48 Tahun 10 Hari
Damri ini akan membawa saya pulang. Dua malam terakhir saya tidur di kasur yang empuk, di kamar yang nyaman, dengan balkon yang menawan. Saat hendak tidur, saya begitu saja teringat pada cerewetnya suami saya yang meminta saya tak lupa minum susu Anlene hangat rasa coklat. Atas nama kebaikan bagi tulang belulang saya yang ringkih ini.
Di Aceh, saya rindu kecerewetan yang menjengkelkan tapi manis itu. Dan saya bisa mengerti mengapa Habibie begitu berduka. 48 tahun 10 hari adalah waktu yang sangat panjang untuk mengukir cerita dan kenangan dalam bingkai bernama pernikahan.