Karena semua memang tentang ritme…
“Jika kita bisa menemukan ritmenya dan menyesuaikan diri dengannya, maka kita akan baik-baik saja.”
Beberapa tahun lalu, seorang bapak memberi bekal kalimat itu sebelum aku pindah kerja. Menemukan ritme. Dalam semua hal, mau tak mau aku harus menemukannya, baik dalam menjalani pekerjaan ataupun menikmati pernikahan. Semua adalah tentang mengenali ritme baru, lalu berupaya menemukan cara membuat ritme itu selaras dengan ritme yang kita punya. Membuat penyesuaian-penyesuaian, itulah intinya.
Kesampingkan dulu kenyataan bahwa hatiku tak bisa juga mencintai kota ini. Suka tak suka, di kota inilah aku bekerja. Masuk kantor jam setengah delapan pagi dan pulang bisa jadi jam setengah satu dini hari. Itulah resiko pekerjaan yang harus kuterima. Tak mudah memang, apalagi saat aku terpaksa membatalkan janji bertemu teman-teman, atas nama pekerjaan.
Pinggirkan juga kenyataan bahwa suami belum bisa menemani di kota ini. Tak perlu terjebak pada penilaian orang-orang bahwa kami adalah manusia urban yang menjalani hidup tidak normal. Jawaban paling tepat untuk penilaian ini adalah kalimat dari seorang diplomat yang kini berada di Hongaria sana.
“Astri, normal dan tidak normal itu hanya konstruksi sosial…”
Dua bulan sudah pencarian ritme ini berlangsung. Agak jungkir balik memang, tapi cukup menantang
Jangan salah, ritme yang kutemukan tak cuma dalam urusan pekerjaan. Aku juga mulai tahu tempat-tempat bagus untuk melepaskan penat, misalnya Taman Ismail Marzuki. Bioskop dan warung makan di sana tak terlalu mahal, dan toko buku kecilnya benar-benar membuatku nyaman. Toko buku itu membuatku betah menghabiskan waktu, memegang buku demi buku lalu memutuskan salah satunya perlu dibawa pulang. Tentu saja melalui proses yang halal
Satu hal yang benar-benar kusyukuri dari pencarian ritme ini adalah kehadiran teman-teman baikku. Hadir tak harus selalu berarti secara fisik. Hadir dalam bentuk SMS, telepon, atau pun lewat dunia maya justru kadang lebih bermakna saat kehadiran fisik terasa sia-sia. Ada badannya, tapi sebenarnya tiada jiwanya. Benar kata Mya, hanya teman yang membuat kota ini layak ditinggali.
Tak terhitung jumlah kebaikan yang kuterima dari mereka. Contoh paling gampang adalah dalam urusan mencari tempat tinggal. Seorang teman baik membantuku mendapatkan kos idaman. Sederhana tapi nyaman. Lokasi strategis, ibu kos baik, ada kulkas di ruang tengah, ada dapur dengan air panas yang tersedia senantiasa, ada pula tv kabel yang menyajikan acara-acara bagus. Biaya listrik? Mau mengetik seharian pakai laptop pun tak masalah. Bawa tv juga biaya tidak bertambah. 500 ribu, itu biaya kosnya. Laundry? 100 ribu. Bersih, wangi, pagi cuci sore jadi. Teman-teman kantorku berkata, “Kosmu benar-benar murah untuk ukuran Setiabudi.” Seorang kawan lain cuma terhenyak saat tahu harga sewa kosku. Kalimat yang kemudian keluar dari mulutnya adalah “Kalau kamu jadi pindah, aku tempatin kamarmu ya..”
Dalam urusan makanan, aku juga harus menemukan ritme baru. Mama bahkan rela mendiktekan resep sayur bayam, sup makaruni, dan bakwan jagung lewat telepon. Kelezatan masakan Mama memang ngangeni, mungkin karena dicampur bumbu istimewa bernama cinta. Jaman di Jogja, aku bisa datang ke warung di daerah Sekip dan dengan mudahnya menemukan masakan-masakan rumahan. Di sini, makanan-makanan yang kutemui bukanlah jenis itu. Mungkin karena aku memang tak pernah menganggap kota ini sebagai rumah.
Salah satu hiburanku dalam hal makanan adalah saat menunggu sate Bang Toha lewat di depan kos sekitar jam 8 malam. Sate Bang Toha pantas diperjuangkan karena berdasarkan informasi dari “sumber yang bisa dipercaya”, sate Bang Toha enak sekali. Demi merasakan kenikmatan itu aku bahkan harus berguru pada teman-teman kos untuk membedakan mana sate Bang Toha dan mana yang bukan. Kuncinya adalah melatih telinga untuk peka pada suara Bang Toha. Gayanya saat menjajakan sate bukan lah “sateeeeeee….”, atau pun ‘teeeeeeeeeee…”, tapi …… “Te !”. Diucapkan dengan suara bass yang dalam, nada tegas, dan satu huruf “e” tanpa dipanjangkan :)
Ternyata, menemukan dan menyelaraskan ritme dalam banyak hal butuh perjuangan tingkat tinggi, bahkan nyeleneh. Gara-gara itu, sepertinya aku mulai mengerti maksud kalimat yang sekitar sebulan lalu diucapkan mentor diklatku.
“Kreatif dan gendeng itu beda tipis, Mbak…”
Tweet This Post