You’re so Beautiful, Mbak..
“You’re so beautiful, Mbak..”
Kalimat itu membuat saya terhenyak karena berasal dari bapak tukang ojek yang mengantar saya dari Stasiun Lempuyangan menuju Fisipol UGM. Selama bertahun-tahun kuliah di Jogja, sepertinya baru sekali itu ada tukang ojek yang berkata seperti itu kepada saya
Usia Bapak tukang ojek itu mungkin sekitar 60 tahun, tapi masih lincah dan murah senyum. Tidak, saya tidak menganggap kalimatnya sebagai sebuah hal yang kurang ajar. Saya tahu beliau bercanda sebagai bagian dari keramahan, mungkin sambil mempraktekkan bahasa Inggrisnya. Maklum, Jogja banyak didatangi turis asing sehingga wajar kiranya jika tukang ojek juga cas cis cus berbahasa Inggris
Saat tiba di Fisipol, Bapak itu mengajak saya bersalaman sambil berkata, “Don’t forget me ya Mbak..”. Walah, baru sekali itu juga ada tukang ojek meminta saya untuk tidak melupakannya !
********************
Hari Rabu dan Kamis, 6 dan 7 Januari 2010, saya pulang ke Solo dan Jogja untuk beberapa keperluan. Solo adalah kota kelahiran saya, sedangkan Jogja adalah kota tempat saya kuliah. Dua-duanya istimewa bagi saya. Rabu pagi saat menunggu jemputan di Stasiun Balapan Solo, saya memesan wedang ronde di depan stasiun. Hangatnya sapa Bapak penjual ronde membuat saya lega. Saya sudah di rumah

Subuh itu saya menunggu dijemput sambil minum wedang ronde seharga 3000 rupiah. Hangat, sehangat sapa bapak penjual ronde itu pada saya
Sekitar jam 8 pagi, saya sudah kembali lagi ke stasiun yang sama untuk berangkat ke Jogja, dimana saya bertemu Bapak tukang ojek yang nyentrik itu
Jogja memang mulai berubah di sana-sini dan saya mahfum hal itu tak bisa dihindari. Saya tidak bicara tentang Jogja yang makin macet saat liburan. Saya pikir itu wajar. Sebagai salah satu daerah tujuan wisata di Indonesia, bukan hal yang aneh jika Jogja saat liburan adalah Jogja yang penuh dengan manusia. Yang saya bicarakan adalah perubahan-perubahan yang saya lihat saat saya pulang beberapa waktu lalu. Tukang ojek mempraktekkan bahasa Inggris mungkin termasuk di dalamnya.
Perubahan yang paling tidak terduga adalah perubahan pada Prambanan Ekspres (Prameks) jurusan Solo Jogja. Selama kuliah di Jogja, saya rutin naik kereta itu seminggu dua kali. Senin pagi berangkat dari Solo, dan Jumat sore atau Sabtu pagi untuk pulang ke Solo. Saya setia menggunakan kereta itu sejak harga tiketnya 3000 rupiah, 5000, 7000, sampai sekarang menjadi 8000 rupiah. Saya jadi bertanya-tanya, gerangan siapakah yang punya ide untuk mengubah cat kereta Prameks dengan warna ungu
Tapi bolehlah, setidaknya kereta itu tidak lagi terlihat kusam dan muram seperti ketika masih berwarna putih dan biru.

Tak pernah terbayang di pikiran bahwa kereta Prambanan Ekspres (Prameks) akan berganti cat menjadi warna ungu. Dulu, kereta ini berwarna putih biru. Sedangkan satu kereta lagi buatan PT INKA berwarna kuning menyolok mata. Kini, si putih biru menjadi ungu, dan si kuning masih seperti semula

Unbelievable purple
Stasiun Lempuyangan juga makin bersih dan tertata. Di bagian depan stasiun sedang dibangun semacam ATM Center. Atapnya juga bagus. Saya ingat saat angin puting beliung melanda Jogja sekitar setahun lalu, stasiun ini jadi salah satu korbannya. Atapnya beterbangan kemana-mana.
Anggaplah saya beruntung, saat ke Jogja ternyata Biennale Jogja masih berlangsung. Jadilah saya punya kesempatan menikmatinya, paling tidak menikmati karya seni yang ada di jalan Malioboro dan Stasiun Tugu sebelum kereta Prameks membawa saya ke Solo.

Lukisan di depan stasiun Tugu

Kamis malam, saya kembali ke Jakarta dengan menumpang kereta Argo Dwipangga. Di dalam kereta, entah kenapa tiba-tiba saya teringat pada teller sebuah bank di Jakarta yang beberapa hari sebelumnya menawarkan produk kartu kredit terbaru kepada saya dengan kalimat yang menggoda.
“Sekarang ada kartu kredit UGM lho, Bu..”
“Beda fasilitasnya dengan kartu kredit biasa apa, Pak?’
“Nggak ada bedanya, Bu. Tapi nanti di kartu kreditnya ada logo UGM-nya.”
Oh, jadi ini tentang menggunakan logo UGM untuk berjualan?
Jumat pagi, saya menjejakkan kaki di stasiun Gambir.
Dua hari di Solo dan Jogja terasa seperti mengisi kembali tangki semangat yang nyaris habis di Jakarta.

3 Comments
Other Links to this Post
RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

By enno, January 11, 2010 @ 9:47
foto2nya bagus!
By Astri Kusuma, January 13, 2010 @ 9:47
terimakasih mbak Enno
By homoisenga, January 14, 2010 @ 9:47
mampir di angkringan wifi?
Jogja jogja, pergi sehari aja rindu .
fuuuh