Edge of Darkness

Akhirnya saya menemukan film action yang tak hanya memikat adegan bak bik buk atau dar der dor-nya, tapi juga kuat jalinan ceritanya. Makin terasa lengkap karena akting para pemainnya patut diacungi jempol, dan sutradaranya mampu  menampilkan adegan-adegan yang tidak pasaran.

Adalah Thomas Craven (Mel Gibson), seorang detektif di kepolisian Boston yang mengalami kejadian tak terduga dalam hitungan jam. Mulai dari menjemput anak perempuannya di stasiun kereta, terlibat dalam pembicaraan selama perjalanan pulang tentang pacar sang anak (yang dibalas si anak dengan anjuran yang sama supaya ayahnya segera mencari seorang kekasih), hingga akhirnya melihat sang anak ditembak tepat di depan matanya, di teras rumah mereka.

Rentetan kejadian itu membawa Craven menelusuri kehidupan pribadi anaknya. Emma Craven, 24 tahun, lulusan MIT yang kemudian menjadi pegawai magang di sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang penelitian.  Penelusuran Craven tidaklah mudah. Orang-orang yang dia datangi sulit memberikan informasi karena nyawa taruhannya. Namun akhirnya, kebenaran sedikit demi sedikit terungkap.

Biasanya, saya bisa menebak kira-kira akan seperti apa alur cerita film action, atau adegan apa yang akan muncul berikutnya, atau juga, kalimat apa yang akan meluncur dari bibir para pemainnya. Tapi, sampai selesainya film ini, saya cuma berhasil menebak satu adegan. Yaitu saat Thomas Craven menyapa tokoh bernama Robinson. Saat Craven meminta supaya Robinson melepas kaca matanya, saya tebak Craven akan meninju muka Robinson. Tenyata, benar! :D

Perhatian khusus perlu diberikan untuk Mel Gibson, pemeran Thomas Craven, dan Ray Winstone, pemeran Jedburgh. Mel Gibson, lagi-lagi, sukses berperan sebagai orang tua tunggal yang penuh kasih sayang, seperti yang dia lakukan dalam film The Patriot. Dalam Edge of Darkness, Mel Gibson menghidupkan tokoh Thomas Craven sebagai detektif yang disegani, sekaligus “family man”. Memajang foto Emma dimana-mana, tak merokok, tak minum anggur, dan pandai menjaga rumah tetap rapi. Bagian yang terakhir ditunjukkan dengan halus saat Emma datang dan menyentuh sebuah patung yang jadi hiasan di dalam rumah. Tak berdebu.

Martin Campbell, sang sutradara, terlihat piawai dalam detail semacam ini. Dia juga bisa menampilkan kesedihan Craven pasca kematian anaknya dengan cara yang tak biasa. Handuk kecil berlumur darah yang dipakai Craven membersihkan wajahnya yang terkena darah Emma, disimpan Craven di dalam sebuah gelas di atas wastafel. Sebuah penanda kejadian pahit yang tetap ingin dikenangnya. Klimaks tercapai saat Campbell menutup film ini dengan adegan yang manis namun getir. :)

Tak seperti film lain yang menunjukkan dengan jelas batas protagonis dan antagonis, di film ini Jedburh, yang dimainkan Ray Winstone, justru seolah berada dalam wilayah abu-abu. Dialah think tank yang punya tugas “melahirkan” teori atas sebuah kejadian, tentunya dengan sudut pandang yang menguntungkan pemerintah, alias pihak yang mempekerjakannya. Namun ternyata, pertemuannya dengan Craven membuatnya kembali berpikir tentang makna “keluarga”, dan justru membuatnya tidak jadi membunuh Craven. Adu akting antara Ray Winstone dan Mel Gibson dalam beberapa adegan percakapan mereka sangat tak pantas untuk dilewatkan! :)

Bagi saya, film ini membawa beberapa pelajaran penting. Pelajaran pertama, perantau sebaiknya tak bosan berkirim kabar pada keluarga di rumah, terutama berbagi cerita tentang tempat tinggal, tempat kerja, dan posisi di tempat kerja. Membuat keluarga bertanya-tanya (sambil khawatir) tentang kondisi anaknya di kota lain sangatlah tidak disarankan. Film ini menunjukkan bahwa Emma Craven toh tetap kembali pada ayahnya saat dia dalam kondisi terjepit dan butuh bantuan. Pelajaran kedua, ayah tetaplah ayah. Punya cinta untuk anaknya.

