Komand(i)an

“As, aku membuka lembaran blogmu, juga membaca inbox di hpku…ada begitu banyak cerita ya tentangmu tentangku…mendadak rindu kamu..”

Pesan singkat itu datang saat aku sedang meneguk kopi hitam dari sebuah cangkir putih. Widyaiswara yang sama sekali tak menarik cara mengajarnya membuat konsumsi kopiku selama diklat pra jabatan melonjak tajam.

Hmm..mendadak rindu. Benarkah rindu memang datang tiba-tiba? Seperti cubitan kecil yang membuat terjaga dan menimbulkan jeda karena teringat tentang sesuatu, atau seseorang ?

****

Sabtu siang di tahun 2007. Sebuah taksi memasuki halaman kantor Tim Teknis Nasional Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Gempa Bumi Wilayah DIY Jateng di daerah Sekip, Jogja. Dua perempuan turun dari taksi itu. Yang seorang segera menuju bagasi lalu mengambil beberapa gambar yang telah dipigura. Ukurannya lumayan besar, maklum akan dipasang dalam sebuah pameran. Dia lalu mendatangiku yang telah menunggu di depan pintu.

Aku tak pernah lupa wajahnya yang menahan sakit saat tangannya menyerahkan gambar-gambar berpigura itu. Diberikannya pula sekotak besar susu coklat yang kuminta beberapa waktu sebelumnya sambil bercanda tapi ternyata benar-benar dia bawa. Dia bilang, setelah mengantar gambar-gambar itu padaku, dia hendak ke rumah sakit.

Ketika beberapa bulan berikutnya aku menemaninya di sebuah kamar di Panti Rapih, wajahnya yang pucat menahan sakit pada Sabtu siang itu melintas begitu saja…

****

Gempa telah mendekatkan kami. Penanganan gempa, lebih spesifiknya. Dia bekerja untuk sebuah lembaga milik pemerintah Australia, dan aku bekerja untuk sebuah lembaga ad hoc milik pemerintah Indonesia. Ad hoc, karena masa hidupnya hanya 2 tahun.

Sejak peristiwa Sabtu siang di tahun 2007 itu, kami menjadi dekat. Berbincang lewat telepon, sms, Yahoo Messenger, serta bertukar alamat blog dan saling berkunjung ke sana. Parsley di Jalan Kaliurang, Kedai Poci Unik di Sawitsari, serta Café Momento di Gejayan adalah tempat-tempat yang kami kunjungi di malam hari. Sekedar berbincang tentang pekerjaan, tulisan, musik, juga tentang hidup kami masing-masing. Dia menjelma teman yang menyenangkan, tak semata kolega.

Sofa hijau di Parsley Jalan Kaliurang menjadi tempat pantat kami bersandar berjam-jam saat bibir kami sibuk bicara sambil sesekali menyesap cokelat hangat, dengan pandangan yang ditebar ke segenap penjuru ruangan. Ketika bibir kami terkatup, jadilah kami penyaksi kejadian-kejadian yang berlangsung di tempat itu. Anak-anak muda wangi bicara dengan bahasa elu gue padahal kami berada di Jogja bagian utara. Seorang Ibu marah-marah pada salah satu pegawai Parsley karena mobilnya tak bisa keluar dari tempat parkir gara-gara jalannya tertutup mobil lainnya. Si Ibu minta supaya pegawai Parsley mencari pemilik mobil itu dan memindahkannya. Ibu itu meminta, tanpa kata “tolong”. Dia minta segera dilakukan, dengan alasan “Saya ini kan pelanggan di sini..Dalam seminggu pasti beberapa kali ke sini..”

Kejadian itu masih kusimpan di ingatanku. Biasanya, setelah kami bertemu pada sebuah malam, maka besok paginya ada tulisan baru di blog kami masing-masing. Bercerita dengan topik dan cara yang bisa jadi sangat berbeda tentang apa yang kami alami selama perbincangan malam tersebut.

Aku selalu terharu tiap ingat hal-hal yang dia lakukan untukku. Perhatiannya bisa kurasakan dari teleponnya padaku ketika suatu malam aku duduk termangu di Adi Sucipto menunggu kedatangan penumpang pesawat dari Jakarta. Dia mengingatkanku tentang konsekuensi pilihan yang kuambil. Intinya hanya satu. No pain, no gain.

Tak cuma itu. Suatu hari kukatakan padanya aku ingin ikut kursus penulisan. Beberapa waktu kemudian dia berkata dengan santainya, “As..nabung ya..aku sedang usahakan bisa ada kursus narasi di Jogja.” Ah, manis sekali rasanya kalimat itu..Aku percaya dia melakukan itu tak hanya untukku. Tapi tetap saja aku ingin berterima kasih untuk banyak hal yang dilakukannya selama ini.

****

“Aku sedang menulis tentang gadis dengan lima pintu,” katanya dulu. Dalam tulisannya, gadis itu bingung menentukan hendak membuka pintu yang mana. Dalam dunia nyata, gadis itu sudah membuat keputusan. Satu pintu sudah terbuka.

Aku dengan pintu yang kubuka, dan dia dengan perjalanan-perjalanannya ternyata kembali berpapasan di sebuah kota bernama Jakarta. Aku mulai terbiasa pagi-pagi menanti sebuah kalimat dari sms atau teleponnya. “As, aku udah di depan kosmu.”

Walau pernah lima tahun tinggal di Jakarta, ternyata dia masih juga seperti aku. Mengeluh banyak hal tentang Jakarta. “Aku sebenarnya nggak mau ke kota ini..”

Ah, apa kamu pikir aku dengan suka rela pindah ke kota yang pernah menorehkan luka begitu dalam buatku?
Di kota ini, aku berharap masih bisa menghabiskan beberapa jam bersamanya. Duduk di sebuah tempat, mengamati orang-orang. Cukup ditemani cokelat hangat atau kopi. Tanpa bir, tanpa wine. Sambil sesekali bersenandung lagu milik U2, Sheila on 7, atau Tohpati. Lalu berbincang tentang mimpi-mimpi kami. Tentang punya rumah di Jogja, tentang menulis buku, juga tentang nonton konser U2 suatu hari nanti…

Namanya Dian. Aku memanggilnya “Komand(i)an”.

Post to Twitter Tweet This Post

WordPress Themes