Sore

Sore hingga petang adalah waktu yang tak ingin kusia-siakan. Tak terlalu istimewa sebenarnya, karena sekedar kegiatan yang berulang. Sebuah rutinitas. Tapi aku menunggunya sejak pagi. Menantinya dengan bersemangat, sambil kadang ditingkahi hati yang berharap-harap cemas. “Semoga bisa pulang tepat waktu.” dan “Semoga tak perlu lembur” begitu sering jadi doaku.

Ketika jarum jam hendak menuju angka 12 dan 5, aku sudah siap bergerak. Berucap salam kepada teman-teman satu ruangan, melangkahkan kaki melewati pintu, menuruni tangga, menuju lobi, menggerakkan kartu pegawai di depan sebuah mesin hingga terbaca, lalu meletakkan telapak tangan kananku di tengah mesin itu. Sah sudah kepulanganku.

Di belakang kantor, di depan Masjid Sunda Kelapa, ada dua orang Ibu rajin menungguku. Asalnya dari Solo. Wonogiri lebih tepatnya. Mereka jago memasak. Cocok dengan lidahku, lidahmu, lidah kita. Lewat mereka kusediakan makan malammu. Rawon, cap cay, nasi goreng, ceker bumbu kecap, bakmi rebus, atau bakmi goreng. Kau tinggal pilih. Aku akan bawakan untukmu. Semoga kau suka.

Memang, hanya nasi di meja yang menjadi bukti (sedikit) kontribusiku. Lewat harum nasi yang tanak, semoga kau tahu aku menyayangimu.

Post to Twitter Tweet This Post

No Comments

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

Security Code:

WordPress Themes