Semoga memang benar demikian adanya.

foto diambil dari http://www.reelmovienews.com/gallery/edge-of-darkness-poster/

foto diambil dari http://www.reelmovienews.com/gallery/edge-of-darkness-poster/

Post to Twitter Tweet This Post

“Tenang, tenang, tenanglah, Sayang…”

Jalani hidup
Tenang tenang tenanglah seperti karang
Sebab persoalan bagai gelombang
Tenanglah tenang tenanglah sayang

Tak pernah malas
Persoalan yang datang hantam kita
Dan kita tak mungkin untuk menghindar
Semuanya sudah suratan

Oh matahari
Masih setia
Menyinari rumah kita

Tak kan berhenti
Tak kan berhenti
Menghangati hati kita

Sampai tanah ini inginkan kita kembali
Sampai kejenuhan mampu merobek robek hati ini

Sebentar saja
Aku pergi meninggalkan
Membelah langit punguti bintang
Untuk kita jadikan hiasan

Tenang tenang tenanglah sayang
Semuanya sudah suratan
Tenang tenang seperti karang
Bintang bintang jadikan hiasan

Berlomba kita dengan sang waktu
Jenuhkah kita jawab sang waktu
Bangkitlah kita tunggu sang waktu
Tenanglah kita menjawab waktu

Seperti karang
Tenanglah
Seperti karang
Tenanglah

(Lagu Satu-Iwan Fals)

*****

Setahun lebih kami mengeja kedamaian-kedamaian sederhana. Sore itu saat memeluknya erat, saya makin bersyukur bahwa Tuhan memilihkan dia menjadi teman hidup saya.. :)

Ayah :)

Post to Twitter Tweet This Post

Senja Istimewa

Senja ini istimewa, seolah merangkum semua hal indah yang terjadi sepanjang hari.

Saya berjumpa Anies Baswedan tadi siang, dan merasa “tercerahkan” dengan apa yang beliau sampaikan. (Dan saya makin bisa mengerti mengapa dulu Kompas menggunakan judul “Kesantunan Anies Baswedan”, dan bukan “Kepandaian Anies Baswedan”) :)

Jam 5 sore, saya melangkah ke Taman Suropati. Lebih tepatnya, menyeberang dari kantor menuju Taman Suropati. (Rasanya sudah lama tak ke Taman Suropati saat sore hari :D ). 3 bangku dari batu di tengah taman menjadi pilihan untuk menunggu suami yang sedang berjuang di tempat lain. Saya lalu mulai melanjutkan misi “mengejar Maret”. Membuka netbook, bertemu lagi dengan tulisan-tulisan tentang Al Gore, sambil sesekali menyeruput kopi.

Di tengah keasyikan menderapkan jari, telinga saya mendengar nada yang familiar. “What a Wonderful World”, dimainkan seseorang di kejauhan dengan saksofon. Manis sekali. Dimainkan dengan lancar, tanpa terbata-bata. Profesional. Berlanjut dengan “My Way”, lalu “Let it be Me”, “Somewhere Over the Rainbow”, dan sederet lagu lain. Tunggu, jangan-jangan dia Kenny G? :D

Senja ini saya jadi ingin berterimakasih pada sang pemain saksofon itu atas pilihan lagunya yang tepat sasaran. What a wonderful world…

Terimakasih ya Allah, untuk berita-berita baik yang datang hari ini. Terimakasih … :)

Post to Twitter Tweet This Post

You’re so Beautiful, Mbak..

“You’re so beautiful, Mbak..”

Kalimat itu membuat saya terhenyak karena berasal dari bapak tukang ojek yang mengantar saya dari Stasiun Lempuyangan menuju Fisipol UGM. Selama bertahun-tahun kuliah di Jogja, sepertinya baru sekali itu ada tukang ojek yang berkata seperti itu kepada saya :D Usia Bapak tukang ojek itu mungkin sekitar 60 tahun, tapi masih lincah dan murah senyum. Tidak, saya tidak menganggap kalimatnya sebagai sebuah hal yang kurang ajar. Saya tahu beliau bercanda sebagai bagian dari keramahan, mungkin sambil mempraktekkan bahasa Inggrisnya. Maklum, Jogja banyak didatangi turis asing sehingga wajar kiranya jika tukang ojek juga cas cis cus berbahasa Inggris :) Saat tiba di Fisipol, Bapak itu mengajak saya bersalaman sambil berkata, “Don’t forget me ya Mbak..”. Walah, baru sekali itu juga ada tukang ojek meminta saya untuk tidak melupakannya ! :D

********************

Hari Rabu dan Kamis, 6 dan 7 Januari 2010, saya pulang ke Solo dan Jogja untuk beberapa keperluan. Solo adalah kota kelahiran saya, sedangkan Jogja adalah kota tempat saya kuliah. Dua-duanya istimewa bagi saya. Rabu pagi saat menunggu jemputan di Stasiun Balapan Solo, saya memesan wedang ronde di depan stasiun. Hangatnya sapa Bapak penjual ronde membuat saya lega. Saya sudah di rumah :)

Subuh itu saya menunggu dijemput sambil minum wedang ronde seharga 3000 rupiah. Hangat, sehangat sapa bapak penjual ronde itu pada saya :)

Subuh itu saya menunggu dijemput sambil minum wedang ronde seharga 3000 rupiah. Hangat, sehangat sapa bapak penjual ronde itu pada saya :)

