Iklan Ramadhan

Kapankah terakhir kali Anda menerima kartu lebaran? Saya lupa apakah tahun lalu saya masih menerima kartu lebaran, tapi saya ingat sekali ada begitu banyak SMS berdatangan memenuhi inbox HP saya dengan isi yang senada walau banyak variasi kalimatnya. Selamat Lebaran. Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin.

Benar, substansi memang tak berubah. Yang berganti hanya media penyampaiannya. Tapi, iklan dari Djarum yang mulai sering diputar sejak awal Ramadhan ini membuat saya terhenyak begitu lama. Berulangkali saya berkata dalam hati, “Iklan ini bagus…iklan ini bagus…idenya luar biasa…”

Ah, saya bukan ahli periklanan. Saya mungkin hanyalah satu dari sekian banyak orang yang merasakan kebahagiaan saat melihat iklan yang bagus dan bermakna dalam.

Dalam jaman serba instan, cepat, dan terburu-buru ini, si pembuat iklan justru membuat kita mengingat lagi seperti apa perjuangan seorang bapak yang berprofesi sebagai kurir dalam menjalankan tugasnya dengan penuh amanah. Kartu lebaran, surat, dan paket dia kirimkan ke berbagai tempat dengan penuh dedikasi. Sampai harus naik rakit pun tak mengapa. Berulang kali bertanya di jalan juga bukan kendala. Semua upayanya itu terbayar sempurna saat si penerima paket atau surat menyambutnya dengan suka cita, mengucap terimakasih, atau sekedar tersenyum bahagia.

Dan tibalah saatnya dia menyerahkan kiriman kartu lebaran kepada seorang satpam di gerbang sebuah rumah besar, tepat ketika sebuah mobil hitam keluar dari gerbang yang sama. Jendela mobil terbuka, satpam lalu menyerahkan kartu lebaran yang baru saja dia terima kepada seseorang di dalam mobil. Mobil lantas melaju, dan kartu lebaran itu dilempar begitu saja lewat jendela, tepat di depan mata bapak kurir yang mengantar kartunya.  For me, it was the most shocking moment of the ad. Klimaks yang mantap.

Sejak pertama kali melihat iklan itu, saya tak bisa lupa ekspresi si bapak kurir saat melihat kartu yang dia antar dibuang begitu saja oleh si penerima. Dan lagu Ebiet G. Ade yang mengalun lembut sepanjang iklan berpadu dengan kalimat di bagian akhir iklan bahwa kemarahan tak selayaknya menghapus keramahan…

Saya jadi teringat, dulu, dulu sekali, saya pernah membuat sendiri kartu lebaran yang hendak saya kirimkan pada teman-teman. Ada perhatian yang saya curahkan dalam setiap prosesnya. Mulai dari memilih warna kertas asturo yang hendak saya gunakan (sambil memperkirakan warna yang tepat dengan kepribadian si penerima kartu, atau warna kesayangannya yang sudah saya tahu sejak awal), memilih warna spidol timbul yang tepat, menentukan kata-kata yang tak norak tapi bermakna dalam dan memiliki sentuhan pribadi, plus menentukan sampul atau amplop seperti apa yang paling pas untuk kartu lebaran tersebut. Suatu ketika, saya memutuskan menjahit amplop untuk kartu lebaran yang hendak saya kirimkan. Bahannya dari kertas minyak. Kalau tidak salah, waktu itu saya memilih warna merah marun. Saya mengguntingnya dengan gunting bergerigi yang bisa membuat kertas menjadi tergunting rapi dengan bentuk segitiga. Saya lantas merekatkan setiap sisinya dengan benang. Saya menjahitnya. Saya lupa memakai teknik tusuk apa. Mungkin tusuk flanel. Sungguh, itu kartu lebaran paling melelahkan tapi sekaligus paling memuaskan yang pernah saya hasilkan.

Dan saya sangat bahagia, sangat bahagia, saat si penerima bilang, “Astri, aku suka kartu dan sampulnya…”

Saya percaya, substansi memang penting. Tapi cara penyampaian juga bisa menjadi sebuah nilai tambah yang tidak terlupakan…

*Tiba-tiba mimpi gila itu datang lagi. Saya berdiri memandang jembatan Golden Gate San Fransisco, dan menulis beberapa baris kalimat dalam kartu pos. Sekedar berucap selamat lebaran, sambil mengutip beberapa larik puisi Sapardi Djoko Damono… Atau, saya sedang duduk di sebuah gedung tinggi, menatap Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, sambil menulis di kartu pos dan membayangkan menjadi Jane yang sedang berkirim kabar pada Marno yang mungkin sedang asyik memandang kunang-kunang di kampung halamannya…  Pak Sapardi dan Pak Kayam, saya rasa Anda harus bertanggung jawab untuk mimpi-mimpi gila saya itu :)

Post to Twitter Tweet This Post

Terluka

..sejak film itu muncul, saya mencoba merelakan pedih itu dengan berkata pada diri sendiri bahwa “itu cuma kebetulan..”, walau hati saya berontak karena “bagaimana bisa kebetulan jika kalimat “tangis pemain tunggal putri” ikut muncul di pembuka filmnya?”

Pagi ini luka itu datang lagi saat membaca beberapa baris kalimat dari seorang kawan…
Name: homoisenga | Date: August 28, 2009

Dr kemaren cari ni tulisan.
Kok mirip ceritanya King ya?Jadi penulis bayangan kah di sono ?
Aku nontonya dapet shift tengah malem selesai.Begitu film berjalan langsusng ” Kok Astri banget ya?”.
Met puasa As.

Post to Twitter Tweet This Post

Mimpi

Begitu sederhanakah mimpi?

Atau justru kita membuatnya rumit karena terlalu banyak spesifikasi?

Post to Twitter Tweet This Post

Ayah Pulang

Subuh ini ada yang memelukku dari belakang,melanjutkan pelukan hangat sepanjang malam. Ayah pulang..

Post to Twitter Tweet This Post

WordPress Themes