Kopi (1)

Di ruang tunggu bandara pagi ini, aku membayangkan kau meracik kopi untukku, menuang air panas ke cangkir, lantas mengaduknya pelan. Sepuluh kali. Aku ingat benar, sepuluh kali adalah jumlah adukan maksimal yang kau tawarkan.

“Enam, delapan, atau sepuluh?

Itu pertanyaan yang selalu kau berikan padaku, secangkir kopi dengan pilihan jumlah adukan dalam angka genap.

“Sepuluh,” selalu itu juga yang jadi jawabanku. Sepuluh kali adukan searah jarum jam, setengah menit kita terdiam. Tidak benar-benar diam tentu saja. Tanganmu menggerakkan sendok di dalam cangkir, sedangkan mataku sibuk menelusuri tiap lekuk wajahmu.

Pernahkah kukatakan aku suka sepasang mata milikmu? Aku baru sadar warna coklat bola matamu berpendar terang, sampai ke mimpiku. 

Aneh bukan? Bagaimana bisa warna coklat mencerahkan mimpi seseorang?

Post to Twitter Tweet This Post

Ziarah Buku

Pernahkah kau berpikir seperti apa beban mentalku saat menatap deretan buku-bukumu? Kalau saja aku tega, ingin kubakar semua buku-buku di perpustakaanmu itu. Kubakar, habis tanpa sisa! Tapi repotnya, kau pasti akan menyumpahiku supaya aku celaka tujuh turunan, dan aku tak mau itu.

Aku tak membenci perpustakaanmu, tapi aku juga tak menyukainya. Aku mengerti, ruang itu sengaja kau sisihkan untuk tempat persembunyianmu. Saat tiga kali ucap salamku di pintu rumah tak berbalas “waalaikumsalam”, aku tahu, kamu pasti di ruang itu. Tiga kali empat ukurannya, dilengkapi satu jendela yang selalu tertutup rapat kecuali di akhir minggu, dan satu pendingin ruangan. Hebat, padahal kamar kita, yang letaknya pas di samping perpustakaanmu itu, selalu kepanasan. Bodoh sekali, aku mulai cemburu lagi pada buku-buku dan tempat bertapamu.

Sekarang, kadang kubiarkan jemariku sekilas mengelus punggung buku-bukumu. Sekilas saja, tak berani lama-lama. Aku takut ingatanku diputar balik, dan berakhir dengan aku menangis pilu. Aku tak mau seperti itu. Tak mau. 

Aku memang rindu. Itu sebabnya aku menziarahimu.

Buku-buku di perpustakaan inilah pusaramu.

 

Post to Twitter Tweet This Post

Biola

Namanya Arif. Rambut gondrong, celana jeans tiga perempat, kaos dibalut jaket jeans, dan luka kecil di tumit kaki kirinya.

“Habis jatuh dari motor, Mbak..”

Dia duduk tak jauh dari saya. “Penolakan” kantor pajak untuk melayani pembuatan NPWP di hari Sabtu membuat saya memilih datang ke Taman Suropati, sebelum masuk kantor jam setengah sepuluh. Baru sekali itu saya benar-benar menikmati suasana Taman Suropati. Biasanya, sekedar lewat saat berangkat atau pulang kantor. Memandang dari kejauhan. Pagi ini, akhirnya saya duduk di salah satu bangku taman itu. Membaca Kompas Sabtu sambil sesekali menatap air mancur yang sering didatangi merpati-merpati untuk minum. Dua pagupon berwarna hijau terletak tak jauh dari situ.  

Saya ingat, Sabtu sekitar sebulan yang lalu, saya melihat banyak orang berkumpul di taman ini, lalu memainkan biola mereka. Asyik sekali. Anak-anak pun ada.

“Di sini memang tempat ngumpul komunitas kami, Mbak,” Arif menjelaskan. Komunitas yang dia maksud adalah komunitas pemain biola, gitar, dan teater. Anggota komunitas cukup beragam, mulai dari mahasiswa hingga anak jalanan. Pagi itu Arif berada di taman dengan beberapa temannya. Sepertinya mereka masih menunggu beberapa orang lainnya.

Saat saya bertanya dimana dia tinggal, jawabannya singkat saja.

“Di sini.”

“Di sini?” saya mengulang jawabannya dengan nada tidak yakin.

‘Iya, di sini. Di Taman Suropati. Paling 2 hari sekali saya pulang ke rumah di Rawamangun, cuma buat ganti baju, terus ke sini lagi,” jawabnya.

Dia lalu membuka tas hitam di sampingnya. Dari bentuknya, saya menduga ada biola di dalamnya. Ternyata benar. Dia mulai mengeluarkan biola serta penggeseknya.

“Sudah lama main biola?” tanya saya padanya.

“Masih belajar kok, Mbak. Belajar main biola itu yang penting sabar, jangan cepat-cepat ingin bisa main biola.”

Kalimat-kalimatnya runtut bercerita seperti apa sebaiknya jika ingin belajar memainkan biola. Ujung-ujungnya, tetap saja si pembelajar harus bisa membaca not balok. Membaca partitur.

“Bisa baca partitur itu penting, Mbak. Itu masa depan. Kalau bisa baca partitur, nanti bisa ikut orkestra atau jadi guru musik.”

Saya manggut-manggut mendengar penjelasannya. Tak cukup dengan kata-kata, dia mulai beraksi. Awalnya doremifasolasido, lalu (ini dia!) lagu klasik.

“Tahu judulnya nggak, Mbak?”

“Enggak,” jawab saya jujur.

Bibirnya lantas fasih menyebut judul lagu yang dia mainkan. Nama Johan Sebastian Bach dan beberapa nama besar dalam jagat musik klasik tak lupa dia sertakan . Lagi-lagi, saya cuma manggut-manggut. Setelah beberapa kali memainkan lagu klasik tanpa respon memadai dari saya, dia mainkan lagu yang nada-nadanya cukup saya kenal, tapi tetap saja saya tak bisa menyebut judulnya. Ternyata, yang dia mainkan adalah “Ayat-Ayat Cinta”. Untuk yang satu ini, saya membela diri dalam hati, bahwa saya memang tidak memasukkan lagu itu dalam daftar lagu yang saya suka :)

Menjelang jam setengah sepuluh, kami bertukar nomor telepon seluler. Saya akan menghubunginya nanti, jika saya jadi belajar main biola.

Post to Twitter Tweet This Post

Pagupon

Kemana merpati pulang ? Ke pagupon, Ayah… 

****
Tiap melewati Taman Suropati, aku selalu mencuri pandang pada pagupon yang ada di sana. Ia tegak di ketinggian. Tak terlalu tinggi memang, tapi cukup terlindung dari keramaian. Mungil dan penuh kedamaian. Itu kesan yang tertanam begitu dalam.
Dimana kita tinggal, Ayah? Di rumah. Rumah kita memang hanya sebuah kamar sempit, Ayah. Tapi itulah  pagupon kita. Tempat dimana cinta Ayah terus mengalir padaku tanpa jeda.
Kita akan menabung, Ayah. Serupiah demi serupiah. Hingga pada suatu masa, kita akan punya sebuah rumah. Lengkap dengan anak-anak, kamar tidur, musholla, dapur, perpustakaan, dan meja bilyar di dalamnya. 

Post to Twitter Tweet This Post

WordPress Themes