Vicky Cristina Barcelona

“only unfulfilled love can be romantic..”

Kalimat itu diucapkan Juan Antonio Gonzalo mengutip perkataan mantan istrinya, Maria Elena. Akhirnya, kalimat itu juga yang dialami Juan Antonio dengan Vicky, seorang Amerika yang bertemu Juan Antonio di Barcelona.

Vicky dan Juan Antonio Gonzalo saling tertarik walaupun awalnya sering timbul perselisihan. Tahu apa yang membuat Juan tergila-gila pada Vicky? Karena Vicky tak gampang ditaklukkan. Celah bagi Juan untuk merebut hati Vicky adalah dengan mengajak Vicky melihat pertunjukan Spanish guitar. Juan tahu benar, Vicky sangat memuja permainan gitar. Diskusi mereka tentang banyak hal membuat Juan tahu dia jatuh cinta pada Vicky. Sayangnya, Vicky sudah bertunangan dengan orang lain dan akan segera menikah.

Akhir film ini sangat “rasional”. Vicky memilih menjalani hidup dengan suami yang sangat mencintainya, sedangkan Juan Antonio Gonzalo tetap dengan kesendiriannya, sambil terus berhadapan dengan mantan istrinya yang “setengah gila”, Maria Elena.

Sedikit memplesetkan judul album U2, “all that he can’t leave behind..” :)

Oya, Penelope Cruz memang layak dapat Oscar. Perannya sebagai Maria Elena, mantan istri Juan Antonio Gonzalo yang posesif dan temperamental (bahkan nyaris membunuh Juan Antonio dan Vicky) sungguh luar biasa.

Tak terbayangkan jika harus menghadapi jenis perempuan seperti itu dalam dunia nyata :)

Post to Twitter Tweet This Post

Ritme

Karena semua memang tentang ritme…

“Jika kita bisa menemukan ritmenya dan menyesuaikan diri dengannya, maka kita akan baik-baik saja.”

Beberapa tahun lalu, seorang bapak memberi bekal kalimat itu sebelum aku pindah kerja. Menemukan ritme. Dalam semua hal, mau tak mau aku harus menemukannya, baik dalam menjalani pekerjaan ataupun menikmati pernikahan. Semua adalah tentang mengenali ritme baru, lalu berupaya menemukan cara membuat ritme itu selaras dengan ritme yang kita punya. Membuat penyesuaian-penyesuaian, itulah intinya.

Kesampingkan dulu kenyataan bahwa hatiku tak bisa juga mencintai kota ini. Suka tak suka, di kota inilah aku bekerja. Masuk kantor jam setengah delapan pagi dan pulang bisa jadi jam setengah satu dini hari. Itulah resiko pekerjaan yang harus kuterima. Tak mudah memang, apalagi saat aku terpaksa membatalkan janji bertemu teman-teman, atas nama pekerjaan.

Pinggirkan juga kenyataan bahwa suami belum bisa menemani di kota ini. Tak perlu terjebak pada penilaian orang-orang bahwa kami adalah manusia urban yang menjalani hidup tidak normal. Jawaban paling tepat untuk penilaian ini adalah kalimat dari seorang diplomat yang kini berada di Hongaria sana.

“Astri, normal dan tidak normal itu hanya konstruksi sosial…”

Dua bulan sudah pencarian ritme ini berlangsung. Agak jungkir balik memang, tapi cukup menantang :) Jangan salah, ritme yang kutemukan tak cuma dalam urusan pekerjaan. Aku juga mulai tahu tempat-tempat bagus untuk melepaskan penat, misalnya Taman Ismail Marzuki. Bioskop dan warung makan di sana tak terlalu mahal, dan toko buku kecilnya benar-benar membuatku nyaman. Toko buku itu membuatku betah menghabiskan waktu, memegang buku demi buku lalu memutuskan salah satunya perlu dibawa pulang. Tentu saja melalui proses yang halal :)  

Satu hal yang benar-benar kusyukuri dari pencarian ritme ini adalah kehadiran teman-teman baikku. Hadir tak harus selalu berarti secara fisik. Hadir dalam bentuk SMS, telepon, atau pun lewat dunia maya justru kadang lebih bermakna saat kehadiran fisik terasa sia-sia. Ada badannya, tapi sebenarnya tiada jiwanya. Benar kata Mya, hanya teman yang membuat kota ini layak ditinggali.

Tak terhitung jumlah kebaikan yang kuterima dari mereka. Contoh paling gampang adalah dalam urusan mencari tempat tinggal. Seorang teman baik membantuku mendapatkan kos idaman. Sederhana tapi nyaman. Lokasi strategis, ibu kos baik, ada kulkas di ruang tengah, ada dapur dengan air panas yang tersedia senantiasa, ada pula tv kabel yang menyajikan acara-acara bagus. Biaya listrik? Mau mengetik seharian pakai laptop pun tak masalah. Bawa tv juga biaya tidak bertambah. 500 ribu, itu biaya kosnya. Laundry? 100 ribu. Bersih, wangi, pagi cuci sore jadi. Teman-teman kantorku berkata, “Kosmu benar-benar murah untuk ukuran Setiabudi.” Seorang kawan lain cuma terhenyak saat tahu harga sewa kosku. Kalimat yang kemudian keluar dari mulutnya adalah “Kalau kamu jadi pindah, aku tempatin kamarmu ya..” 

