Buku Aulia

Suami saya ingin menggeluti lagi bisnis toko buku online-nya yang sempat mati suri sejak kami “sibuk” menikah dan bekerja :) Silahkan berkunjung ke www.bukuaulia.multiply.com

Kami memberi nama situs itu Buku Aulia karena kami berharap suatu hari Aulia dan Jihan akan membaca buku-buku itu juga. InsyaAllah. Semoga Allah mempercayai kami untuk menjadi orang tua :)

Jangan segan-segan untuk mampir ya. Siapa tahu ada buku yang cocok untuk putra-putri Anda :)

Post to Twitter Tweet This Post

Hujan Baru Saja Selesai di Jakarta

Hujan baru saja selesai di Jakarta. Adzan Isya berkumandang, aku berhenti memainkan gitar. Mama sedang apa ya di rumah? Mungkin dia asyik di dapur, mengerjakan pesanan kue yang terus datang. Sakmadya, itulah prinsip hidupnya yang senantiasa kukenang. Tak pernah berlebihan, termasuk dalam hal mengambil keuntungan.
Hujan baru saja selesai di Jakarta. Entah di Solo. Ternyata, di mana pun aku berada, hujan selalu saja berhasil membawaku pada suasana yang berbeda. Aku masih ingat, menikmati hujan di taman depan atau pun belakang rumah selalu menyenangkan. Aku sering duduk di ruang makan sendirian saat hujan. Memandang taman belakang. Menikmati air menetes-netes dari langit, sembari tanganku mendekap gelas berisi cokelat hangat.
“Sejak kapan suka memandang hujan?” seseorang menanyakan itu padaku.
Aku tidak tahu. Mungkin sejak aku sering melamun. Sejak kapan aku sering melamun? Aku tidak tahu, sepertinya sudah lama. Mungkin sejak aku sering berkhayal hidup macam apa yang ingin kujalani. Keluarga, pekerjaan, senja, buku, kopi, dan sebuah jendela basah.
Jika pulang ke Solo nanti, akan kubeli sebuah kursi kayu panjang, lalu kutempatkan di beranda rumah. Tepat menghadap taman depan. Aku ingin duduk di situ saat hujan datang.

 

Post to Twitter Tweet This Post

Sonet 10

Ada selembar kertas yang belum bertulisan.

Apakah kauharapkan aku ke mari seperti semula,

belum penuh dengan coretan?

Ada yang ingin menulis aksara demi aksara

 

dan tak tahu akan mencapai kalimat meski ada tanda seru di ujungnya.

Tidak semua memerlukan tulisan,

(Apakah aku kaubayangkan selembar kertas itu?)

meski sudah terlanjur tercatat sebelum sempat diucapkan.

 

Air menyeret catatan berkelok-kelok di sepanjang sungai bila penghujan.

Tetapi sama sekali tak terbaca

bahkan ketika sudah begitu rekah-rekah perangai kemarau.

Tinggal garis-garis yang carut-marut di dasarnya.

 

Kau mengharapkanku kembali seperti itu?

Risaukan kita ketika menyadari bahwa tulisan tak perlu, ternyata?

 

-Sapardi Djoko Damono-

 

Post to Twitter Tweet This Post

Sonet 12

Perjalanan kita selama ini ternyata tanpa tanda baca,

tak ada huruf kapital di awalnya.

Yang tak kita ingat aksara apa.

Kita tak pernah yakin apakah titik mesti ada;

tanpa tanda petik, huruf demi huruf berderet rapat-

 

dan setiap kali terlepas, kita pun segera merasa gerah lagi dihimpitnya.

Tanpa pernah bisa membaca ulang dengan cermat

harus terus kita susun kalimat demi kalimat ini-

tanpa perlu merisaukan apakah semua nanti mampat pada sebuah tanda tanya.

 

Tapi bukankah kita sudah mencari jawaban,

sudah tahu apa yang harus kita contreng jika tersedia pilihan?

Dan kemudian memulai lagi merakit alinea demi alinea, menyusun sebuah dongeng?

 

Tapi bukankah tak ada huruf kapital ketika kita bicara?

Bukankah kisah cinta memang tak memerlukan tanda baca?

 

-Sapardi Djoko Damono-

ps : Puisi ini terasa seperti perbincangan dua orang yang membicarakan perjalanan yang pernah mereka lakukan dulu. Perjalanan tanpa masa depan.

 

Post to Twitter Tweet This Post

Sonet 13

Titik-titik hujan belum juga lepas

dari tubir daun itu;

ditunggunya kita lewat.

Kupandang ke atas;

sebutir jatuh di bulu matamu,

yang lain meluncur di pelipismu.

Pohon itu kembali menatapmu,

hanya selintas.

 

Diberkahinya tanganku

yang ingin sekali mengusap basah

yang mendingin di wajahmu.

Kau seperti ingin melakukan sesuatu.

Aku pun mendadak menghentikan langkah sejenak-

jangan tergesa,

agar bisa kaubaca niat titik hujan.

 

Butir-butir hujan menderas

dari sudut-sudut daun itu

tepat ketika kita lewat.

Kupandang ke atas.

Pohon itu tak lagi menatapmu.

Ada yang membasahi kerudungmu,

meluncur ke dua belah pundakmu.

Dibiarkannya kita melintas.

 

Kita pun bergegas

agar segera sampai ke ujung jalan tanpa bicara.

Tak lagi berniat menafsirkan titik hujan?

 

-Sapardi Djoko Damono-

 

Post to Twitter Tweet This Post

WordPress Themes