Pada Suatu Pagi Hari, Karya Sapardi Djoko Damono

Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.

Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.

Sapardi Djoko Damono, 1973

Post to Twitter Tweet This Post

15 Comments

  • By no name, May 14, 2007 @ 9:47

    demikian pun aku
    hanya saja bukan hujan rintik-rintik
    namun juga bukan hujan lebat

    dengan helm tertutup
    aku menangis di atas motorku
    di jalanan ibukota

  • By Joan, May 15, 2007 @ 9:47

    Pagi ini jakarta gerimis, lagi ..
    dan aku ingat puisi ini.

  • By Astri Kusuma, May 17, 2007 @ 9:47

    Ya, puisi buatan Sapardi ini memang indah sekali..

  • By asran yunisran, May 31, 2007 @ 9:47

    membaca kembali puisi ini mengingatkan kembali pada saat2 pertama membaca puisi sapardi
    begitu menyentuh…sapardi mengingatkan kembali tentang hal-hal remeh yg ada di sekitar kita yg ternyata tidak remeh jika kita ingin memeperhatikannya kembali…secara seksama tentunya

  • By wanty, August 13, 2007 @ 9:47

    puisi sapardi disampaikan dengan bahasa yang sederhana tapi mempunyai makna yang sangat mendalam dan menyentuh, mengingatkan kita akan satu penggal kisah dengan begitu hidup

  • By adipt, September 20, 2007 @ 9:47

    puisi yang benar-benar menyentuh.. seseorang boleh mempunyai gambarannya sendiri mengenai siapa dan apa-nya puisi ini.. justru itulah yang membuatnya menjadi semakin berasa.. karena setiap orang merasa mengenal dekat pelaku cerita

  • By Kris_pieé, December 31, 2007 @ 9:47

    Aq jg suka gerimis. Sperti saat itu,aku berdiri menghayati peluh gerimis yang melekat menyusuri tubuhku. Menyaksikan caranya menghiburku: digantikannya tetes air mataku dengan tetes gerimis yang menciumiku

  • By Reda Gaudiamo, February 8, 2008 @ 9:47

    Semoga bisa datang di acara ini…

    PEMBACAAN DAN MUSIKALISASI PUISI SAPARDI DJOKO DAMONO

    Sebagai penghormatan atas pencapaian dan dedikasi
    Sapardi Djoko Damono di bidang sastra, Pusat Kesenian
    Jakarta akan menyelenggarakan acara bertajuk
    ”Puisi-puisi Cinta Sapardi Djoko Damono”. Acara ini
    akan dilaksanakan pada tanggal 14 dan 15 Februari
    2008, jam 20.00 di gedung Graha Bhakti Budaya Taman
    Ismail Marzuki.

    Di samping dikenal luas sebagai seorang guru besar dan
    kritikus sastra yang handal, Sapardi Djoko Damono juga
    merupakan salah satu dari sedikit penyair Indonesia
    yang sangat tenar. Karya-karya puisinya banyak
    dikutip orang untuk ucapan selamat ulangtahun,
    undangan perkawinan, surat cinta, serta berbagai
    kepentingan lain yang pribadi sifatnya.

    Dengan kepiawaian seorang maestro, Sapardi menuangkan
    pengalaman puitiknya dalam bahasa yang jernih dengan
    pilihan kata yang sederhana, namun selalu berhasil
    menciptakan imaji yang serta-merta membetot empati
    pembacanya untuk terlibat lebih dalam dengan
    karya-karyanya.

    Karya-karyanya antara lain: DukaMu Abadi (1969), Mata
    Pisau (1974), Perahu Kertas (1983; mendapat Hadiah
    Sastra DKJ 1983), Sihir Hujan (1984; pemenang hadiah
    pertama Puisi Putera II Malaysia 1983), Hujan Bulan
    Juni (1994), Arloji (1998), Ayat-Ayat Api (2000) dan
    banyak lagi. Ia juga menerjemahkan karya-karya sastra
    dunia seperti: Lelaki Tua dan Laut (1973; Ernest
    Hemingway), Sepilihan Sajak George Seferis (1975),
    Puisi Klasik Cina (1976), Lirik Klasik Parsi (1977),
    Afrika yang Resah (1988).

    Khususnya sejak penerbitan kumpulan Hujan Bulan Juni,
    yang disusul peluncuran album musikalisasi puisi
    karya-karyanya dengan judul yang sama, Sapardi Djoko
    Damono tidak ubahnya virus yang menyebar begitu cepat,
    memaksa orang untuk benar-benar menoleh ke karya
    sastra puisi.

    Acara ini akan didukung oleh Ari-Reda, Jose Rizal
    Manua, Ine Febriyanti, Cornelia Agatha, Ags. Arya
    Dipayana, Lab. Musik Jakarta dan Paduan Suara Gita
    Swara Nassa. Sang penyair akan hadir dalam acara
    tersebut, untuk memberi kesempatan bagi masyarakat
    mengenal lebih dekat penyair pujaan mereka.

