ku yang sudah bersampul plastik itu, segera berpindah tangan. Sebagai gantinya, Mbak Inna mengulurkan buku Before Dawn lain, tentu saja tak bersampul plastik, dengan jumlah halaman yang lengkap :)

Sambil ngobrol dengan Mbak Inna, mataku menangkap kehadiran Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari yang telah beralih bahasa menjadi The Dancer. Tebal, karena buku Lintang Kemukus Dini Hari dan Jantera Bianglala ikut pula diterjemahkan ke bahasa Inggris dan disatukan dengan Ronggeng Dukuh Paruk. Di Solo, novel Ronggeng Dukuh Paruk milikku sedang jadi bacaan adik bungsuku demi tugas Bahasa Indonesia di sekolahnya. Dia bilang, guru Bahasa Indonesianya, yang juga guru Bahasa Indonesiaku dulu, meminta siswa berkelompok lalu berdiskusi tentang karya sastra Indonesia. Beberapa buku yang mereka bahas diantaranya Ronggeng Dukuh Paruk, Khotbah di Atas Bukit, dan Robohnya Surau Kami. Kebetulan, aku punya tiga buku itu. Alhamdulillah :)

Kembali tentang The Dancer, iseng aku menanyakan harganya. Jawaban Mbak Inna sungguh di luar dugaan. “Seratus lima puluh ribu, tapi ini lagi diskon, jadinya lima puluh ribu.”
Glek! Seingatku aku sempat menelan ludah ketika mendengar angka setelah diskon itu. Godaan iman. Godaan iman. Godaan iman… Bahaya. Bahaya. Bahaya…..Tapi…… Pengen! Pengen! Pengen!

Selang beberapa waktu, ingatan akan isi dompetku dan hari-hari yang masih panjang di depan membuatku meletakkan lagi The Dancer di tempatnya, diakhiri elusan tanganku di sampulnya. Simbol kalimat “Tunggu aku.  Segera, kau jadi milikku…”  :)

Entah untuk menghiburku atau tidak, mbak Inna bilang di lantai dua ada perpustakaan, siapa tahu aku ingin ke sana. Tawarannya kuterima. Saat hendak masuk ke perpustakaan, seorang pria, yang kemudian kutahu bernama Pak Teguh, membantuku membuka pintu perpustakaan  dari dalam ruangan. Pintu kayu dengan kaca di bagian tengahnya itu agak susah dibuka dari luar.

Seorang wanita berjilbab putih dan vest warna pink sedang sibuk menghadap komputer di sebuah meja. Dia menyapaku, lantas kami berkenalan. Aku dan Mbak Anik kemudian asyik berbincang tentang buku-buku terbitan Lontar, tentang saudaranya yang ikut tes di Deplu (dan tak diterima juga seperti aku), serta tentang empat volume film produksi Lontar mengenai sastrawan-sastrawan Indonesia.

Aku datang dalam pemutaran salah satu episode film ini di Solo. Tokoh dalam film ini siapa lagi kalau bukan Eyang Sapardi. Setelah acara itu, aku sempat berkomunikasi dengan Pak Tonny Trimarsanto, sutradara film itu, tentang dimana tempat membeli vcd/dvdnya. Keterangan Pak Tonny sama dengan keterangan Mbak Anik, vcd dan dvd bisa dibeli di Lontar. Empat volume film ini tak harus dibeli seluruhnya, beli salah satu volumenya pun boleh.

Episode Sapardi Djoko Damono dan Ahmad Tohari ada di volume empat, siapa tahu ada yang berminat. Harga tiap volumenya kalau tidak salah 75 ribu (vcd) dan 150 ribu (dvd). Selain vcd dan DVD, masing-masing volume dilengkapi pula dengan booklet berisi informasi tentang  tiap sastrawan dan transkrip dialog film.

Selesai ngobrol tentang film, mbak Anik membiarkanku menikmati buku-buku di rak. Bukunya lengkap. Banyak judul, bahkan berbundel-bundel edisi tahunan majalan Horison pun ada. Byuuuuhhh…..

Malam ini, aku bercerita via sms pada seorang teman tentang kedatanganku ke Lontar tadi siang. “Marai ora pengen mulih,” itu kataku padanya tentang Lontar. Hasilnya, dia penasaran dan mulai bertanya-tanya lokasinya :D

Kalimat mbak Anik sebelum aku pulang masih juga terngiang.

“Sering-sering saja main ke sini, ada banyak kegiatan kok..”

Tiba-tiba, aku merasa mendapat tempat melepas penat.

