Jalan Jakarta : Untuk Sapardi Djoko Damono

it was as if you were speaking at the end of the road
(it was cold and the rain suddenly fell silent
as if you were calling from around the bend
for a return to sorrow)

for a return
to a long and unfulfilled desire
as if you were signaling without any lights
for me to call you, You

-A Light Rain on Jakarta Street in Malang-
Sapardi Djoko Damono, Before Dawn
Sore itu, Sabtu 11 April 2009, ada gerimis kecil di Jalan Jakarta, Malang.
Tepat seperti judul puisi karya Sapardi Djoko Damono.

Di atas roda dua, kuhirup udara produk hutan kecil yang memanjang di tengah jalan.
Udara segar dan bersih, tapi bermuatan sepi tak terperi.

Sesepi Jalan Jakarta yang lengang menjelang senja.
Sesepi rumah-rumah tua menawan di Jalan Jakarta.
Indah, tapi rancu antara kosong atau berisi.
Mungkin, semacam mimpi yang tinggi tapi tak terjadi.

Sebuah vespa berada di belakang kami,
lantas menyalip tanpa permisi.
Si penumpang melingkarkan tangan ke pinggang depan.
Mereka tertawa-tawa.
Lepas.
Lega.

Itukah bahagia?
Tak mengenal sangsi, tak mengenal sanksi?

Di Jalan Jakarta, coba kucari jawabnya.

Post to Twitter Tweet This Post

Burung Pipit Di Antara Burung Elang

Di keluarga besar eyang dari pihak ibu, saya kadang merasa menjadi burung pipit yang berada di antara burung elang. Hampir semua perempuan dalam keluarga besar saya adalah jagoan masak. Sedangkan saya sepertinya ditakdirkan tak mampu membuat masakan yang enak. Saya sudah belajar mempraktekkan resep-resep masakan, tapi tetap saja rasanya tak enak. Mungkin karena memang pada dasarnya saya tak suka memasak, jadi walau saya berusaha sepertinya hasilnya tak maksimal.

Dalam keluarga saya, tak bisa memasak kadang membuat saya tertekan. Bahkan menjelang hari pernikahan saya pun, Mama pernah ketrucut berkata dia menyangsikan kemampuan saya untuk mengurus suami karena saya tak bisa memasak. Sampai hari ini rasa sedih akibat mendengar kalimat itu kadang masih muncul di hati :) Dalam kehidupan orang Jawa, menjadi istri artinya siap diberi tuntutan untuk mampu melakukan 3 M. Masak, Macak, Manak. Mampu memasak, mampu berdandan, dan mampu memberi keturunan. Semua itu demi “membahagiakan suami”. Lalu bagaimana jika 3 M yang dianggap mampu membahagiakan suami itu ada salah satu (bahkan salah dua atau salah tiganya) tak bisa dipenuhi oleh istri? Apa itu berarti tak layak lagi ia dicintai? Bagaimana pula bila si istri memang tak suka melakukan salah satu M itu? Akankah dia disebut tak berbakti pada suami?

Repot ya punya istri seperti saya ini. Banyak bertanya, banyak mendebat, tak bisa masak, dan susah diatur. Saya ingat, suami saya pernah berkata, saya memang susah “ditaklukkan”, plus susah dihadapi :)  Saya tak seperti mantan-mantan pacarnya yang selalu menuruti nasehat atau masukan yang dia berikan.

Dia tahu benar, saya tak suka dipaksa, tak suka “diperintah”. Mungkin inilah salah satu konsekuensi anak sulung yang terlalu lama jadi anak kos, saya jadi terlalu nyaman mengatur diri sendiri. Rasanya aneh saat seseorang masuk lalu mencoba “mengatur” atau mengubah hal-hal dalam hidup saya. 

Syukurlah, sejauh ini dia tidak mempermasalahkan kemampuan memasak saya yang cuma terbatas membuat mie dan menggoreng telur. Dia tahu saya sudah berusaha. Dia juga mau mengerti tentang pekerjaan yang sering membuat saya pulang malam. Dia tahu kami berdua harus sama-sama bekerja untuk bertahan hidup dan mengisi tabungan bagi anak-anak. Dia bahkan sudah bersedia nantinya lebih banyak memberikan waktu untuk mengurus anak-anak kami kelak seandainya pekerjaan memaksa saya berada di kantor hingga larut malam atau dinas ke luar kota. Selain itu, diskusi dan penyampaian argumentasi di antara kami masih jalan terus hingga kini.

Saya menghargai setiap pengertian yang dia berikan. Saya mengerti, hal itu pastilah melelahkan baginya. Dan untuk itu, saya ingin mengatakan terima kasih. Atas kesediaannya menerima saya yang mungkin “berbeda” dari perempuan kebanyakan.

Selamat hari Kartini.  

Post to Twitter Tweet This Post

Selamat Ulang Tahun, Zen

“Kebahagiaan itu kadang sederhana ya, di hari ultah, MU menang dan lolos ke semifinal. Thanx, Astri.’

Kebahagiaan itu memang sederhana, Zen. Kita yang membuatnya jadi rumit dan berpikir bahwa mewujudkan bahagia adalah hal yang sulit. Walaupun ternyata memang benar itu sulit.

Sudahlah, aku tak bisa menjadi Gede Prama. Yang penting, selamat ulang tahun ya.

Smsmu pagi ini membuatku ingat puisi karya Jokpin yang kubaca kemarin. Judulnya Cita-Cita. Tentang hal sederhana yang ternyata sulit realisasinya. Atas nama pekerjaan, atas nama macet, dan lain-lainnya.

Cita-Cita

Setelah punya rumah, apa cita-citamu? Kecil saja:
ingin bisa sampai di rumah saat masih senja supaya saya
dan senja sempat minum teh bersama di depan jendela.

Ah cita-cita. Makin hari kesibukan makin bertumpuk,
uang makin banyak maunya, jalanan macet, akhirnya
pulang terlambat. Seperti turis lokal saja, singgah
menginap di rumah sendiri buat sekedar melepas penat.

Terberkatilah waktu yang dengan tekun dan sabar
membangun sengkarut tubuhku menjadi rumah besar
yang ditunggui seorang ibu. Ibuwaktu berbisik mesra,
“Sudah kubuatkan sarang senja di bujur barat tubuhmu.
Senja sedang berhangat-hangat di dalam sarangnya.”

(2003)
www.jokopinurbo.com

Post to Twitter Tweet This Post

WordPress Themes