Kartu Pos Bergambar

 

Setelah membaca cerpen “Kartu Pos dari Surga” karya Agus Noor di Kompas Minggu 21 September 2008, saya jadi teringat pada beberapa kartu pos yang saya terima, saya kirim, atau sekedar dikoleksi. Kita lupakan sejenak kartu pos polos warna oranye, karena sejak kecil dulu saya terlalu sering kirim jawaban kuis pakai kartu pos jenis itu. 
 

Dalam cerpen “Kartu Pos dari Surga”, Agus Noor menunjukkan bagaimana kartu pos bisa menjadi pemompa semangat sekaligus penabur perih, buat penerima ataupun pengirimnya. Pengalaman saya menunjukkan hal itu memang benar. Beberapa kartu pos menaikkan gairah hidup, dan beberapa lainnya menyimpan luka yang kadang muncul malu-malu diantara gambar dan kata-kata.
 

Gara-gara gambar indah di kartu pos, saya jadi penasaran seperti apa kota Vienna alias Wina. Salah satu dosen saya, mbak Diah Kusuma, orang-orang memanggilnya “Dikei”, pernah ke Wina. Saya kagum pada caranya memberikan semangat bagi mahasiswa-mahasiswinya. Mudah saja, Mbak Dikei mengirim kartu pos bergambar kota Wina kepada kami, dengan beberapa baris kalimat di baliknya.


 

“Hi Astri, Vienna jauh lebih cantik dari fotonya lho….make sure that you make efforts to visit this wonderful city one day. Love, Diahkei.” 

Inilah salah satu kartu pos favorit saya, sampai hari ini. Keingintahuan saya pada Wina makin menyala saat teman saya, seorang pejalan jauh, memberi judul salah satu tulisannya “Wina dan Sepucuk Sajak Lorca.” Judul yang terasa romantis untuk sebuah tulisan tentang Piala Dunia sepakbola. Hey, saya jadi ingat! Sepertinya kawan saya itu juga senang berkirim kartu pos. Dalam profil blognya (yang sudah almarhum), kalau tidak salah dia pernah menulis hobinya adalah jalan-jalan sambil sesekali mengirim kartu pos.
 

Mungkin memang begitu caranya menandai perjalanan. Berkirim kartu pos dari tempat yang didatangi sekaligus punya arti untuk disimpan dalam kenangan. Lantas, si penerima akan mencoba membuat penafsiran atas gambar di bagian depan dan kalimat sang pengirim di bagian belakang. Saya tak tahu apakah Sapardi Djoko Damono berada dalam status sebagai pengirim ataukah penerima Kartu Pos Bergambar Jembatan Golden Gate San Fransisco. Buat saya, seperti ada kepedihan yang terpendam dalam larik-larik puisinya, walau beberapa kata tak saya tahu maknanya. 

“kabut yang likang 
dan kabut yang pupuh 
lekat dan gerimis pada tiang-tiang jembatan 
matahari menggeliat dan kembali gugur 
tak lagi di langit berpusing 
di perih lautan” 

Seperti apa ya gambar Jembatan Golden Gate San Francisco jika dipasang di kartu pos? Saya kadang bertanya-tanya, bagaimana cara memilih gambar yang tepat untuk sebuah kartu pos agar tak terasa biasa-biasa saja?

 

Kalau suatu hari saya bertemu atau kirim e-mail ke Agus Leonardus, akan saya tanyakan padanya. Semoga saya tak lupa. Jika Gede Prama menandai setiap tulisannya dengan kalimat penutup “Gede Prama, bekerja di Jakarta, tinggal di desa Tajun, Bali Utara”, maka Agus Leonardus punya cara tak jauh berbeda. Di salah satu sudut kartu pos yang memajang foto karyanya, berderet rapi alamat e-mailnya. Kartu pos ini mudah ditemui di toko buku atau hotel di Jogja. Tak semata menjual keindahan pemandangan, tapi ada pula tema tentang manusia yang menyentuh.  Kartu pos berjudul “Going Home”, “Happy  Old Javanese Couple” dan “It is Hard to be A Man” menjadi favorit saya.  
****

Sudah lama saya tak mengirim kartu pos. Setahun terahir, seingat saya hanya dua kartu pos yang membuat saya terhenyak lama menyusun kalimat sebelum menuliskannya di balik kartu pos. Hanya dua kartu pos itu pula yang terkirim.  

4 thoughts on “Kartu Pos Bergambar

  1. lamanday says:

    semenjak ada hape tradisi begituan makin langka ya

    ga mudah meniatkannya: di tempat asing meluangkan waktu mencari kartu yang menyentuh, menyapa dengan kata-kata sederhana tapi bermakna, mencari kantor pos dan mengirim pada orang-orang.

    kita dimakan zaman, menyapa lebih praktis pake sms..

  2. Astri Kusuma says:

    iya, hp telah “memangkas” beberapa hal yang terlihat kuno, makan waktu, tapi kadang terasa indah, misal kirim kartu pos :)

    lebaran kali ini pun akan seperti itu, sms datang seperti hujan. kalimat-kalimatnya hampir sama, bahkan kadang cuma forward dari sms sebelumnya…hehehe :)

  3. ine septya says:

    as,gmn kbrnya?mungkin kamu udah lupa aku.ine….temen kos di rumah bu kusnun dulu, anak upn….gak sengaja nemu kamu di internet..

  4. Astri Kusuma says:

    halo mbak Ine, jelas aku ingat lah :)

    apa kabar Mbak? masih di Jogja?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *