Di keluarga besar eyang dari pihak ibu, saya kadang merasa menjadi burung pipit yang berada di antara burung elang. Hampir semua perempuan dalam keluarga besar saya adalah jagoan masak. Sedangkan saya sepertinya ditakdirkan tak mampu membuat masakan yang enak. Saya sudah belajar mempraktekkan resep-resep masakan, tapi tetap saja rasanya tak enak. Mungkin karena memang pada dasarnya saya tak suka memasak, jadi walau saya berusaha sepertinya hasilnya tak maksimal.
Dalam keluarga saya, tak bisa memasak kadang membuat saya tertekan. Bahkan menjelang hari pernikahan saya pun, Mama pernah ketrucut berkata dia menyangsikan kemampuan saya untuk mengurus suami karena saya tak bisa memasak. Sampai hari ini rasa sedih akibat mendengar kalimat itu kadang masih muncul di hati
Dalam kehidupan orang Jawa, menjadi istri artinya siap diberi tuntutan untuk mampu melakukan 3 M. Masak, Macak, Manak. Mampu memasak, mampu berdandan, dan mampu memberi keturunan. Semua itu demi “membahagiakan suami”. Lalu bagaimana jika 3 M yang dianggap mampu membahagiakan suami itu ada salah satu (bahkan salah dua atau salah tiganya) tak bisa dipenuhi oleh istri? Apa itu berarti tak layak lagi ia dicintai? Bagaimana pula bila si istri memang tak suka melakukan salah satu M itu? Akankah dia disebut tak berbakti pada suami?
Repot ya punya istri seperti saya ini. Banyak bertanya, banyak mendebat, tak bisa masak, dan susah diatur. Saya ingat, suami saya pernah berkata, saya memang susah “ditaklukkan”, plus susah dihadapi
Saya tak seperti mantan-mantan pacarnya yang selalu menuruti nasehat atau masukan yang dia berikan.
Dia tahu benar, saya tak suka dipaksa, tak suka “diperintah”. Mungkin inilah salah satu konsekuensi anak sulung yang terlalu lama jadi anak kos, saya jadi terlalu nyaman mengatur diri sendiri. Rasanya aneh saat seseorang masuk lalu mencoba “mengatur” atau mengubah hal-hal dalam hidup saya.
Syukurlah, sejauh ini dia tidak mempermasalahkan kemampuan memasak saya yang cuma terbatas membuat mie dan menggoreng telur. Dia tahu saya sudah berusaha. Dia juga mau mengerti tentang pekerjaan yang sering membuat saya pulang malam. Dia tahu kami berdua harus sama-sama bekerja untuk bertahan hidup dan mengisi tabungan bagi anak-anak. Dia bahkan sudah bersedia nantinya lebih banyak memberikan waktu untuk mengurus anak-anak kami kelak seandainya pekerjaan memaksa saya berada di kantor hingga larut malam atau dinas ke luar kota. Selain itu, diskusi dan penyampaian argumentasi di antara kami masih jalan terus hingga kini.
Saya menghargai setiap pengertian yang dia berikan. Saya mengerti, hal itu pastilah melelahkan baginya. Dan untuk itu, saya ingin mengatakan terima kasih. Atas kesediaannya menerima saya yang mungkin “berbeda” dari perempuan kebanyakan.
Selamat hari Kartini.
Tweet This Post