    Harga tanda masuk untuk acara ini adalah Rp. 50.000
    dan Rp. 30.000. Untuk informasi lebih lanjut dan
    pemesanan tiket dapat menghubungi Pusat Kesenian
    Jakarta TIM di telepon (021) 31937325 dan 31934740.

    Penanggungjawab Acara:
    Jose Rizal Manua (0811833161)
    Ags. Arya Dipayana (0818709075)

  • By Reda Gaudiamo, February 8, 2008 @ 9:47

    PEMBACAAN DAN MUSIKALISASI PUISI SAPARDI DJOKO DAMONO

    Sebagai penghormatan atas pencapaian dan dedikasi
    Sapardi Djoko Damono di bidang sastra, Pusat Kesenian
    Jakarta akan menyelenggarakan acara bertajuk
    ”Puisi-puisi Cinta Sapardi Djoko Damono”. Acara ini
    akan dilaksanakan pada tanggal 14 dan 15 Februari
    2008, jam 20.00 di gedung Graha Bhakti Budaya Taman
    Ismail Marzuki.

    Di samping dikenal luas sebagai seorang guru besar dan
    kritikus sastra yang handal, Sapardi Djoko Damono juga
    merupakan salah satu dari sedikit penyair Indonesia
    yang sangat tenar. Karya-karya puisinya banyak
    dikutip orang untuk ucapan selamat ulangtahun,
    undangan perkawinan, surat cinta, serta berbagai
    kepentingan lain yang pribadi sifatnya.

    Dengan kepiawaian seorang maestro, Sapardi menuangkan
    pengalaman puitiknya dalam bahasa yang jernih dengan
    pilihan kata yang sederhana, namun selalu berhasil
    menciptakan imaji yang serta-merta membetot empati
    pembacanya untuk terlibat lebih dalam dengan
    karya-karyanya.

    Karya-karyanya antara lain: DukaMu Abadi (1969), Mata
    Pisau (1974), Perahu Kertas (1983; mendapat Hadiah
    Sastra DKJ 1983), Sihir Hujan (1984; pemenang hadiah
    pertama Puisi Putera II Malaysia 1983), Hujan Bulan
    Juni (1994), Arloji (1998), Ayat-Ayat Api (2000) dan
    banyak lagi. Ia juga menerjemahkan karya-karya sastra
    dunia seperti: Lelaki Tua dan Laut (1973; Ernest
    Hemingway), Sepilihan Sajak George Seferis (1975),
    Puisi Klasik Cina (1976), Lirik Klasik Parsi (1977),
    Afrika yang Resah (1988).

    Khususnya sejak penerbitan kumpulan Hujan Bulan Juni,
    yang disusul peluncuran album musikalisasi puisi
    karya-karyanya dengan judul yang sama, Sapardi Djoko
    Damono tidak ubahnya virus yang menyebar begitu cepat,
    memaksa orang untuk benar-benar menoleh ke karya
    sastra puisi.

    Acara ini akan didukung oleh Ari-Reda, Jose Rizal
    Manua, Ine Febriyanti, Cornelia Agatha, Ags. Arya
    Dipayana, Lab. Musik Jakarta dan Paduan Suara Gita
    Swara Nassa. Sang penyair akan hadir dalam acara
    tersebut, untuk memberi kesempatan bagi masyarakat
    mengenal lebih dekat penyair pujaan mereka.

    Harga tanda masuk untuk acara ini adalah Rp. 50.000
    dan Rp. 30.000. Untuk informasi lebih lanjut dan
    pemesanan tiket dapat menghubungi Pusat Kesenian
    Jakarta TIM di telepon (021) 31937325 dan 31934740.

    Penanggungjawab Acara:
    Jose Rizal Manua (0811833161)
    Ags. Arya Dipayana (0818709075)

  • By Ningsih, February 18, 2008 @ 9:47

    Saat Mbah Sapardi Menulis Puisi ini.pas Beliau lagi Ngapain ya…35 tahun dan puisinya tetap menghancurkan, parno yang umurnya 34 aja bisa klepek klepek …U R So Amazing….mbaaah..!!!

  • By El shirazy, February 29, 2008 @ 9:47

    Senyap,tiap kali ku baca karya pak sapardi yang ini , menyentuh…sepi…

  • By hazy dazzle, May 22, 2009 @ 9:47

    sesekali aku pun begitu
    namun terkadang hujan tak mengabulkannya…

  • By arifin agung prabowo, October 14, 2009 @ 9:47

    demikianpun aku, ingin sekali menangis, sebelum benang putih di langit, terbit di ufuk. saat itu takkan seorangpun bertanya kenapa dan menyapa pagi dengan hati menganga

  • By faizah abdullah, November 5, 2009 @ 9:47

    aku pun merindu pada rintik
    bukan agar tak terlihat tangisku yang menitik
    melainkan panas yang kian memberangas

  • By enung rahayu, January 21, 2010 @ 9:47

    hujanku begitu deras namun aku tetap berdiri dibawahnya basahi seluruh tubuhku menangis bersamanya berharap air dan tempiasnya hanyutkan duka dan sesal atas kesalahanku padanya yang kucinta..

Other Links to this Post

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

Security Code:

WordPress Themes