Sekitar jam 8 pagi, saya sudah kembali lagi ke stasiun yang sama untuk berangkat ke Jogja, dimana saya bertemu Bapak tukang ojek yang nyentrik itu :)

Jogja memang mulai berubah di sana-sini dan saya mahfum hal itu tak bisa dihindari. Saya tidak bicara tentang Jogja yang makin macet saat liburan. Saya pikir itu wajar. Sebagai salah satu daerah tujuan wisata di Indonesia, bukan hal yang aneh jika Jogja saat liburan adalah Jogja yang penuh dengan manusia. Yang saya bicarakan adalah perubahan-perubahan yang saya lihat saat saya pulang beberapa waktu lalu. Tukang ojek mempraktekkan bahasa Inggris mungkin termasuk di dalamnya.

Perubahan yang paling tidak terduga adalah perubahan pada Prambanan Ekspres (Prameks) jurusan Solo Jogja. Selama kuliah di Jogja, saya rutin naik kereta itu seminggu dua kali. Senin pagi berangkat dari Solo, dan Jumat sore atau Sabtu pagi untuk pulang ke Solo. Saya setia menggunakan kereta itu sejak harga tiketnya 3000 rupiah, 5000, 7000, sampai sekarang menjadi 8000 rupiah. Saya jadi bertanya-tanya, gerangan siapakah yang punya ide untuk mengubah cat kereta Prameks dengan warna ungu :D Tapi bolehlah, setidaknya kereta itu tidak lagi terlihat kusam dan muram seperti ketika masih berwarna putih dan biru.

Tak pernah terbayang di pikiran bahwa kereta Prambanan Ekspres (Prameks) akan berganti cat menjadi warna ungu. Dulu, kereta ini berwarna putih biru. Sedangkan satu kereta lagi buatan PT INKA berwarna kuning menyolok mata. Kini, si putih biru menjadi ungu, dan si kuning masih seperti semula :)

Tak pernah terbayang di pikiran bahwa kereta Prambanan Ekspres (Prameks) akan berganti cat menjadi warna ungu. Dulu, kereta ini berwarna putih biru. Sedangkan satu kereta lagi buatan PT INKA berwarna kuning menyolok mata. Kini, si putih biru menjadi ungu, dan si kuning masih seperti semula :)

Unbelievable purple :D

Unbelievable purple :D

Stasiun Lempuyangan juga makin bersih dan tertata. Di bagian depan stasiun sedang dibangun semacam ATM Center. Atapnya juga bagus. Saya ingat saat angin puting beliung melanda Jogja sekitar setahun lalu, stasiun ini jadi salah satu korbannya. Atapnya beterbangan kemana-mana.

Anggaplah saya beruntung, saat ke Jogja ternyata Biennale Jogja masih berlangsung. Jadilah saya punya kesempatan menikmatinya, paling tidak menikmati karya seni yang ada di jalan Malioboro dan Stasiun Tugu sebelum kereta Prameks membawa saya ke Solo.

Lukisan di depan stasiun Tugu

Lukisan di depan stasiun Tugu

Kamis malam, saya kembali ke Jakarta dengan menumpang kereta Argo Dwipangga. Di dalam kereta, entah kenapa tiba-tiba saya teringat pada teller sebuah bank di Jakarta yang beberapa hari sebelumnya menawarkan produk kartu kredit terbaru kepada saya dengan kalimat yang menggoda.

“Sekarang ada kartu kredit UGM lho, Bu..”

“Beda fasilitasnya dengan kartu kredit biasa apa, Pak?’

“Nggak ada bedanya, Bu. Tapi nanti di kartu kreditnya ada logo UGM-nya.”

Oh, jadi ini tentang menggunakan logo UGM untuk berjualan? :D

Jumat pagi, saya menjejakkan kaki di stasiun Gambir.

Dua hari di Solo dan Jogja terasa seperti mengisi kembali tangki semangat yang nyaris habis di Jakarta.

Post to Twitter Tweet This Post

Merasa Tua

Rabu dan Kamis lalu saya pulang. Kali ini tak sekedar melepas rindu, tapi sekaligus membawa beberapa misi. Mengurus thesis, mencarikan info ujian masuk UGM bagi si bungsu, dan membahas persiapan pernikahan si tengah. Di kereta, tiba-tiba saya merasa begitu tua. Ternyata waktu berjalan dengan cepat, secepat pertumbuhan adik-adik saya. Yang satu hendak menikah, yang satu lagi akan masuk kuliah. Memang sudah waktunya :)

Tak banyak bekal saya buat mereka. Saya cuma bisa berjanji dalam hati untuk terus memberikan yang terbaik. Seperti pesan Pak Tatwo, “sing tuwo tugase nggolekne dalan..”. Semoga saya bisa ya Pak :) Amiin..

Post to Twitter Tweet This Post

WordPress Themes