NB : Sayang sekali, Sabtu dan Minggu Lontar libur…:(

Post to Twitter Tweet This Post

Hari Pertama (bagian satu)

Mari, kuceritakan padamu hari pertamaku sebagai anak kos di kota baru. Taksaka sampai di Gambir sekitar jam setengah lima pagi. Barang bawaanku (lumayan) banyak. Satu tas ransel buesar warna merah berisi “apa saja”; satu backpack berisi laptop, headset, surat-surat penting, dan buku-buku bahan thesis; satu tas plastik hitam besar berisi pakaian; dan satu tas plastik tak terlalu besar berisi sepatu kets, sepatu hak tinggi, sepatu sol karet, sandal gunung, sandal Edward Forrer butut, dan sandal jepit warna hitam.

Seorang porter membantu mengangkat ransel besar warna merah dan tas plastik hitam berisi pakaian. Backpack dan tas berisi sepatu kubawa sendiri. Sepuluh ribu adalah harga yang kami sepakati untuk jasa angkutnya sampai dengan memasukkan benda-benda itu ke bagasi taksi. Saat pertama kali dia menyandang ransel merah di kedua bahunya, dia nyengir sesaat. “Berat, Pak?” tanyaku sambil tersenyum. “Hehehe..iya mbak.”

Aku rasa dia tak akan sekedar nyengir jika tahu apa saja isi tas ransel yang sedang dipanggulnya itu. Mulai dari magic jar kecil, kipas angin, rol kabel, heater, setrika, mug, piring, pakaian, peralatan mandi, kapas untuk wajah, sampai berbungkus-bungkus Indomie goreng dan Supermi rebus rasa ayam bawang (halah!). Separuh isi kosku di Jogja ada dalam ransel merah itu :p

Aku sudah berhitung hari-hari padat kegiatan yang akan kulalui seminggu ke depan, maka aku ingin mencoba menyamankan diri di kamar kos baruku dengan perlengkapan yang kubawa dari Jogja. Syukurlah semua berguna. Tak sia-sia kubawa. Sampai di kos, jam lima lewat sedikit. Mbak Pur, penjaga kos, masih terkantuk-kantuk saat membuka pintu. (Maaf ya mbak atas serangan fajar kali ini..:D)  Begitu masuk ke kamar, langsung bongkar muatan. Rol kabel ditarik, kipas angin dikeluarkan, magic jar diletakkan, pakaian mulai ditata di almari kayu. Selesai urusan menata kamar, jam 8 pagi berangkat untuk daftar ulang.

Selesai daftar ulang, baru saja melangkah ke luar gerbang, aku mendapat ucapan “selamat datang” yang “sangat berkarakter”. Seorang remaja lari dengan salah satu tangan memegang dompet. Dua satpam mengejar sambil berteriak “copeeeeeeeeeeeeeeeeetttttttttttt…”.

Beberapa polisi di lampu merah taman suropati menghadang. Entah bagaimana nasib remaja itu. Selang beberapa menit, polisi yang tadi ikut menghadang terlihat tergopoh-gopoh berlari ke tengah jalan setelah mendengarkan handy talkie-nya.

“Priiiiiitttttttttttttttttttttt…Priiiiiiiiiiiiiittttttttttttttttt…Priiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitttttttttttttttttt……..”

Suara peluitnya melengking-lengking di udara meminta kendaraan-kendaraan menepi. Suara sirine terdengar di kejauhan. Lantas, rombongan RI 2 melintas di depanku…

Tiba-tiba, aku kangen sekali pada Jogja…

Post to Twitter Tweet This Post

Yogyakarta

Yogya memang membuat banyak orang jatuh cinta dengan hebatnya, dan sepertinya aku mulai tahu apa yang dirasakan Katon saat menulis lagu Yogyakarta. Malam ini,di kereta,lagu itu menemani perjalananku,mengaduk-aduk semua rasa dan kenangan yang terkumpul tujuh tahun ini. Rasanya ngelangut. Ngelangut sekali. Tujuh tahun. Sepertinya baru kemarin. Saking nyamannya tinggal di Jogja,aku bahkan bermimpi suatu hari punya rumah di Jogja untuk menghabiskan hari tua.

Tadi pagi saat duduk di antrian rumah sakit,kuputar lagu ini di hp,membiarkan suara lirihnya mewarnai udara. Seorang bapak yang duduk di sampingku mulai mengangguk-anggukkan kepala sambil ikut bersenandung ‘musisi jalanan mulai beraksi..’
Ah,Jogja.. ijinkanlah aku untuk selalu pulang lagi,bila hati mulai sepi tanpa terobati..

Post to Twitter Tweet This Post

WordPress Themes