Dalam urusan makanan, aku juga harus menemukan ritme baru. Mama bahkan rela mendiktekan resep sayur bayam, sup makaruni, dan bakwan jagung lewat telepon. Kelezatan masakan Mama memang ngangeni, mungkin karena dicampur bumbu istimewa bernama cinta. Jaman di Jogja, aku bisa datang ke warung di daerah Sekip dan dengan mudahnya menemukan masakan-masakan rumahan. Di sini, makanan-makanan yang kutemui bukanlah jenis itu. Mungkin karena aku memang tak pernah menganggap kota ini sebagai rumah.

Salah satu hiburanku dalam hal makanan adalah saat menunggu sate Bang Toha lewat di depan kos sekitar jam 8 malam. Sate Bang Toha pantas diperjuangkan karena berdasarkan informasi dari “sumber yang bisa dipercaya”, sate Bang Toha enak sekali. Demi merasakan kenikmatan itu aku bahkan harus berguru pada teman-teman kos untuk membedakan mana sate Bang Toha dan mana yang bukan. Kuncinya adalah melatih telinga untuk peka pada suara Bang Toha. Gayanya saat menjajakan sate bukan lah “sateeeeeee….”, atau pun ‘teeeeeeeeeee…”, tapi …… “Te !”. Diucapkan dengan suara bass yang dalam, nada tegas, dan satu huruf “e” tanpa dipanjangkan :)

Ternyata, menemukan dan menyelaraskan ritme dalam banyak hal butuh perjuangan tingkat tinggi, bahkan nyeleneh. Gara-gara itu, sepertinya aku mulai mengerti maksud kalimat yang sekitar sebulan lalu diucapkan mentor diklatku.

“Kreatif dan gendeng itu beda tipis, Mbak…”

Post to Twitter Tweet This Post

Dalam Doaku

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata,
yang meluas bening siap menerima cahaya pertama,
yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa,
yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini,
kau menjelma seekor burung gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu,
yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin
yang turun sangat perlahan dari nun di sana,
bersijingkat di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi
dan bibirnya di rambut, dahi dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya,
yang setia mengusut rahasia demi rahasia,
yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku

Aku mencintaimu,
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu

(oleh Sapardi Djoko Damono)

Post to Twitter Tweet This Post

Aulia Bertanya

“Main sama Ayah di Taman Suropati ya…Bunda kerja dulu..”

“Tapi Bunda, kata Ayah, Sabtu Minggu kan Bunda libur, tapi kok Bunda tetap kerja?”

Dialog itu muncul dalam imajinasiku pagi ini saat memandang Taman Suropati menjelang jam 10 pagi. Aku membayangkan anak kami akan protes karena aku tak bisa menemaninya pada hari libur. Kompromi yang mungkin bisa dicapai adalah suami menemani anak bermain di Taman Suropati, baru setelah itu sang bunda menyusul untuk menikmati hari libur.

Siang ini mataku terasa berat, kantuk menyerang dengan sangat. Baru sekitar jam setengah satu pagi tadi aku pulang, dan langsung terkapar. Jika besok-besok masih seperti ini, bukan tak mungkin dialog tadi tak lagi sekedar imajinasi…

Post to Twitter Tweet This Post

A Scene at the Sea

Dua tuna rungu memadu kasih.

Yang lelaki ingin belajar berselancar. Semangatnya tinggi, meski dia harus menahan dingin karena tak punya wet suit.


Yang perempuan duduk di pasir pantai. Setia menemani si lelaki berlatih. Memandangnya, sambil melipat celana jeans dan kaos yang diletakkan si lelaki di pasir.
Si lelaki gagal pada lomba selancar pertamanya. Alasannya sangat menusuk hati. Dia tak mendengar saat namanya dipanggil panitia. Perlombaan kedua, dia jadi juara, tapi bukan juara pertama.
Suatu hari, si lelaki berlatih sendirian saat cuaca sedang tak baik. Si perempuan lantas mencari di pantai. Tak ada. Yang muncul hanya papan selancar, tanpa pemiliknya.
Si perempuan membawa papan selancar itu ke pantai tempat pertama kali si lelaki berlomba. Dia lekatkan selembar foto di papan selancar. Ada wajah mereka berdua, ada pula sebuah piala di foto itu. Papan selancar lantas dihanyutkan si perempuan ke laut.
Selesai.
****
“Dimensi cinta mereka aneh ya?” tanya komandanku kepadaku.
Aneh tapi indah, menurutku.
****
Jumat petang yang indah di akhir Januari. Kami bertiga berjanji nonton film A Scene at the Sea di Taman Ismail Marzuki. Film itu diputar secara gratis sebagai bagian dari pekan film Jepang yang aku lupa siapa penyelenggaranya. Maaf.

Selesai nonton film itu, kami berbincang sambil makan ayam bakar di salah satu kios makan di Taman Ismail Marzuki.

Khanis Suvianita sudah beberapa bulan berada di Jakarta untuk mengikuti kursus persiapan menjelang keberangkatannya ke Amerika Serikat. Dia mendapatkan beasiswa dari Ford Foundation. Sedangkan Dian Lestari berada di Jakarta untuk mengurus beberapa hal sebelum benar-benar pindah ke kota ini.
Pertemuan petang itu terasa seperti sebuah reuni kecil. Sebelumnya kami sama-sama menjadi peserta Kursus Narasi di Yogyakarta. Perbincangan kami menyegarkan ingatanku tentang teman yang hebat dan bersemangat. Ada yang kini telah kembali ke Swedia, ada pula yang makin terasah kemampuan menulis dan memotretnya.
Lalu, apa kabarmu Astri?

 

 

Post to Twitter Tweet This Post