Pertanda
Jika jantung yang berdegup kencang ini adalah pertanda,
semoga pertanda baik sajalah adanya.
Jika jantung yang berdegup kencang ini adalah pertanda,
semoga pertanda baik sajalah adanya.
Tadi sepulang sholat Ied, suami saya menunjukkan sebuah situs di internet yang memajang foto-foto bagus dari ajang National Geographic’s International Photography Contest 2009. Dari 25 foto yang ada di situ, hanya ada satu foto yang membuat saya berhenti cukup lama untuk memandangnya. Lagi-lagi, saya gampang tersentuh oleh rasa ngelangut yang aneh, yang tiba-tiba datang saat melihat foto itu.

"My grandfather was born and raised on our New Zealand farm. He and my grandmother were married nearly 60 years. Preparing for a photo in the barley, my grandmother lovingly reached up to adjust his hat. This was his last harvest. (Photo and caption by Gemma Collier) "
Foto saya ambil dari : http://www.boston.com/bigpicture/2009/11/national_geographics_internati.html
Bagi saya, foto itu manis sekali. Mengingatkan saya bahwa saya juga sering berjinjit sekedar untuk merapikan rambutnya.
Kami pasti menua, dan saya tak keberatan sering berjinjit untuk membuatnya berada dalam jangkauan tangan saya. Tapi saya tak pernah lupa, dia senantiasa menawarkan pada saya untuk berpijak di atas kedua kakinya..
Sore ini akhirnya tercapai cita-cita saya. Sore hari memandang hujan dari teras kamar, sambil menyesap kopi hangat. Memang ada tambahan tak terduga, yaitu sambil mengerjakan matriks-matriks yang cukup membuat pening kepala. Tapi, saya bahagia.
Momen seperti ini membuat saya makin mensyukuri keputusan saya untuk pindah ke tempat ini beberapa bulan yang lalu. Lokasinya dekat dengan kantor, dan bisa untuk suami istri. Ini salah satu alasan penting karena kos saya sebelumnya di daerah Setiabudi adalah kos putri, dan tidak bisa untuk suami istri. Kos saya saat ini sewa per bulannya memang agak mahal, tapi sebenarnya masih lebih murah dibanding kos suami istri di daerah Setiabudi. Di sana, biaya sewa per bulan rata-rata 1,5 juta.
Saat pertama kali datang ke kos ini, saya langsung tertarik pada sebuah kamar di lantai dua yang memiliki teras di depannya. Waktu itu saya sudah membayangkan, suatu sore saya akan duduk di situ untuk memandang hujan.
Saya memang senang memandang hujan. Ada kenikmatan yang saya rasakan. Sebuah jeda tak ternilai diantara setumpuk kesibukan.
Memang benar kata Pak Sapardi, “hujan itu rachmat, bukan?”
“Akhirnya ketemu orangnya setelah selama ini cuma ketemu di FB,” kata Pak Sapardi sambil tersenyum saat menjabat tanganku.
“Sekarang tinggal di Jogja atau Jakarta?” tanya Pak Sapardi, lagi.
Ah, terimakasih sudah mengingat saya Pak…Terimakasih untuk obrolan kita selama ini walau lewat dunia maya…
Syukurlah, akhirnya bisa foto dengan Pak Sapardi, karena pada pertemuan pertama di Newseum Cafe belum sempat foto bersama Pak Sapardi.
Kita lanjutkan obrolan di FB ya Pak..jangan bosan menemani saya lembur malam-malam..:)
*Foto oleh Johan Firmansyah

