Buat : Fahri Salam
Aku tak tahu mengapa kau kirimkan padaku rentetan pertanyaan itu. Mungkin, sederet kalimat dalam puisi ”Buat Ning” itu mulai mengusik keingintahuanmu. Kawanku, Syam, mengutip kalimat dalam puisi itu untuk album fotonya bersama mendiang istrinya, BuRuLi. Kalimat yang dia kutip hampir sama dengan yang kau pilih.
januari mengeras di tembok itu juga
lalu desember
musim pun masak sebelum menyala cakrawala
tibatiba: kita bergegas pada jemputan itu
Entah sudah berapa kali pula kukutip kalimat itu (terutama “Januari mengeras di tembok itu juga lalu Desember”) untuk status YM, Facebook, atau Gmailku.
Selamat datang dalam puisi SDD yang mempesona, kawanku.
Setahuku, puisi “Buat Ning” ada di buku Mata Jendela. Percayalah, sudah susah mencari buku itu, Beberapa toko buku online tak bisa dipercaya, memajang sampul buku karya SDD, tapi ternyata saat kucoba pesan dia jawab “buku tak ada”. Kalau kau mau, pesanlah buku “Nokturno : lirik musikalisasi puisi Sapardi Djoko Damono” pada Gunawan Maryanto. Kau tak perlu menjelajah toko buku sampai kaki pegal. Manfaatkan saja jasa Tiki, toh harga buku plus ongkos kirim yang harus kau bayar tidaklah terlalu mahal.
Saat pertama kali aku bertemu SDD di Newseum Café sekitar pertengahan tahun ini, sempat kutanyakan padanya, “Ning itu siapa?”. Dia jawab, “Ning itu Ibu.”. Aku tak bertanya lebih panjang lagi, karena penggemar-penggemarnya yang lain membuatku harus rela berbagi.
Pernah kusinggung lagi tentang Ning dalam pesan yang kukirim padanya lewat dunia maya. Kutanyakan lagi “Ning itu siapa ?” dan tak lupa kukatakan bahwa puisi itu begitu kusuka dan sedang coba kucerna. Lazimnya para maestro, dia menginjak bumi. Mengucap terimakasih atas kesukaanku membaca karyanya, dan memberi tambahan kalimat, “Puisi itu saya tulis tahun 1967. Nanti salamnya saya sampaikan ke “orang” nya”. Cuma sebatas itu yang kutahu tentang “Ning itu siapa?”.
Aku tak mau lagi menanyakan hal yang sama kepadanya. Dan pula, aku telah berjanji pada diri sendiri, tak mau menjadi semacam reporter infotainment yang mengganggu hidupnya. Bagiku, alasan terciptanya suatu karya bisa karena bermacam hal, termasuk pengalaman pribadi. Jadi, biarlah ia tetap berada di sana. Dalam ranah “pribadi” itu. Sudah cukup puas dan lega hatiku karena punya kesempatan mencoba “merasakan” dalamnya puisi itu.
Kusebut “merasakan”, karena aku semata menafsirkan puisi itu dengan perasaanku. Tentu saja tafsirku belum teruji sahih atau handal. Seperti kau tahu, aku dari jurusan HI, bukan tafsir puisi
Tapi Fahri, seperti kata Pak Sapardi, tafsir puisi berada di tangan pembacanya. Kau pun boleh menafsirkannya semaumu, seperti halnya Ari dan Reda yang mencoba menafsirkan puisi itu lewat nada lagu yang mereka cipta.
Jadi, inilah jawabku untuk pertanyaan ”kamu tahu maksud puisi itu?”.
Aku tak tahu apa sebenarnya maksud puisi itu
Aku cuma bisa membuat tafsir bebasnya. Menurutku, dia yang mendedikasikan puisi ini buat Ning, tengah melakukan sebuah ”perjalanan” bersama Ning. ”Perjalanan” itu bisa apa saja. Persahabatan, pernikahan, pertemanan, dan lain sebagainya. Mereka berjalan seiring waktu, menghayati kalender yang terasa berubah cepat dari Januari menjadi Desember. Perjalanan mereka berlangsung begitu saja, apa adanya. Hingga pada suatu ketika, ”jemputan” itu datang. Mungkin semacam tanda bahwa salah satu diantara mereka harus pergi duluan. Bisa juga tanda bahwa mereka tak bisa lagi berjalan menuju satu tujuan. Atau jangan-jangan, sebuah tanda bahwa mimpi yang mereka tunggu tak pasti datang menjadi kenyataan.
**************************
Buat : Ning
pasti datangkah semua yang ditunggu
detikdetik berjajar pada mistar
yang panjang
(barangkali tanpa salam terlebih dahulu)
januari mengeras di tembok itu juga
lalu desember
musim pun masak sebelum menyala cakrawala
tibatiba: kita bergegas pada jemputan itu
-SDD 1967-
