Buku Before Dawn-ku perlu ditukarkan di Lontar, karena ada kurang lebih sepuluh halamannya yang hilang. Sebelum ke sana, tentu saja aku telfon dulu, memastikan apa bisa aku mendapatkan buku pengganti. Setelah mereka bilang “bisa mbak…ke sini aja, bawa bukti pembeliannya”, semangatku bangkit dengan segera.
Ternyata, lokasi Lontar minta ampun tidak strategisnya
Tapi begitu masuk ke dalamnya, dijamin jatuh cinta, apalagi saat masuk ke perpustakaannya di lantai dua. Saat aku datang dan mengatakan pada front office tentang tujuanku untuk menukar buku, dia memanggil mbak Inna, yang kemudian mengajakku masuk ke semacam ruang yang memajang buku-buku terbitan Lontar. Before Dawn-ku yang sudah bersampul plastik itu, segera berpindah tangan. Sebagai gantinya, Mbak Inna mengulurkan buku Before Dawn lain, tentu saja tak bersampul plastik, dengan jumlah halaman yang lengkap
Sambil ngobrol dengan Mbak Inna, mataku menangkap kehadiran Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari yang telah beralih bahasa menjadi The Dancer. Tebal, karena buku Lintang Kemukus Dini Hari dan Jantera Bianglala ikut pula diterjemahkan ke bahasa Inggris dan disatukan dengan Ronggeng Dukuh Paruk. Di Solo, novel Ronggeng Dukuh Paruk milikku sedang jadi bacaan adik bungsuku demi tugas Bahasa Indonesia di sekolahnya. Dia bilang, guru Bahasa Indonesianya, yang juga guru Bahasa Indonesiaku dulu, meminta siswa berkelompok lalu berdiskusi tentang karya sastra Indonesia. Beberapa buku yang mereka bahas diantaranya Ronggeng Dukuh Paruk, Khotbah di Atas Bukit, dan Robohnya Surau Kami. Kebetulan, aku punya tiga buku itu. Alhamdulillah
Kembali tentang The Dancer, iseng aku menanyakan harganya. Jawaban Mbak Inna sungguh di luar dugaan. “Seratus lima puluh ribu, tapi ini lagi diskon, jadinya lima puluh ribu.”
Glek! Seingatku aku sempat menelan ludah ketika mendengar angka setelah diskon itu. Godaan iman. Godaan iman. Godaan iman… Bahaya. Bahaya. Bahaya…..Tapi…… Pengen! Pengen! Pengen!
Selang beberapa waktu, ingatan akan isi dompetku dan hari-hari yang masih panjang di depan membuatku meletakkan lagi The Dancer di tempatnya, diakhiri elusan tanganku di sampulnya. Simbol kalimat “Tunggu aku. Segera, kau jadi milikku…”
Entah untuk menghiburku atau tidak, mbak Inna bilang di lantai dua ada perpustakaan, siapa tahu aku ingin ke sana. Tawarannya kuterima. Saat hendak masuk ke perpustakaan, seorang pria, yang kemudian kutahu bernama Pak Teguh, membantuku membuka pintu perpustakaan dari dalam ruangan. Pintu kayu dengan kaca di bagian tengahnya itu agak susah dibuka dari luar.
Seorang wanita berjilbab putih dan vest warna pink sedang sibuk menghadap komputer di sebuah meja. Dia menyapaku, lantas kami berkenalan. Aku dan Mbak Anik kemudian asyik berbincang tentang buku-buku terbitan Lontar, tentang saudaranya yang ikut tes di Deplu (dan tak diterima juga seperti aku), serta tentang empat volume film produksi Lontar mengenai sastrawan-sastrawan Indonesia.
Aku datang dalam pemutaran salah satu episode film ini di Solo. Tokoh dalam film ini siapa lagi kalau bukan Eyang Sapardi. Setelah acara itu, aku sempat berkomunikasi dengan Pak Tonny Trimarsanto, sutradara film itu, tentang dimana tempat membeli vcd/dvdnya. Keterangan Pak Tonny sama dengan keterangan Mbak Anik, vcd dan dvd bisa dibeli di Lontar. Empat volume film ini tak harus dibeli seluruhnya, beli salah satu volumenya pun boleh.
Episode Sapardi Djoko Damono dan Ahmad Tohari ada di volume empat, siapa tahu ada yang berminat. Harga tiap volumenya kalau tidak salah 75 ribu (vcd) dan 150 ribu (dvd). Selain vcd dan DVD, masing-masing volume dilengkapi pula dengan booklet berisi informasi tentang tiap sastrawan dan transkrip dialog film.
Selesai ngobrol tentang film, mbak Anik membiarkanku menikmati buku-buku di rak. Bukunya lengkap. Banyak judul, bahkan berbundel-bundel edisi tahunan majalan Horison pun ada. Byuuuuhhh…..
Malam ini, aku bercerita via sms pada seorang teman tentang kedatanganku ke Lontar tadi siang. “Marai ora pengen mulih,” itu kataku padanya tentang Lontar. Hasilnya, dia penasaran dan mulai bertanya-tanya lokasinya
Kalimat mbak Anik sebelum aku pulang masih juga terngiang.
“Sering-sering saja main ke sini, ada banyak kegiatan kok..”
Tiba-tiba, aku merasa mendapat tempat melepas penat.
NB : Sayang sekali, Sabtu dan Minggu Lontar libur…:(
Tweet This Post